
Happy reading 🤗
Beri dukungannya dong teman-teman biar author makin semangat up-nya ❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
Sinar mentari menyinari kota Meksiko di sebuah bangunan besar nan megah yang di sebut sebagai Mansion. Seorang gadis menggeliat pelan kala bunyi alarm yang ia pasang berbunyi nyaring memekakkan telinga.
"Euugh, malas banget bangunnya... andai kuliah di kampus Daddy pasti semua serba instan. Ahhhh, kalau gini kan Lia rindu Daddy" gumamnya ngelantur. Berusaha untuk duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kasur. Mengucek matanya yang masih terasa berat.
"Semalam Lia tidur jam tiga, ahh... kenapa waktu pagi cepat banget sih" keluhnya mengambil benda yang mengganggu tidurnya melihat angka yang tertutup oleh kaca di benda tersebut.
"What!! jam 10? Lia bisa telat sekarang!!" Aulia melempar benda persegi itu hingga terpental jatuh di lantai, dirinya berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Lia harus mandi cepat-cepat jangan sampai Lia telat mendaftarnya" gumam Aulia yang sudah menyalakan shower. Buliran-buliran air dari atas lubang-lubang kecil membasahi tubuh Aulia yang polos. Tidak sampai sepuluh menit Aulia sudah menyelesaikan ritual mandinya.
"Astaga! Lia lupa membawa handuk" gerutu Aulia menatap tubuhnya yang polos. "Lia kan sendiri di kamar jadi tidak masalah jika Lia keluar kayak gini kan" tuturnya lagi. Kaki jenjangnya melangkah menuju pintu, membuka pintu kamar mandinya dan berjalan keluar. Tetesan air membasahi lantai akibat buliran-buliran air yang masih menempel di tubuhnya.
Sepasang mata membulatkan bola matanya kala melihat pemandangan yang membuat matanya sakit, jakunnya naik turun menelan ludahnya kasar.
"Oh ****!" umpatnya dalam hati. Dengan cepat sosok tersebut menutup matanya namun tidak untuk pikirannya. Sepintas gambar yang membuat adik bawahnya menegang seketika, dirinya benar-benar mengutuk dirinya karena berani masuk tanpa sepengetahuan sang pemilik kamar.
"Kenapa aku harus membuka pintu yang masih terkunci, bodoh Tio! kau bisa mengatakan saat dia sudah keluar kan!!" gerutunya dalam hati.
"Astaga dia sudah sangat besar ternyata" tuturnya dalam hati. Dengan napas yang memburu. Sedang pemilik kamar masih belum menyadari jika di kamarnya terdapat sosok tak di undang. Makhluk halus dadakan.
Aulia mengambil handuk yang tergantung di hanger gantungan kemudian membungkus tubuh polosnya melilitnya hingga sebatas pahanya.
"Oh di mana ponselku...?" tanya Aulia dengan alis berkerut. Mengingat-ingat di mana ia meletakkan ponselnya itu. "Ah iya aku menaruhnya di atas nakas" sambungnya. Membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah nakas, di mana tempat itu tidak jauh dari sofa yang di duduki oleh makhluk halus.
"Akkkkhh, kyaaaaa!" teriak Aulia kencang kala melihat seorang pria yang sedang duduk di sofa kamarnya. Laki-laki itu segera membuka matanya karena tadi ia menutup matanya dengan kepala bersandar di sandaran sofa.
Kedua mata pria itu kembali terbuka lebar kala handuk yang di pakai Aulia melorot ke bawah hingga memperlihatkan aset yang harus tersembunyi. Kembali menelan ludahnya kasar.
"Kamar wanita memang tempat neraka" batinnya menahan hasratnya.
"U-uncle, a-apa yang Uncle lakukan di kamar Lia? pintu kamar Lia kan terkunci." Cicitnya menggigit bibir bawahnya. Menutup dua gunung kembarnya juga aset di bawahnya.
"Cepat pakai handukmu!!" titah pria tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Tio.
"Tutup mata Uncle dulu! Lia, Li-Lia malu" lirihnya dengan suara pelan. Bahkan wajahnya sudah memerah bak apel merah di kota Malang.
"Aku tidak akan ***** melihat tubuh datarmu Nona. Cepat pakai handukmu atau Nona sedang menggoda Uncle...?." Ucapnya dengan terkekeh kecil. Kaki sebelah kanannya ia angkat hingga menindih kaki kirinya.
"Astaga! kenapa kamu tidak pakai handukmu itu Nona!!! kamu mau aku memakanmu sekarang hah!" gerutu Tio dalam hatinya, mengepal tangannya kuat berusaha untuk tetap tersadar dan bisa mengendalikan syahwatnya.
"Apakah Lia tidak semenarik itu? sampai membuat Uncle Tio tidak sedikitpun tertarik pada tubuh Lia?" bisik Aulia dalam hati.
"Uncle beneran tidak tertarik? apakah Uncle tidak normal?" tanya Aulia dengan tubuhnya yang masih polos membuat laki-laki di depannya begitu frustasi.
"Pakai handukmu Lia! apa kau tidak punya rasa malu sedikitpun? kamu ingin mempermalukan dirimu hah!" bentak Tio dengan wajah merah padam. Gadis itu menatap Tio dengan mata berkaca-kaca bahkan jika berkedip saja air mata itu akan keluar dari pelupuk matanya.
"Apa Lia serendah itu Uncle? yah, Uncle benar. Lia memang bukan wanita baik-baik, Lia tidak punya rasa malu dan Lia akan menggoda Uncle sampai Uncle mau mencintai Lia lagi!." Teriak Aulia dengan kepalan tangan kuat, akhirnya benda kristal itu luluh membasahi pipinya.
"Jika Lia tidak bisa mendapatkan cinta Uncle maka Lia akan mendapatkan tubuh Uncle agar Uncle menikahi Lia" tuturnya tegas dengan senyum tipis di bibirnya. Air matanya masih mengalir di pipinya perlahan kaki jenjangnya melangkah dekat ke arah Tio yang tengah menatapnya marah.
"Daddy, Mommy, maafin Lia" lirihnya dalam hati. Menguatkan hatinya untuk lebih berani.
Hingga tubuh polos itu benar-benar di depan Tio membuat pria itu harus menelan ludahnya kasar.
"Uncle, tidak mungkin kau tidak tergoda dengan tubuh polos ini... Lia yakin sekarang Uncle tidak bisa menahannya" ucapnya dengan nada menggoda. Menjatuhkan bokongnya di atas pangkuan Tio mengalungkan tangannya di leher pria yang di panggil Uncle itu.
"Kau benar-benar gila Lia! Uncle baru sadar kalau kamu memang murahan" ucap Tio dengan tatapan tajamnya mendorong tubuh Aulia hingga terjatuh ke atas lantai. Pria itu tersenyum jahat dengan gelengan pelan. Beranjak dari duduknya melangkah keluar dari kamar Aulia namun sebelum itu Tio berjalan mengambil handuk menutupi tubuh Aulia yang seharusnya tidak ia lihat.
"Aku tidak salah mengambil keputusan... untuk tidak mencintaimu! gadis murahan" bisiknya pelan lalu keluar dari ruangan tersebut menutup pintu kasar hingga mengakibatkan suara yang melengking. Gadis itu masih mematung di atas lantai. Menatap kosong lantai berwarna putih kebiru-biruan.
"Kau benar-benar gila Lia! Uncle baru sadar kalau kamu memang murahan."
Aku tidak salah mengambil keputusan... untuk tidak mencintaimu! gadis murahan"
Kata-kata dari pria yang sangat di cintai malah mengatakan perkataan yang sangat menyakitkan.
"Hiks, hiks, benar. Lia memang murahan Uncle, semua yang Uncle katakan adalah benar... Lia sangat murahan hanya demi mendapatkan cintamu Uncle tapi sayang semua tidak akan berhasil. Hiks, hiks, maafin Lia, maafin Lia, Uncle." Lirihnya dengan lutut di tekuk menyandarkan kepalanya di atas dua lututnya.
"Uncle tidak mencintai gadis murahan seperti Lia! Lia harus apa lagi agar Uncle bisa mengerti perasaan Lia? apa yang harus Lia lakukan lagi agar Uncle bisa membalas cinta Lia, hiks... hiks" tuturnya dengan suara lirih. Tenggorokannya terasa sakit menahan tangis, memukul-mukul dadanya yang semakin nyeri.
"Apakah Lia harus menyerah dengan perasaan Lia? andai Lia tidak mencintai Uncle, apakah Uncle masih mau berteman dengan Lia?" gumamnya dalam hati. Ia merasa tubuhnya sangat lemas berusaha bangkit dari duduknya memakai handuk hingga menutupi tubuhnya, lalu berjalan ke salah satu ruangan khusus penyimpanan pakaian. Mengambil pakaian lalu mengenakannya di tubuhnya setelah itu menarik kopernya berwarna biru memasukkan pakaiannya ke dalam koper tersebut.
"Mungkin dengan Lia pergi dari sisimu, Uncle. Perlahan-lahan rasa ini akan menghilang dengan sendirinya... walaupun hati Lia merasa tidak rela untuk menjauh darimu Uncle... tapi akan Lia pastikan untuk tidak menuntut Uncle agar mencintai Lia lagi, maafkan Lia" batinnya menahan tangisnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung