The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 155 Hilang Jejak



Happy Reading 🤗


.


.


.


.


.


.


"Ada apa ini ribut-ribut?!" seorang wanita dengan tubuh berisi berjalan menghampiri empat bocah kecil, Adrian yang melihat Aulia datang segera berlari menghampirinya dan menjauh dari Enzi, gadis petakilan itu merenggut kesal dengan mimik wajah cemberut.


"Tante Lia, Enzi hanya mencium kakak Adlian tapi kakak Adlian tidak mau. Padahal kan Enzi kangen" ngeluhnya menundukkan kepalanya sedih. Aulia melirik ke arah putra sulungnya dan mengisyaratkan dengan matanya agar tidak boleh membuat adik perempuannya sedih apalagi Enzi adalah satu-satunya perempuan diantara saudaranya yang laki-laki.


"Iiish, tapi bunda, aku tidak suka dicium" tegas Adrian membuat Enzi merasa sedih, matanya kini berkaca-kaca dan hampir mengeluarkan air matanya.


"Enzi sayang, tadi Enzi sudah cium kakak Adrian kan?" tanya Aulia berjongkok di depan Enzi, gadis itu mengangguk dengan kepala tertunduk. Kini air matanya terjatuh menetes di atas lantai.


"Enzi anak yang kuat, nanti besok lagi Enzi cium kakaknya. Kan hari ini sudah cium kakanya" Aulia tidak punya pilihan lain selain memberi pengertian kepada ponakannya, ia tidak mungkin memaksakan kehendak putranya itu akan berpengaruh pada psikisnya.


Adrian yang tidak tega melihat adik perempuannya menangis segera menarik Enzi dari hadapan Aulia, ia kemudian berjongkok menghadap Enzi lalu memberikan pipinya untuk di cium.


"Nih, ciumlah!" ujar Adrian namun Enzi tidak menjawab, ia masih terdiam dengan kepala menunduk. Tentunya Adrian merasa bersalah, pria kecil itu mencium pipi Enzi membuat gadis itu menatap Adrian. Mereka terlihat seperti pasangan dewasa yang sedang marahan, hingga Adrian si pria baik itu harus membujuk wanitanya agar tidak kesal padanya.


"Kaka tidak marah lagi?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca, Adrian mengangguk sebagai jawaban membuat Enzi merasa senang ia lalu memeluk kakak sepupunya itu.


Aditya yang melihat tingkah adiknya itu mencebik kesal ia menggeleng pelan dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Dasar Enzi, ratu drama ini tidak pernah kehilangan ide" Aditya mencibir dalam hati. Sudah tidak lumrah lagi tingkah genit Enzi jika sudah bertemu Adrian, entah kenapa jika bertemu kakak sepupunya itu dia seperti kehausan akan kasih sayang padahal dirinya juga tak kalah baik sebagai abang.


"Tante Lia bawa apa itu?" tanya Aditya tatkala melihat kantung plastik ditangan Aulia. Ibu beranak dua itu tersenyum seraya berkata


"Oh iya, ini adalah kue brownies sayang, tante bawakan untuk kalian berdua" mendengar kue brownies dari mulut Aulia membuat Enzi dan Aditya bersorak kegirangan, Aditya segera turun dari atas sofa berlari menuju Aulia berada begitupun dengan Enzi.


Kedua kakak adik itu begitu suka dengan kue brownies sama seperti dua sepupunya, itulah sebabnya Aulia membawakannya kepada ponakannya itu, karena ia tahu bahwa dua ponakannya tidak suka buatan orang lain.


"Wah, dali kemalin Enzi pengen banget lho makan kue blownies telus enzi beldoa supaya tante bawakan kue kesini, dan telnyata doa Enzi telkabul" curhatnya kepada Aulia, terlihat raut wajah sedih Aulia mengingat jika iparnya sudah lama meninggal apalagi meninggalkan dua anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang ibu.


"Alhamdulillah, nah ini kalian habiskan yah, tante buat khusus untuk kalian berdua" Aulia memotong kue dan memberikannya kepada Enzi dan Aditya.


"Kakak tidak makan?" Enzi bertanya sambil menatap dua kakak sepupunya.


"Tidak, kami sudah makan di rumah" jawab Adnan, Enzi mengangguk mengerti sedangkan Aditya lebih asik memakan habis kue ditangannya.


Di lain sisi, tuan Farhan dan Hanan sudah tiba di bandar udara internasional Soekarno-Hatta, namun saat sampai di sana tiba-tiba jejak Ainsley di ponsel Aditya hilang, membuat mereka kebingungan mencari wanita yang mirip dengan Alexa itu.


Tuan Farhan melirik Hanan dan Hanan melempar tatapan tidak tahu.


"Sepertinya pesawat yang mereka tumpangi sudah lepas landas itulah sebabnya jaringan GPSnya tidak terdeteksi" tutur Hanan. Tuan Farhan juga berpikir seperti itu.


"Paman, apakah kita akan menyusul mereka ke sana?" tanya Hanan, tuan Farhan menggeleng sebagai jawaban, mereka belum tahu kemana tujuan mereka.


Kini hari sudah sore, awan hitam menyelimuti langit membuat bumi tampak gelap, tak terasa rintik-rintik rinai mulai berjatuhan dan titik-titik itu semakin deras.


Perlahan-lahan mobil hitam yang ditumpangi Hanan dan tuan Farhan mulai terparkir rapi di depan bangunan besar. Dua orang pria berbadan kekar dengan style hitam berjalan dengan menghampiri mobil hitam dengan memegang payung ditangannya.


Salah satu pria membuka pintu mobil jok kedua sedang salah satunya membuka pintu jok depan bagian kemudi, dua pria turun dari dalam mobil dan berlindung dibawah payung dari derasnya hujan yang mengguyur bumi.


Mereka kemudian masuk ke dalam Mansion, didepan pintu dua pria kecil telah berdiri sedang menunggu seseorang.


"Kakek!" seru keduanya dengan senyum lebarnya hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih. Tuan Farhan membalas senyumannya.


Adrian dan Adnan menyodorkan kedua tangannya minta digendong, tuan Farhan dengan senang hati menggendong kedua cucunya walau umurnya sudah tua tapi tenaganya masih muda layaknya ia muda dulu.


"Daddy turunkan mereka, Daddy kan sudah tua. Apa tidak takut pinggang Daddy akan encok?" Aulia datang dan menegur ayahnya ia tidak ingin jika ayahnya sakit karena menggendong kedua putranya yang gemuk itu.


"Daddy masih kuat, bahkan jika ditambah sama kamu, Daddy masih sanggup kok" jawabnya membuat Aulia menepuk jidatnya gemas pada ayahnya itu.


"Iiish, bunda, kami masih mau digendong sama kakek tahu! kami itu kangen banget sama kakek" gerutu Adnan putra bungsunya. Sudah beberapa hari ini mereka merindukan pria tua itu. Tuan Farhan merasa senang cucu-cucunya merindukannya itulah sebabnya ia sangat memanjakan semua cucunya bahkan tidak ada yang boleh menyakiti mereka.


"Hahaha, kakek juga merindukan kalian, sering-seringlah ke sini kakek akan memberikan apapun yang kalian minta" mendengar perkataan kakeknya membuat dua pria kecil itu bersorak sedang Aulia hanya geleng-geleng kepala.


Tak jauh dari ruang keluarga, Aditya dan Enzi melihat kedua sepupunya digendong oleh sang kakek dan mereka seketika merajuk ingin digendong juga. Membuat tuan Farhan bingung karena ia hanya memiliki dua tangan dan dua-duanya sudah digunakan menggendong dua cucunya dari anak perempuannya.


"Kakek, kami juga ingin digendong" ucapnya pada kakeknya, Adrian dan Adnan menjulurkan lidah kepada Aditya dan Enzi membuat keduanya merengek menangis.


"Huaaaaa, kakek, Enzi mau digendong!" serunya dengan linangan air mata.


"Sayang, ayo turun gantian sama adiknya mau gendong ke kakek juga" ucap Aulia kepada kedua putranya namun dua pria kecil itu menggeleng tidak mau. Aulia menatap dua ponakannya yang sudah merajuk dan menangis.


"Kakek kan tinggal satu rumah sama kalian, jadi hari ini adalah waktu kami. Kami kan jarang ketemu sama kakek" kali ini Adrian berkomentar.


"Huaaaa, tapi Enzi pengen digendong sama kakek hari ini juga."


"Hmmm, kami memang tinggal bersama kakek tapi kami tidak pernah tuh digendong sama kakek" tutur Aditya dengan tatapan julid namun terlihat sangat lucu.


"Sayang kenapa nangis?" seorang pria dengan setelan formal kantoran berjalan menghampiri mereka, tubuh pria itu basah kuyup membuat semua pandangan mengarah padanya.


"Sayang"


"Ayah!"


.


.


.


.


.


.


Bersambung