
Happy reading 🤗❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Drrrt drrrt drrrt drrrt
Drrrt drrrt drrrt drrrt
Sebuah panggilan masuk di ponsel milik Richo, terlihat dari saku celana jeans depan bergetar. Dengan cepat Richo meraih ponselnya melihat nama kontak tertera di layar ponselnya.
"Halo" sapanya saat menggeser layar hijau.
"Bagaimana keadaan kalian di sana? apa kalian sudah menyelesaikan misi kalian?" tanya Jons dari sebrang telepon. Cukup lama Richo terdiam membuat Jons menaikkan alisnya tinggi merasa heran dengan sahabat satunya ini. Yah mereka belum mengetahui jika Tio sedang kritis di salah satu rumah sakit terbesar di Las Vegas.
"Apa kau masih di sana Richo?" seru Jons heran. Richo bernapas berat begitu sulit mengatakan yang sebenarnya. Melirik sekilas ke arah wanita yang masih setia berdiri di jendela kaca ruang ICU.
"Tio kritis Jons. Sudah seminggu belum ada perubahan, dan sekarang bagaimana keadaannya aku tidak tahu... dokter sedang menanganinya" jawab Richo menjelaskan dengan suara pelan. Jons terkejut bukan main dengan mata membola besar.
"Kabari aku bagaimana perkembangannya, lakukan apapun untuk kesembuhan Tio." Titah Jons dan Richo hanya berdehem sebagai jawaban.
"Aku tutup dulu" Richo segera mengakhiri sambungan teleponnya, menaruh ponselnya di dalam saku jeansnya semula. Lalu kembali duduk di kursi dekat ruang ICU menunggu dokter keluar.
Beberapa menit kemudian pintu ICU itupun terbuka memperlihatkan sosok cantik yang berdiri di luar ruangan. Karla dan Richo segera menghampiri wanita tersebut yang bernama Katrina.
"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Richo dan Karla serempak.
"Jantungnya sudah kembali normal, tadi sempat berhenti dan sekarang sudah baik-baik saja" jawabnya tersenyum simpul. Membuat dua orang berbeda jenis itu bernapas lega.
"Alhamdulillah terima kasih banyak dok, tapi kapan pasien akan siuman dokter? ini sudah seminggu tapi masih belum ada tanda-tanda dirinya bangun." Kata Richo dengan wajah khawatir. Dokter Katrina terdiam sebentar menatap kedua orang di depannya, kening Karla berkerut kecil menunggu jawaban dari sang dokter.
"Pasien masih asyik dengan mimpinya, dia merasa nyaman dengan kehidupan di alam bawah sadarnya... entah seperti apa kehidupan nyatanya sehingga membuatnya tidak memiliki rasa ingin kembali. Namun ada satu cara, kalian sering-seringlah bercerita tentang orang yang di cintainya beri dia semangat dan dorongan agar dia mau melepaskan dirinya dari belenggu alam bawah sadarnya!" jelas dokter Katrina panjang lebar. Richo dan Karla terdiam sesaat lalu mengangguk pelan, setelah kepergian dokter, keduanya terduduk lesu di kursi tunggu.
"Sebenarnya ada apa di alam bawah sadarnya hingga membuat Tio tidak ingin kembali? malah merasa betah di sana." Batin Richo meraup wajahnya kasar. Sedang Karla tengah berpikir bagaimana caranya agar dia bisa menghubungi Aulia hanya Aulia lah yang bisa membantu Tio saat ini.
Di Mansion Utama tepatnya di lantai dua kamar yang bersebelahan dengan kamar Hamas bagian kiri, seorang wanita dengan rambutnya sebahu duduk termenung di bibir kasur miliknya. Sedangkan suaminya masih di ruang kerjanya yang berada di lantai tiga.
Mendesah berat sembari meletakkan ponsel miliknya di atas nakas. Kini waktu menginjak pukul 9 malam dan mereka baru selesai makan malam. "Astaga, jika Lia tahu Unclenya masuk rumah sakit seperti apa reaksinya? dia pasti akan menuntut untuk ke Las Vegas" gumam Jons pelan. Netranya menatap langit-langit kamarnya merasa bersalah pada Tio.
"Aku akan mengabari Prince tentang keadaan Tio di sana" tuturnya lagi lalu beranjak dari duduknya berjalan keluar, menuju lift.
Ting
Lift terbuka wanita berambut coklat itu melangkah masuk ke dalam lift, ruangan sedang itu seketika tertutup kemudian berjalan naik ke atas hingga sampai tepat di lantai tiga pintu lift pun terbuka. Melangkah keluar menuju salah satu ruang yang tak jauh dari lift.
CEKLEK
Memasuki ruangan yang bernuansa hitam putih itu, terdapat sofa, meja dan kursi putar juga beberapa dokumen tertera di atas meja dan benda persegi terdapat dua buah. Pria yang duduk di kursi kebesarannya belum menyadari jika seseorang tengah masuk ke dalam ruangannya.
Bibir tipis wanita cantik itu melebar simpul saat melihat suaminya yang sedang asyik bekerja sampai pintu terbuka pun tak di ketahuinya membuatnya terkekeh dalam hati. "Dasar gila kerja" ujar batinnya.
"Ada apa hmmm...? kangen yah?" ledeknya terkekeh kecil. Pulpen di jari tangannya terjatuh begitu saja beralih memeluk pinggang ramping wanitanya.
"Hamm... kau selalu sibuk dengan berkas-berkas di mejamu seakan dia adalah istrimu, haaah. Aku cemburu sekali" ketusnya namun masih dengan bibir tersenyum tipis. Pria itu tersenyum mengigit gemas dagu bulat wanitanya.
"Hahahah, maaf istriku... kau tahu kan dua putra kecil kita itu borosnya minta ampun makanya aku kerja keras demi mereka" jelas Tuan Farhan memajukan wajahnya menyesap leher jenjang sang istri membuat wanita itu merinding.
"Yah, itu karena kamu memanjakannya... makanya mereka sangat boros" ketus Jons. Memang benar raja Iblis selalu memanjakan putranya yang baru menginjak usia 12 tahun, katanya agar dirinya semangat untuk bekerja jika ada yang menghabiskan uangnya. Bukankah itu adalah pikiran sombong yang memamerkan kekayaannya, namun walau begitu Jons tetap mencintai suaminya apalagi Dafa dan Daffin karena keinginan mereka yang selalu terpenuhi.
"Tunggu, kamu tidak biasanya kemari kalau ada hal penting bukan?" tanya Tuan Farhan dan langsung mendapat anggukan dari Jons. Raja Iblis kembali mengecup bibir istrinya singkat sebelum menjawab.
"Tio masuk rumah sakit dan kondisinya sangat kritis sudah seminggu dia belum bangun" jelas Jons saat suaminya melepas pagutan ciumannya.
Tuan Farhan terdiam sesaat memikirkan penjelasan istrinya membuatnya sedikit terkejut, namun sedetik kemudian pria itu kembali mencium bibir ranum istrinya ********** pelan.
"Aku takut jika putri kita mengetahuinya, dia pasti akan mengamuk... apa yang harus kita lakukan Prince?" tanya Jons dengan raut wajah khawatir, namun raja Iblis tak menggubrisnya ia malah asyik bermain di leher jenjang Jons membuat wanita itu merenggut kesal.
Mendorong dada suaminya pelan membuat pria itu menghentikan kegiatan nikmatnya. Lalu menatap wajah istrinya penuh tanya. Memang raja Iblis kalau sudah ketemu surgawinya akal sehatnya langsung hilang. Jons ingin sekali menggigit kuat suaminya namun sebisa mungkin menahan rasa kesalnya.
"Apa kamu punya rencana Prince? kau terlihat begitu santai seakan masalah tidak ada." ketusnya mengerling matanya tak suka.
"Ara, kau tidak tahu suamimu ini hmmm...? solusi akan ada jika kita melakukan itu" jawabnya tersenyum menggoda dan menaik-turunkan alisnya membuat bola mata Jons membulat sempurna.
"Kita lakukan itu dulu baru aku kasih solusinya oke" tuturnya yang hendak mencium bibir istrinya namun deheman kuat membuat kegiatannya terhenti.
"Ekheem!" terlihat dua anak laki-laki bersandar di daun pintu ruang kerja Tuan Farhan dengan gaya melipat kedua tangannya. Raja Iblis melihat itu mengerang kesal pasalnya dua cecungut putranya malah mengganggu kegiatannya. Dan oh, bagaimana bisa dirinya tidak tahu kedatangan dua makhluk kecil di depan sana, seperti makhluk tak kasat mata saja.
"Kalian berdua!!" teriak Tuan Farhan membuat Dafa dan Daffin terkekeh. Jons melihat kedua putranya datang hanya mampu menggeleng kepalanya.
"Kalian berdua sedang apa kesini? dan kenapa belum tidur?!" seru Tuan Farhan tajam. Jons hendak turun dari pangkuan suaminya namun raja Iblis tak membiarkannya alhasil dirinya masih tetap pada posisi semula dengan pandangan tertuju pada sang putra.
"Kami mau tidur bersama Daddy dan Mommy, tidak ada bantahan karena kami tidak bisa tidur!!" tegas keduanya masih bersedekap dada.
"Tidak bisa!" ucap Tuan Farhan.
"Harus bisa! kami akan tidur duluan, tapi ingat! Daddy dan Mommy harus tidur bersama kami... tidak ada penolakan!" jawab Dafa tak kalah tegas membuat Tuan Farhan sulit bernapas.
"Ayo dek" ajak Dafa meraih pergelangan tangan adiknya keluar dari ruangan sang Daddy. Tuan Farhan masih melongo tak percaya, kedua putranya kenapa suka sekali memerintah seperti itu membuatnya benar-benar pusing.
"Dia putramu jangan menyalahkannya! terkadang sifat mereka mendominasi sifat Daddynya tahu" tutur Jons membuat Tuan Farhan mendengus. Dengan perasaan kesal dirinya ******* bibir istrinya kasar membuat Jons terlonjak kaget.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung