The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 144 Pemakaman



Tepat pukul 4 sore di bandara internasional Washington Dulles, seorang pria berambut gondrong sedang menunggu seseorang, pria itu menggunakan masker juga kacamata yang bertengger di hidungnya tepat di antara kedua matanya. Pria itu berdiri di ruang tunggu penumpang pesawat. Tak jauh darinya terlihat dua orang pasangan paruh baya yang berjalan tergesa-gesa, tampak raut wajah mereka sangat tidak bersemangat bahkan ada sedikit bengkak di mata seorang perempuan paruh baya.


Pria gondrong yang melihat dua orang yang di tunggunya segera berjalan menghampiri mereka.


"Tante, paman, ayo aku antar kalian ke apartemen abang Hamas!" ajak pria tersebut yang ternyata adalah Azhar. Putra kedua raja Iblis. Kedua pasangan paruh baya itu mengangguk mereka tahu bahwa pria di depannya adalah Azhar, sekalipun dia tidak menampakan wajahnya namun mereka masih mengenali suara Azhar.


"Bagaimana bisa Shireen bisa terjatuh? a-apa kalian tidak bisa menjaga putriku? sekarang putriku bahkan sudah meninggalkanku, apa yang harus aku lakukan, oh putriku" lirih ibunda Shireen saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. Azhar duduk di kursi kemudi karena ia yang akan menyetir mobil.


"Maafkan kami yang tidak bisa menjaga putri tante, tapi kaka ipar jatuh dari tangga di malam hari dan pada saat itu kami semua sudah tidur, dia mengalami keguguran hinggga nyawa kaka ipar... emm tidak tertolong lagi" jelas Azhar merasa sedih. Perlahan-lahan mobil yang mereka tumpangi bergerak dan meninggalkan parkiran bandara.


Ibunda Shireen hanya bisa menangis air matanya membasahi pipinya marah pun tidak ada gunanya nyatanya putri semata wayangnya tidak akan pernah kembali ke dunia ini. Rasa lelah karena menangis, dada yang terasa sesak membuat perempuan paruh baya itu terlelap dalam tidur masih dengan benda kristal yang mengalir dari sudut matanya.


Azhar melirik di balik spion mobil, ia membuang napas kasar menatap dua pasangan paruh baya di jok kedua, ia juga memikirkan abangnya Hamas pasti pria itu sedang merasakan rasa bersalah yang luar biasa karena tidak bisa menjaga satu orang wanita.


Sedang di rumah sakit George Washington University, tuan Smith bersama Hanan selalu bolak balik melihat perkembangan kondisi cucu tuan Farhan. Sedang Hamas masih mengurung dirinya di dalam kamarnya, bahkan tidak makan dari kemarin. Mereka hanya berharap agar tuan Farhan segera tiba dan bisa membantu menasihati Hamas agar tidak egois karena saat ini ia masih memiliki dua orang anak yang harus ia urus.


Kini putra putri Hamas masih di rawat di ruang NICU (neonatal intensive care unit) dan kini sudah ada perkembangan baik dari anak-anak Hamas dan Shireen.


Di Apartemen besar, seorang pria dengan rambut acak-acakan dan tak terurus berjalan keluar dari kamar, menuruni anak tangga satu persatu, terdengar suara beberapa orang yang sedang bercakap-cakap. Hamas berhenti di tengah-tengah anak tangga mengamati interaksi orang-orang yang sedang melayat.


Mereka adalah Laura, River, serta keluarga tuan Zeus. Tuan Zeus di beri kabar oleh Azhar saat malam kepergian Shireen dan mereka sangat terkejut atas berita yang di dengarnya, setelah mendengar kabar dari Azhar tuan Zeus dan rombongan pun segera terbang dari Meksiko ke Washington.


Hamas kembali naik ke atas ia berjalan menaiki anak tangga tanpa menoleh ke belakang pria itu berjalan lunglai tak bertenaga akibat memikirkan kepergian istrinya.


Tak berselang lama mobil yang di tumpangi Azhar dan orang tua Shireen datang, terparkir di depan Apartemen besar lalu di ikuti mobil berwarna abu-abu. Azhar dan kedua orang tua Shireen turun dari mobil begitupula dengan orang yang ada di dalam mobil abu-abu.


Azhar yang melihat tuan Smith dan Hanan keluar dari mobil berwarna abu-abu segera menghampirinya.


"Oppa, Hanan, bagaimana keadaan anak-anak abang Hamas? apakah ada perkembangan baik hari ini?" tanya Azhar dengan wajah khawatir.


"Alhamdulillah mereka semakin sehat, kamu jangan khawatir urusan dua bocil itu serahkan pada Oppa saja..." jawab tuan Smith. Azhar bernapas lega ia mengangguk mengerti.


"Ayo kita masuk Oppa, Hanan!" ajak Azhar. Mereka pun masuk ke dalam Apartemen, tuan Robert dan istrinya terduduk lesu di samping mayat Putri satu-satunya itu, air mata kembali membasahi wajah ibunda Shireen rasa sesak yang dalam membuat mereka tak bisa berkata-kata.


Azhar, tuan Smith dan Hanan menatap kedua orang tua itu dari jauh, mereka ikut merasakan kesedihan orang tua Shireen, putri yang mereka besarkan selama ini kini pergi mendahuluinya.


"Di tinggalkan orang yang di cintai adalah sesuatu yang sangat di benci namun tak seorangpun yang bisa menghentikan takdir itu, manusia bisa apa nyatanya raja sekalipun yang memiliki kekuasaan besar tidak bisa melawan takdir ilahi" bisik Hanan dalam hati meratapi nasib orang tua di depannya.


"Hiks, hiks, hiks, anakku kenapa kau pergi secepat ini! andai kau tinggal di rumah mama mungkin kamu masih hidup sekarang..., kenapa? kenapa kau meninggalkan mama sayang? kenapa? huhuhu" tangis ibu Shireen pecah. Sedang suaminya hanya mengelus punggung sang istri walau tidak ada air mata yang keluar namun bisa di pastikan bahwa pria paruh baya itu merasa kehilangan dan terpukul.


Tak berselang lama seorang pria muda turun dari lantai dua, berjalan menuruni anak tangga satu persatu, pria itu terlihat lebih rapi dari saat pertama kali turun, rambutnya yang basah dan acak-acakan membuatnya terlihat sangat tampan. Semua mata tertuju pada Hamas kecuali orang tua Shireen yang masih setia menatap jenazah putrinya.


Pria muda itu menjatuhkan pantatnya di atas karpet di samping mayat istrinya, tak ada pembicaraan hanya mata yang berbicara.


Sedang Azhar berjalan keluar Apartemen karena ustadz yang mereka undang untuk mengsholati jenazah Shireen sudah datang. Tak seorang pun dari mereka yang bisa sholat jenazah jangankan sholat jenazah sholat wajib pun mereka tidak tahu, itulah sebabnya mereka mengundang ustadz yang memang berasal dari Indonesia.


"Assalamualaikum" salam seorang pria yang masih muda, tinggi pria itu sepantaran dengan Azhar yang memiliki tinggi 180 cm.


"Waalikum salam" jawab Azhar menatap heran pria di depannya. Matanya menyipit melihat pria muda di hadapannya sekarang, ia lalu melihat ke belakang mencari seseorang.


"Saya datang kemari atas undangan tuan Azhar, apakah benar ini alamatnya?" tanya pria muda tersebut.


"A-apakah kamu adalah ustadz?" bukannya menjawab Azhar balik bertanya. Mendapat angggukan jawaban membuat Azhar terkejut. Ia pikir ustadz yang akan datang adalah seorang pria paruh baya, tidak di sangka dia masih sangatlah muda.


"Dia masih sangat muda namun sudah di panggil ustadz, sepertinya ilmu agamanya sangat tinggi" bisik Azhar dalam hati.


"Ayo silahkan masuk Ustadz!" ucap Azhar mempersilahkan pria muda di depannya. Mereka kemudian masuk ke dalam, tanpa banyak basa-basi mereka pun mengsholati jenazah Shireen.


Usai sholat jenazah Shireen, mereka membawa jenazah Shireen ke belakang Apartemen Hamas, di sana sudah ada beberapa pria yang bertugas menggali tanah untuk tempat pengistirahatan terakhir Shireen.


Dengan wajah datar Hamas dan Azhar juga beberapa pria lainnya turun, Hamas ingin momen terakhir bisa menyentuh tubuh istrinya, rasa sesak di dada saat tangan Hamas menurunkan tubuh istrinya di atas tanah, tempat sempit itu seketika membuat air matanya jatuh. Ia benar-benar merasa kehilangan.


Kini jenazah Shireen sudah di kebumikan, Hamas masih setia duduk di pinggir kuburan sang istri, menyentuh batu nisan di depannya.


"Maaf tidak bisa menjagamu dengan baik" lirih Hamas pelan. butiran kristal itu kembali jatuh membasahi pipinya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung