
Happy reading teman-teman 🤗🤗🤗❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
"Tidak masalah, hari ini aku kosong jadi aku menjemput kak Hamas... silakan masuk kak, Tante Jons sudah menunggu di rumah sakit" Alexa segera masuk ke tempat duduknya yang sebelumnya tanpa menunggu Hamas masuk, sesungguhnya ia tidak bisa berlama-lama di hadapan pria itu, jantungnya masih belum bersahabat, debaran jantungnya membuatnya takut ketahuan bahwa sesungguhnya dirinya masih menyimpan rasa itu.
"Biarkan aku yang menyetir" ucapnya setelah duduk di kursi depan samping kemudi. Alexa melirik sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Tidak perlu, lagipula kak Hamas pasti lelah seharian di pesawat" perlahan-lahan mobil yang mereka tumpangi bergerak meninggalkan halaman bandar udara, suasana di dalam mobil tampak sepi keduanya saling diam, menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing, terlihat sangat canggung keduanya, sesekali Hamas melirik Alexa dengan ekor matanya, ingin berbincang namun bibirnya seakan kaku tertutup rapat tak bisa di buka.
Sementara Alexa melakukan hal yang sama, diam-diam mengintip ke kaca spion di atas hanya untuk melihat wajah pria yang di rindukannya selama ini. Di satu sisi ingin sekali berhubungan baik dengan pria di sampingnya namun kembali lagi, ia takut perasaannya tidak dapat dikondisikan hingga membuat mereka berdua harus tersakiti kembali.
"Apa kau baik-baik saja?" setelah lama berdiam diri, Hamas memberanikan diri untuk bertanya keadaan wanita di sampingnya, Alexa berdehem sebagai jawaban, matanya tetap fokus ke depan walau sebenarnya ia sedang grogi.
"Tidak, jantungku tidak baik-baik saja" bisiknya dalam diam.
"Apa mereka memperlakukanmu dengan baik? mereka tidak menjahatimu kan?" Hamas bertanya sembari melirik Alexa, wanita itu menatap Hamas sekilas lalu kembali ke posisi awal, ia mengangguk dan tersenyum lebar.
"Mereka sangat baik, terutama Uncle Vicky, dia bahkan tidak membiarkanku terluka, sedikitpun tidak... suatu ketika aku pernah terjatuh, dia sampai gemetar karena aku dan...."
"Cukup!" potong Hamas dengan nada dinginnya, terlihat wajahnya yang marah sampai menggertak giginya, Alexa tersenyum kecil dan berpura-pura bodoh.
"Ada apa kak? Apa aku salah bicara?" tanyanya dengan tampang tak berdosa, Hamas memijat pangkal hidungnya dan mendesah berat.
"Wanita ini bahkan menceritakan pria lain dengan ekspresi bahagia, apa dia tidak memikirkan perasaanku? Vicky sialan! aku akan lihat seberapa tampan dirinya daripada aku, menyebalkan!" bisik Hamas dalam hati, ia sampai mengepalkan tangannya karena kesal pada Alexa.
"Uncle Vicky begitu romantis jika dijadikan sebagai seorang suami"
"What! kamu gila yah!" teriaknya membuat Alexa terkejut dan membuat mobil yang mereka tumpangi tidak seimbang, untung saja Alexa sudah mahir dalam mengemudi mobil hingga dengan mudahnya ia menyesuaikan kembali jalan yang mereka lalui. Namun ia menepikan mobil di sebuah tanah kosong, sebab ia ingin memarahi pria duda yang membuatnya hampir celaka.
"Kakak mau membuat kita mati yah! perbuatan kakak itu hampir membuat kita kecelakaan!" ketusnya dengan tatapan dongkol.
"Apa kau menyukaiku pria sialan itu? siapa sih namanya? Oh Uncle-uncle Vicky itu yah. Cih! dia tidak lebih tampan dariku?" gerutunya dengan wajah kesal, Alexa melihatnya seperti itu ingin sekali terbahak-bahak namun ia harus menahannya karena ia masih ingin mengerjainya.
"Ada apa dengan kak Hamas? kusarankan jangan membencinya karena sebentar lagi Uncle Vicky akan menjadi suamiku" Hamas memelototi Alexa, ia membuka sabuk pengaman dan mendekati Alexa, wanita itu menatap aneh dengan tingkah Hamas padanya.
"Apa yang mau kak Hamas lakukan? berhenti!" serunya namun pria duda itu tak menghiraukan, keduanya beradu pandang, mata Hamas tidak pernah lepas dari wajah cantik Alexa, bahkan kini deru napas keduanya saling menyapu kulit, sungguh Alexa tidak tahu harus berbuat apa, ia tiba-tiba memejamkan mata seakan mengharapkan sesuatu.
"Kau ingin kucium hmmm?" mendengar bisikan Hamas ia langsung tersadar dan membuka matanya, ia mengerang kesal sebab di jaili oleh pria duda itu. Hamas tertawa puas melihat wajah malu Alexa.
"Kau tidak akan menikah dengan Vicky sialan itu! jadi buang impianmu karena aku tidak merestuinya" Hamas berkata setelah meredakan tawanya, kali ini ia berbicara serius terdengar dari nada bicaranya yang tidak di buat-buat.
"Aku tidak perlu izin darimu kak! masa depanku adalah aku yang menentukannya.... Aku mau menikah dengan siapa bukan urusan kak Hamas!" tekan Alexa, ia kembali menyalakan mesin mobil dan melesat pergi. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria di sampingnya, bukankah dia tidak mencintainya namun urusan percintaannya menjadi campur tangan Hamas. Sangat konyol!
Alexa sungguh tidak mengerti jalan pikiran Hamas, bukankah pria itu tidak mencintainya dulu? Lalu kenapa Hamas melarangnya menikah dengan pria lain, bukankah itu sangat konyol.
Sementara di lain tempat, tepatnya di Alexa Hospital, dua kerucil Hamas sedang menatap nenek buyutnya dan berbincang-bincang dengan tuan Wijaya.
"Kakek istirahat saja, biarkan kami yang menjaga kalian berdua" ucap Aditya dengan tersenyum lebar. Tuan Wijaya tersenyum dan mengelus rambut dua cucunya.
"Baiklah, kakek istirahat dulu kakek sangat mengantuk sekali, terima kasih sayang sudah membantu kakek menjaga nenek kalian" jawabnya masih dengan senyum terukir di bibirnya.
"Tidak apa-apa kakek buyut, anggap saja Enzi dan kak Aditya sedang belbakti pada kakek dan nenek buyut, bukan begitu kakek Falan?" tuan Farhan hanya mengangguk, tidak tahu saja jika pernyataan itu adalah sebuah sindiran untuknya, Enzi yang mendapat respon seperti itu jadi kesal dan mencebikan bibirnya kesal.
Sementara tuan Wijaya perlahan-lahan membaringkan tubuhnya di atas bangsal di mana istrinya berbaring di sana, nyonya Mita baru saja tidur sebab sebentar lagi ia akan di operasi besar.
Kedua pasangan halal itu berbaring di tempat yang sama, perasaan tuan Wijaya pada nyonya Mita sungguh tulus sampai mendampingi sang istri di rumah sakit dalam waktu yang lama, keadaan apapun selalu di lakukan bersama, seperti saat ini, tuan Wijaya tidak pernah meninggalkan nyonya Mita walau dalam keadaan sakit.
"Kakek buyut adalah contoh baik dalam mencintai istrinya, kakek buyut adalah suami idaman setiap perempuan, aku mau seperti kakek buyut yang mencintai pasangan sangat tulus tidak seperti pria lain" ujar Aditya sambil mencuri-curi pandang ke arah tuan Farhan, pria kecil itu sepertinya sengaja mengibarkan bendera perang dengan tuan Farhan, suka sekali jika berseteru dengan raja Hades itu.
"Kau kenapa berbicara sambil melihat kakek seperti itu? Kakekmu ini adalah pria sejati yang tidak pernah membuat nenek kalian menangis ataupun merasa kecewa" ujarnya sedikit sombong.
"Apakah itu benar nenek?" Jons mengangguk tersenyum, apa yang di katakan suaminya adalah benar dia termasuk golongan suami idaman.
"Sudah kakek katakan, kakek ini adalah pria sejati dalam mencintai pasangan, kamu tidak percaya pada kakek hmmm"
"Tapi kau tidak mencintai cucumu" jawabnya dengan memonyongkan bibir, tuan Farhan melebarkan matanya sementara Jons hanya geleng-geleng melihat tingkah lucu cucu laki-lakinya itu.
"Iya benal, kakek tidak mencintai kami" Enzi ikut membantu mendramatisir dengan ekspresi sedih yang di buat-buat.
"Kalian mau apa?" seakan sudah memahami trik cucunya, tuan Farhan langsung bertanya ke intinya. Kedua kakak beradik itu saling menatap dan memberikan senyum misterius.
"Kami ingin mobil Jeep!" jawabnya serempak. Tuan Farhan mengangguk setuju, permintaan kedua cucunya bukan seberapa, hal itu bukan apa-apa baginya.
"Jika kakek membelikan untuk kalian apakah sekarang kalian sudah mengakui bahwa kakek sangat mencintai kalian?"
"Benar sekali" jawab mereka dengan semangat empat lima.
"Baiklah, saat kita pulang nanti kakek akan memberikan pada kalian, bukankah kakek kalian ini sangat kaya" dua kakak beradik itu tersenyum lebar. Jika ingin mendapatkan sesuatu yang berharga maka pujilah tuan Farhan sebab pria itu sangat haus dengan pujian dari anak-anak dan cucu-cucunya.
Kini misi kedua bocah tersebut telah berhasil dan sekarang mereka harus memikirkan permintaan apalagi yang akan di ajukan pada si raja Hades nanti.
.
.
.
.
.
.
Bersambung