
Happy reading 🤗
Beri Vote dan likenya dong kak 🙏🙏🤗❤️
.
.
.
.
.
.
Sebuah mobil sedan bermerek Bugatti Veyron grand sport berwarna coklat itu berhenti di sebuah bangunan rumah minimalis yang memiliki dua lantai. Interior rumah ini menunjukkan rumah minimalis dengan bentuk kotak, memiliki lahan yang tidak cukup besar, bahkan gerbang rumahnya hanya berjarak satu setengah meter dari rumah tersebut. Ada beberapa pot bunga yang tertata rapi di atas lantai juga bergantung di atas plafon samping kiri dan kanan.
Perpaduan warna cat putih dan coklat menambah kesan anggunnya dalam bangunan tersebut, ada dua sisi jendela di sebelah kiri juga kanan. Aulia menatap suka bangunan di depan matanya.
"Uncle Jo memang hebat! ahh, kalau Daddy yang memilih rumah pasti yang paling besar... Lia kan sangat bosan jika tinggal di rumah besar seperti Mansion, ah betapa senangnya bisa hidup bebas!!" pekik Aulia merentangkan tangannya membuat Jonathan memundurkan kepalanya ke samping bagian jendela. Hampir kepalan tangan Aulia mengenai kepalanya.
"Uncle memang the best. Cepat mana kuncinya Lia tidak sabar untuk masuk ke dalam" Aulia mengulurkan tangannya ke depan Jonathan membuat pria itu hanya menghela napas.
"Tuan putri, Uncle juga mau masuk jadi ayo kita keluar"
"No! Uncle pulang saja dan berikan kunci rumahnya, Lia masih ingin sendiri. Uncle harus jaga rahasia Lia yah tentang masalah tadi jangan sampai Daddy atau Mommy tahu." Ujar Aulia dengan tangan terulur ke depan menatap wajah Jonathan dengan senyum jenaka.
"Tadi saja nangis sampai beberapa jam bahkan matanya... astaga! seperti tidak berbentuk mata, dan sekarang malah tersenyum senang" batin Jonathan geleng-geleng kepala. Ia lalu memberikan kunci rumah sahabatnya yang memang akan di jual untuknya.
"Uncle belikan Lia motor sport yah... yang paling mahal juga kecepatannya harus mantap... ingat rahasianya tidak boleh bocor atau Uncle yang akan mendapat akibatnya!" ancamnya dengan senyum jailnya membuat pria itu tidak bisa melakukan apa-apa kecuali meratapi nasibnya yang selalu di permainkan oleh Tuan putrinya.
"Memang anak Tuan muda, ngeselinnya minta ampun" gerutunya dalam hati. Ia hanya bisa mengelus dada dan berdoa agar di beri umur panjang untuk dirinya jika tidak maka pasti ia akan mati awal akibat stress berlebihan.
"Baiklah Tuan putri. Cepat turun agar Uncle bisa memesan motor sport untukmu" ketus Jonathan membuat Aulia terbahak-bahak. Menjahili seseorang di saat hati sedang sakit Sepertinya sangat efektif, membuat orang lain menderita agar dirinya mempunyai teman dengan nasib yang sama.
"Baiklah, thank you Uncle Jo... nih cinta Lia untuk Uncle" tuturnya dengan jari tangannya membentuk love membuat pria di jok kemudi hanya mencebikkan bibirnya kesal.
"Uncle tidak butuh! silahkan Nona keluar bukankah Nona akan menangis lagi kan"
"Hey! air mataku ada batasnya, lagian air mataku juga sangat berharga, dirinya akan keluar hanya untuk orang yang berharga bukan pengemis" ketus Aulia yang langsung turun dari mobil dengan perasaan kesal. Menutup pintunya kasar membuat Jonathan tersenyum lebar. Aulia lalu membuka pintu jok belakang mengambil kopernya.
"Makasih Uncle sudah membantu Lia" ucap Aulia tulus.
"Semangat! jangan menangis lagi orang baik seperti Tuan putri tidak pantas menangisi pria sepertinya" jelas Jonathan memberikan kepalan tangannya sebagai tanda semangat. Aulia tertawa kecil.
"Tenang saja Uncle, Lia sudah tidak mencintai dia lagi... Lia masuk dulu, Uncle hati-hati di jalan" jawab Aulia berjalan masuk ke arah rumah minimalis modern. Meraih gembok pada gerbang rumah tersebut dan membukanya. Lagi-lagi bibir itu melengkung tipis melihat teras rumah yang bersih walaupun tidak di tempati tapi masih sangat indah. Hal itu membuat gadis itu kembali bersemangat.
"Lia akan membiasakan hidup sendiri... kamu harus bisa Lia, semangat!!" katanya sedikit terkekeh. Aulia kemudian memasukan kunci di pintu rumah memutarnya perlahan sampai terdengar bunyi akibat gesekan. Hingga pintu rumah itupun terbuka.
"Wow eksterior yang begitu indah" gumam Aulia tersenyum tipis. Sedang di tempat lain seseorang tengah menatap rumah minimalis bercorak putih dan coklat terlihat sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
Ada rasa lega ketika melihat seorang gadis di sana baik-baik saja. "Syukurlah kalau kamu tinggal di sini semoga kamu bahagia" batinnya masih memandang rumah minimalis.
"Aku akan menjadi tetanggamu Nona" tuturnya dengan senyum lebar. Ia kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan tempat persembunyiannya.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa lama sekali sih, mana mataharinya panas banget... udah sejam aku di sini tapi kok abang belum jemput juga" gerutu gadis yang berusia 15 tahun menjalan 16 tahun itu. Menghentak-hentakkan kakinya di atas aspal.
"Ponselku mati lagi, aku sangat lelah juga sangat lapar... abang cepatlah jangan sampai aku mati dan hantuku akan bergentayangan" bisiknya dalam hati. Menjatuhkan bokongnya di atas tanah dengan kaki terulur ke depan. Wajahnya menunduk melihat rumput-rumput kecil berwarna hijau kekuningan.
Hingga sebuah mobil sedan putih berhenti di depan gadis tersebut. Namun tidak di gubrisnya ia buru-buru menutup matanya dan tidak bergerak.
"Rasain! biar aku kasih pelajaran" batinnya tersenyum licik. Seorang pria dengan pakaian casual turun dari mobil menepuk bahu gadis itu.
"Lexa bangun! hey jangan di tidur di sini!!" ujar pria tersebut yang tidak lain adalah Hamas. Pria itu mengangkat kepala Alexa menatapnya penuh intens.
"Tidak mungkin dia pingsan karena dehidrasi kan?." Gumam Hamas yang langsung menggendong Alexa ala bridal style dan kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Alexa. Gadis itu menggigit kuat dagu Hamas membuat pria itu memekik kaget.
"Aaakkkkkk" teriak Hamas yang langsung menurunkan Alexa. "Kamu gila yah sakit tahu!" bentak Hamas menatap tajam, tangannya menyentuh bekas gigitan yang berubah menjadi warna merah juga tanda gigitan yang terlihat jelas.
Alexa tertawa puas ia tidak peduli dan langsung masuk ke dalam mobil duduk di jok depan. "Heh! makanya jangan macam-macam sama aku... hihihi rasain sakit kan!" batin Alexa tersenyum puas.
Hamas kemudian ikut masuk menjatuhkan bokongnya di jok kemudi, menarik spion di depannya menatap datar luka yang tengah berdarah itu. Alexa yang melihat itu terbelalak.
"Abang! dagunya berdarah apakah itu karena aku menggigitnya?" tanya Alexa dengan wajah takut.
"Kamu sudah makan?" tanya Hamas tanpa menjawab pertanyaan gadis di sampingnya. Mengambil tisu lalu menghapus darahnya yang bersarang di dagu kemudian membuang tisu bernoda itu di tempat sampah yang sudah tersedia di dalam mobil.
"Belum Abang, maaf yah dagu abang jadi luka gara-gara aku..." tuturnya merasa bersalah, memainkan jari-jari tangannya.
Hamas terkekeh menyentuh kepala Alexa gemas. "Tidak apa-apa, sekarang mau makan dulu atau langsung pulang?" tanya Hamas melajukan mobilnya.
"Pulang saja Abang" jawab Alexa dan Hamas mengangguk mengerti.
Hingga mobil sedan putih berhenti di salah satu Apartemen mewah. Hamas membuka safety beltnya, lalu hendak membuka pintu mobil. "Ayo turun" ajaknya namun tidak di gubris oleh Alexa. Membuat Hamas menghela napas kasar.
Pria tinggi itu buru-buru turun berjalan mengitari mobil hingga berhenti di samping jendela yang di duduki Alexa. Menarik gagang pintu dan membukanya.
"Ayo turun Lexa! abang mau ke kampus juga waktu abang tidak banyak" ujar Hamas dengan sabarnya.
"Gendong" tutur Alexa dengan wajah imutnya tangannya sudah merentang ke depan.
"Lexa kamu tuh udah besar gak perlu di gendong tahu, abang udah gak kuat lagi" ceramah Hamas namun tetap meraih tubuh Alexa yang berisi menggendongnya seperti bayi koala. Gadis itu tersenyum lebar menatap wajah Hamas yang terlihat tampan di matanya.
Cup
Alexa mencium bibir Hamas membuat pria itu menatap tajam.
"Jangan macam-macam Lexa, kamu sudah besar gak boleh seperti itu lagi" peringat Hamas.
"Bodoh!" jawab Alexa dalam hati. Terkekeh kecil.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung