
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
Kini dua cucu tuan Farhan sudah lahir ke dunia, tempat di mana mereka akan tumbuh dan berkembang, tempat yang akan menjadi sejarah dalam hidupnya, tempat yang akan menjadi saksi cerita hidupnya entah itu cerita cinta, pekerjaan atau apapun yang mengandung rasa senang sedih maupun bahagia akan menjadi satu dalam tabir kehidupan mereka.
Seorang pria bernama Zafran Tio Febian Pratama itu terduduk lesu di atas lantai ruang persalinan kala istrinya berhasil dengan selamat mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan kedua putranya. Setitik air mata jatuh mengalir membasahi pipinya, punggungnya bergetar menahan tangis haru kala dirinya telah menjabat sebagai seorang ayah. Rasa bahagia tak dapat tergambar hanya dengan sebuah kata-kata, pria itu sangat-sangat bahagia.
Dokter dan tiga orang suster ikut terharu melihat reaksi seorang pria yang begitu menantikan momen kelahiran anaknya, terlihat sudut bibir dokter dan suster terangkat membentuk lengkungan tipis, mereka sedang tersenyum.
"A-aku sekarang menjadi ayah, aku tidak menyangka aku menjadi ayah rasanya baru kemarin menikah... terima kasih ya Allah sudah memberikan kesempatan kepada kami dan terima kasih sudah menyelamatkan nyawa istri dan dua putraku" bisik Tio dalam hatinya. Pria bernama Tio itu lantas berdiri menatap wajah lelah istrinya. Kakinya melangkah ke arah bangsal, telunjuk kanannya terulur ke wajah Aulia lalu menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinga, kemudian ibu jarinya menyeka keringat di wajah istrinya pelan.
"Terima kasih sudah mau berjuang untuk dua putra kita, mereka sangat tampan" ucap Tio dengan senyum simpulnya. Aulia ikut tersenyum, namun sesaat ia melihat begitu banyak luka di tangan Tio membuatnya merasa bersalah.
"Lukamu sangat banyak, maaf sudah membuatku kesakitan" lirih Aulia dengan wajah sendunya. Tio menggeleng tidak mengizinkan sang istri untuk mengucap kata maaf.
"Jangan minta maaf sayang, kamu tidak salah lagipula aku harus berterima kasih karena sudah membuat seni lukis di tanganku, aku merasa senang karena bisa membantu kamu merasakan sakit saat melahirkan walau aku tidak merasakannya seperti apa rasanya?" jawab Tio panjang lebar. Aulia merasakan keningnya basah akibat kecupan yang di berikan Tio padanya. Kecupan yang sangat lembut dan ia begitu menikmatinya.
Tak lama kemudian dua orang suster datang sembari membawa dua bayi laki-laki di dalam gendongannya, pandangan Tio dan Aulia teralihkan dengan kedatangan dua suster. Mereka tersenyum kala melihat dua putra mereka yang sangat imut.
"Ini bu anaknya, tolong untuk berikan asi kepada mereka, sepertinya mereka sudah sangat lapar" ucap salah seorang suster, Aulia mengangguk mengerti. Tio kemudian membantu Aulia untuk duduk bersandar, lalu salah satu suster memberikan bayi pertama kepada Aulia sedang adiknya di letakan di dalam box berwarna hijau.
"Terima kasih suster" balas Aulia dengan senyum tipis di bibirnya. Suster tersebut mengangguk pelan, lalu meninggalkan mereka. Aulia kemudian menyingkap bajunya ke atas dan mengeluarkan salah satu *********** dan putingnya ia arahkan ke dalam mulut putra pertamanya. Sedikit perih namun Aulia menahannya saat mulut buah hatinya mulai menyedot ****** susunya dengan kasar. Tio melihat itu hanya mendesah berat ia kemudian melangkah menuju box putra keduanya, di angkatnya dalam gendongannya.
Tio mendekatkan bibirnya ke telinga sang putra ia mulai melantunkan azan di telinga anaknya agar pertama kali ia lahir dan melihat dunia adalah kalimat kemuliaan azan. Setelah mengazani, Tio kemudian mengecup kening putranya bibirnya tak berhenti senyum merasa bahagia melihat wajah putranya yang mirip dengannya.
Sedang anggota keluarga Aulia masih menunggu di luar, Tio memberitahu dokter dan suster untuk tidak dulu memperbolehkan siapapun masuk karena Aulia sedang menyusui putra mereka, ia tidak mau jika kedua aset berharga yang di miliki istrinya di lihat oleh orang lain. Sungguh pria yang begitu posesif.
"Sayang, apakah rasa susunya begitu enak sampai dia begitu rakus meminumnya? dia bahkan tak sedikitpun untuk melepaskan putingnya" tanya Tio dengan wajah polosnya, pria itu duduk di atas bangsal setelah menidurkan putranya di dalam box.
"Mana aku tahu, lagipula memang susu inilah makanan bayi, jika dia menyukainya berarti rasanya enak dan sesuai seleranya" jawab Aulia tanpa menatap wajah Tio. Ia masih setia mengelus pipi putranya.
"Dulu saat kecil aku belum memiliki kesadaran tentang rasa air susu ibu, hmmm..., nah sekarang kan sayang sudah ada um, anu um apakah aku boleh emm mencicipinya?" tanya Tio dengan dua telunjuk saling bertemu, tatapannya tidak berani melihat Aulia, pria itu menundukkan pandangannya tidak mau bersitatap.
Aulia yang mendengar penuturan suaminya sangat terkejut bahkan mulutnya terbuka lebar, apakah suaminya begitu mesum? kenapa berbicara seperti itu?!
"Sepertinya baby A sudah kenyang, sayang tolong untuk baringkan putra kita ke boxnya" tutur Aulia menyerahkan putra sulungnya dengan sangat hati-hati kepada Tio. Pria itu menurut lalu membawa putranya ke boxnya kemudian menggendong baby B. Tio menyerahkan ke istrinya untuk di beri ASI.
"Sayang, em tidak bisakah setetes saja? umm, a-aku juga penasaran seperti apa rasanya?" ungkap Tio dengan mata memohon, Aulia memalingkan wajahnya tidak berani beradu pandang, ia begitu malu sekarang.
"Kau! bisakah untuk sopan sedikit padaku? jangan katakan hal mesum itu lagi, bagaimana jika ada yang masuk dan melihat perilakumu yang mesum itu!" ketus Aulia membuat Tio membuang napas berat. Tio diam-diam ikut naik ke atas bangsal yang di duduki Aulia saat ini, tanpa rasa malu Tio menyingkap baju Aulia dan mengeluarkan payudara Aulia bagian kiri membuat Aulia menutup mulut tak percaya.
Sedang baby B sangat enteng minum susu dia bahkan tak merasa terganggu sedikitpun.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Aulia berbisik namun bukannya menjawab Tio malah nyengir kuda. Mulutnya pun langsung menyedot ****** susu Aulia dan air di dalamnya mengalir keluar. Tangannya sedikit meremas payudara Aulia agar susunya semakin lancar keluar membuat Aulia meringis sakit.
"Jangan meremasnya, kau menyakitiku" keluh Aulia dengan wajah menahan sakit. Tio pun melepas ****** susu di mulutnya ia lalu duduk tegak.
"Maafkan aku sayang, apakah masih sakit?" tanya Tio mengelus payudara yang di remasnya tadi. Aulia menggeleng sebagai jawaban.
"Emm, sayang rasanya manis aku suka, lain kali saat anak-anak sudah menerima jatahnya jangan lupa bahwa masih ada aku, oke" kata Tio dengan ibu jari dan telunjuk saling bertemu hingga membentuk tanda okay.
"Kamu kenapa semakin tidak tahu malu, sudahlah cepat panggil mereka di luar! mereka pasti sangat cemas sekarang" tutur Aulia dengan pipi merona. Tio terkekeh kecil ia kemudian turun dari atas bangsal dan menuju pintu keluar.
CEKLEK
"Aulia memanggil kalian!" seru Tio di depan pintu, semua menoleh ke sumber suara. Mereka pun dengan perasaan senang berdiri dan berjalan masuk namun Tio segera menarik pergelangan tangan tuan Wijaya.
"Maaf kek, dokter bilang untuk membiarkan tiga orang saja masuk, lebih dari itu tidak boleh" jelas Tio membuat alis tuan Wijaya berkerut.
"Kenapa? apakah terjadi sesuatu dengan cucuku?" tanya tuan Wijaya panik. Tio batuk kecil ia menetralisir suaranya lalu menjawab.
"Tidak, dia baik-baik saja hanya jika lebih dari tiga orang itu akan membuat Aulia terganggu, dia harus butuh istirahat yang cukup... jadi kita di luar saja tunggu sampai mereka selesai baru kita" tuan Wijaya mengangguk mengerti. Pria paruh baya itu tidak sedikitpun menaruh curiga pada Tio. Sedang Tio tersenyum senang ia mana mungkin membiarkan tempat favoritnya di lihat oleh pria luar sekalipun tuan Wijaya adalah kakek Aulia namun sebagai suami ia sangat-sangat tidak rela.
"Heh mana bisa milikku di lihat oleh pria lain, aku tidak rela" bisik Tio dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung