The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 159 Fadel dan Fadil



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


.


Dua orang pria berjalan menaiki tangga menuju lantai 7 tampang mereka seperti orang yang tengah menahan kesal, berjalan cepat menuju salah satu ruangan di lantai tersebut. Tanpa mengetuk pintu mereka langsung menerobos masuk bahkan sampai menimbulkan suara keras membuat seseorang di dalam ruangan terkejut.


"Apa kalian berdua tidak bisa sopan sedikit saja? hukuman yang aku berikan tadi kurang hah!?" ketus pria berambut ikal, tatapannya tajam menatap ke arah dua pria dewasa di depannya.


Dua pria yang tak merasa berdosa itu balik melempar tatapan dingin, mencebik bibirnya kesal.


"Cih! kak Azhar kenapa menghukum kami tadi? padahal kami tidak bersalah, memangnya kaka mau kami kelainan dan menyukai sesama jenis!" ketusnya dengan mata mendelik. Pria ikal itu hanya menaikkan alisnya tinggi dan menatap datar wajah kedua pria di depannya.


"Itu hanya pernyataan saja, sebuah pernyataan belum masuk ke dalam tindakan kriminal, kaka melakukan hal tersebut agar mereka tidak menaruh dendam kepada kalian berdua apalagi kalian berada di negara orang lain, sekalipun keluarga kita mempunyai kekuatan finansial dan hukum kenegaraan yang tinggi tetapi menjauh dari masalah adalah salah satu cara yang terbaik untuk hidup tetap aman dan damai" jelas pria gondrong tersebut yang tak lain adalah Azhar.


Kedua pria itu adalah anak jalanan yang sudah tidak memiliki keluarga, bahkan mereka tidak memiliki tempat tinggal, jalanan adalah rumah mereka sebagai tempat tinggal, sebab kedua orang tuanya sudah meninggal saat mereka masih berumur lima belas tahun. Rumah mereka sudah tidak ada karena kedua orangtuanya memiliki hutang di rentenir dan kebetulan saat itu mereka tidak mempunyai uang alhasil rumah mereka disita oleh rentenir.


Alhasil saat umur lima belas tahun, mereka sudah mengamen dan bahkan meminta-minta dijalanan, sulit bagi mereka diumur yang begitu dininya mencari pekerjaan.


Pada saat itu tuan Farhan baru saja pulang dari kantor dan melihat dua anak kembar yang sedang duduk ditrotoar di bawah terik sinar matahari. Bahkan sudah beberapa kali sampai salah satu dari mereka jatuh pingsan dan mirisnya tak seorang pun yang membantu mereka, dengan perasaan iba tuan Farhan membawa mereka ke rumah sakit dan merawat mereka, sampai saat ini kedua kakak beradik itu di angkat sebagai anak oleh tuan Farhan.


Mereka juga disekolahkan sampai lulus, kini telah berlanjut ke pendidikan yang lebih tinggi dengan jurusan agribisnis. Tuan Farhan ingin mereka menguasai pasar dunia dan bisa bekerja di perusahaannya biar bagaimanapun mereka juga adalah putranya.


"Tapi kak, jika dibiarkan mereka akan semakin melakukan perbuatannya kembali, mungkin belum sekarang tetapi nanti. Bagaimana jika perilakunya semakin tidak mendidik apakah kami harus diam saja" protesnya tidak terima. Azhar terdiam sejenak memang benar apa yang dikatakan oleh dua adik angkatnya itu.


"Hmmm, jika mereka melakukan perbuatan diluar batas maka lakukan semau kalian, berikan pelajaran yang membuat mereka benar-benar jerah ... apa kalian berdua mengerti?" jawab Azhar dan dua pria tersebut mengangguk sebagai jawaban.


"Bagus, jangan terlalu masuk ke ruangan kakak jangan sampai ada yang mencurigai kalian berdua. Identitas kita saat ini tidak diketahui oleh orang banyak kakak takut jika mereka mengetahui hubungan kita mereka akan mencari kelemahan kita, apalagi begitu banyak musuh. Apa kalian mengerti"


"Iya kak, kami akan berhati-hati, jangan khawatir kami bisa menjaga baik-baik rahasia ini" tutur mereka mantap.


"Kami pamit dulu"


"Tunggu!" kedua pria tampan dengan kulit sawo matang itu menatap Azhar dengan tatapan menanti.


"Ini uang jajan untuk kalian berdua" sepuluh lembar dollar Amerika disodorkan oleh Azhar, kedua pria itu tersenyum lebar lalu segera mengambilnya cepat. Azhar hanya geleng-geleng kepala, uang memang membuat orang bahagia siapa yang tidak suka? barang berharga yang digunakan sebagai alat tukar.


Kakak beradik itu segera keluar dari ruangan bernuansa putih cerah, mereka berdua bernama Fadel dan Fadil. Fadel saat ini berumur 21 tahun dan dia lebih mudah setahun daripada Fadil yang sudah menginjak usia 22 tahun. Mereka berdua begitu bersyukur kepada Allah karena sampai saat ini mereka diberikan nikmat sehat juga kekayaan yang melimpah sekalipun sekarang sudah menjadi anak dari konglomerat namun, mereka tidak akan menjadi sombong.


"Sepertinya mereka mau berulah lagi" desah Fadil dalam hati, merasa konyol dengan tingkah teman kelasnya itu. Melihat senyum mesum temannya ingin sekali ia menonjok wajah mesum tersebut membuat sakit mata saja.


"Memang jodoh tidak kemana, kalian sendiri yang datang pada kami" seorang pria berambut merah itu berkata sambil berjalan mendekati kedua pria kembar.


Sentuhan lembut mendarat didagu Fadel membuatnya langsung memolototinya. Menurutnya hal itu sudah masuk pencabulan ia mengepal tangannya kuat, andai ia tidak memikirkan kebaikan tuan Farhan dan tidak ingin membebaninya, mungkin sudah habis dihajar para sampah-sampah itu.


"Kalian berdua adalah selera kami, sungguh enak jika kalian berdua melayani kami hahahha"


BUGH


Satu pukulan mendarat di wajah seorang pria berambut merah membuatnya terpental ke dinding, temannya yang berambut merah menatap nyalang ke arah Fadel karena dia sudah memukul temannya.


"Kurang ajar! seorang pendatang berani sekali dengan tuan rumah!" serunya dengan marah, kedua kakak beradik itu malah melempar senyum meremehkan membuat pria bule itu semakin emosi, tangannya melayang hendak memukul Fadel namun dengan sigap Fadil menangkap tangannya lalu memelintirnya ke belakang.


Fadil kemudian berbisik ke telinga pria berambut merah "Jangan sekali-kali menaruh tangan kotormu pada adikku, apa kau sudah pernah merasakan bagaimana tulang-tulang tubuhmu diremuk dan dipatahkan? jika tidak mau merasakan maka jangan berulah atau kau akan mengetahui bagaimana ganasnya singa kalau sudah bangun!" ia mendorong tubuh pria menjijikkan itu darinya lalu menarik tangan adiknya dan segera keluar dari toilet.


Sedang dua pria yang berasal dari kota Washington menatap mereka tajam bahkan terlihat kepalan tangan terkepal kuat, juga urat-urat di dahinya tercekat jelas seakan menyimpan dendam yang teramat sangat.


"****! kalian berdua! berani sekali menyinggungku, akan kubuat kalian menyesal bahkan merasa hidup enggan mati tak mau!" umpatnya kasar.


"Benar sekali, tidakkah mereka merasa senang karena disukai oleh kita tapi dengan sombongnya mereka mencampakkan kita, lihat saja akan kubuat mereka berdua berlutut memohon welas kasih padaku, dan pada saat itu aku akan buat hidup mereka benar-benar hancur" katanya dengan nada dingin, bahkan tatapannya mengisyaratkan kebencian yang sangat dalam.


Entah darimana kepercayaan diri yang begitu tinggi itu, lagipula Fadil dan Fadel adalah pria normal, wajar saja jika menolak pernyataan cinta kalian. Konyol sekali.


Di sisi lain, pria berambut ikal itu menatap pesan yang dikirim oleh seseorang, setelah kepergian kedua adik kembarnya ia fokus pada pesan yang belum lama masuk ke emailnya. Sebuah lokasi juga pesan perintah yang mengharuskan dirinya untuk pergi ke titik lokasi tersebut.


"Apakah benar adik Alexa masih hidup? sudah selama ini dan kabarnya tiba-tiba muncul ... bukankah hal ini sangat mencurigakan? aku akan memastikan dengan pandanganku sendiri" bisiknya dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung