
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Sebelum penembakan
Saat Vicky keluar ia terkejut melihat keluarga tuan Farhan sudah di depan Mansion, sedang anak buahnya terus menghadang mereka agar tidak masuk ke dalam sesuai perintah sang ketua.
Vicky mengangkat tangannya sebagai tanda untuk melepaskan mereka, ia yang akan mengurusnya.
"Ada apa kalian kemari?" tanya Vicky dengan tatapan tidak suka sedang tuan Farhan ingin sekali menghajar pria muda di depannya, andai Azhar dan lainnya tidak mencegahnya mungkin tuan Farhan sudah di luar kendali.
"Di mana Alexa! Kami ingin menjemputnya" mendengar ucapan tuan Farhan membuat Vicky terkekeh jenaka, ia menatap rendah tuan Farhan dengan jari tengah mengacung ke depan.
"Tidak ada!"
Tuan Farhan memukul wajah Vicky membuat pria itu terpental jatuh, bibirnya pecah mengeluarkan darah, lantas ia menyeka darah dan meludah ke tanah. Sedang anak buahnya yang ingin menghajar tuan Farhan dan rombongan kembali menyuruh mereka untuk tidak bertindak sebelum ia memberi aba-aba.
"Berengsek, jangan membuat kesabaranku habis! Cepat katakan di mana Alexa?" bentak tuan Farhan dengan wajah merah padam.
"Tuan sabar, kita bisa bicarakan baik-baik, jika begini malah akan membuat masalah makin runyam" kata Alex menenangkan tuan Farhan, namun pria itu malah menatap datar wajah Alex. Ia kesal karena dirinya di suruh sabar.
"Daddy yang tenang, jika Daddy hilang kendali yang ada kita tidak bisa bertemu dengan Alexa..." Azhar ikut menimpali membuat tuan Farhan hanya menggeleng pelan. Terdengar napasnya naik turun ia benar-benar marah pada Vicky karena mempermainkan dirinya.
"Di sini tidak ada yang namanya Alexa, jadi kalian pulanglah sebelum saya melapor polisi karena sudah membuat keributan di tempat kami" Vicky masih terlihat tenang, ia masih bersikap biasa tidak ingin memperbesar masalah karena tidak mau nyonya dan nona mudanya terlibat.
"Jangan bohong kamu! Jelas-jelas saya melihat langsung Alexa keluar dari tempat ini, oh aku lupa, seorang pencuri mana mungkin jujur, tapi sayang aku sudah melihat jelas perbuatan kalian yang melanggar hukum..., bagaimana jika masalah ini saya bawa ke meja hijau saja?" Azhar berkata dengan nada sinis. Kali ini Vicky terlihat kacau ia lalu melirik anak buahnya yang sedang menunggu perintah dari Vicky.
Melihat kode dari bossnya membuat mereka langsung menyerbu ke arah tuan Farhan dan rombongan, sigap tuan Farhan dan lainnya langsung baku hantam.
Mereka adu jotos, tuan Farhan dan Alex yang sudah tua namun masih memiliki tenaga yang terbilang cukup untuk melawan mereka hingga Azhar dan dua adiknya tidak terlalu kewalahan.
Tendangan dan pukulan mereka layangkan ke arah musuh sebagian dari musuh ada yang babak belur dan ada yang masih bertahan. Tidak sulit menghadapi mereka walau kekuatan tempur musuh cukup kuat tetapi mereka masih di atasnya.
Melihat anak buahnya banyak yang jatuh, dari belakang Vicky mengambil pistol di sisi celana kanannya dan langsung mengarahkan ujung pistol ke arah pria paruh baya yang memiliki rambut coklat.
"Daddy!" Spontan Azhar berteriak kala melihat tuan Farhan tersungkur jatuh, ingin sekali menolong ayahnya tetapi musuh terus berdatangan.
Sedang di sisi tuan Farhan, saat ia terjatuh akibat mendapat tendangan bebas dari musuh, ia tak sengaja melihat Vicky yang hendak menembak ke arah Alex membuat ia langsung mengeluarkan pistol yang sering ia bawa.
"Sial! Bajingan itu tunggu saja akan kuhabisi kamu!" umpat tuan Farhan yang sigap dengan pistol di tangannya.
DOR
DOR
Dua pria seketika terjatuh dengan darah mengalir dari tubuh yang luka, tepat di lengan bagian kanan peluru itu masuk menembus kulit dan daging Alex membuat pria paruh baya itu langsung terjatuh.
Tuan Farhan tidak bisa menghalangi peluru itu sebab ia berada sangat jauh dari posisi Alex itulah sebabnya ia hanya bisa menembak Vicky.
Ketika mendengar suara tembakan membuat pertarungan itupun berhenti, anak buah Vicky membantu Vicky untuk bangun sedang Azhar membantu Alex berdiri.
Fadel dan Fadil memapah tuan Farhan untuk bergabung dengan Azhar dan Alex. Tiba-tiba pintu Mansion terbuka memperlihatkan sosok wanita muda dan tua.
Mata tuan Farhan dan Alex membulat sempurna saat melihat ke arah wanita muda, pasalnya wanita itu benar-benar mirip Alexa, anak gadis yang mereka cari-cari selama ini.
"Alexa" batin kedua pria paruh baya itu. Namun saat melihat rasa khawatir wanita itu yang tercurahkan hanya untuk Vicky membuat hati Alex terenyuh, ia merasa sebagian hatinya sangat sakit seperti sedang di tusuk-tusuk oleh sebilah pisau kecil, benar-benar ngilu.
"A-apakah dia adalah putriku? Dia sangat mengkhawatirkan pria itu di banding aku ayahnya sendiri, hatiku sungguh sakit sangat-sangat sakit" Alex membatin dengan mata terpejam, bahkan kini ia tidak lagi merasakan sakit di lengannya tetapi jantungnya, jantungnya berdenyut nyeri saat melihat putri tercintanya lebih memerhatikan pria lain daripada dirinya.
Tuan Farhan melebarkan matanya dan menatap tajam ke arah Alexa.
"Azhar! Bawa paman kamu ke rumah sakit!" serunya lantang membuat Alexa melirik ke arah sumber suara. Ia seketika terkejut saat mendapati sang ayah terluka dengan kondisi memperhatikan apalagi wajahnya sudah pucat pasih.
"Ayah!" serunya dengan mata berkaca-kaca, ia tidak peduli dengan sekitarnya, lantas Alexa meminta beberapa pria untuk memapah Vicky ke mobil untuk di bawa ke rumah sakit sedang dirinya langsung berlari ke arah Alex.
"Ayah, apa kau baik-baik saja? Maafkan Alexa yah kenapa bisa seperti ini" air matanya jatuh merembes ke pipinya, ia merangkul sang ayah dan memeluknya. Hati pria paruh baya itu tersentuh dan tersenyum haru merasakan kehangatan yang selama ini hilang.
Ia membalas pelukan sang putri, Azhar ikut bahagia kini Alexa sudah benar-benar kembali ke keluarga mereka. Karena melihat kondisi Alex yang tidak baik, Alexa langsung memapah ayahnya untuk masuk ke dalam mobil, yang lain juga ikut masuk namun tidak dengan Alexa.
"Ayah jaga diri ayah baik-baik, Alexa ada sesuatu yang harus di urus jadi Alexa belum bisa ikut, tidak apa-apa kan yah?" walau hati kecilnya tidak memperbolehkan tetapi pria itu luluh dengan permohonan sang putri, ia pun menyanggupinya.
"Kamu hati-hati di sini, ingatlah untuk segera menyusul ayah ke rumah sakit"
"Siap Yah!" Alexa berujar lantang dengan posisi tangan hormat di ujung alisnya. Alexa juga tidak lupa untuk menyapa tuan Farhan memeluk pria itu karena ia benar-benar rindu.
"Jaga diri kamu nak, cukup sudah beberapa tahun ini kami susah mencarimu jangan lagi sekarang... Apa kau mengerti" Alexa mengangguk pelan dengan senyum tipis di bibir. Tuan Farhan hanya mengelus lembut rambut Alexa dan berlalu dari sana.
Alexa berdiri menatap sendu mobil yang membawa keluarganya, hingga mobil itu benar-benar menjauh dari pandangan mata dan tidak terlihat lagi. Sebuah tepukan pelan terasa di pundak Alexa membuat wanita itu memiringkan kepalanya.
"Nenek!" Alexa memeluk tubuh wanita tua itu dan menangis di pelukannya.
"Hiks-hiks-hiks"
"Nenek, apakah keluarga Alexa akan marah atas kejadian hari ini? Alexa takut akan terjadi perkelahian antara dua keluarga ini" sebenarnya ada rasa takut yang bercampur aduk di hati Alexa, takut jika keluarga tuan Farhan tidak terima atas perlakuan Vicky hingga menyebabkan pertarungan yang memakan jiwa.
"Ssssttt, jangan terlalu banyak pikiran semua akan baik-baik saja, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, semoga tidak terjadi apa-apa dengan ayah dan Vicky" kata wanita tua itu dan di sanggupi oleh Alexa. Keduanya pun naik ke mobil dengan seorang pria bertubuh besar menjadi sopirnya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung