The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 139 Sebelum Musibah



Happy reading 🤗


Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan bagi yang melaksanakan 🙏🙏


.


.


.


.


.


.


Malam semakin larut, sunyi gelap itulah yang terjadi di kota Washington, di sebuah Apartemen besar yang di tempati oleh dua putra raja Iblis dan menantunya juga ada putra sekretaris Rio. Shireen yang sedang hamil besar itu begitu kesusahan hanya sekadar tidur malam, berusaha memejamkan mata namun tak kunjung tidur sedang Hamas sudah tidur pulas dan mungkin ia sedang mengarungi dunia mimpinya.


Bahkan pergerakan Shireen pun tak ia rasakan sedikitpun. Shireen yang merasa kehausan pun bangun dari tidurnya, pelan-pelan turun dari atas ranjang dan berjalan menuju nakas, ia melihat isi gelas kosong lupa jika ia tidak menyiapkan air saat tidur tadi.


Di tatapnya wajah Hamas yang tertidur pulas, tidak mau mengganggu tidur sang suami ia pun keluar sembari mengelus perut besarnya. Ia mulai merasakan sakit pada pinggangnya hal itu biasa bagi ibu hamil dan ia menikmati proses kehamilannya.


CEKLEK


Di bukanya pintu kamar dan berjalan keluar, hawa malam terasa dingin pelan-pelan Shireen menuruni anak tangga hingga sampai dirinya di ruang dapur ia pun mengambil gelas dan menuangkan air ke dalam gelas.


Shireen lalu duduk di atas kursi dan minum air putih hingga kandas.


"Aahh segarnya, akhirnya bisa minum juga" tuturnya tersenyum lebar.


"Perutku semakin membesar sepertinya mereka anak kembar janinku baru memasuki bulan ke 8 dan sudah sebesar ini andai aku melakukan USG aku tidak mungkin se-penasaran ini kan?" gumam Shireen pelan ia mencebikkan bibirnya kesal karena Hamas tidak ingin dirinya melakukan USG padahal dirinya ia ingin tahu jenis kelamin dan ada berapa bayi yang di kandungnya.


"Anaknya mami, baik-baik yah di dalam perut, mami sama papi selalu menantikan kehadiran kalian, jangan menyusahkan mami yah sayang" bisik Shireen sembari mengelus perutnya yang buncit itu. Mengobrol dengan sang buah hati adalah hal yang bagus dengan begitu bayi yang ada di dalam janin akan merekam suara orang-orang terdekatnya juga merasa terlindungi karena ibunya selalu mengajaknya berbicara.


Karena sudah menuntaskan keinginannya, Shireen pun berjalan menuju lantai dua sesekali dirinya menyentuh pinggangnya yang terasa tidak nyaman, pelan-pelan dirinya menaiki tangga saat hendak berpijak pada tangga kedua akhir kaki Shireen terpeleset hingga membuatnya tidak seimbang dan...


"Aaaaaakkkk!!" teriak Shireen menggema. Tubuh Shireen berguling-guling di anak tangga sampai ke lantai dasar. Mendengar suara seseorang berteriak membuat Hamas, Azhar dan Hanan terbangun. Buru-buru mereka keluar dari kamar dan mencari sumber suara.


Hanan adalah putra dari sekretaris Rio, pria muda yang di kirim oleh tuan Farhan untuk menjadi tangan kanan Hamas. Ia tiba di Washington tiga bulan yang lalu dan ia menempati kamar Alexa saat ini.


Tubuh Azhar terpaku dengan tatapan bengong melihat seorang wanita tengah terkapar dengan darah bersimbah di atas lantai seketika tubuhnya gemetar ketakutan.


"Abang!!" teriaknya keras membuat Hamas dan Hanan segera berlari ke arah tangga. Dari atas Hamas dan Hanan membulatkan mata kala melihat tubuh Shireen yang sudah tak sadarkan diri.


"Sayang!" teriak Hamas dengan mata berkaca-kaca, ia pun berlari menuruni anak tangga bahkan hampir saja ia terjatuh jika Hanan tidak segera menolongnya.


Hamas pun mengambil alih tubuh Shireen dari pangkuan Azhar. Darah terus mengalir dari bawah ************ Shireen juga kepalanya mengalami benturan dan mengeluarkan darah segar.


"A-Azhar to-tolong siapkan mobil" lirih Hamas dengan tatapan kosong, ia seperti tidak berdaya, tubuhnya terasa kaku dan lumpuh tidak bisa menggerakkan kekuatannya. Ia benar-benar takut saat ini. Takut jika istri yang ia sayangi akan meninggalkannya selamanya, inilah yang ia takuti, ia lebih memilih meninggalkan daripada di tinggalkan. perasaan di tinggalkan begitu sulit untuk di lepaskan membuat orang-orang sangat ketakutan.


"Baik bang" jawab Azhar segera berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil.


"Tuan, sadarlah kita harus secepatnya membawa nyonya ke rumah sakit atau kalau tidak kita akan terlambat menyelamatkan nyawa dan bayinya" Hanan menepuk punggung Hamas kuat untuk menyadarkan pria tersebut. Hamas yang tersadar dari lamunannya segera mengangguk dan mengangkat tubuh Shireen.


Azhar sudah menyiapkan mobil, Hanan dengan gerakan cepat membuka pintu mobil jok kedua, Hamas kemudian mendudukkan pelan-pelan tubuh Shireen ia lalu ikut masuk ke dalam.


"Hanan, aku percayakan padamu tolong untuk secepatnya harus sampai ke rumah sakit" tutur Hamas dengan suara tercekat, Hanan dengan wajah datarnya mengangguk ia lalu menjalankan mobil BMW M4 Coupe. Di bunyinya klakson mobil agar satpam membuka gerbangnya.


"Pak cepat sedikit, kami sedang buru-buru!" tegas Hanan. Satpam tersebut segera membuka gerbang dan dengan cepat Hanan melesat jauh meninggalkan halaman Apartment tuan mudanya.


Sedang Hamas memeluk tubuh Shireen, air matanya terus berjatuhan melihat keadaan istrinya yang benar-benar di sayangkanitui membuat dadanya tersayat.


"Sayang, please jangan tinggalin aku bertahanlah aku akan segera membawamu ke rumah sakit, istriku ku mohon ini demi anak kita sayang" bisik Hamas dengan suara tercekat. Andai ia tidak tidur andai ia tetap menjaga Shireen mungkin musibah seperti ini tidak akan terjadi.


"Aku akan telepon Oppa Smith" ucap Azhar ia lalu mengambil ponselnya dan menelepon nomor tuan Smith. Beberapa kali menelepon namun tak kunjung di angkat, wajar jika tuan Smith tidak mengangkatnya karena hari sudah sangat malam mereka pasti sudah tidur. Hingga pada panggilan terakhir terdengar suara serak dari sebrang telepon.


"Oppa, Shireen kecelakaan tolong untuk datang ke rumah sakit, aku akan mengirim lokasi rumah sakit jika sudah sampai" ujar Azhar tanpa basa-basi, tuan Smith sangat terkejut mata yang tadinya sangat mengantuk kini terbuka lebar, bagaimana ceritanya sampai Shireen kecelakaan.


"Baik, secepatnya kabari aku jika sudah sampai" jawab tuan Smith dan Azhar langsung memutus sambungan telepon.


Hanan menatap lurus ke depan sembari melajukan mobil di atas kecepatan rata-rata, jalanan tidak terlalu ramai dengan kendaraan hingga membuat pria remaja itu melajukan mobil tanpa rasa takut sedikitpun.


"Sayang, istriku sadarlah! jangan membuat aku ketakutan, apa kau mendengarku sayang? bangunlah jangan membuat aku menyesal karena tidak bisa menjagamu" lirih Hamas dengan tetesan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya. Azhar tidak berkutik ia ikut sedih melihat Hamas begitu terpuruk ia juga sangat mengkhawatirkan kondisi Shireen dan ponakannya itu.


"Ya Allah selamatkan kakak iparku dan anak di dalam perutnya, aku mohon ya Allah" doa Azhar dalam hati.


Tak berselang lama mobil BMW M4 Coupe itu memasuki halaman rumah sakit besar, yaitu George Washington University Hospital. Hanan dan Azhar segera turun dari mobil dan membuka pintu jok belakang, mereka membantu mengangkat tubuh Shireen dan Hamas kembali menggendong istrinya ala bridal style kala dirinya berhasil keluar dari dalam mobil.


Hanan segera berlari masuk ke rumah sakit berteriak memanggil dokter, para dokter dan suster yang bertugas malam itu segera menghampiri Hanan dengan membawa bangsal.


"Tolong selamatkan nyonya saya dokter" kata Hanan masih menampilkan wajah santai walau begitu hatinya ketar ketir ketakutan.


Hamas membaringkan tubuh istrinya di atas bangsal, lalu kemudian para suster mendorong bangsal tersebut. Saat sampai di ruang UGD Hamas ingin masuk namun suster melarangnya.


"Tuan tunggu di luar, kami akan menolong pasien segera" tanpa membantah Hamas mengangguk, putra raja Iblis itu terlihat seperti mayat hidup mati.


"Abang yang sabar, kakak ipar pasti baik-baik saja kita berdoa saja" hibur Azhar sembari mengelus punggung kekar Hamas, pria itu tidak menjawab hanya tatapan kosong yang terpancar di matanya. Hanan hanya berdiam diri sembari melihat dua tuan mudanya, ia tidak ingin berkomentar karena yang di butuhkan Hamas saat ini hanyalah ketenangan.


"Telepon Daddy Zhar, aku mau bicara" titah Hamas dan Azhar pun mengangguk. Ia lalu mencari nomor tuan Farhan, panggilan pertama berbunyi namun tidak di angkat oleh tuan Farhan, Azhar meneleponnya lagi hingga pada panggilan ke lima baru di angkatnya. Azhar lalu memberikan ponsel kepada Hamas.


"Daddy, Shireen kecelakaan tolong bantu aku Daddy!" tutur Hamas gemetar. Tuan Farhan mematung bagaimana bisa Shireen kecelakaan sedangkan dia sedang hamil besar, mendengar menantunya terkena musibah ia begitu khawatir.


"Baik, Daddy akan terbang sekarang, kamu jangan khawatir" jawabnya langsung menutup telepon sepihak. Ia berjalan menuju meja rapat dengan wajah penuh kecemasan.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung