
Happy reading 🤗
Maaf baru bisa up sekarang 🙏🙏
.
.
.
.
.
.
.
Seorang pria dengan posisi tangannya memegang setir mobil mencengkramnya kuat merasa bersalah karena sudah membuat istrinya marah, perasaannya bercampur aduk entah apa yang ia rasakan namun hatinya benar-benar tidak tenang saat ini. Sesekali membuang napas kasar menatap jalanan di depan.
"Astaga anak itu yah suka sekali membuat orang lain khawatir." Keluhnya mendesah kasar. Pria itu menginjak pedal gas melajukan mobilnya ke jalan raya menyalip beberapa mobil dan motor.
Sedang di Mansion Utama
Keluarga besar Mafia sudah menyelesaikan makan malamnya dan sekarang mereka saat ini sedang duduk berkumpul di ruang keluarga. Dari arah bawah tangga seorang pria dengan tubuh yang masih atletis serta wajah yang masih bugar walau umurnya sudah tidak muda lagi. Pria dengan tampilan casual celana pendek levis serta baju kaos hitam sedang menenteng sebuah kotak berukuran sedang.
Sedang seorang wanita tengah menunduk takut kala tatapan datar mengarah padanya.
"Sini kakinya biar Daddy lihat" ucap Tuan Farhan saat sudah di depan sang putri.
"Biar aku yang mengobatinya Prince, lebih baik obatnya di kamar saja" tutur Jons pada suaminya. Tuan Farhan mengangguk setuju ia kemudian memberikan kotak obat kepada istrinya sedang raja Iblis menjatuhkan bokongnya di atas sofa.
"Ayo sayang biar Mommy obati lukanya" Aulia mengangguk pelan dan berdiri tanpa berani menatap wajah sang Daddy.
"Wajah Daddy seram yah" bisik Dafa di telinga adiknya mereka juga ikutan duduk di ruang keluarga.
"Kalian berdua belum tidur? besok sekolah jangan sampai terlambat!." Seru Tuan Farhan pada dua putra kecilnya.
"Daddy, apakah teman-teman Daddy adalah orang-orang miskin?" bukannya menjawab Daffin malah bertanya pada Tuan Farhan membuat semua di sana menatap pada anak laki-laki raja Iblis.
"Kenapa bertanya seperti itu sayang?" tanya Nyonya Mita dengan alis berkerut.
"Nenek tidak tahu yah kalau teman-teman Daddy semuanya itu miskin... masa iya mereka memberi hadiah pada kak Lia hadiah yang bentuknya kayak jaring-jaring ikan." Jelas Dafa panjang kali lebar membuat semua di sana semakin bingung kecuali Amanda. Mata Amanda membulat sempurna kala mendengar penuturan dari Dafa, ia pikir anak itu sudah melupakan masalah tadi sore tahu-tahunya malah membahasnya di depan Boss besar membuatnya ingin sekali terbahak.
"Jaring-jaring ikan gimana?" timpal Tuan Wijaya belum mengerti maksud sang cucu.
"Bentuknya seperti apa sayang? kok bisa mirip jaring-jaring ikan" tanya Tuan Farhan menatap bocah kecilnya.
"Bentuknya seperti segitiga Daddy, terus ada yang seperti kacamata juga bukan itu saja semua baju bentuknya kayak jaring-jaring ikan" jawab Dafa dengan nada heboh
"Yah mereka pikir kita keluarga nelayan apa sampai memberikan hadiah seperti itu" sahut Daffin mencebikkan bibirnya kesal membuat semua di sana seketika melebarkan matanya sedangkan Tuan Farhan langsung terbatuk-batuk mendengar penuturan sang putra.
"Uhuk, uhuk uhuk"
"Kalian berdua lihat barang seperti itu di mana?" Tanya Nyonya Mita dengan wajah merah menahan malu sedangkan Amanda sudah menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
Saat hendak menjawab terdengar suara dari arah ruang tengah pria dengan tinggi 180 cm itu perlahan-lahan jalan ke tempat Tuan Wijaya dan lainnya berkumpul. Pria yang baru datang menelisik seluruh ruangan mencari seseorang namun tak ia dapati.
"Di mana dia? apakah sudah di kamar?" batinnya mendesah kasar
Tuan Farhan menatap datar kepada pria yang baru saja datang membuat atmosfer di ruangan tersebut menjadi panas. "Aku ingin berbicara denganmu Tio! ikut aku" Tuan Farhan beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju ke arah lift sedang yang lainnya hanya menatap dengan tatapan yang sulit di artikan. Tio menelan ludahnya kasar ia sudah merasa was-was namun sebisa mungkin ia menguasai dirinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?." Bisik Tio dalam benaknya.
"Habislah! Tuan muda Farhan sepertinya marah besar" batin Amanda dan Alex.
"Wajah Daddy benar-benar seram kalau sudah serius" bisik Daffin ke telinga Dafa dan kaka kembarnya itu mengangguk membenarkan perkataan sang adik. Tio berjalan tegap mengikuti langkah lebar Tuan Farhan hingga sampai ia di depan lift dan ikut masuk bersama Tuan Farhan.
Raja Iblis itu lalu memencet angka tiga menatap lurus ke depan sedangkan Tio menundukkan kepalanya tanpa berujar satu kata pun.
Ting
Pintu lift terbuka dan Tuan Farhan berjalan menuju salah satu ruangan, pria dengan tampilan casualnya masih setia mengikuti dari belakang hingga sampai mereka di sebuah ruangan luas dengan panggung berukuran sedang di bagian tengah-tengah ruang tersebut.
Tuan Farhan berhenti lalu kemudian membalikkan tubuhnya menghadap sang menantu dengan tatapan misterius membuat Tio menelan ludahnya kasar ia seperti Dejavu datang ke tempat tersebut.
"Aku sudah katakan sebelumnya untuk menjaga putriku! kenapa kau ingkar janji itu kenapa kau tidak menjaganya hah!!"
BUGH
"Apa maksud Tuan muda?" tanyanya keheranan dan hal itu makin memicu kejengkelan raja Iblis.
"Brengsek! kau bertanya padaku apa maksudnya! benar-benar tidak bisa di percaya. Dari kecil sampai sebelum putriku menikah aku menjaganya selayaknya berlian berharga tapi kenapa kau merusaknya dan bahkan tidak bertanggung jawab hah!!." Teriak Tuan Farhan dengan wajah yang sudah merah padam napasnya memburu naik turun.
"Putriku kecelakaan dan kau bilang apa maksudku?"
BUGH
BAGH
BUGH
BUGH
Tiga pukulan serta satu tendangan terarah tepat mengenai tubuh Tio lagi-lagi pria itu tersungkur jatuh ke lantai dengan darah yang sudah mengalir keluar dari sudut bibirnya. Tio terdiam memikirkan apa yang di katakan oleh raja Iblis itu bahkan rasa sakit di tubuhnya tiba-tiba menghilang seketika.
"Aku akan memisahkan kalian berdua!" Ucap Tuan Farhan menatap tajam ke arah Tio membuat pria itu seketika menatap pada Tuan Farhan.
"Aku tidak mau! Aulia adalah istriku dan sekarang aku lebih berhak daripada Tuan muda" jawabnya sembari berdiri mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Ciih! kau hanya orang baru dalam hidup putriku!" Tukas Tuan Farhan tak mau kalah.
"Aku tidak akan membiarkan Tuan muda mengambil Aulia dariku, sekalipun Tuan muda adalah Bossku sekaligus ayah mertuaku tapi jika sudah menyangkut istriku aku akan melawan...! bahkan sampai itu mempertaruhkan nyawaku." Jelas Tio yang langsung meninggalkan Tuan Farhan. Raja Iblis menarik sudut bibirnya tersenyum simpul. Pria itu menatap kepalan tangannya dengan seringai setan.
"Akhirnya tangan ini bisa memukul menantuku lagi, benar-benar menyenangkan" tuturnya pelan sembari terkekeh kecil entah apa maksudnya itu sampai membuat raja Iblis begitu senang, apakah mungkin ia begitu gemas kepada menantunya itu entahlah hanya raja Iblis yang mengetahuinya.
Tio dengan wajah merah kebiru-biruan turun menggunakan lift memencet tombol angka 2 hingga sampai dirinya di lantai yang di tuju ia pun cepat-cepat keluar mencari sang istri.
"Aku benar-benar pria yang buruk suami yang tidak becus menjaga istri sendiri... maafkan Uncle sayang Uncle sudah membuatmu terluka" gumam Tio dengan perasaan bersalah. Langkah kakinya semakin di percepat hingga tiba dirinya di kamar sang istri tanpa mengetuk pintu Tio membukanya kasar.
Di sana tepatnya di atas kasur seorang wanita dengan tampilan yang hanya menggunakan bra dan ****** ***** tengah duduk bersila di atas ranjang. Beberapa luka memar berbekas di tubuh yang putih itu.
"Sayang" seru Tio dengan tatapan khawatir. "Maafkan Uncle sayang karena Uncle kamu jadi seperti ini" Tio memeluk erat tubuh sang istri.
Jons melihat menantunya datang segera keluar dari sana memberikan ruang kepada putri dan menantunya.
"Lia yang seharusnya minta maaf, eh tapi kenapa dengan wajah Uncle? apakah Daddy yang melakukannya?" tanya Aulia saat tak sengaja menatap wajah suaminya. Tangannya terulur mengelus pipi serta bibir dengan darah yang sudah mengering.
"Jangan bahas lukaku sayang, ini kenapa bisa kamu sampai kecelakaan jika bukan Daddy yang bilang Uncle tidak akan tahu jika istri Uncle ini terluka" ucapnya sembari duduk di hadapan Aulia, menatap wajah sang istri dengan kelembutan tangannya terulur mengambil salep lalu mengobati luka memar di beberapa bagian tubuh sang istri. Hatinya sangat miris melihat memar itu.
Cup
Cup
Cup
Tio mencium memar itu setelahnya memberikan salep pada luka memar di tubuh Aulia.
"Jangan nyalahin diri Uncle karena di sini Lia lah yang salah" Tio menggeleng kepalanya pelan sembari menggenggam jemari tangan sang istri.
"Please jangan terluka lagi sayang, Uncle benar-benar mencintai kamu sayang Uncle benar-benar takut" lirih Tio dengan perasaan takut.
"I love you too Uncle, Lia tidak akan mengulanginya lagi" kedua pasangan baru nikah itu berpelukan sesekali Tio mencium pucuk kepala sang istri.
"Aku sangat takut kehilangan kamu istriku... jangan terluka lagi" bisik Tio dalam hati.
"I love you sayang"
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung