The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 42 Ke Dunia Bawah



Happy reading 🤗


Beri like dan hadiahnya kaka 🤗❤️


.


.


.


.


.


.


.


Di sebuah Markas di tengah-tengah hutan lebat para Mafia berkumpul di sana. Sudah dua hari mereka menetap di dalam tidak keluar dari tempat persembunyian. Memulihkan tubuh akibat luka perkelahian antara organisasi Rine X.


Setelah matahari terbenam kini malam kembali menyapa, cahaya bulan yang begitu terang menyinari bumi Las Vegas. Di sebuah kamar dengan lampu sedikit temaram seorang pria membuka jendela kamarnya. Melihat hutan luas di depan mata, menatap lurus penuh kekosongan.


Semilir angin malam menerpa tubuhnya memasuki pori-pori kulitnya yang tidak terbungkus kain pakaian. Netranya terangkat menatap cahaya bulan sedikit menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis.


Kala rindu tak terbendung ingin menyapa sang belahan jiwa namun keadaan tak mendukung... berada di tengah-tengah hutan dengan di temani berbagai macam binatang buas serta pohon-pohon besar bertebaran di segala arah. Tak ada jaringan di sana, untuk bisa melepas rindu ia hanya bisa memandang foto wanitanya di layar ponsel miliknya.


Foto yang di ambil kala pertama kali mereka ke wisata terbesar alun-alun kota Meksiko. Menatapnya sayu menempelkan bibirnya pada gambar wanitanya.


" Andai bumi kehilangan batas-batas geografisnya, apakah kita akan segera bertemu?" monolognya. Sesekali mendesah berat.


"Kau adalah gadis penuh pikat, dari bayi pun kau sudah memikat hatiku... benar-benar lelucon yang buruk" gumamnya terkekeh kecil. Merasa konyol jika mengingat saat-saat dirinya bersama Aulia, begitu mudahnya hatinya yang langsung luluh kala mendapat sentuhan-sentuhan tak sengaja dari Nona mudahnya.


Padahal itu adalah sesuatu yang biasa tapi kenapa dirinya begitu sensitif jika itu adalah Aulia.


"Haah! jangan pernah berubah pikiran Nona, Uncle akan secepatnya menyelesaikan misi ini dan kembali bersamamu dengan keadaan baik-baik saja. Setelah semuanya sudah di selesaikan Uncle akan datang menikahimu" tuturnya lagi. Tio kemudian menutup kembali jendela kamarnya, ia berjalan menuju sebuah meja berjongkok sebentar mengambil benda di dalam laci.


Dua buah pisau ukuran sedang berjenis Jadgkomando. Pisau Jadgkomando memiliki 3 sisi pisau tajam yang dimana pisau ini membentuk putaran hingga bagian ujung pisau.


Karena sangat berbahaya, maka produksi pisau ini saja sampai dibatasi. Luka yang disebabkan oleh pisau yang dibuat dengan tujuan mengoyak badan korbannya ini, merupakan bentuk luka yang membutuhkan waktu serta usaha cukup lama bagi para dokter untuk dapat menutupnya.


Pisau ini menjadi salah satu barang yang sering di transaksikan oleh orang-orang Mafia karena ketajamannya membuat korban begitu tersiksa. Itulah sebabnya Tio memilih pisau Jadgkomando sebagai buruannya malam ini.


Selain pisau Jadgkomando pria itu mengambil dua buah pistol berjenis Desert Eagle produksi oleh negara Israel dan pistol berjenis Raging Bull 454 yang buat oleh perusahaan Taurus yang berlokasi di Brasil. Pistol ini mampu melakaukan tembakan sampai kecepatan 580 meter per detik. Energi yang di lontarkan juga bukan main-main bahkan bisa mencapai 2700 joule.


Malam ini dirinya akan pergi ke pasar dunia bawah, tentunya bukan dunia perkumpulan para arwah yang telah meninggal, dunia bawah yang di maksud adalah tempat perkumpulan orang-orang bejat, tempat tinggal mafia yang sebenarnya bahkan kerap kali tempat itu termasuk tempat penjualan wanita dan anak-anak di bawah umur.


Sesuai misi yang di berikan oleh Tuan Farhan yaitu menyelamatkan seseorang yang sedang di perjual belikan oleh sekelompok Mafia, entah siapa dia namun ia harus menyelamatkan wanita itu sesuai perintah dari Tuan Farhan. Ia hanya di berikan foto target tersebut yang di berikan oleh Tuan Farhan padanya.


Tio memakai celana jeans hitam kemudian memasang pisau sarung sangkar di pahanya lalu kembali menyimpan pisau Jadgkomando di sarung sangkar paha tersebut.


Sedang pistolnya ia masukan di belakang celana jeans-nya. Setelah semuanya cukup Tio berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang tengah. Di sana sudah ada anggotanya berkumpul.


"Kau mau kemana Tio?" tanya Karla saat melihat Tio sudah lengkap dengan pakaian misinya.


"Aku akan ikut denganmu, jika kau ingin menyelesaikan misi dari Tuan muda, aku bisa membantumu... kita selesaikan bersama" jawab Richo tegas. Ia tahu tujuan kedatangan Tio ke Las Vegas yaitu untuk menyelesaikan misi yang di berikan Tuan Farhan. Sebagai seorang teman tentunya ia merasa sedih tentang cinta temannya yang tak di restui.


"Aku juga akan ikut dengan kalian!" timpal Karla bersungguh-sungguh. Tio merasa terharu namun ia tidak mau di bantu oleh sahabatnya karena ini adalah bukti cintanya pada Aulia. Akan ia pastikan bahwa ia bisa menyelesaikan misi ini dengan tangannya sendiri.


"Tidak perlu, aku sudah berjanji untuk tidak melibatkan orang lain. Aku ingin Tuan muda tidak meremehkan kemampuanku... ku harap kalian bisa memaklumi keputusanku." Jawab Tio dengan wajah datarnya. Ia lalu berjalan keluar meninggalkan teman-temannya yang menatapnya iba.


"Jika aku boleh jujur, aku tidak rela jika Tio bersama Aulia karena aku sangat mencintainya. Namun melihat betapa besar pengorbanan dari Tio aku terpaksa mundur... biarlah cinta ini menghilang seiring berjalannya waktu" batin Karla. Matanya terus tertuju pada sosok Tio hingga punggung pria itu tak terlihat lagi.


Menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan. Richo melirik ke arah wanita di sampingnya.


"Nona Aulia itu adalah cinta pertama Tio, dia belum pernah mencintai seseorang sampai segila itu... dulu dia memiliki kelainan seksual namun perlahan-lahan penyakit itu hilang" Richo membuka suara. Mengingat saat mereka masih bersama dengan sahabat lainnya tinggal di Mansion Utama sebagai Markas Black Wolf.


Karla menatap Richo dalam, ia sangat terkejut mendengar penuturan Tio tentang masa lalu Tio yang baru di ketahuinya. "Aku tidak tahu jika dia seperti itu dulu" gumam Karla pelan.


"Tapi dia tidak pernah melakukan hubungan ****, ia hanya menyukai dalam diam tidak berani bertindak" jawab Richo. Anggota yang lainnya beranjak dari sana, memberikan ruang untuk Richo dan Karla. Sedang mereka, pergi memberikan makanan kepada para sandera yang masih berada di sana. Rencananya besok mereka akan memulangkan mereka ke keluarga masing-masing.


Karla masih terdiam mencerna setiap kata yang terlontar dari Richo. "Lalu, kapan perasaan cintanya tumbuh pada Aulia? mereka sangat berbeda jauh, Aulia sangatlah muda sedang Tio akan memasuki umur 40." Tanya Karla menatap lurus ke depan. Sedikit tidak rela membiarkan pria yang sudah beberapa tahun ini menemaninya walaupun terkesan dingin tapi ia sudah menaruh hati pada Tio. Bahkan sepenuhnya.


"Sedari bayi mereka sudah bersama, kamu pasti belum tahu... dan tentunya kamu tidak akan percaya jika Tio pernah mencium Nona Aulia saat umur empat tahun, tapi itulah kenyataannya." Jelas Richo terkekeh kecil saat melihat mata Karla yang melebar. Bahkan saking kagetnya ia menutup mulutnya tidak percaya.


"Dia bahkan tidak pernah menciumku. Apakah dia segila itu pada Aulia!" cemburu Karla.


"A-aku benar-benar tidak percaya" lirih Karla dengan hati tersayat sakit.


"Tapi itulah kenyataannya, jadi buanglah rasa cinta itu agar kamu tidak merasakan sakit yang mendalam. Karena mereka sudah di takdirkan bersama bahkan saat Nona Aulia masih kecil... ku harap kau tidak mengganggu hubungan mereka" tutur Richo yang langsung beranjak dari duduknya. Berjalan pelan menuju ke dapur.


"Tapi Tuan muda tidak setuju! apakah itu pantas jika mereka memaksakan kehendak. Aku takut Tio akan mati di bunuh oleh Tuan muda!" seru Karla dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Richo berbalik menghadap Karla. Tersenyum tipis lalu menjawab.


"Takdir akan membuat hati Tuan muda luluh, jadi tidak perlu takut soal itu... lagipula aku percaya pada Tio ia bisa mengalahkan benteng pertahanan Tuan muda!" setelah mengatakan hal itu Richo meninggalkan Karla yang tengah mematung diam. Menitikkan air mata namun dengan cepat ia menghapusnya kasar.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung