The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 86 Dapur



Happy reading 🤗


Kasih Votenya dong Kaka 🙏🤗🤗❤️🌹


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Di negara Indonesia tepatnya di rumah sederhana dengan lantai dua memiliki bengkel motor di sebelah teras rumahnya yang tersambung langsung ke dalam, setelah acara peresmian itu Aulia meminta agar ia langsung menempati rumah pemberian Daddy-nya bagaimanpun dirinya sudah berumah tangga ingin hidup lebih mandiri bersama sang suami.


Awalnya Tuan Farhan dan lainnya tidak setuju mengingat Mansion Utama sangat besar dan bahkan masih banyak kamar yang kosong namun karena berbagai bujuk rayuan dari si ratu drama hingga membuat mereka mengangguk pasrah dengan catatan jika terjadi apa-apa maka segeralah bilang pada mereka.


Hari ini bengkel Mantap Jiwa belum bisa di buka dalam kata lain belum beroperasi, mereka akan menyiapkan segala kebutuhan yang akan di gunakan untuk besok nanti. Sekarang jam telah menunjukkan pukul 5 pagi Aulia bangun terlebih dulu ia akan belajar memasak untuk suaminya, itulah sebabnya dia bangun sangat awal untuk menonton YouTube terlebih dulu baru mempraktekannya.


Barang-barang Aulia dan Tio langsung di bawa pindahkan oleh anak Black Wolf atas perintah Tuan Farhan dan Tuan Wijaya membawanya ke rumah baru milik Nona mudanya.


"Hmmmm, pagi-pagi begini enaknya sarapan apa hmmm...? apa Lia bikin Sandwich aja tapi kira-kira sulit gak yah?" gumam Aulia. Dirinya sudah berada di dapur ukuran lumayan besar dengan peralatan lengkap alat rumah tangga semuanya sudah tertata rapi di ruang dapur.


"Andai dari dulu Lia belajar masak ke Paman Chef mungkin Lia tidak akan sesulit ini" sesal Aulia dengan wajah di tekuk. Kemudian ia meraih ponsel di saku celananya berselancar di internet membuka aplikasi YouTube dan mencari cara membuat Sandwich di pencarian terbaru.


Sambil menonton Aulia berjalan menuju kulkas mengambil sayur salad dua lembar berukuran sedang, telur dua butir, dan tomat. Kemudian mengambil roti, margarin dan keju. Gadis remaja yang sudah bersuami itu kemudian kembali menonton cara membuat Sandwich setelah melihat bahan-bahan yang di butuhkan untuk membuat menu sarapan pagi ini.


Sedang di lantai dua kamar utama, pria dengan bertelanjang dada dengan bawahan celana pendek selutut menepuk-nepuk kasur di sebelahnya, dengan mata sedikit berat pria yang sudah hampir menginjak kepala tiga itu membuka matanya perlahan-lahan.


"Euum... di mana dia? apa dia di kamar mandi?" gumam batin pria itu yang tak lain adalah Tio. Dengan malas Tio bangun lalu beranjak dari tempat ternyaman menuju bilik kamar mandi namun saat masuk tak melihat keberadaan wanitanya.


"Kok gak ada, apa dia di bawah kali yah." Ujarnya. Ia kemudian menuju wastafel membasuh wajahnya lalu meraih sikat gigi dan pasta gigi herbal kemudian Tio mulai menyikat giginya.


"Ah iya Daddy semalam berpesan agar aku datang ke kantornya, apa yang akan Daddy sampaikan yah?..." kata Tio dalam benaknya. "Lebih baik aku langsung mandi saja"


Kembali ke dapur


Aulia dengan penuh semangat ingin menjadi istri yang dapat di banggakan oleh suami itu berusaha berperang melawan minyak goreng panas. Karena tidak biasa gadis itu menggunakan kaca mata sebagai pelindung mata agar saat membuat telur mata sapi, minyak goreng panas itu tidak mengenai matanya yang bulat.


"Haah! ternyata tidak semudah itu yah memasak, namun demi Uncle Tio Lia akan melakukan apa saja agar bisa menjadi istri yang sangat di cintai Uncle." Aulia tersenyum tipis membayangkan ketika menyiapkan sarapan ada pujian dari suami tercinta membayangkan hal itu membuat Aulia tidak sabar untuk segera cepat selesai.


Aulia kemudian mematikan kompor gas setelah dua telur mata sapi telah matang sesuai seleranya kemudian ia menaruh telur yang sudah matang di atas roti tawar di lapisi dengan daun salad di atasnya, setelah itu tomat, cabai yang sudah di tiris kecil-kecil ia taburi di atas daun salad dan terkahir adalah keju prochiz lembar setelah sudah cukup semuanya ia kemudian menutupnya dengan roti tawar sebagai lapisan atasnya.


Dari pintu dapur tampak seorang pria dengan setelan rapi celana jeans dengan atasan kemeja putih sedang melengkungkan senyum tipis saat pandangan indah tertuju ke arah gadis dengan tampilan yang hanya memakai kemejanya yang kebesaran di tubuh gadisnya memperlihatkan paha dan betisnya yang putih mulus.


"Ternyata menikah seindah ini jika tahu dari dulu aku nikahi saja dia waktu umur 10 tahun" gumam Tio cekikikan dalam hati. Ada-ada saja kau Tio masa iya menikah dengan anak kecil yang ada bukan membantu pekerjaan malah merepotkan setiap harinya... hmmm, memang kalau sudah cinta akal sehat pun sudah tidak berguna.


"Semoga rasanya enak" batin Aulia dengan senyum tipis di bibirnya, ia mulai menyalakan kompor gas kembali teflon yang di pakai untuk menggoreng telur ia gunakan untuk membakar roti Sandwich yang di buat. Saat sedang asyik sebuah tangan mendarat di perut ratanya.


"Morning sweetie" bisik Tio di telinga istrinya.


"Belum"


"Iiiih kok ngeselin sih jawabnya" kesal Aulia.


Cup


"Lagi buat apa sayang?" tanya Tio masih dengan tangan bertengger di perut Aulia sesekali memberikan kecupan ringan di pipi istrinya.


"Lia lagi buat Sandwich. Lia gak tahu enak apa gak soalnya ini baru pertama kali Lia memasak sendiri" jawabnya sembari membalikkan Sandwich yang belum di bakar hingga terjatuh ke atas teflon yang panas.


"Pasti enak dong sayang" tutur Tio, pria dewasa itu kemudian membalikkan tubuh gadisnya hingga menghadap ke arahnya memajukan wajahnya hingga mentok ke bibir Aulia, benda kenyal itu lebih nikmat daripada roti isi oleh sebabnya Tio ingin mencicipi bibir Aulia baru Sandwich tersebut.


"Umum, Un-uncle Lia sedang masak" ucap Aulia di sela-sela ciuman mereka. Tangan Tio mematikan kompor kemudian meraih pinggang gadisnya agar lebih merapat pada tubuhnya ia tak menggubris ucapan sang kekasih halal, lidahnya masih asyik bermain dengan lidah istrinya menggulungnya dan saling bertukar saliva.


"Umm, ahh Uncle" desah Aulia saat Tio menghisap leher jenjang gadis itu. "Un-uncle Li-Lia sedang membuat sarapan"


"Hmmm, nanti saja sayang, Uncle masih pengen tadi dingin banget airnya pas mandi, Uncle lupa nyalain air hangat" jawab Tio semakin menekan kepala Aulia karena sudah sangat bergairah pria itu mengangkat tubuh gadisnya refleks Aulia melingkari kaki jenjangnya di pinggang Tio.


"Un-uncle ja-ngan sekarang, sema-lam kan sud-ah ah, ah" Tio sudah sangat bergairah pria itu mendudukkan gadisnya di atas meja makan mini yang terletak di tengah-tengah ruang dapur. Melepas pagutan ciumannya lalu menatap intens wajah istrinya. Tangannya terulur menyelipkan anak rambut di belakang telinga Aulia memberikan kecupan di dahi sang istri tercinta.


"Kita belum pernah melakukannya di sini, mumpung masih senggang ayo kita lakukan di sini" tutur Tio menampilkan wajah senyum terbaiknya membuat Aulia memutar bola matanya malas.


"No! Uncle kan harus ke kantor, ingat Daddy gak suka menunggu jadi Lia harus siapkan sarapan untuk Un..." karena terlalu banyak mengoceh Tio pun menyumpal bibir Aulia dengan bibirnya, ********** rakus.


Tangannya tak tinggal diam mulai berselancar di dua bukit sang istri yang daritadi begitu menantangnya.


"Ah, Un-uncle" desah nikmat keluar dari mulut sang pasangan pengantin muda membuat pria dewasa itu makin bergairah di buatnya.


Di lain sisi dua orang pria muda membuka pintu yang menghubungkan pintu bengkel dengan rumah Utama, mereka masuk ke dalam karena sudah merasa haus, tidak apa-apa masuk tanpa izin wong mereka sudah di berikan izin dari Tuan rumahnya. Kunci bengkel dan pintu rumah di bagi menjadi dua satu untuk pemilik bengkel dan satunya untuk karyawan, tidak tahu saja jika para jomblo di larang masuk ke dalam area pengantin baru.


Yogi dan Andre sama-sama mendengar suara ******* dari dapur membuat telinga mereka seketika membesar dan panjang keduanya pun saling melirik.


"Eh itu suara apa?" tanya Yogi menatap sahabatnya.


"Suara tikus kali" jawab Andre acuh.


"Mana mungkin suara tikus kayak nikmat banget" ketus Yogi menatap jengah sahabatnya yang satu ini.


"Mungkin mereka sedang menikmati makanan yang enak makanya suaranya kayak gitu" sahut Andre tak ambil pusing, pria itu malah semakin melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur saat sudah sampai di depan ruang dapur matanya seketika membulat sempurna dan langsung berteriak.


"Aaaaaakkk komodo berzina"


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung