
Happy reading 🤗
Kasih like dan vote seninya kakak 🙏😍😍😍
.
.
.
.
.
.
.
.
Di sebuah tebing dengan jurang yang begitu tinggi, cahaya bulan menyinari hutan yang gelap. Hembusan angin kencang meniup pepohonan membuat suasana sangat mencengkam.
Empat orang manusia berdiri di tebing yang menjulang tinggi bahkan tidak terlihat bawah dasarnya. Seorang pria yang biasa di panggil Tio di sandera oleh seorang pria bertubuh kekar sedang seorang gadis cantik yang tengah menangis tersedu-sedu terdengar sangat menyayat hati.
Dia adalah Aulia yang tengah di tahan oleh Tuan Farhan, untuk tidak mendekati Tio.
"Lepaskan Lia Daddy! jangan bunuh Uncle Tio hiks hiks hiks, please Dad, jangan bunuh Uncle... jika Daddy tidak merestui hubungan Lia maka bunuh saja Lia! bunuh Lia Daddy!!." Teriak Aulia dengan mata di penuhi oleh air mata. Tio tersenyum tipis bisa di cintai oleh Nona mudanya.
Berharap mendapat restu dari raja Iblis tapi itu hanyalah khayalan semata. Lagi-lagi ia tersenyum lirih. Menatap wajah wanitanya yang sangat terpukul. Sebesar itukah cintanya padanya sampai harus memohon pada raja Iblis yang notabenenya tidak memiliki hati.
"Aku akan melakukan apapun yang Tuan perintahkan bahkan menyerahkan nyawa sekalipun akan aku turuti! tapi bolehkah untuk yang terakhir kalinya aku memeluk Nona Aulia?" pintanya memohon dengan sangat harap, Aulia menatap sendu wajah pria dewasa di depannya kenapa cintanya begitu sulit?... tidak bisakah cintanya di restui? bukankah dua orang saling mencintai akan hidup bahagia. Lantas kenapa harus di larang? apakah dengan adanya rintangan maka cinta keduanya akan saling melindungi dan di bangun dengan kekuatan cinta serta kepercayaan agar badai besarpun tak akan bisa merobohkan benteng kasih sayang itu. Sebenarnya apa alasan raja Iblis melarang cinta keduanya?.
"Kenapa Daddy melakukan hal itu? jika Daddy sayang sama Lia kenapa Daddy menyiksa Lia seperti ini! Lia bahkan seperti mayat hidup yang tinggal dalam lingkaran kekejaman Daddy!! Lia lelah Dad!. Sangat lelah!!" ucap Aulia menatap tajam Tuan Farhan. Namun pria itu hanya menaikkan alisnya tinggi. Tanpa peduli dengan air mata sang putri.
Memang raja Iblis, tak akan tergoyahkan oleh tipu daya apapun keputusannya akan tetap sama.
"Ini demi kebaikan kamu sayang" jawab Tuan Farhan. Kemudian raja Iblis menatap ke arah Tio mengangguk pelan sebagai isyarat bahwa ia setuju akan permintaan Tio.
Tio melangkah maju mendekati Aulia, perlahan-lahan genggaman Tuan Farhan pun terlepas, tanpa menyia-nyiakan waktu Aulia berlari menubruk tubuh Tio memeluknya erat sembari menangis tersedu-sedu.
"Hiks, hiks. Lia akan ikut di manapun Uncle pergi... bahkan jika itu adalah jalan kematian" lirih Aulia sesenggukan di balik dada bidang milik Tio.
Pria itu ikut menangis sesekali mencium kepala Aulia sayang, sungguh ia tidak akan melepaskan gadis di pelukannya. Jika dulu ia adalah pria pengecut maka tidak untuk sekarang ia akan hidup bersama Nona mudanya bahkan di alam baka sekalipun.
"Benarkah Nona mau hidup bersama Uncle? sekalipun Uncle akan ke alam baka?." Tanya Tio pelan menatap wajah Aulia. Gadis itu mengangguk tersenyum. Bahkan tak ada keraguan sedikitpun di matanya. Sekali lagi Tio benar-benar bahagia, memajukan wajahnya mendekatkan diri di wajah Aulia, ******* pelan bibir manis gadis pujaannya.
Tuan Farhan yang melihat itu membuatnya benar-benar marah. Saat hendak mendekat, Tio menyiratkan senyum devilnya. Menarik tangan Aulia mendekati bibir tebing. Keduanya tersenyum ke arah Tuan Farhan lalu berujar.
"Maaf Daddy" ujar Aulia tersenyum tipis. Membuat Tuan Farhan hendak meraih tangan putrinya namun sudah tidak sempat.
"Maafkan aku Tuan muda, aku tidak akan pernah menyerah!" seru Tio memeluk erat tubuh Aulia mendekapnya dalam pelukannya dan mereka terjatuh di dalam jurang yang sangat tinggi.
"Tidaaaaakk!!" teriak Tuan Farhan terduduk lesu.
"Haaaaahh"
Seorang pria yang di nyatakan meninggal dunia tiba-tiba membuka matanya dengan helaan napas panjang seperti orang yang sedang kesulitan bernapas, suster yang sudah membuka beberapa alat medis di tubuh pasien sangat terkejut.
Salah satu dari mereka keluar dengan buru-buru memanggil dokter Katrina untuk segera menangani pasien yang mati suri.
Karla dan Richo yang melihat dokter dan suster berlarian segera menghentikan langkah suster tersebut.
"Ada apa? kenapa kalian sangat panik?" tanya Karla dan Richo bersamaan. Terlihat raut wajah penasaran dari manusia yang baru habis berduka cita.
Sang suster menarik napas panjang kemudian menghembus pelan, "Pasien hidup kembali, kami akan menindak lanjuti keadaan pasien" jawab sang suster. Setelah menjelaskan suster tersebut masuk ke dalam ruang operasi.
Karla dan Richo saling menatap satu sama lain terdiam sesaat mencerna penjelasan suster. "Apakah kamu mendengar penjelasannya barusan? ini bukan mimpi kan?" tanya Karla dengan mata berkaca-kaca, menatap wajah Richo di depannya.
"Keajaiban itu datang pada Tio, dia masih hidup." Jawabnya tersenyum tipis. Karena merasa senang juga terharu Karla memeluk tubuh Richo erat bahkan menumpahkan tangisnya di dekapan Richo. Pria yang berstatus jomblo ngenes itu mendadak beku, mendapati serangan mendadak dari seorang wanita yang bahkan tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Jantungku berdetak tidak seperti biasanya... rasanya sangat aneh." Bisik Richo dalam hati.
Sedang di dalam ruang operasi, dokter Katrina segera memeriksa tubuh pria di atas brankas, menyentuh pergelangan tangannya kemudian mengambil stetoskop menekannya di bagian dada Tio yang tak memakai pakaian, setelah itu beralih pada perut Tio.
Senyum tipis itu tercetak jelas di wajah dokter Katrina, kemudian melepas stetoskop di telinganya dan menggantungnya di bagian leher.
"Ini sungguh di luar dugaan, orang yang di nyatakan telah meninggal dunia kini hidup kembali... benar-benar kuasa Tuhan" ucap dokter Katrina tersenyum tipis.
"Dok, apakah keadaan pasien sudah stabil?" tanya suster.
"Belum, keadaannya masih kritis dan harus di pantau setiap jam, namun aku yakin pasien ini memiliki tekad yang sangat kuat untuk hidup. Dia butuh orang dekatnya untuk membangunkan dia dari alam bawah sadarnya." jelas dokter Katrina lagi
"Cepat bawa pasien ke ruang ICU!" titah dokter tersebut dan langsung mendapat anggukan dari dua orang suster. Segera mereka membawa pasien pria tersebut untuk menuju ruang ICU sebagai proses tindak lanjut.
Sedang dokter Katrina masih dengan wajah senyum di bibirnya, seumur-umur ia baru mendapati pasien yang mendapat kesempatan hidup kembali, benar-benar di luar nalar manusia. Bahkan seorang ahli apapun tidak akan mampu logikanya mencapai penjelasan tentang orang yang hidup kembali.
Di luar ruangan, keduanya nampak canggung setelah Karla menyadari kesalahannya. Keduanya berdiri di depan pintu ruang operasi menunggu hasil akhir yang jelaskan oleh suster tadi.
Tiba-tiba pintu terbuka segera keduanya menghadang dua orang suster.
"Bagaimana keadaan pasien sus?" tanya Karla dengan wajah penuh harap.
"Pasien kembali hidup, namun keadaannya masih kritis. Tuan dan Nyonya, berdoa saja agar pasien segera bangun dari alam bawah sadarnya. Kami akan membawanya ke ruang ICU" jelas sang suster. Yang langsung mendorong brangkas milik Tio.
Dokter Katrina keluar dari ruang operasi di ikuti dua orang wanita yang menjabat sebagai suster.
"Dokter, apakah kami bisa menjenguk pasien?" tanya Richo.
"Boleh, sering-seringlah bercerita dengan pasien agar otak pasien tidak mengalami kelumpuhan" jawab dokter Katrina lembut.
"Terima kasih dokter" jawab Richo dan Karla bersamaan. Dokter cantik itu mengangguk dan tersenyum tipis. Ia kemudian meninggalkan Richo dan Karla yang sedang bersyukur.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung