
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
Melihat Hamas tersungkur jatuh ke lantai Jons segera menghampiri anaknya membantunya berdiri, perasaan seorang ibu itu muncul begitu saja dari dalam diri pembunuh bayaran tangannya terulur mengelus rahang Hamas yang baru saja mendapat bogeman dari raja Iblis.
"Prince, kita bisa bicara ini baik-baik... kenapa harus kekerasan yang kamu lakukan!" ucap Jons melotot tajam ke arah Tuan Farhan membuat pria itu hanya menghela napas kasar jika tidak ada Jons mungkin Hamas sudah pasti babak belur.
"Ayo duduk dulu" ajak Jons pada semuanya, Dafa dan Daffin memilih duduk berdekatan dengan Tio mereka tidak berani mendekati sang Daddy yang sedang naik pitam itu. Rasa-rasanya sedang berada di dalam kandang Harimau yang siap menerkamnya.
"Hiih! Daddy sungguh menyeramkan" batin Dafa dan Daffin saling menatap satu sama lain dan tubuh mereka meremang bersamaan.
Sedangkan Shireen masih merasa syok melihat kemarahan Tuan Farhan apalagi saat menarik Hamas dan memukulnya hingga sudut bibir Hamas mengeluarkan darah. Aulia yang melihat wajah pucat Shireen merasa kasihan ia pun berinisiatif menghampiri Shireen.
"Hi, are you okay? don't be scared! (Hei, apa kau baik-baik saja? jangan takut!)" ucap Aulia tersenyum lembut pada Shireen, gadis itu ikut tersenyum walau terlihat tangannya gemetaran. Aulia menggenggam jemari tangan gadis cantik di sampingnya.
"Daddyku tidak jahat, jangan takut" tutur Aulia lagi dan gadis Belanda itu hanya mengangguk pelan.
"Jelaskan pada Daddy di mana Alexa sekarang?" tanya Tuan Farhan tanpa menatap wajah Hamas, sepertinya raja Iblis masih marah pada Hamas.
"Al-Alexa, dia tinggal bersama temannya Dad" gagu Hamas dengan kepala menunduk, Jons masih mengelus punggung putranya merasa kasihan pada putra sulungnya itu. Tuan Farhan kemudian beralih menatap wajah Shireen, keduanya saling bertatap-tatapan buru-buru Shireen menundukkan kepalanya karena tidak mampu menatap mata elang milik raja Iblis.
"Sudah berapa lama wanita itu tinggal di sini?" tanya Tuan Farhan lagi, kali ini Tuan Farhan menatap wajah putranya. Hamas yang di tanya soal Shireen seketika melihat ke arah wanitanya.
"Du-dua minggu Dad" Tuan Farhan menarik napas panjang memijat pangkal hidungnya memikirkan kebodohan sang putra.
"Itu berarti sudah dua minggu Alexa keluar dari Apartemen. Anak kurang ajar ini..., biarkan Daddy beri kamu pelajaran!" bisik Tuan Farhan dalam hati.
"Apakah kamu tidak punya rumah sampai kamu tinggal di Apartemen anakku? aku tidak percaya jika kalian tidak melakukan apapun di Apartemen ini, apalagi sudah dua minggu. Itu adalah waktu yang tidak lama..." jelas Tuan Farhan sembari menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Semua yang mendengar penuturan Tuan Farhan melotot tajam terkecuali Dafa dan Daffin yang tidak mengerti maksud sang Daddy.
"Apa maksudmu Prince?" tanya Jons pada suaminya.
"Kami tidak melakukan hal yang aneh-aneh Dad, Hamas tahu Shireen memang tinggal di sini tapi Hamas tidak pernah melakukan hal di luar batas!" Jawab Hamas membela diri. Tuan Farhan mengangkat tangannya tanda untuk tidak boleh protes karena dia tidak ingin mendengarkan apapun dari mulut putra sulungnya.
"Itu sudah risiko kamu, kamu yang berbuat kamu yang harus bertanggung jawab, Daddy tidak suka jika putra-putra Daddy membawa perempuan yang belum halal ke Apartemen ataupun rumah apalagi sudah tinggal bersama... Daddy sudah putuskan untuk menikahkan kalian berdua secepatnya!" Finalnya tanpa bisa di bantah.
"Tapi Dad Hamas masih muda, Hamas belum mampu untuk mengurus istri" protes Hamas membuat Tuan Farhan terkekeh jenaka.
"Hahaha, tidak mampu tapi kenapa pacaran dan dengan beraninya kamu membawa wanita lain ke Apartemen dan tinggal bersama! apakah otak Daddy yang salah huh! keputusan Daddy sudah bulat" tegas Tuan Farhan menatap datar wajah Hamas yang benar-benar frustasi saat ini.
"Dan kamu wanita! hubungi keluargamu, aku dan putraku akan datang melamar kamu" kali ini Tuan Farhan menunjuk Shireen membuat wanita itu seketika terkejut.
"Bagaimana ini papa pasti akan marah besar jika mendengar aku pacaran apalagi menikah" batin Shireen merasa frustasi dengan keadaan yang begitu mencengkam.
Sedang di kediaman Tuan Smith mereka masih berkumpul di ruang keluarga. Ada River, Laura, Tuan Smith serta rombongan Tuan Wijaya yang tengah duduk di sofa. Pernikahan River dan Laura sudah menginjak 10 tahun dan sudah di karuniai sepasang anak laki-laki dan perempuan. Kini Laura tengah mengandung anak ketiga mereka yang sudah menginjak umur 5 bulan. Umur anak River yang laki-laki sekarang sudah 8 tahun sedang yang perempuan baru 7 tahun.
Kedua cucu Tuan Smith sudah terlelap tidur karena besok mereka akan ke sekolah itulah kenapa mereka tidur lebih awal agar tidak terlambat nantinya.
Sebuah dering telepon berbunyi, Tuan Wijaya yang merasa ada getaran di pahanya segera mengambil ponselnya dan tertera nama anak buahnya di layar ponselnya. "Kalian mengobrol dulu aku angkat telepon bentar" pamit Tuan Wijaya beranjak dari kursinya dan sedikit menjauh dari kerumunan orang.
"Hallo, bagaimana keadaan Alexa sekarang?" tanya Tuan Wijaya tanpa basa-basi. Terdengar helaan napas yang tak biasa dari pria di sebrang telepon membuat Tuan Wijaya merasa curiga.
"Maaf Boss Alexa di bawa ke rumah sakit, menurut pengamatan kami dia mengalami tekanan berat dan dia habis di siksa oleh petugas polisi" jelas anak buah Tuan Wijaya membuat pria paruh baya itu mencengkram kuat ponsel di tangannya.
"Kirimkan lokasi rumah sakit yang merawat Alexa segera aku akan ke sana sekarang!" perintah Tuan Wijaya dan langsung memutus sambungan sepihak.
"Astaga cucuku! maafkan Kakek yang tidak bisa menjagamu... Kakek akan datang kamu harus kuat Alexa." bisik Tuan Wijaya dengan wajah sendunya. Tuan Wijaya segera menghampiri yang lainnya yang masih asyik bercerita. Sedang Amanda dan Alex sudah tidak bisa bicara lagi apalagi belum mendengar kabar tentang sang putri.
"Alexa di rumah sakit saat ini, aku akan ke rumah sakit sekarang" tutur Tuan Wijaya membuat semua atensi di sana menatap padanya. Amanda dan Alex segera berdiri.
"Aku ikut" jawab Amanda dan Alex bersamaan kemudian di susul oleh River dan Nyonya Mita.
"Aku juga akan ikut" Tuan Wijaya menatap ke arah River lalu bergantian menatap Laura.
"River kau jagalah istrimu dia sedang hamil biar Papa dan lainnya pergi ke rumah sakit" tolak Tuan Wijaya tidak setuju jika anak angkatnya mengikuti mereka sedang istrinya tengah mengandung saat ini, takutnya jika ada sesuatu yang di inginkan oleh Laura.
"Iya River kamu di rumah saja, Daddy akan ikut bersama Wijaya ke rumah sakit" kali ini Tuan Smith angkat bicara dan River pun mengangguk mengerti.
"Ya sudah kalau begitu kita pergi sekarang" ajak Tuan Wijaya dan mendapat anggukan kepala dari semuanya, mereka lalu meninggalkan kediaman Tuan Smith menuju ke rumah sakit. Mereka menggunakan mobil Ferarri keluarga yang memiliki enam kursi hingga bisa memuat mereka semuanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22 : 35 di sebuah rumah sakit Washington terdapat helikopter bermerk Sikorsky S-92 di atas helipad rumah sakit Washington yang termasuk jajaran helikopter paling mahal, helikopter ini bisa menampung 10 penumpang dengan fasilitas yang cukup memadai. Harga helikopter Sikorsky mencapai 243 Miliar. Tidak di ragukan harga yang begitu mahal karena kualitasnya pun sebanding dengan kinerjanya. Helikopter Sikorsky bisa menempuh jarak 1.000 Meter dengan kecepatan 280 kilometer per jam.
Seorang pria berjas rapi dengan beberapa perawat mendorong bangsal, seorang gadis tertidur lelap di atas bangsal tanpa merasa risih sekalipun. "Cepat masukkan dia ke dalam!." Titah pria tersebut.
Tiga perawat laki-laki mengangkat tubuh pasien ke dalam helikopter dan membaringkannya di atas kasur tak lupa cairan infus di letakkan di sisi kursi bagian ujung. Setelah membaringkan tubuh tak berdaya itu salah seorang pria yang sepertinya adalah pilot helikopter, mengatur suhu ruangannya agar tidak terlalu dingin.
Setelah semuanya masuk, pria yang memakai jas hitam itu masuk ia duduk di kursi bagian kanan yang mana bisa melihat keadaan pasien secara langsung.
"Kita berangkat sekarang!" titah pria tersebut melalui earphone di telinganya. Perlahan-lahan helikopter Sikorsky mulai bergerak dan terbang meninggalkan helipad di rumah sakit Washington.
"Aku akan menyelamatkanmu!" batin pria tersebut.
.
.
.
.
.
.
Bersambung