
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
Masih di tempat yang sama yaitu hotel Alana, acara pernikahan putra raja Iblis dan salah satu anggota Black Wolf kini sudah selesai. Sebenarnya Tuan Farhan dan lainnya mengusulkan untuk mengadakan resepsi pernikahan namun Hamas dan Richo tidak setuju.
Kedua pengantin pria itu tidak mau menghabiskan tenaga juga waktu mereka hanya untuk duduk dan berdiri menyambut para tamu. Ada yang lebih penting dari ucapan selamat yaitu malam pertama.
Rupanya malam pertama sudah menjadi salah satu impian bagi pria yang baru menikah itu. Nyonya Mita, Jons dan nyonya Adelia sudah mendekorasi kamar kedua pengantin dengan sedemikian rupa.
Kelopak mawar merah berhamburan di atas ranjang king size dengan bentuk love, sebuah lilin yang menyala terletak di atas nakas dekat ranjang membuat siapapun yang mencium aroma lilin tersebut terasa nyaman dan ada sensasi yang tak biasa di dalam tubuh.
Seakan ada hasrat terpendam yang ingin meronta keluar, berontak dengan menggebu-gebu. Di lantai tiga, di kamar nomor B203 dua sepasang wanita dan pria sedang duduk saling menyamping. Di malam yang hampir terbilang larut, pukul 10 malam dua sepasang kekasih yang baru menikah belum menutup matanya untuk tidur namun masih menatap satu sama lain.
Padahal keduanya sudah cukup mengenal satu sama lain, namun entah kenapa keduanya merasa canggung ketika berada di dalam satu ruangan dengan nuansa yang tak bisa di lukisan bahkan tak mampu di jabarkan oleh lisan.
Mata indah keduanya saling memancarkan hasrat manusiawi, menatap pelan penuh irama, terdengar alunan musik saat kedua pasangan halal itu saling mendekat, seperti jiwa yang sudah di hipnotis tanpa sadar tubuh keduanya merapat, hembusan napas menerpa kulit, tatapan sayu kembali terpancar dari mata keduanya seakan meminta belaian asmara. Tak tahu siapa yang memulainya namun bibir itu sudah menyatu, lidah yang saling bertaut bergerilya di rongga mulut.
Tangan si pria mulai melancarkan aksinya, bermain ke tempat yang selalu di impikan setiap pria normal, dan si wanita meremas rambut prianya merasa lemas, dan tak berdaya di bawah kungkungan prianya. Ia seperti terbang dengan pikiran yang kosong, sesuatu yang belum pernah ia rasakan dan malam ini tepat di hari pertama pernikahannya ia menyerahkan sesuatu yang sangat berharga..., Sesuatu yang ia jaga selama ini.
"Eugh" lenguhan indah keluar dari mulut wanita cantik asal belanda, keringat kenikmatan keluar dari tubuhnya, rambutnya yang terurai ikut basah akibat sensasi kenikmatan yang tak bisa di jelaskan oleh nalar.
"Istriku, suaramu begitu merdu di telingaku, seperti bangsi buluh perindu" bisik pria tersebut, yang tak lain adalah Hamas putra sulung raja Iblis. Shireen yang sudah terbuai akan api gelora tak bisa mendengar perkataan Hamas, indra yang tak pernah berhenti bekerja setiap sekonnya itu, kini tak berfungsi di saat hasrat nikmat dunia berada di atas puncak nirwana.
"Eugh, Ha-Hamas, a-aku sudah tidak sanggup lagi" tutur Shireen terbata-bata. Hamas tersenyum melihat wanitanya yang sudah terkulai lemas di bawah kungkunganya itu.
"Ini belum seberapa sayang, aku akan mengajakmu mencapai alam nirwana yang bahkan akan membuatmu merasa ketagihan dan terus memintaku untuk mengulanginya lagi" bisik Hamas di telinga Shireen. Shireen tak menjawab, wanita itu malah menutup matanya dengan posisi tubuh telentang, menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh suaminya.
Di lain tempat di lantai dua di kamar nomor A09 dua pasangan suami-istri itu sudah mengambil posisi tidur di atas ranjang. Saling berhadapan dengan tatapan saling bertemu, tersenyum tipis keduanya pun tertawa kecil.
"Sini, aku ingin memeluk tubuh istriku" ucap Richo dengan mengedipkan mata sebelah. Karla memonyongkan bibirnya pura-pura kesal.
"Kenapa istriku? kenapa bibirmu manyung begitu, mau di cium hmmm?" canda Richo dengan tatapan yang sulit di artikan, sesaat kemudian bibir tipis itu melengkung tersenyum lebar kala sang istri perlahan-lahan mendekat ke arahnya.
"Sayang, maaf yah aku tidak bisa memenuhi kewajibanku... karena aku lagi datang bulan" ujar Karla dengan ekspresi bersalah. Richo mengangguk pelan tangannya terulur mengelus surai pirang itu.
"Jangan minta maaf sayang, itu bukan salah kamu lagipula kamu tidak bisa mengatur kapan datangnya haid itu..., sekarang sudah malam lebih baik kita tidur" balas Richo tersenyum tipis. Mantan jones itu mencium kening Karla penuh kelembutan.
"Hmmm, sepertinya malam ini bukan rezeki adikku" batin Richo menguatkan hatinya karena fantasi yang sudah di bangun dari beberapa minggu ini runtuh dalam satu malam, hanya karena kedatangan tamu yang tak di undang membuat pria mantan jones itu terluka namun tak berdarah.
"Sepertinya kamu kecewa yah, wajah kamu sangat tidak bersemangat" kata Karla lagi dengan wajah di tekuk membuat Richo langsung menatap ke arah istrinya.
"Hey, aku kecewa apa? tidak ada yang perlu di kecewakan... lihat wajah suami kamu baik-baik! wajah ini selalu tersenyum" Richo melebarkan senyumnya dan Karla pun ikut tersenyum tipis.
"Ayo tidur, hari sudah sangat malam, akan lebih baik kita beristirahat sekarang..., sebelum adikku ini terbangun dan meronta" sambungnya dalam hati. Karla yang tak tahu perasaan suaminya pun mengangguk tanpa bertanya lagi. Kedua pasangan suami-istri yang baru menikah itu pun terlelap dalam mimpi yang indah.
Di lain tempat, di negara eropa tepatnya di negara Washington DC, seorang wanita dengan style militernya, rambutnya di kuncir kuda hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang sangat putih dan mulus. Tengah berhadapan dengan beberapa pria berbadan kekar.
"Nona, apakah tidak apa-apa jika kami berlima melawan nona sendirian? kami takut jika..." Ucapan pria tersebut di potong oleh wanita yang di panggil nona.
"Aku paling tidak suka jika aku di remehkan bahkan di kasihani oleh orang!" jawabnya dengan tatapan datar, hal itu membuat lima pria kekar tersebut sulit hanya sekadar menelan ludah.
"Bersiaplah, dan lindungi tubuh kalian jangan sampai tulang-tulang kalian menjadi hancur karena pukulanku" titahnya dengan senyum devilnya. Wanita tersebut langsung melayangkan pukulan dan tendangan lurus kepada lawannya, sedikit meleset namun membuat wanita itu makin buas.
Sedang tak jauh dari arena pertarungan, seorang pria paruh baya dengan salah satu pria berbadan atletis sedang menatap ke arah pertarungan yang semakin sengit.
"Aku tidak salah memilihnya menjadi penerusku" gumamnya pelan dengan mimik wajah yang sulit di jelaskan.
"Tuan, saya takut jika nona Ainsley akan segera mengetahui jati dirinya yang sebenarnya" kata Vicky, pria yang sudah melatih Ainsley itu memandang ke arah Tuannya yang sedang duduk di kursi.
"Dia tidak akan tahu kalau dia tidak bertemu dengan orang-orang dekatnya..., aku akan segera mengirimnya untuk menyelesaikan misi rahasia, dengan begitu selamanya dia akan menjadi pengganti putraku" jawab pria paruh baya dengan sorot mata tajam. Namun seperkian detik sudut bibirnya di tarik ke atas membentuk sebuah lengkungan tipis namun menyiratkan racun yang mematikan.
"Kasihan kamu nona harus berada di tempat yang mengerikan" batin Vicky memandang nanar ke arah Ainsley.
.
.
.
.
.
.
Bersambung