
Hai teman-teman, author kembali hadir untuk mengisi kekosongan hati kalian nih, apakah sudah rindu dengan author? 🤗🤗 maaf jika Author lama libur nya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
HAPPY READING ❤️❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Kini tuan Farhan, Jons dan dua cucunya telah tiba di rumah sakit, mereka bergegas ke lantai tiga tempat Alex dan Vicky di rawat. Jons dan dua cucunya masuk sedang tuan Farhan berbalik arah hendak menuju lantai tempat kedua orang tuanya berada.
CEKLEK
Terdengar suara pintu terbuka, mereka yang berada di dalam sana segera melirik ke sumber suara, Alexa tersenyum saat mengetahui Jons dan dua ponakannya datang berkunjung.
"Selamat pagi tante cantik" sapa Enzi dengan bibir melebar, terlihat matanya memancarkan sinar bahagia. Ia pun ikut tersenyum, ia yang hendak menjawab sapaan pagi dari ponakan perempuannya lantas berhenti kala seorang pria kecil mendahuluinya.
"Selamat pagi calon istriku" sapaan tersebut membuat mata Alexa yang tadi berbinar kini berubah melotot, sapaan Aditya, pria kecil yang bahkan saat makan masih belepotan itu membuatnya melongo heran, bulu kuduknya seketika berdiri, ia merinding mendengar kalimat singkat namun menjijikkan menurutnya, bukan karena kalimat yang terucap, namun orang yang mengucapkan masih belum cukup umur untuk mengatakan hal tersebut. Bukan hanya Jons dan Alexa yang dibuat terkejut melainkan dua anak buah Vicky yang tadinya tertidur tiba-tiba terbangun lantas mendengar gombalan maut dari si pria kecil.
Kedua pria yang baru saja bangun saling menatap, melempar tatapan dengan sorot mata penuh tanya "Aku sedang bermimpi bukan? ini bukan nyata kan?" mungkin kalimat tanya tersebut yang dimaksud dari sorotan keduanya.
"Aditya, siapa yang mengajarimu tidak sopan terhadap tante Alexa?" Jons menegur cucunya yang dianggap kurang etis, karena menggombali Alexa padahal dirinya masih anak kecil, dewasapun tetap ada aturan dalam menggombal jika itu akan benar menjadi pasangan hidup.
"Aku minta maaf tante atas ucapanku tadi, aku bercanda jangan di ambil hati yah" ucapnya tertawa kecil namun sorot matanya pada Alexa terlihat dalam. "Aku mana bercanda tentang pernikahan, tunggu sampai aku besar nanti, akan kubuktikan ucapanku" batin Aditya. Pria itu tidak terlihat seperti anak kecil, pemikirannya yang dewasa membuat Alexa merinding takut.
"Dia yang seperti ini, bukankah sangat mirip dengan kak Hamas, lucu sekali" Alexa membatin tersenyum simpul namun tidak diperlihatkan kepada yang lain.
Jons dan dua cucunya duduk di sofa panjang di ikuti Alexa dari belakang.
"Apa kau sudah istirahat sayang?" tanya Jons memandang lembut pada wanita cantik di depannya, Alexa mengangguk dan menjawab "Sudah Tante, sekarang aku berganti menjaga ayah juga Uncle Vicky"
Jons mengangguk mendengar jawaban Alexa, dan melirik wajah cantik wanita itu, Aditya menatap neneknya dengan penuh tanya seakan ada sesuatu yang buruk terjadi pada calon istrinya.
"Hari ini pesawat yang ditumpangi Hamas akan mendarat, semua orang sangat sibuk, hmmm... Apakah kamu bisa menjemputnya? Akan sangat kasihan jika membiarkan dirinya tidak punya teman"
Alexa menatap Jons, ia mengernyit heran terasa ganjal baginya saat Jons menyuruhnya untuk menjemput Hamas, bukan tidak ingin tetapi alasan yang diberikan Jons tidak masuk akal.
"Bukankah ada taksi di kota ini, dan juga anak buah kakek sangat banyak di sini, nenek bisa menyuruh mereka menjemput ayah dan tidak membiarkan tante Alexa kelelahan" belum sempat Alexa menjawab Aditya sudah menyeruh duluan. Jons melirik tajam pada cucu laki-lakinya.
"Anak nakal ini yah! menghancurkan rencanaku saja, aku ingin membuat mereka kembali dekat, aku mau Alexa menjadi menantuku" bisik Jons dalam hati.
"Aku tidak percaya taksi di sini, lagipula aku hanya percaya pada Alexa, kuharap kamu tidak menolak permintaan tante yah, sayang" Jons menampilkan wajah memelas dengan kedua tangan saling bertemu. Alexa yang enggan menolak akhirnya menyetujui membuat Aditya mencebik bibirnya. Jons sangat tahu tentang sifat Alexa yang mudah mengasihani orang lain, itulah sebabnya ia menampakkan wajah kasihan sebagai trik jitu untuk meluluhkan hati Alexa, namun kemurahan hati Alexa hanya diberikan kepada keluarganya saja.
"Aku ikut bersama tante"
"Tidak boleh, kamu di sini saja temani nenek" tolak Jons, repot sekali jika si kecil ini mengikuti Alexa, rencananya akan gagal dan tidak berjalan sesuai ekspektasinya.
"Tante adalah milikku aku tidak akan membiarkan ayah merebutnya" gumamnya pelan. Alexa terkekeh kecil melihat wajah cemberut Aditya.
"Sebentar lagi akan mendarat, tante sudah menelepon anak buah tante untuk membawa mobil kemari, dia sudah di bawah" Alexa hanya mengangguk dan tersenyum kecil, lagi-lagi dia di kerjai oleh wanita paruh baya di depannya. Nasi telah jadi bubur ia tidak mungkin menolak permintaan Jons alhasil ia berjalan keluar dari ruangan ayahnya di rawat, ia menyadari bahwa ini adalah jebakan untuknya dan Hamas.
Sementara di dalam ruangan, Aditya benar-benar kesal dengan Jons, pasalnya neneknya itu tidak memperbolehkan dirinya menemani Alexa, bagaimana ia bisa menjaga calon istrinya sedang dirinya tidak di beri ruang sedikitpun.
"Kamu kenapa cucuku? kenapa cemberut begitu hmmm, nanti gantengnya ilang lho" Aditya hanya mendengus lalu tersenyum pada Jons, walaupun kesal pria kecil itu tidak pernah berlaku tidak sopan pada neneknya, itu adalah ajaran yang diberikan oleh ayahnya apalagi ia tidak pernah melihat kakek ataupun ayahnya berlaku tidak sopan pada wanita dalam keluarganya.
"Nenek, Enzi ingin menjenguk nenek dan kakek" Jons beralih pandang ke arah Enzi, wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah nenek akan mengantarmu, Aditya apa kau mau ikut?"
"Yes, tentu saja, sudah lama aku tidak bertemu dengan kakek dan nenek buyut" jawabnya kembali ceria. Jons, Enzi dan Aditya kemudian keluar, tak berselang lama seorang suster masuk sembari membawa nampan di tangan.
Sementara di luar rumah sakit, Alexa berdiri di samping mobil coklat merek Bugatti Veyron, ia tersenyum dan mengangguk pada pria berjas hitam, itu adalah anak buah tuan Farhan yang di perintahkan oleh Jons untuk membawa mobil ke rumah sakit.
Alexa masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi, suara mesin berbunyi saat ia memasukkan kunci untuk menghidupkan mesin mobil, setelah cukup memanaskan mesin mobil, perlahan-lahan mobil coklat itu bergerak dan meninggalkan parkiran rumah sakit.
Wanita itu memegang setir penuh serius dan mencengkeramnya kuat, helaan napas kembali terdengar ia begitu gugup, bahkan terlihat sebutir keringat di keningnya padahal dirinya sudah menyalakan ac namun tetap saja terasa panas.
"Apa yang harus kulakukan jika bertemu dengannya? Apa aku harus menghindar atau menjadi robot saja? Aaaaahh kenapa semuanya menjadi rumit sih, perasaanku sungguh konyol" ia berteriak dalam diam dengan wajah dongkol.
"Aku anggap dia adalah pria tua jelek dan dekil agar aku tidak terlalu gugup seperti ini" ia menyemangati dirinya dengan tersenyum lebar walau begitu tetap saja hatinya berdebar tak karuan.
Hingga tiba saatnya ia di Bandara, mobilnya berhenti di depan pintu keluar, tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal, ia mengangkat alisnya bingung.
"Nomor siapa ini?" tanpa pikir panjang ia pun menerima panggilan masuk, tiba-tiba ia tertegun mendengar suara di di sebrang telepon, itu sangat tidak asing bahkan sangat jelas di ingatannya.
"Kak Hamas!" batinnya, sungguh jantungnya tidak dapat dikondisikan saat ini, bahkan ia menyentuh dadanya dengan mata tertutup, rupanya pria itu masih berada di hatinya, suara pria itu yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak didengar namun ia tidak pernah melupakannya.
"Aku sudah di samping mobilmu, apa kau tidak ingin membukanya untuk aku masuk?"
DEG
Alexa segera memutar kepalanya ke arah kanan, matanya langsung tertuju pada pria yang sudah mengisi hatinya, pria itu berdiri dengan style casual, tidak terlihat seperti duda beranak dua namun pria remaja yang masih sangat rupawan.
"Ah, i-iya, aku akan membukanya" dengan suara terbata-bata, Alexa segera menutup telepon dan membuka pintu mobil, ia langsung keluar dan berdiri di hadapan Hamas.
"Terima kasih sudah menjemputku, Alexa" wanita itu hanya mengangguk tanpa berani melihat wajah Hamas.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung