
Happy reading 🤗
Maaf yah Guys baru bisa up 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
.
.
.
.
.
.
.
Kini pesawat yang berasal dari negara korea mendarat sempurna di bandara Washington DC setelah menempuh perjalanan jauh sekitar dua puluh dua jam tiga puluh tiga menit. Itu adalah salah satu perjalanan tercepat yang dilakukan satu kali transit dari bandar udara internasional Soekarno-Hatta di Bandara internasional Incheon Korea sampai akhirnya tiba dikota yang dituju.
Setelah maskapai penerbangan Asiana airlines mendarat sempurna terdengar arahan pramugari untuk turun dari pesawat secara berurutan sebagaimana urutan kursi para penumpang.
Dua orang manusia turun dari dalam pesawat, wanita dengan setelan tentara itu merentangkan tangannya ke udara merasakan seluruh badannya remuk, lebih baik melakukan pekerjaan fisik penuh rintangan daripada hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa hal itu membuatnya tidak betah.
Sebagai seorang abdi negara ia sudah terlatih dan terbiasa melakukan pekerjaan fisik, rasanya tidak sehat untuk tubuhnya yang terbiasa bekerja hanya duduk diam.
"Kau seperti punya penyakit saja, baru duduk beberapa jam saja sudah kecapean" wanita bernama Ainsley itu melirik tajam kepada pria disampingnya.
"Aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan fisik jadi tubuhku mendapat dampaknya kala berdiam diri, apalagi perjalanan selama hampir dua puluh tiga jam, siapa yang tidak capek?" kesalnya sambil menatap horor lawan bicaranya. Pria bernama Vicky hanya menatap datar dan terus berjalan.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil berwarna ungu, warna kesukaan nona mudanya.
"Uncle, bukankah kita akan kembali ke Meksiko? kenapa kita ke sini?" tanyanya menatap pria disampingnya, Vicky membalas tatapan nona mudanya itu lalu menjawab.
"Boss menyuruh aku membawa kamu ke kediaman nyonya, kamu akan menjadi pengawalnya dalam sebulan sebagai penebusan masa pelatihanmu yang belum selesai" Ainsley tersenyum lebar, sudah lama ia tidak bertemu dengan neneknya itu.
"Baiklah, dengan senang hati" nenek Ainsley adalah salah seorang pengusaha yang kaya raya di kota Washington karena ketenaran dan kekayaannya membuat tuan Kalingga waspada akan keselamatan sang ibu hingga begitu banyak pengawal di mansion ibunya, juga beberapa orang yang menjadi pengawal pribadi ibunya namun, kita tidak tahu hati manusia yang akan berubah kapan saja.
Seorang anak bahkan orang tua menjadi musuh karena keserakahan yang terdapat dalam hati hingga memicu kedengkian dan iri hati. Itulah sebabnya tuan Kalingga menyuruh Ainsley untuk menjadi pengawal pribadi ibunya karena ia yakin putrinya bisa menenangkan hatinya dan ia tahu bahwa putrinya tidak mungkin bisa menjadi musuh dalam selimut apalagi ia begitu menyayangi neneknya.
Wanita tua itu adalah ratu dominan dalam perusahaan teknologi tercanggih di dunia ia juga termasuk salah satu ilmuwan yang menciptakan cairan yang bisa menghilangkan memori seseorang namun, identitasnya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu tidak sembarang jati dirinya diketahui oleh orang lain karena itu sewaktu-waktu bisa menghancurkan dirinya. Jika ketahuan ia melakukan eksperimen ilegal, itu akan membuatnya menjadi incaran negara sekalipun anaknya adalah salah satu abdi negara.
"Paman, apakah kita tidak membelikan hadiah untuk nenek? sudah lama tidak bertemu dengan nenek, aku sedikit lupa kesukaannya ... apakah Paman tahu nenek menyukai apa?" tanya Ainsley. Vicky menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Apa ini sebuah kebetulan atau ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya? nona muda adalah cucu yang sudah lama tinggal dengan nyonya bagaimana bisa ia melupakan sesuatu yang disukai nyonya? apa sistem memorinya bermasalah atau aku saja yang berpikir terlalu panjang? tidak mungkin jika ingatannya kembali, jika itu benar seharusnya dia sudah melarikan diri" bisik Vicky dalam hati menatap kosong wajah Ainsley.
"Uncle apakah ada masalah serius sampai pertanyaanku pun tidak digubris?" ketusnya dengan ujung bibir terangkat sebelah. Untuk menutupi keraguannya ia tertawa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sebelumnya mohon maaf, bukankah nona lebih tahu kesukaan nyonya? nona sudah lama tinggal bersama nyonya, seharusnya nona lebih tahu daripada aku" Ainsley memijat pelipisnya berbicara dengan pria disampingnya membuat kepalanya menjadi pusing, ia melipat kedua tangannya dan menatap keluar jendela. Bukankah sudah dijelaskan namun pria itu masih tidak mengerti.
"Wajar jika aku lupa, begitu banyak yang kuurus hingga membuat daya ingatku berkurang" ngelesnya membuat Vicky hanya menggeleng pelan.
Satu jam berada diperjalanan yang penuh dengan tantangan dan kesabaran yang harus dihadapi kini mobil yang ditumpangi Ainsley dan Vicky sudah tiba disebuah bangunan yang begitu megah, ada begitu banyak lingkaran bunga yang tumbuh disekitar mansion. Juga begitu banyak pepohonan rindang yang berjejer rapi di sisi kedua jalan membuat pemandangan tampak asri nan elok membuat mata seakan dimanjakan.
"Sudah lama aku tidak melihat pemandangan yang begitu indah, sepertinya aku akan betah berada dilingkungan sini" ucap Ainsley dengan bibir tersenyum lebar. Diam-diam Vicky menatap wajah Ainsley melalui ekor matanya terlihat ekspresi datar yang ditampilkan Vicky. Entah apa maksud dari ekspresinya itu.
Ainsley buru-buru turun dari mobil diikuti Vicky dari belakang, sedang sopir yang menyopiri mereka ikut turun dan membuka bagasi mobil, mengambil koper nona mudanya dan membawanya masuk ke dalam Mansion.
"Nenek! cucu tersayangmu pulang!" teriaknya heboh membuat orang-orang di sana berusaha untuk tidak mengeluh karena yang berteriak adalah nona mudanya juga salah satu sosok yang mereka takuti karena ketegasannya. Sekalipun suaranya mengganggu telinga tapi tidak pantas sebagai bawahan untuk menegur sang tuan, biarlah telinga mereka sakit yang terpenting tidak membuat citra buruk sebagai bawahan.
"Nenek! nenek! Ainsley pulang, tidakah untuk menyambutku?" teriaknya lagi namun tidak ada jawaban dari sang nenek membuat gadis itu mengeluh juga kesal.
"Maaf nona, nyonya sedang tidak berada di sini, beliau sedang keluar menghadiri acara penting" salah satu pria kekar menghadap Ainsley dan mengatakan jika neneknya sedang keluar membuat gadis itu menatapnya tajam.
"Kenapa tidak memberitahuku dari tadi? hmmm, terima kasih sebelumnya. Jika nenek sudah pulang sampaikan jika aku sudah di sini, dan temui aku di kamar" pria itu mengangguk mengerti lantas menunduk sebagai tanda hormatnya. Ainsley berjalan menuju salah satu ruang dimana lift berada, ia buru-buru masuk ke dalam dan pintu lift tertutup. Ia menekan tombol tiga karena kamarnya berada dilantai tiga.
Sedang Vicky masih berada dilantai satu dan duduk di ruang keluarga, ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Memulihkan kondisi tubuhnya agar kembali normal.
Sedang di negara lain tepatnya negara di benua Asia tenggara yaitu negara yang penuh akan rempah-rempah dan banyaknya sumber daya alam. Beberapa pria berkumpul disalah satu ruangan rahasia, seorang pria muda mengamati titik merah dalam maps ponsel ditangannya. Bibirnya melengkung membentuk senyuman manis.
"Titik merahnya berhenti di kota Washington tepatnya disalah satu bangunan besar, sepertinya jauh dari penduduk, hmmm ... lokasinya berada di wilayah pribadi yang tidak sembarang orang memasukinya" seorang pria muda berbicara membuat yang lainnya menatap gambaran peta tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung