The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 59 Kecemasan Putri Hades



Happy reading 🤗❤️


Like dan Votenya dong 🤗🤗🤗


.


.


.


.


.


.


.


Di minggu pertama Tuan Farhan dan anggota Black Wolf serta anggota Hades Khithonios begitu sibuk mendesain Mansion Utama menjadi sangat cantik nan anggun. Mendekorasi dengan berbagai jenis bunga. Ada beberapa jenis buket bunga P41 mawar artifisial, dan buket bunga P71 Euro artifisial dengan warna yang berbeda-beda. Mereka memasangnya di setiap sudut ruangan yang akan di jadikan sebagai acara pernikahan Nona muda mereka.


Serta lampu gantung dan ornamen tirai kristal yang berbentuk love di area masuk pengantin terkesan begitu mewah, konsep dekorasi yang di buat Tuan Farhan adalah bunga cinta, di mana dekorasi panggung di buat berbentuk love, lampu gantung kristal hingga pada pembuatan kue pernikahan berbentuk love. Entah apa maksud dari konsep tersebut.


Apa mungkin raja Iblis itu berharap agar pernikahan putrinya yang tanpa cinta itu tumbuh seiring dengan kebersamaan putrinya dengan rekan bisnisnya itu? itulah sebabnya dirinya memilih konsep bunga cinta dalam pernikahan sang princess.


Tuan Farhan juga mengundang chef terkenal di dunia untuk membuat kue berukuran besar dengan bentuk love juga di temani hiasan bunga di sampingnya sebagai pelengkap konsep yang sudah di atur.


Waktu terus berputar jam berganti menit, menit berganti detik bahkan kini sudah memasuki minggu kedua itu berarti hari yang di tunggu-tunggu raja Iblis telah tiba namun berbeda dengan gadis remaja yang masih berusia 17 tahun. Ia sudah sangat cemas dan khawatir bagaimana tidak khawatir hari ini adalah hari pernikahannya dengan pria yang belum pernah ia lihat seperti apa bentuk rupanya itu.


Dan kini dirinya sedang berada di dalam kamarnya yang tengah di rias oleh MUA, wajahnya menampilkan kesedihan dan kecemasan, memikirkan keadaan prianya seperti apa sekarang, hari di mana Karla menelponnya ia sudah tidak memegang ponsel miliknya karena Tuan Farhan sudah menyitanya sebagai bentuk kewaspadaan.


Aulia hanya bisa pasrah tidak membantah apapun yang di lakukan oleh sang Daddy, ia hanya berharap agar ia bisa di pertemukan dengan Unclenya itu dan bisa meminta maaf sebesar-besarnya.


Menjadi seorang putri satu-satunya dari pria konglomerat, sudah menjadi kewajiban untuk mengikuti aturan yang sudah di tetapkan. Entah mau atau tidak mau, tetaplah kewajiban harus di penuhi. Juga sebagai bakti seorang anak pada orang tua itulah kenapa Aulia tidak melawan saat di minta untuk menikah dengan pria lain.


Memandang nanar di depan sana, memikirkan nasibnya ke depan seperti apa, namun semakin di pikirkan rasa sakit di kepalanya makin menjadi namun sebisa mungkin ia menahannya.


"Lia berharap ini hanyalah mimpi, agar ketika Lia terbangun Lia masih bisa berandai-andai..." bisiknya dalam hati menatap kosong ke depan. MUA yang melihat kesedihan di wajah pengantin wanita akhirnya membuka suara.


"Kenapa bersedih? apakah kamu tidak bersedia menikah dengan pengantin pria?" tanya seorang wanita muda dan cantik yang berumur kisaran 30 tahun. Aulia mendongak menatap perias itu berusaha untuk menampilkan senyum manis di bibirnya.


"Siapa yang tidak bahagia di hari pernikahannya? Lia hanya merasa khawatir jika Lia membuat kesalahan di hari yang bersejarah ini. Jantung Lia berdegup kencang ini kali pertama Lia akan di tonton banyak orang." Jelas Aulia yang tak sepenuhnya berbohong. Ia merasa jantungnya berguncang hebat namun bukan karena bahagia tapi karena ia tidak akan menggapai mimpinya bersama sang Uncle.


Di saat hari ini tiba tidak ada lagi mimpi dalam kamus hidupnya, bahkan untuk sekedar berandai-andai menjadi seorang Princess itu sudah tidak berlaku, ia seperti sudah kalah.


"Terkadang di saat kita tidak menyukai yang sudah di berikan pada kita padahal itu adalah sesuatu yang sangat baik untuk kita namun sebaliknya sesuatu yang kita inginkan ternyata itu adalah hal yang tidak baik, namun begitulah manusia tidak akan mengerti masa depan ia hanya menginginkan yang nyata di depan mata tanpa melihat hari esok." Jelas MUA tersebut membuat Aulia terdiam mencerna setiap kata yang di lontarkan oleh wanita di depannya.


Apakah itu berarti ia harus menerima takdirnya itu? pikir Aulia.


Tangan wanita cantik itu bergerak ke setiap lekukan wajah Aulia, memberikan sentuhan halus di seluruh wajahnya namun dengan warna makeup yang pas dengan warna kulit pengantin wanita.


"Tutup matamu Nona!." Titahnya dan langsung di sanggupi oleh Aulia. Gadis itu langsung menjemukan matanya , sentuhan lembut itu membuat Aulia begitu rileks seakan dirinya sedang terbang ke udara, ia seperti berubah menjadi kupu-kupu yang seketika itu terbang mencari serbuk untuk di makan. Melintasi beberapa taman dengan banyak bunga-bunga berwarna-warni.


Sungguh ia baru merasakan teknik sentuhan yang membuat pikiran dan hati menjadi tenang. "Astaga, kakak ini belajar darimana sentuhan seperti itu? nyaman sekali." Gumam batin Aulia. Gadis remaja itu menarik sudut bibirnya tipis dan hal itu tak luput dari pandangan MUA membuat sang perias tersenyum tipis.


Wanita berumur kisaran 30 tahun itu lalu memulas garis kelopak mata Aulia dengan warna coklat, kemudian ia kembali memulas bagian bawah mata pakai perona mata kilap. Semua sudah di berikan yaitu maskara, perona pipi, alis yang di ukir sesuai dengan bentuk wajahnya, dan terkahir adalah sentuhan di bibir. Pewarna bibir berwarna peach itu menjadi pertama tergambar di bibir tipis milik Aulia, kemudian wanita itu mengambil pewarna cery lalu kemudian pelembab bibir dengan warna mengkilap.


"PERFECT"


Aulia kemudian membuka matanya menatap MUA dengan senyum tipis di bibirnya. MUA lalu menyuruh Aulia untuk berbalik menatap ke arah cermin dan betapa terkejutnya ketika melihat wajahnya yang tidak seperti hari-hari biasa. Sangat cantik, melebarkan bibirnya tersenyum.


"Oh God! apakah ini wajah Lia? cantik sekali!" pekik Aulia dengan mata berbinar-binar. Tatanan rambut bergaya messy hair yang dibentuk bun rendah, juga menambahkan aksesoris berdetail bunga warna putih.


"Maafkan Lia Uncle, maaf tidak menunggu Uncle... maaf" batin Aulia dalam hati. Aulia berdiri dari kursinya sedang MUA sudah mengambil baju pengantin yaitu Slip dress strapless dengan broklat warna krem serta desain bagian punggung terbuka. Aulia lalu memakainya dengan bantuan MUA. Tubuh tinggi, langsing serta pinggul yang lumayan besar itu begitu terlihat anggun saat menggunakan Slip dress strapless. Lekukan tubuh Aulia juga punggung putih mulus terpampang jelas di depan mata. MUA semakin terpukau melihat keanggunan Aulia.


"Wow benar-benar cantik Nona" pujinya membuat Aulia tersipu malu. " Sekarang adalah mahkota permata dan kalung permata." Tutur sang perias. Wanita itu lalu mengambil sebuah kotak berwarna biru di bukanya dan meraih sebuah kalung bernama The Heart of The Ocean.


Berlian biru berbentuk hati yang cantik ada di tengahnya serta dikelilingi oleh puluhan berlian putih yang di buat oleh Harry Winston. Tuan Farhan sudah memesan kalung The Heart of The Ocean jauh sebelum pernikahan putrinya di langsungkan, harga kalung tersebut mencapai US$ 20 juta atau setara Rp 280 miliar per buahnya. Bagi Tuan Farhan itu adalah harga yang ringan yang terpenting adalah putrinya.


Dan terakhir sang perias lalu memasang mahkota permata di kepala Aulia membuat gadis remaja itu terlihat bak putri raja. Sangat memukau.


Tak lama terdengar suara pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita paruh baya namun masih terkesan muda, ia adalah Jons. Wanita itu lalu berjalan ke arah pengantin wanita dan perias.


"Apakah sudah selesai?." Tanya Jons.


"Nyonya silahkan di lihat hasilnya" jawab perias. Jons terkejut dengan mulut terbuka lebar melihat pantulan putrinya di cermin besar.


"Wow, sayang kamu hari ini sangat cantik... kau tahu kamu seperti putri raja yang akan menikah dengan pangeran tampan" pekik Jons dengan bibir melebar. Namun Aulia menundukkan kepalanya ia tidak sanggup melangsungkan pernikahan ini. Ia benar-benar tidak bisa hatinya terasa berat.


Jons melihat putrinya bersedih segera memeluk putrinya dari belakang. "Maafkan Mommy sayang, tidak bisa membantu Lia... Daddymu sangat keras kepala dia bahkan tidak mau mendengar perkataan Mommy" lirih Jons.


"Mom, apakah Uncle akan membenci Lia? Lia takut Uncle tidak mau melihat Lia lagi" tutur Aulia mengangkat kepalanya melihat pantulan dirinya juga Jons.


Jons tersenyum tipis lalu menjawab. "Tidak akan! Uncle Tio adalah pria baik dia pasti akan mengerti posisi Lia saat ini... ayo kita turun ke bawah orang-orang sudah menunggu kamu"


Aulia berbalik menatap wajah Jons. "Apakah pengantin pria sudah datang?" tanya Aulia dengan perasaan berkecamuk. Jons menggeleng pelan.


"Kata Daddy kamu, pengantinnya masih di perjalanan sebentar lagi akan sampai" Aulia mengangguk pelan. Ia lalu beranjak di ikuti Jons berjalan menuju pintu, tak lama Nyonya Mita datang meraih tangan cucunya. Jona dan Nyonya Mita menjadi pengiring pengantin Aulia.


Dengan pelan, ketiga wanita cantik itu turun menapaki tangga, sedikit demi sedikit mereka sudah berada di tengah-tengah tangga. Semua pandangan tertuju pada tiga wanita yang sedang berjalan turun, terutama pada pengantin wanita.


"Astaga! cantik sekali"


"Dia adalah putri raja"


"Beruntungnya pengantin pria mendapatkan gadis secantik putri Tuan Farhan"


"Aku menginginkannya menjadi menantuku"


Begitulah bisik-bisik para tamu bahkan banyak sekali yang berdecak kagum padanya. Hingga tiba Aulia di atas panggung berdiri di temani keluarganya namun tidak dengan dua kakak kembarnya. Mereka masih dalam perjalanan menuju Indonesia. Mereka masih menunggu kedatangan sang mempelai pria hingga tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar dan...


"Pernikahan ini harus di batalkan!!"



Ilustrasi gambar Aulia


.


.


.


.


.


.


Bersambung