The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 138 Terjatuh



Happy reading 🤗


maaf terlambat update


.


.


.


.


.


.


.


8 bulan kemudian kini kehamilan Aulia sudah memasuki tahap terakhir dalam mengandung kini tinggal beberapa hari lagi akan menuju proses persalinan. Perut Aulia yang semakin besar itu membuat Tio dan lainnya begitu waspada dan selalu memperhatikan Aulia agar selalu sehat dan aman.


Tio dan Aulia memutuskan untuk tidak melakukan USG jadi mereka belum tahu jenis kelamin si buah hati, dan ada berapa janin di dalamnya. Tentunya itu akan menjadi sebuah kejutan bagi mereka saat proses persalinan nanti.


Tio dan tuan Farhan begitu sibuk mempersiapkan pakaian si bayi bahkan kamar si bayi sudah di dekorasi sedemikian rupa, calon ayah dan kakek itu begitu bersemangat menyambut kedatangan pewaris selanjutnya dari keluarga tuan Wijaya.


Di taman Mansion Utama dua orang wanita tengah duduk berjemur di atas kursi kayu, mereka adalah Jons dan Aulia. Aulia menengadah wajahnya ke atas sembari menutup mata dan menghirup dalam-dalam udara segar di pagi hari. Begitupun dengan Jons ia melakukan hal sama seperti putrinya.


"Sayang minum susunya dulu, aku bawakan susu kambing untuk kamu" Tio membawa nampan berisi dua gelas susu juga buah jeruk dan apel yang sudah di kupas kulitnya untuk istri tercinta sekaligus untuk mertuanya juga.


Akhir-akhir ini selain mengurus perusahaan yang ia tangani sebagai seorang gamer ia juga begitu sibuk mengurus Aulia yang sedang hamil besar, kadang dirinya tidak tidur karena Aulia yang sulit mendapatkan kenyamanan di malam hari, selain itu ia menyiapkan air mandi untuk Aulia, pakaian juga makanan sekalipun Aulia sudah melarangnya namun suami bucin itu tetap melakukannya dengan senang hati.


Tentunya tingkat persentase rasa suka Aulia terhadap Tio telah mencapai seratus persen. Jarang-jarang mendapatkan suami yang sangat peduli terhadap istri bahkan melakukan apapun yang belum pernah di lakukan dan Tio adalah salah satu suami idaman para istri.


"Sudah aku bilang untuk tidak perlu repot-repot, kenapa tidak mendengarkannya!" kata Aulia tegas. Bukan apa-apa jika seperti ini bukankah Tio seperti seorang pembantu dan Aulia membenci hal itu.


"Aku akan merepotkan diriku jika itu menyangkut kamu dan bayi kita, tidak usah banyak bicara, ini minum susunya dulu" jawab Tio keras kepala. Jons hanya tersenyum mendengar perdebatan putri dan menantunya. Ia bersyukur putrinya mendapatkan suami yang bertanggung jawab juga sangat perhatian.


"Ma, ini susu untuk mama juga" Tio menyodorkan segelas susu di depan Jons.


"Wah terima kasih, kau sungguh perhatian Tio" puji Jons membuat Tio hanya geleng-geleng kepala. Tio duduk di samping istrinya menatap wajah cerah sang istri yang sedang minum susu buatannya.


"Sayang, apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Aulia sembari mengigit buah apel.


"Belum, Daddy menyuruhku untuk fokus menjagamu, jadi untuk pekerjaanku sudah di tangani oleh timku" jawab Tio apa adanya, Aulia hanya membuang napas berat, tuan Farhan ini terlalu memanjakannya bukannya tidak mau namun bukankah sangat berlebihan lagipula dirinya hanya mengandung bukan sedang sakit.


"Aku tidaklah sakit kenapa begitu khawatir, aku hanya mengandung bukankah itu wajar kenapa kecemasan Daddy terlalu over" keluh Aulia mencebikkan bibirnya kesal.


"Itu adalah wajar apalagi anak di dalam perut kamu adalah cucu pertamanya jadi dia sangat menantikannya, Daddy kamu melakukan itu demi kebaikan kalian jadi jangan pernah mengeluh" nasihat Jons dengan suara lembut. Ia tersenyum membayangkan saat dirinya hamil dulu mengingat hal tersebut membuatnya ingin hamil lagi ia ingin merasakan kehangatan tuan Farhan yang over perhatian padanya.


"Aku merindukannya" batin Jons dengan bibir masih melengkung tipis.


Sedang di sebuah perusahaan group Wijaya tuan Farhan sedang melakukan rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang sedang membahas tentang pembangunan resort hotel yang berada di pinggiran kota tentunya di lihat dari strategi pemasaran sangat meyakinkan. Banyak pengunjung yang menyukainya apalagi pemilihan tempat yang masih hijau menjadi daya tarik bagi para wisatawan.


Istimewanya, resor ini dilengkapi dengan dua lapangan rumput yang bisa digunakan oleh para pengunjung entah itu wisatawan lokal maupun wisatawan asing Selain itu, terdapat pula lapangan voli, dan enam lapangan tennis.


Lokasi resort ini berada di tepi pantai yang memungkinkan seluruh wisatawan dapat menikmati pemandangan laut lepas dari dalam kamar-kamar yang nyaman.


Kamar-kamar Resor hotel ini dirancang senyaman mungkin. Ukurannya luas, dan masing-masing memiliki bar mini, televisi, pengering rambut, dan telepon. Rapat masih berlangsung dan tuan Farhan masih menjelaskan perkembangan resort hotel di bawah pengawasannya.


Tak lama terdengar bunyi nada dering dari ponsel milik tuan Farhan, tuan Farhan melirik sekilas ponselnya di atas meja tertera nama Hamas di layar ponsel, karena rapat masih berlangsung ia pun mematikan sambungan telepon dari Hamas lalu kembali melanjutkan penjelasannya namun berulang kali Hamas menelepon membuatnya sedikit penasaran.


"Maaf, saya angkat telepon dulu" izinnya lalu beranjak dari kursinya.


"Daddy, Shireen kecelakaan tolong bantu aku Daddy!" tutur Hamas dengan suara gemetar. Tuan Farhan mematung bagaimana bisa Shireen kecelakaan sedangkan dia sedang hamil besar, mendengar menantunya terkena musibah ia begitu khawatir.


"Baik, Daddy akan terbang sekarang" jawabnya langsung menutup telepon sepihak. Ia berjalan menuju meja rapat dengan wajah penuh kecemasan.


"Rapat sampai di sini, saya ada urusan mendadak" kata tuan Farhan segera keluar dari ruang rapat semua mata memandang ke arah tuan Farhan.


"Apa yang terjadi? wajah tuan Farhan begitu tegang?"


"Sepertinya masalahnya sangat serius"


"Haah! ayo kita kembali ke perusahaan kita." Ujar mereka lalu beranjak keluar dari ruangan rapat.


Sedangkan sekretaris Rio segera menyusul tuan Farhan, ia penasaran sebenarnya apa yang telah terjadi hingga membuat wajah tuan Farhan begitu pucat pasih.


"Tuan, apa yang terjadi? apakah sangat serius?" tanya sekretaris Rio setelah bersusah-payah mengejar langkah kaki bosnya itu.


"Menantuku kecelakaan, kamu siapkan jet pribadi aku akan terbang hari ini juga, aku minta tolong untuk urus perusahaan" titah tuan Farhan dengan suara lirihnya


"Baik tuan, jangan khawatir perusahaan biar aku yang tangani. Semoga istri tuan muda dan anaknya baik-baik saja" jawab sekretaris Rio.


Bersamaan dengan itu Jons menelepon tuan Farhan, pria itu langsung mengangkat panggilan dari istrinya.


"Halo, prince cepatlah pulang Aulia mengalami kontraksi sepertinya dia akan melahirkan" ucap Jons dari sebrang telepon dan hal itu makin membuat tuan Farhan terkejut.


"Shireen mengalami kecelakaan dan sekarang aku sedang menuju bandara, kamu bawa Aulia ke rumah sakit segera ingat untuk selalu mengabari aku" Jons menutup mulutnya mendengar musibah yang di alami putranya juga menantunya itu.


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan jangan lupa kabari aku" Jons segera menutup telepon. Ia dan Tio juga Amanda dan Alex membawa Aulia ke rumah sakit milik tuan Wijaya sedang tuan Wijaya dan nyonya Mita akan menyusul karena mereka sedang dalam perjalanan pulang.


Tuan Farhan dan sekretaris Rio berada di satu mobil yang sama, tujuan mereka adalah menuju bandara internasional Soekarno Hatta sedang pilot yang adalah anggota Black Wolf sudah menyiapkan jet pribadi.


"Astaga mengapa masalah datang bertubi-tubi, semoga putriku dan menantuku baik-baik saja aku sangat khawatir tentang keadaan putriku, apakah dia bisa menahan rasa sakit saat melahirkan nanti?" batin tuan Farhan yang tengah mengkhawatirkan kondisi putrinya namun ia tidak bisa di samping putrinya saat ini karena putranya juga membutuhkan dirinya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung