
Happy reading 🤗
Like dan komen Guys ❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
Tangan Alexa terkepal kuat saat mendengar penegasan dari Hamas, bahwa ia akan tetap memilih pendiriannya membuat hatinya begitu sakit, dengan perasaan tak menentu arah Alexa memejamkan matanya dengan menahan air mata agar tidak keluar.
Ia pikir bahwa pria di masa kecilnya akan membalas perasaannya namun ternyata itu hanyalah khayalannya sendiri membuatnya benar-benar patah hati. Tidak ada lagi harapan memaksapun sudah tidak ada guna nyatanya rasa sakit hatinya tidak membuat Hamas goyah dalam pendiriannya.
"Hidup tidak akan bisa bahagia jika cinta di paksakan, aku menyerah aku kalah... aku tidak akan mungkin mendapatkan abang Hamas lagi, mungkin inilah saatnya aku menjauh darinya sudah cukup aku berjuang nyatanya cintaku akan tetap sama" lirih Alexa dalam hati. Sekuat tenaga ia menahan bening kristal itu agar tidak keluar dari kelopak matanya.
"Ronald cepat kesini! aku tidak mau bersama abang lagi" teriak Alexa dalam hati berharap agar pria yang di panggil segera menolongnya. Jujur saja ia tidak mau melihat Hamas lagi ataupun mendengar suaranya hatinya tidak akan sanggup menahan sesak di dadanya.
Memang takdir berpihak pada Alexa nyatanya saat di panggil, pria dengan rambut ikal itu masuk ke dalam kamar Alexa dengan menenteng sebuah kotak obat di tangannya, Hamas yang sudah mencari keberadaan kotak obat namun tak menemukannya.
"Abang cari apa?" tanya Ronald. Merasa namannya di panggil pria dengan rambut side part itu segera memutar kepalanya pelan ke sumber suara.
"Aku mencari kotak obat tapi tidak ketemu" jawabnya.
"Kotak obatnya memang tidak ada di sini, ini aku bawakan kotak obat" jelas Ronald, melihat kotak obat di tangan Ronald pria bernama Hamas segera menghampiri Tuan rumah sembari mengulurkan tangannya ke depan.
"Berikan kotak obatnya biar aku yang mengobati luka Alexa." Tuturnya dingin namun tak membuat Ronald memberikan pada Hamas.
"Tidak perlu bang, aku sendiri yang akan mengobati lukanya lebih baik abang pulang saja kasihan pacar kaka di rumah sedang menunggu" tukas Ronald berjalan melewati Hamas masih dengan tangan menjulur ke depan.
"Baiklah kalau begitu aku titip Alexa, kalau ada apa-apa segera hubungi aku" jawab Hamas. Pria itu menatap wajah wanita yang terbaring tidur di atas ranjang, setelah menatapnya ia kemudian berjalan keluar meninggalkan Ronald dan Alexa.
"Kamu bisa bangkit Alexa! tanpa abang kamu bisa menjalani hidup, lebih baik aku sembuhkan penyakitku ini mungkin dengan mengikhlaskan abang aku akan menjadi lebih baik lagi" gumam batinnya. Merasa sudah tidak mendengar suara Hamas perlahan-lahan Alexa membuka matanya.
"Kamu sudah sadar? maaf aku mengobati lukamu" ujar Ronald.
"Bantu aku bangun aku ingin duduk" pinta Alexa menatap dalam wajah pria di depannya. Ronald mengangguk sebagai jawaban dan Alexa tersenyum tipis.
"Dan pada akhirnya orang lainlah yang merawatku padahal aku tidak terlalu dekat dengannya tapi dialah orang yang mengerti aku" bisiknya dalam hati. Ronald segera membantu Alexa untuk duduk bersandar di sandaran ranjang setelah sudah, pria itu meminta izin untuk mengobati bekas gigitan Hamas dan Alexa hanya mengangguk.
Dengan telaten Ronald mengobati luka di pundak Alexa setelah menurunkan sedikit baju kemeja berwarna hitam tatapan Alexa terus tertuju pada wajah tampan di depannya ia baru sadar jika teman sekolahnya terlihat cukup lumayan.
"Hey kenapa menatapku terus? aku sampai salah tingkah di buatmu... jangan terus melihatku aku tidak bisa bernapas karena tatapanmu sangat tajam" seru Ronald menyadari jika gadis di depannya terus melihatnya. Alexa terkekeh geli.
"Ayo pacaran!" kapas di tangan Ronald seketika terjatuh mendengar ajakan dari gadis pujaannya, matanya menatap dalam wajah Alexa dengan tatapan minta di perjelas lagi.
"Aku akan katakan sekali lagi tapi jika kau tidak mendengarnya maka ajakanku akan hangus" bagai kucing manis penurut Ronald mengangguk antusias dengan mata berbinar-binar menatap wajah cantik di depan matanya.
"Ayo pacaran! aku ingin kamu men..." Ronald langsung menyumpal bibir Alexa dengan bibirnya menekan tengkuk leher gadis itu kuat lidahnya langsung bermain dengan lidah Alexa berputar saling menyatu.
"Hey! astaga belum sedetik pacaran kamu sudah menciumku dan sekarang kamu menyuruhku untuk menciummu apa kau waras?!" pekik Alexa melotot tajam.
"No! a-aku hanya ingin memastikan dengan tindakanmu" jawabnya cepat dengan dua jari telunjuk saling bertautan.
"Astaga! Pria ini sungguh kekanakan aku baru melihat tingkah anehnya ini" batin Alexa. Gadis itu lalu mendekat ke arah Ronald refleks pria itu menutup matanya Alexa melihat itu hanya mampu geleng-geleng kepala.
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir Ronald membuat pria itu seketika oleng ke belakang dan...
BUGH
"Awww" pekik Ronald merasakan punggung dan kepalanya terbentur ke lantai, gadis di atas ranjang itu menutup mulutnya ternganga.
"Hey! bagaimana bisa kamu terjatuh astaga! apakah sakit" Alexa segera menolong Ronald yang kesakitan melihat wajah meringis pacar barunya membuatnya terkekeh geli.
"Aku terlalu terkejut karena kamu mau membalas cintaku sampai tubuhku pun tiba-tiba menjadi tidak seimbang aku pikir aku sedang terbang ke angkasa karena ciumanmu... eh tahu-tahunya malah terjatuh di atas lantai" jelas Ronald menggosok-gosok kepalanya yang sakit.
"Hahahaha, kamu ini yah ada-ada saja" Alexa mendudukkan tubuh Ronald di bibir ranjang dan dia pun ikut duduk di samping Ronald.
"Ka-kamu tidak terpaksa kan menerima cintaku?" tanya Ronald memposisikan duduknya menghadap Alexa, gadis itu menggeleng sebagai jawaban.
"Mungkin jika aku jujur, aku sangat terpaksa pacaran denganmu tapi hanya kamu yang bisa membantuku... please bantu aku untuk melupakan abang aku, mungkin aku salah karena pacaran denganmu hanya sekedar pelampiasan, hanya sebagai objek agar aku bisa melupakan abang aku... maaf jika aku membuatmu tidak nyaman." Alexa tertunduk malu. Sudah tinggal di tempat Ronald malah membuat pria itu sakit hati ia benar-benar telah menjadi orang yang kejam.
Ronald tersenyum tipis tangannya terulur menyelipkan anak rambut di telinga gadisnya, memajukan wajahnya hingga Alexa dapat merasakan benda kenyal itu mendarat di dahinya.
"Jangan minta maaf, aku yang seharusnya minta maaf dan terima kasih... aku senang jika aku bisa membantumu bisa mengurangi bebanmu, jangan sungkan untuk bercerita, aku sekuat tenaga akan membuat kamu melupakan abang kamu yang terpenting kamu mau membuka hatimu untukku agar usaha kita berdua membuahkan hasil" jelas Ronald dengan suara lembut membuat Alexa berkaca-kaca, ia tidak tahu sebesar itukah cinta Ronald padanya sampai-sampai pria itu tidak marah saat ia bilang bahwa Ronald hanya objek pelampiasan.
"Terima kasih, terima kasih. Aku akan membuka hatiku sepenuhnya untukmu" tutur Alexa yang langsung memeluk tubuh pria di sampingnya.
"Malam ini ayahku memanggilku untuk makan malam, bisakah kamu ikut denganku? aku tidak terlalu biasa berada di rumah Utama" pinta Ronald. Alexa mendongak dengan kepala mengangguk pelan.
"I love you my new girl" bisik Ronald dan hanya mendapat deheman dari gadisnya, ia tersenyum tipis kala tak mendengar jawaban yang ia mau, namun walau begitu Alexa sudah menjadi kekasihnya dan ia merasa itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Tidurlah kamu harus istirahat aku akan kembali mengobati lukamu" Alexa mengangguk, dirinya juga merasa lelah saat ini.
"Tidurlah denganku, aku ingin di peluk olehmu" ajakan Alexa, lagi-lagi membuat Ronald syok berat, ia seperti anak kecil yang di beri permen setoples.
"Oh God! jantungku mau meledak saja" pekik batin Ronald.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung