
Happy reading 🤗
Maaf baru bisa up satu bab 🙏🙏
.
.
.
.
.
.
.
.
Tuan Kalingga dan Nyonya Kalingga pulang ke rumahnya di ikuti puluhan bawahannya sedangkan rekan bisnis Tuan Kalingga sudah pulang ke rumah masing-masing. Saat sudah tiba di halaman rumah tiba-tiba Tuan Kalingga teringat akan sosok gadis yang di cintai oleh putranya, pria paruh bayah itu melirik sang istri.
"Sayang aku ada urusan yang harus aku selesaikan... kamu istirahat di rumah atau kalau kamu mau menjenguk Charlotte segera kabari aku" ucap Tuan Kalingga dan Nyonya Kalingga mengangguk pelan. Perlahan-lahan ibu Charlotte turun dari mobil berwarna hitam menyisakan Tuan Kalingga dan sopir yang menyetir mobil.
"Kita mau kemana Tuan?" Tanyanya pada Tuan Kalingga saat Nyonya majikannya sudah keluar.
"Ke kantor polisi aku ingin kita segera sampai di sana secepatnya" jawab Tuan Kalingga. Sang sopir mengangguk mengerti. Deru mesin mobil terdengar kembali, dengan lihai sang sopir memutar mobil sedan Lamborghini Aventador berwarna hitam hingga keluar meninggalkan pekarangan rumah milik Tuan Kalingga. Gerbang rumah kembali tertutup saat mobil yang di tumpangi Tuan Kalingga sudah menjauh.
"Aku akan menyelidiki kasus ini, siapa sebenarnya yang sudah membunuh putraku dan kenapa Alexa terlihat sangat marah dan bahkan mau membunuh Charlotte... apa yang sudah aku lewatkan?" batin Tuan Kalingga memijat pelipisnya yang teras berdenyut-denyut.
Beberapa menit melewati lalu lintas dan bahkan menyelip kendaraan lain kini mobil sedan hitam itu memasuki halaman kantor polisi, sang sopir perlahan-lahan memarkirkan mobil yang di kendarainya di belakang mobil polisi.
Pria dengan tubuh besar itu segera turun dari mobil berjalan ke jok belakang dan membuka pintu untuk Tuannya.
"Kita sudah sampai Tuan" ujarnya dengan kepala menunduk tangannya ia selipkan di perutnya layaknya menyambut seorang raja.
"Baik terima kasih" jawab Tuan Kalingga. Pria yang menjabat sebagai Menteri pertahanan itu merapikan jasnya lalu berjalan menuju pintu masuk kantor polisi. Aparat kepolisian yang melihat kedatangan tokoh besar segera menyambut dengan menundukkan kepalanya.
"Selamat sore Tuan ada yang bisa kami bantu?" tanya jendral polisi saat sudah di depan Tuan Kalingga. "Mari Tuan duduk dulu!." Ajaknya namun mendapat penolakan dari Tuan Kalingga.
"Tidak perlu saya ingin bertemu dengan seorang gadis SMA yang beberapa jam di bawa kesini" jawab Tuan Kalingga berterus terang.
"Ummm, tunggu sebentar saya akan memanggilnya" kata jenderal polisi dan Tuan Kalingga mengangguk mengerti. Jendral polisi segera berlalu dari hadapan Tuan Kalingga ia menuju sel tahanan bertanya kepada salah satu anggotanya yang bertugas menjaga para tahanan.
"Panggil gadis berseragam sekolah kemari, seseorang ingin menemuinya... jangan lama karena tamunya adalah Tuan Kalingga" tegas sang jendral.
"Maaf jendral tapi gadis tahanan itu sudah di pindahkan oleh James dan Banze tadi terjadi perkelahian di ruang sel 012" jawab polisi penjaga kepada ketuanya.
"Dimana Banze dan James membawa gadis sekolah itu?" tanya sang jendral dengan alis berkerut.
"Emmm, saya akan mencarinya" jendral polisi itu mengangguk lalu berjalan menuju Tuan Kalingga berada.
"Maaf Tuan Kalingga membuat anda menunggu... anggota saya akan segera membawa gadis yang anda maksud" pria dengan setelan jas hitam itu mengangguk pelan. Mereka kemudian mengobrol namun sesaat kemudian Tuan Kalingga mengingat jika ada dua polisi yang membawa anaknya ke rumah sakit.
"Maaf Tuan Edward saya ingin menyelidiki kasus kematian putra saya saya harap anda bisa membantu saya" ucap Tuan Kalingga kepada pria yang bernama Edward.
"Tentu saja kami akan membantu Tuan Kalingga" Tuan Kalingga tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Setelah itu jendral yang bernama Edward memanggil dua anak buahnya yang menangani kasus Ronald.
Di lain tempat pesawat dengan jenis Garuda muda G 0221 dengan warna merah di badan pesawat, setengah jam yang lalu melakukan take off meninggalkan bandara internasional Soekarno Hatta. Pesawat Garuda muda adalah jet pribadi Tuan Farhan yang bertujuan Amerika serikat tepatnya di kota Washington DC. Fasilitas di dalam pesawat tersebut membuat Dafa dan Daffin tidak bosan, selama 12 tahun ini baru kali ini mereka naik pesawat dan dua bocah laki-laki raja Iblis begitu bahagia.
"Iya Dad, Mom. Dafa juga akan sering-sering naik pesawat habisnya kita bisa melihat kota ataupun pepohonan dari atas bukan itu saja kita bahkan bisa melihat awan dari jarak yang sangat dekat..."heboh Dafa dengan senyum yang sangat lebar.
"Daffin ingin naik di atas awan apakah bisa semoga saja bisa" ucap Daffin makin berimajinasi liar. Tuan Farhan dan Jons menepuk dahinya karena tingkah konyol sang putra.
Aulia dan Tio menertawakan tingkah konyol dua kembar, begitu kampungannya mereka padahal mereka adalah putra konglomerat terkaya di dunia sungguh malang nasib dua D.
"Astaga, apakah mereka keturunanku? sepertinya aku lupa membagikan sifat sombongku." Bisik Tuan Farhan dalam hati.
"Ini akibatnya tidak pernah mengajak mereka naik pesawat jadi begini kan, kasihan sekali putraku" ucap Jons dengan tatapan tak suka pada suaminya.
"Aku akan mengajak mereka untuk naik jet setiap hari" jawab Tuan Farhan mulai mengeluarkan kesombongannya.
"Dad apakah benar? Daddy akan mengajak kami untuk naik jet setiap hari?" tanya dua D kompak. Tatapannya yang begitu ceria membuat perasaan raja Iblis melunak perlahan kepalanya mengangguk sebagai jawaban membenarkan.
"Yeaaaa! kita akan naik pesawat terus yeaaahh!" sorak Dafa dan Daffin membuat Tuan Farhan menutup wajahnya malu.
"Hahahaha, Dad lihatlah tingkah mereka seandainya ada orang lain di sini mereka pasti akan tertawa, bagaimana tidak? Seorang konglomerat sedunia anaknya baru pertama kali naik pesawat selama 12 tahun hahahaha" ledek Aulia dengan tawa yang menggelegar membuat Tuan Farhan mendengus kesal.
"Sebelum itu terjadi akan ku patahkan rahang mereka satu-persatu" balasnya dengan bibir terangkat sebelah. Aulia makin tertawa melihat wajah muram Tuan Farhan kapan lagi melihat wajah Daddynya yang begitu congkak kini berubah masam.
"Sudah-sudah jangan berisik Mommy mau istirahat" kata Jons menengahi.
"Iya sayang kasihan Daddy lihat wajahnya seperti itu bisa-bisa kita di tendang dari pesawat" bisik Tio namun masih di dengar oleh Tuan Farhan membuat raja Iblis melotot tajam pada anak dan menantunya itu.
"Ku tendang beneran juga kalian ini yah" jawab Tuan Farhan langsung beranjak menuju ke salah satu kursi yang di tempati oleh dua D. Rupanya dua D sedang bermain game PS 5 yang di sediakan oleh Tuan Farhan.
"Ayo main sama Daddy juga" kedua bocah laki-laki itu mengangguk sembari tersenyum.
Kembali ke Washington DC. Saat jenderal Edward dan Tuan Kalingga mendengar penjelasan dari dua polisi yang menyelamatkan Alexa tiba-tiba terdengar seruan seorang polisi berlari tergopoh-gopoh dengan mengendong seorang gadis.
"Tolong siapkan mobil! ada korban darurat" Tuan Kalingga dan lainnya seketika melihat ke sumber suara, polisi lainnya segera menyiapkan mobil untuk ke rumah sakit. Tuan Kalingga yang penasaran segera melihat korban tersebut dan betapa terkejutnya kala melihat calon menantunya dalam kondisi tak mengenakan.
"Alexa!" serunya lalu mengikuti langkah polisi yang menggendong Alexa menuju mobil.
"Jendral Edward dia adalah menantu saya, saya akan mengikutinya dari belakang dan tolong selidiki apa yang sudah terjadi pada menantuku di sini ku harap kau tidak mengecewakanku!" Setelah berujar Tuan Kalingga segera masuk ke dalam mobil.
"Ikuti mobil polisi di depan!"
"Baik Tuan" mobil yang di tumpangi Tuan Kalingga segera melesat meninggalkan kantor polisi mengikuti mobil dengan suara sirine polisi di depannya.
.
.
.
.
.
.
.
bersambung