
Happy reading 🤗
Like dan Votenya kakak 🤗❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
Melihat sang istri tengah merajuk pria dewasa dan penuh perhatian itu langsung masuk ke dalam mengambil satu buah kaos polos coklat yang seharga satu juta rupiah. Pria yang baru menikah itu lalu melepas baju yang di pakainya dan menggantinya dengan yang baru yang memang belum di sentuh oleh tangan wanita. Menarik sudut bibirnya kala ia sudah menjadi pria peka yang bisa menyenangkan hati sang istri mudanya.
"Apakah aku sudah menjadi suami sempurna karena peka pada perasaan istri?" batin Tio tersenyum simpul.
Rombongan lainnya pun berjalan masuk mengikuti Tio, mereka juga melihat Tio membuka baju di tempat terbuka, untung saja tidak ada mata-mata setan di sana kalau tidak habislah Tio karena sudah berani mengumbar tubuh seksinya.
Hamas segera menuju Tio, pria yang baru memakai baju barunya segera memberikan baju kaos putih turtleneck kepada Hamas namun langsung di tahan oleh Alexa. Gadis itu menggeleng kepalanya pelan sebagai isyarat untuk tidak menerima baju putih itu.
"Why? itu baju kesukaanku Lexa!" seru Hamas menaikkan sebelah alisnya heran. Alexa tidak menghiraukan seruan Hamas ia malah mengambil baju tersebut dan membuangnya ke tempat sampah membuat putra raja Iblis itu membelalakan matanya.
"Kenapa kamu membuangnya Lexa!" bentak Hamas melotot membuat Alexa mendengus kesal.
"Abang tidak peka yah! Kak Lexa itu tidak mau baju kakak ada tangan wanita lain. Masa itu saja tidak mengerti!" sewot Daffin mengerling matanya malas. Alexa memberikan dua jempolnya pada Daffin karena tahu isi hatinya. Sedangkan Hamas menatap Alexa meminta penjelasan.
"Yah Daffin benar. Lagian baju bisa di beli kok aku akan membelikannya untuk abang." Jawab Alexa dengan cengiran kuda. Hamas hanya bisa menghela napas, sulit juga jika wanita sudah cemburu barang bagus bisa menjadi pelampiasan kecemburuan mereka.
"Astaga, bajuku yang lima puluh juta rupiah hangus begitu saja hanya karena wanita lain yang tak sengaja menyentuhnya. Bukankah itu sangat berlebihan" batin Hamas sedang Azhar hanya cekikikan.
"Sabar bang memang susah memiliki wanita yang pencemburu" bisik Azhar di telinga Hamas namun masih di dengar oleh Alexa membuat gadis itu langsung menendang tulang kaki Azhar membuat pria itu memekik sakit.
"Aaakkh, sakit Alexa! kamu jadi wanita jangan kasar-kasar dong. Pantas saja Hamas tidak suka denganmu karena..." Azhar langsung menutup mulutnya kala mengatakan sesuatu yang membuat Alexa terkejut. Matanya terbelalak menatap pada Hamas dan Azhar. Tio yang tidak mau mendengar basa-basi anak muda segera mencari kekasih kecilnya di ikuti Dafa dan Daffin. Mereka juga tidak mau mendengar ocehan yang tidak penting itu.
"Abang Hamas, apakah benar yang dikatakan oleh abang Azhar? abang tidak..." Hamas menghela napas kasar menatap dalam-dalam wajah Alexa yang sudah berubah menjadi merah.
"Jangan dengarkan abang Azhar, aku mana mungkin tidak..."
"Stop! maaf aku sepertinya tidak bisa lama-lama" Alexa berjalan keluar dari toko dengan perasaan bercampur aduk menatap kosong ke arah depan mengepal tangannya kuat.
"Abang tidak suka padaku selama ini. Apakah aku kekanakan? apakah aku terlalu ikut campur?" batin Alexa dengan wajah datarnya. Sedangkan Hamas menatap tajam ke arah Azhar membuat si gondrong merasa bersalah.
"Lebih baik dia tahu sekarang bahwa kamu tidak mencintainya daripada luka di hatinya akan semakin dalam. Kamu hanya menganggapnya adik tapi dia tidak... dia mencintaimu! kalian berdua tidak akan pernah bahagia karena saling membohongi." Jelas Azhar memberanikan diri. Hamas terdiam memang benar apa yang di katakan oleh adik laki-lakinya, lebih baik seperti itu daripada kedepannya akan semakin runyam.
"Tegaskan pada Alexa bahwa kamu mencintai teman wanitamu! jangan membuat dia berpikir bahwa kepedulianmu karena mencintainya. Katakan padanya bahwa kamu hanya menganggap adik bukan sebagai wanita." jelas Azhar lagi membuat Hamas mematung.
Di sisi lain seorang gadis dengan tampilan tomboynya berdiri di sisi jalan menunggu taksi yang sudah di pesannya hingga sebuah mobil putih berhenti di depan gadis tersebut.
"Dengan mbak Alexa?" Alexa mengangguk sebagai jawaban. Ia segera naik ke jok belakang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Aaakkh, sakit Alexa! kamu jadi wanita jangan kasar-kasar dong. Pantas saja Hamas tidak suka denganmu karena..." Perkataan Azhar terus terngiang-ngiang di ingatannya membuat dadanya tiba-tiba menjadi sesak, sangat sulit untuk bernapas bahkan berkali-kali mengatur napasnya dengan menariknya panjang lalu menghembusnya namun tak kunjung reda. Rasa sesak itu semakin menggerogotinya.
"Oh tidak! penyakit ini kembali datang" pekik Alexa dalam hati. Wajahnya berubah merah dengan bulir-bulir keringat membasahi wajahnya. Supir yang tak sengaja melirik ke belakang lewat kaca spion segera bertanya.
"Mbak kenapa? apa perlu ke rumah sakit?"
"Pisau, bapak punya pisau tidak? tolong berikan aku pisaunya please! ini sangat sakit aku tidak bisa bernapas" jawab Alexa lirih. Membuat pak supir ketakutan.
"Eh, sa-saya tidak punya mbak. Saya bawa mbak ke rumah sakit saja yah" ujar sang sopir namun mendapat tatapan horor dari Alexa membuat pak supir itu menciut seketika.
"Berikan aku benda tajam pak, apapun itu cepat aku tidak bisa bernapas!." Seru Alexa lagi menekan dadanya kuat, gadis itu merubah duduknya menjadi tegak, kembali mengatur napasnya yang sulit di kondisikan. Ada rasa berat yang menimpa dadanya hingga mengakibatkan saluran pernapasan tidak berfungsi.
Sang sopir itu segera menghentikan mobilnya di salah satu bibir jalan mencari sesuatu yang di minta oleh penumpangnya. Hingga sebuah benda persegi ia temukan. Benda yang bisa memantulkan bayangan dari dalam.
"Mbak, saya hanya menemukan cermin. Apakah bisa membantu mbak?" tanya pak sopir dan Alexa mengangguk pelan. Pak sopir itu segera memberikannya dan Alexa menerimanya. Gadis itu segera menarik lengan bajunya ke atas hingga memperlihatkan tangannya yang putih mulus, sedang cermin di tangannya ia miringkan, sisi yang tajam ia tempelkan di lengannya dan menusuknya lalu menariknya hingga membentuk garisan lurus. Membuat pak sopir terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Aaaakkh" teriak pak sopir menutup mulutnya melihat aksi yang begitu ekstrim di pandang mata. "Astaghfirullah mbak! jangan menzolimi diri sendiri dosa! ingat dosa mbak!" pekiknya namun tak membuat Alexa berhenti. Empat luka tercipta di lengan kanannya darah keluar mengalir deras membuat Alexa bernapas lega. Rasa sesak di dadanya seketika menghilang kala ia melukai tubuhnya, rasanya beban berat yang ia rasa tadi lenyap seiring dengan darahnya mengalir.
"Haaah, akhirnya rasa sakit itu pergi" lirih Alexa dengan keringat bercucuran menatap pak sopir dengan senyum di bibirnya.
"Jangan takut, ini adalah solusi dari rasa sakit yang aku rasakan tadi. Jika bapak tidak memberikanku benda tajam mungkin aku sudah mati kesakitan." Jelasnya dengan senyum tipis. Menurunkan kaca mobil lalu membuang cermin yang di pakai untuk melukis di tangannya.
Pak sopir memberikan tisu pada Alexa dan langsung menerimanya menyeka darah dari tangannya lalu membuangnya keluar.
"Mbak tidak memeriksanya ke dokter? jika seperti itu mbak akan tersiksa seumur hidup. Sebenarnya apa pemicunya mbak sampai rasa sakit yang menyiksa itu menyerang mbak?" tanya pak sopir dengan nada khawatir.
Alexa teringat setiap kali dirinya merasa takut akan kehilangan seseorang penyakit misterius itu langsung muncul menyerangnya. Ia tidak mampu menahannya dan oleh sebabnya ia melukai dirinya untuk bisa menghilangkan sakit itu.
"Entahlah! saya tidak tahu. Oh iya pak ayo kita jalan! saya ingin segera sampai ke rumah" titah Alexa dan pak sopir mengangguk. Pria paruh baya itu kembali menjalankan mobilnya mengikuti mobil-mobil yang lain yang melesat cepat ke jalan raya.
"Bang Hamas..." gumam Alexa menutup matanya perlahan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung