The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 173 Obrolan Hidup Si Bocil



Happy Reading


.


.


.


.


.


Pesawat pribadi milik raja Iblis atau lebih di kenal dengan sebutan tuan Farhan, kini telah mendarat sempurna di bandar udara internasional Dulles pada pukul 21 : 00


Satu persatu mereka berjalan keluar melewati jembatan Garbarata, terlihat kota besar itu menyala karena hari sudah gelap. Lampu-lampu di nyalakan untuk menerangi ruang yang gelap. Aditya dan Enzi merentangkan tangan terdengar bunyi-bunyi otot berbunyi, tuan Farhan dan lainnya tertawa kecil melihat kelakuan mereka yang lucu.


"Nenek di sini besar sekali yah, bangunan besarnya sangat banyak"


"Iya Enzi, namanya juga kota besar, apa Enzi suka berada di sini?" tanya Jons menggandeng tangan cucu perempuannya.


"Iya tapi Enzi tetap suka di Indonesia. Bial bagaimanapun Indonesia tempat kelahilan Enzi dan makanan di sana enak-enak" Jons hanya mengelus rambut Enzi yang di kepang dua ia tersenyum mendengar jawaban cucunya yang memiliki jiwa nasionalisme.


"Kakek Farhan, kakek kan orang kaya, sudah berapa pembangunan yang kakek bangun di sini?" kali ini Aditya bertanya, Alex dan Amanda saling melirik, keduanya geleng-geleng kepala, memang pantas menjadi keturunan boss mereka, sekecil itu sudah memiliki pertanyaan yang tidak di pikirkan oleh anak kecil umumnya.


"Banyak, apa kau ingin berkunjung?" Aditya mengangguk sambil menatap wajah tuan Farhan.


"Iya, aku ingin tahu kehebatan yang sudah kakek ciptakan di negeri orang agar nanti ketika aku sudah besar aku bisa melampaui kakek" jawaban Aditya membuat tuan Farhan bergidik ngeri.


"Kakek akan tunggu, di kota besar ini hampir separuh isinya adalah kekuasaan kakek, apa kau yakin bisa mengalahkan kakek?"


"Tentu saja bisa, aku masih muda dan kakek sudah tua, orang tua sudah tidak memiliki kemampuan seperti anak muda lagi" balasnya dengan sombong. Enzi yang berada di belakang mendengar serius percakapan antara dua pria yang berbeda usia itu.


"Nenek, meleka lagi bicala tentang apa? Enzi penasalan"


"Itu urusan laki-laki, anak perempuan tidak boleh dengar yah" Enzi mencebikan bibirnya kesal pasalnya ia benar-benar ingin tahu pembicaraan abangnya itu.


"Daddy, Mommy!" seseorang berteriak membuat tuan Farhan dan lainnya menatap ke sumber suara. Terlihat tiga pria muda berlari ke arah mereka, seketika senyum terbit di bibir mereka.


"Bagaimana kabar kalian? Apakah semuanya baik?" tanya pria yang memiliki rambut gondrong, ia meraih tangan tuan Farhan dan menciumnya begitupula dengan yang lainnya tetapi saat di depan Aditya dan Enzi, kedua anak itu malah memberikan punggung tangannya untuk di cium.


"Kenapa gak cium?" tanya Azhar dengan alis berkerut saat melihat respon dua ponakannya yang aneh.


"Paman Azhar yang harus cium tangan kami, kenapa paman tidak cium, kami kan sudah menyodorkan tangan dari tadi" Semua orang dewasa melirik ke arah Aditya, mereka terkejut siapa yang mengajari mereka tentang pemahaman tersebut.


"Siapa yang ajari kalian kalau orang dewasa harus mencium tangan anak kecil? Di mana-mana yah anak kecil yang mencium tangan orang dewasa itu adalah bentuk sopan santun, mengerti?"


"Oh begitu yah, tadi Enzi lihat paman cium tangan kakek sama tangan nenek, Enzi pikir paman harus cium tangan kami juga"


"Astaga, pikiran kalian ini yah, sungguh-sungguh jenius" tukas Azhar geleng-geleng kepalanya, Enzi dan Aditya terkekeh jenaka mereka kemudian mencium tangan Azhar lalu beralih menyalami Fadel dan Fadil.


"Sebaiknya kita ke restoran dulu, pasti belum makan kan?" tanya Fadel yang berdiri di samping tuan Farhan. Ketiga pria muda itu mengambil alih koper milik tuan Farhan dan Alex.


Mereka semuanya berjalan sambil mengobrol, bercanda kadang tertawa hingga tiba mereka di parkiran mobil, Fadil dan Azhar membuka bagasi mobil dan meletakkan barang-barang milik orang tuanya.


Azhar duduk di kursi kemudi sedang Fadel duduk di sebelahnya dan yang lainnya duduk di jok belakang. Mobil yang mereka tumpangi adalah mobil keluarga yang memiliki lima jok dengan dua kursi di masing-masing joknya, merek mobil yang mereka gunakan tentu bukan merek biasa, merek keluaran terbaru dari perusahaan terbesar di negara Prancis.


"Paman Fadil, apakah sudah punya istli sepelti kakek dan nenek?" pertanyaan Enzi sontak membuat pasang mata melirik ke arahnya.


"Paman belum nikah sayang, jadi paman belum punya istri, kenapa Enzi tanya seperti itu?" Fadil duduk di jok kedua di mana kedua bocil itu berada, karena setiap kursi memiliki ukuran besar itulah sebabnya Enzi dan Aditya duduk bersama.


"Oooh sepelti itu, hmmm..., paman apakah kita bisa memelihala laki-laki tapi bukan menjadi suami, maksudnya kita bisa tinggal belsama dan hidup bahagia belsama?" sungguh pertanyaan Enzi membuat orang-orang dewasa tercengang, apalagi tuan Farhan dan sang istri, keduanya saling melirik begitupun dengan Alex dan Amanda.


Sedang Azhar melirik ponakannya dari kaca spion, ia terkekeh dalam hati karena melihat adik prianya yang bingung dengan pertanyaan Enzi.


"Kasihan Fadil dia pasti sedang tertekan, lebih baik aku diam saja dan fokus menyetir daripada harus ikut pusing dengan berbagai pertanyaan mereka" bisik Azhar dalam hati.


"Memangnya Enzi mau pelihara laki-laki untuk apa?" kali ini Fadel ikut nimbrung.


"Hmmm, Yah jadi asisten Enzi sepelti ayah dan Om Hanan"


"Anak kecil sudah berpikiran seperti itu memangnya kamu tidak mau menikah? Lagipula kamu kerja apa sampai butuh asisten?" ketus Aditya melirik adiknya, ia memutar bola matanya malas.


"Iiish kakak juga masih kecil, kenapa ngatain Enzi kecil!" dengus Enzi, perkataan Aditya padanya memancing emosinya.


"Sudah-sudah, kalian jangan bertengkar lebih baik kalian tidur. Perjalanan ke Apartemen masih jauh" lerai Jons saat melihat kedua cucunya hendak beradu mulut.


"Aku tidak ngantuk nek, lagipula aku sudah banyak tidur di pesawat tadi, lebih baik nenek saja yang istirahat, nenek kan sudah tua harus banyak-banyak istirahat" jawab Aditya membuat Jons hanya bisa mengelus dada. Siapa suruh punya cucu sepintar mereka hingga membuatnya tidak berkutik.


"Anak kecil juga harus tidur, kalau tidak tidur pertumbuhan kalian akan terhambat, memangnya kamu mau tubuh kalian tidak tinggi-tinggi hmmm" sahut Azhar yang sedari tadi diam saja.


Tak berselang lama, mobil yang di tumpangi tuan Farhan pun sampai di halaman Apartemen, mereka semuanya turun, dua kerucil Hamas yang sudah terlelap tidur kini di gendong oleh Fadil dan Fadel dan membawanya masuk ke dalam.


Sementara itu di bangunan besar, terlihat seorang gadis tengah berdiri di balkon kamarnya, memandang lautan bintang yang bertebaran juga sebuah benda langit yang lebih bersinar daripada objek langit lainnya.


Bulan itu berbentuk sabit seperti jiwanya yang tak sepenuhnya ada di dalam dirinya, sebagian berkelana mencari tuan untuk menjadi belahan jiwanya.


"Apakah aku bisa melupakan dia? Aku ingin sekali melakukannya tetapi aku tidak memiliki kuasa itu, andai aku lebih menguasai jiwaku maka aku pasti bisa melupakannya dengan muda tetapi aku tidak bisa..., nyatanya setiap kali aku berusaha yang ada hanya kerinduan yang menyiksa" lirihnya. angin malam begitu dingin, terpaan angin itu menusuk tulang tubuhnya membuat tubuhnya kedinginan.


Ia pun masuk ke dalam menutup jendela dan menguncinya, perlahan-lahan naik ke atas kasur dan memejamkan mata, dengan butiran kristal bening jatuh dari sudut matanya. Ia sungguh tersiksa dengan cinta sepihak.


.


.


.


.


.


Bersambung