
Happy reading 🤗
Like dan Votenya dong kak 🙏🙏🤗🤗
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak terasa waktu malam telah tiba setelah melakukan kunjungan di salah satu wisata di Meksiko City, sedikit membuat Aulia merasa senang namun kembali lagi ada perasaan hampa yang ia rasakan. Seperti sekarang ini, keluarga Tuan Zeus sudah berkumpul di meja makan. Aulia duduk bersebelahan dengan Larisa juga Oskar. Tuan Zeus duduk di kursi bagian ujung sedangkan Karla dan Tio duduk berhadapan dengan Aulia.
"Sayang, kapan kamu akan mendaftar di kampus?" tanya Tuan Zeus setelah menelan makanan di mulutnya.
"Besok Oppa" jawab Aulia mengunyah pelan makanannya. Tuan Zeus mengangguk pelan. Semua di sana kembali fokus ke dalam piring yang telah terisi makanan enak dan tentunya bergizi.
"Lia, kamu mau mengambil jurusan apa? dan kampus mana yang akan kamu masuk?. Biar besok Uncle akan mengantar kamu ke kampus" tanya Oskar melirik wanita di sampingnya. Aulia ikut menatap pria yang mengutarakan pertanyaan padanya.
"Teknik mesin Uncle, hmmm. Lia akan masuk di Instituto Tecnologico y de Estudios Superiores de Monterrey (ITESM)... kalau besok Uncle yang mengantar Lia emangnya Uncle tidak pergi bekerja?" tanya Aulia yang merasa tidak nyaman jika merepotkan orang lain sekalipun mereka adalah saudara Mommynya namun ia ingin mandiri.
"Bagus banget, Uncle suka tentang mesin tapi sayang Uncle tidak mengambil jurusan itu. Untuk masalah pekerjaan, jangan di pikirkan Uncle yang akan mengantar kamu. Jam berapa akan ke kampus?" jawab Oskar semangat. Mungkin dengan cara seperti bisa membuat mereka lebih dekat lagi lambat laun gadis di sampingnya akan menaruh hati padanya. Ia sangat yakin jika seseorang yang sering bersama akan tumbuh perasaan cinta dan Oskar sangat menantikan hal itu.
Tio menatap tajam ke arah Oskar namun seketika ia kembali merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa-biasa saja.
"Jangan sungkan sayang, tidak apa-apa jika Uncle Oskar yang mengantar kamu lagipula Unclemu itu belum bekerja tetap di perusahaan Oppa" timpal Tuan Zeus.
"Kenapa kamu tidak mengambil jurusan ekonomi atau manajemen biar kamu bekerja di perusahaan Daddy kamu?" tanya Karla mengerutkan alisnya. Padahal jika mengambil jurusan tersebut akan sangat mudah untuk masuk ke perusahaan apalagi perusahaan Tuan Farhan salah satu perusahaan terbesar di dunia.
"Lia tidak suka dengan jurusan ekonomi aunty, dan jurusan yang Lia suka adalah mesin" jawab Aulia tersenyum pada Karla. Tio menatap lama wajah Aulia hingga membuat gadis itu melirik ke arah Tio karena merasa ada yang memperhatikannya dari tadi. Buru-buru Aulia memalingkan wajahnya karena tidak sanggup melihat wajah itu lagi.
"Oh seperti itu" gumam Karla mengangguk pelan.
"Semangat Lia, semoga menjadi pengusaha muda dan bisa membuka banyak cabang dari kontruksi mesin yang kamu kembangkan" ucap Larisa menatap ke arah Aulia, putri Hades itu mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya.
"Amin aunty" balasnya.
"Sayang, ini aku kasih makanan kesukaan kamu makan yang banyak" tutur Karla memberikan beberapa lauk yang memang adalah kesukaan Tio. Pria itu tersenyum kecil.
"Terima kasih sayang" balasnya dan Karla semakin melebarkan bibirnya.
"Uuuh, sosweet banget pasangan kekasih ini, jangan umbar kemesraan dong kan kasihan tahu yang jomblo" seru Larisa mencibir saudara kembarnya.
"Sirik bangat sih, makanya punya kekasih biar diperhatiin" jawab Karla. Tuan Zeus dan Oskar hanya geleng-geleng kepala. Setiap makan malam pasti kedua kembar itu selalu menyindir satu sama lain hanya masalah kekasih.
"Lia, apakah kamu sudah punya kekasih?" tanya Larisa. Sedangkan Aulia mendadak kaku mendengar pertanyaan yang terlontar untuknya.
"Uummm, ada aunty" jawabnya berbohong, dirinya hanya ingin menguji pria di depannya apakah cemburu atau tidak. Membuat atensi mereka menatap pada Aulia.
"Siapa? apakah aunty mengenalnya dan dia orang mana apakah tampan? baik hati? atau malah suka jahatin kamu... bagaimana sifat pacar kamu sayang?" antusias Larisa dengan wajah senangnya, menunggu jawaban dari Aulia.
"Hehehe, pertanyaan aunty banyak banget. Pacar Lia itu orang Indonesia orangnya lumayan tampan, sangat baik dan dia begitu perhatian dengan Lia, dan lebih penting, aunty tidak pernah bertemu dengan pacar Lia" jawab Aulia melirik ke arah Tio. Berharap pria di depannya cemburu namun sepertinya ia salah besar. Entah kenapa ia sangat merindukan Hara saat ini. Ia butuh dukungan dari sahabatnya itu.
Berbeda dengan Tio yang menampakkan wajah biasa, Oskar mendadak diam mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Aulia.
"Ternyata dia sudah punya pacar. Tapi aku tidak boleh menyerah! aku akan mendekatinya perlahan-lahan, dengan begitu Aulia akan melupakan kekasihnya" batin Oskar menyemangati dirinya.
"Uuuh, sosweet banget. Beruntung kamu mendapatkan laki-laki seperti itu, semoga hubungan kalian langgeng sampai ke pelaminan" sahut Karla melebarkan senyum bahagia.
"Sudah, sudah, kalian habisin makanannya jangan terlalu banyak bicara" tukas Tuan Zeus. Mereka kemudian kembali memakan makanannya hingga tandas. Setelah selesai, mereka ke ruang keluarga sedangkan para ART membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Membawa piring ke dapur dan mencucinya.
Mereka semua duduk di sofa, Oskar buru-buru menjatuhkan bokongnya di samping Aulia.
"Ayah, aku mau bawa Lia jalan-jalan malam ini, boleh kan?." Izin Oskar membuat atensi mereka tertuju pada Oskar.
"Boleh, tapi jaga adik kamu baik-baik jangan sampai kenapa-kenapa, ingat untuk pulang lebih awal jangan sampai kemalaman" jawab Tuan Zeus tegas.
"Tapi Oppo Li..." Oskar langsung membekap mulut Aulia menariknya agar menjauh dari orang-orang.
"Euumm"
Oskar melepas tangannya dari mulut Aulia, menyengir kuda kala tatapan tajam Aulia tertuju padanya.
"Maaf, Uncle hanya ingin membawamu jalan-jalan saja" tutur Oskar merasa bersalah melihat wajah datar Aulia.
"Hahaha, thank Uncle, Lia senang banget! tunggu Lia, Lia mau ganti baju dulu" Aulia segera berlari menuju lantai dua menggunakan lift meninggalkan pria yang masih mematung di tempatnya.
Oskar pikir bahwa apa yang ia lakukan tidak di sukai oleh Aulia rupanya gadis yang di incarnya merasa senang.
"Baguslah jika kamu suka" gumam Oskar tersenyum tipis. Menyentuh dadanya yang bergetar. "Jantungku selalu tidak bisa diam di saat mataku menatap wajahmu Lia" lirihnya dengan suara pelan.
"Uncle ayo" ucap Aulia saat sudah di depan Oskar. Tubuh Oskar membeku menatap wajah Aulia yang sangat cantik di matanya. Celana jeans, baju kaos berwarna putih dengan jaket levis yang di pakai Aulia malam ini. Padahal jika di kata, itu adalah style biasa namun entah kenapa jika Oskar yang melihatnya berkali-kali lipat sempurna.
"Cantik" pujinya tanpa sadar.
"Hah" bengong Aulia.
"Kamu sangat cantik malam ini" tuturnya lagi menatap intens wajah gadis di depannya. Aulia melihat penampilannya dari bawah hingga ke bagian dadanya. Tidak ada yang berbeda bahkan menurutnya stylenya ini adalah sesuatu yang biasa-biasa saja.
"Hahaha, Uncle lucu, cantik dari mananya... tapi by the way makasih yah atas pujiannya" ujar Aulia terkekeh geli.
"Ayo" Oskar menarik tangan Aulia menggenggamnya erat berjalan menuju ruang keluarga di mana masih ada ayahnya juga kedua sepupunya dan Tio duduk di sofa.
"Ayah, kak Risa, Karla, bang Tio, kami pamit dulu" ucap Oskar sedangkan Aulia hanya tersenyum malu.
Tio menatap keduanya tanpa berkedip apalagi melihat dua tangan yang saling bertautan membuatnya menatap kedua manusia yang sedang berdiri, dengan tatapan misterius.
"Uncle Tio" lirih Aulia dalam hati menatap wajah pria yang acuh tak acuh padanya.
"Iya hati-hati jaga adik kamu baik-baik, jangan sampai membuatnya terluka" tutur Tuan Zeus. Oskar memberi hormat pada ayahnya membuat mereka terkekeh lucu.
"Lia bisa jaga diri Oppa, kan Lia sudah besar" sahut Aulia.
"Hahahaha iya, iya, cucu Oppa memang sudah besar" Tuan Zeus terkekeh lucu.
"kak Oskar semangat!" Larisa dan Karla menyemangati pria yang berdiri di samping Aulia dengan kepalan tangan terangkat sejajar dengan dagunya. Sedangkan Oskar mengangkat jarinya membentuk huruf O.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung