
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
Sebuah mobil melesat begitu cepat dan langsung terparkir rapi di depan bangunan besar, terlihat pria dewasa buru-buru turun dari dalam mobil lalu kemudian membuka pintu mobil jok depan bagian penumpang.
Seorang bocah laki-laki melompat dari dalam mobil, kakinya yang pendek membuatnya sulit untuk turun seperti orang-orang dewasa. Setelah memastikan tuan kecilnya keluar, pria dewasa itu beralih ke pintu mobil jok belakang, ia membukanya dan membantu nona mudanya membuka sabuk pengaman yang melingkar ditubuhnya.
Usai membukanya pria bernama Hanan lalu menggendong putri kecil Hamas dan menurunkannya ke atas tanah. Gadis kecil itu melempar senyum hangat kepada Hanan.
"Telima kasih paman"
"Sama-sama nona" jawab Hanan membalas senyuman Enzi. Ketiga anak manusia itu lalu berjalan masuk ke dalam Mansion, seperti biasa mereka disambut oleh beberapa pengawal yang biasa berjaga di depan pintu, kedua anak Hamas menyelonong masuk tanpa membalas sapaan penjaga sedang Hanan membalas sapaan tersebut sebagai bentuk hormat kepada sesama manusia.
Tidak heran jika cucu tuan Farhan dan tuan Wijaya seperti itu, karena kedua anak tersebut berasal dari daging yang sama dengan orang dingin sedingin es batu. Tentunya para penjaga sudah tidak heran lagi, karena mereka sudah terbiasa dengan sikap boss mereka.
Kini Hanan dan dua kerucil Hamas sudah berada di ruang keluarga, di sana ada tuan Farhan dan Jons yang sedang bersantai. Tuan Farhan menyuruh Hanan untuk segera duduk, sedang dua kerucil memilih bersama nenek mereka.
"Paman Farhan, apa yang harus kita lakukan? apakah kita harus menjemput kakak Alexa?" tanya Hanan kepada pria paruh baya disampingnya.
"Jangan dulu! kita kirim mata-mata kita ke rumahnya tunggu informasi dari anak buah Paman baru kita pergi menemuinya" Hanan mengangguk mengerti.
"Tante cantik itu mungkin akan pergi hari ini" sahut anak kecil membuat tuan Farhan dan Hanan melirik ke arah Aditya, kedua pria dewasa itu menaikkan sebelah alisnya heran.
"Apa kau mengerti apa yang kakek dan paman katakan?" Aditya mengangguk mantap ia kembali membuka suara.
"Tentu saja aku mengerti, aku tadi menguping pembicaraan tante itu dengan paman besar, paman besar itu bilang mereka akan pulang hari ini juga" mendengar penjelasan polos dari Aditya membuat tuan Farhan membulatkan matanya lebar. Ia segera berdiri, melihat hal itu Hanan ikut berdiri.
"Sepertinya pria itu sudah tahu, itu sebabnya dia membawa Alexa untuk menjauh dari kami. Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi?" bisik pria paruh baya itu. Terlihat raut kemarahan tergambar diwajahnya, Jons melihat suaminya yang marah lalu menegurnya.
"Jika memang itu dia, maka bawa dia pulang ke rumah ini, pastikan kalian tidak gegabah" tuan Farhan menatap istrinya lalu mengangguk mengerti.
"Dia siapa Jons? siapa yang akan datang kemari?" semua terkejut kala orang itu bertanya. Pasalnya mereka masih menyembunyikan Ainsley dari wanita tersebut. Mereka tersenyum kaku tidak menjawab, berharap agar wanita itu tidak curiga pada mereka.
"Oh, kakek akan membawa tante Alexa ke sini, nek" jawab Aditya polos membuat semua yang di sana melempar tatapan tajam ke arahnya namun, pria kecil itu hanya memasang wajah tak bersalah. Amanda menatap tuan Farhan dan Jons bergantian, ia bingung Alexa siapa yang dimaksud oleh Aditya. Apakah putrinya? tapi itu mustahil karena putrinya sudah meninggal empat tahun yang lalu.
"Tante ... Alexa, siapa sayang?" tuan Farhan dan Jons memasang wajah intimidasi kepada Aditya agar cucunya tidak mengatakan yang sebenarnya namun, pria kecil itu hanya memasang wajah tak mengerti membuat Jons ingin sekali membawanya jauh dari Mansion.
"Emmm, apa nenek Manda lupa dengan tante Alexa? tante Alexa itu ..."
"Eh Manda aku ada sesuatu untukmu, ayo ke atas!" Jons menyela ucapan cucunya, ia segera berdiri dan menarik tangan Amanda untuk segera naik ke lantai dua menggunakan lift. Sedangkan Aditya dan Enzi hanya melongo melihat tingkah orang-orang dewasa yang memasang wajah sedih.
"Kakek, paman, kalian kenapa?" kali ini Enzi bersuara dengan menampakkan wajah dungunya.
"Aditya sayang, jangan pernah ngomong ke nenek Amanda kalau tante Alexa masih hidup. Kakek belum memastikan siapa tante itu sebenarnya? apakah benar itu adalah tante Alexa atau bukan. Jadi kakek harap sama kamu untuk menjaga rahasia ini yah" nasihatnya kepada cucu laki-lakinya. Aditya mengangguk mengerti.
Untung saja pria kecil itu bisa diajak berkompromi, membuat tuan Farhan dan Hanan bernapas lega. Dua pria dewasa itu hendak pergi keluar namun ucapan Aditya membuat mereka urung.
"Tunggu kakek!"
"Ada apa sayang?" tanya tuan Farhan menatap wajah serius cucunya, begitupun dengan Hanan. Kedua pria dewasa itu menaikkan alisnya tinggi menunggu ucapan yang akan dikatakan oleh Aditya.
"Kek, ini adalah jejak tante Alexa dan paman besar, tadi aku meninggalkan kalung didalam casing ponsel tante" Aditya memberikan ponselnya kepada tuan Farhan, terlihat sebuah peta dan titik merah membuat tuan Farhan dan Hanan tersenyum lebar.
"Terima kasih sayang, tidak sia-sia kamu keluar ke dunia ini, kamu memang cucuku. Kalau begitu kakek pergi dulu" Aditya menampilkan wajah dinginnya kala mendengar kalimat sombong dari tuan Farhan. Sedang tuan Farhan dan Hanan segera keluar dari Mansion.
Enzi menatap wajah abangnya lalu berkata
"Abang, apakah kakek akan membawa mama kita pulang?"
"Tentu saja, kakek kita sangat hebat ... tidak! jika kakek membawa mama pulang itu karena aku yang sudah memberikan petunjuk kepada kakek. Hehehe aku sangat pintar, jadi kau harus mengikuti kepintaran aku. Apa kau mengerti dek?" Enzi mencebik kesal, abangnya selalu menyombongkan diri bahkan sering membanggakan dirinya dihadapannya.
"Enzi juga pintal, bahkan lebih pintal dali Abang" ketusnya dengan melipat kedua tangannya di dada. Aditya memutar tubuhnya menatap Enzi. Tangan mungilnya terulur mencubit pipi tembem adiknya membuat gadis kecil itu memekik kaget.
"Aaaaaaah, abang sakit!"
"Halo adik Enzi, Aditya!" dua pria kecil berlari menuju ruang keluarga, mereka melempar senyum lebar kepada dua sepupunya. Aditya dan Enzi membalas senyuman itu.
"Kak Adnan, kak Adrian!" sorak Aditya dan Enzi.
"Nenek Jons di mana?" tanya Adnan kepada dua sepupunya.
"Nenek, di lantai dua kak" Enzi lalu turun dan berlari ke arah Adrian, gadis kecil itu memeluk tubuh Adrian dan mencium pipinya gemas membuat Adrian merasa risih. Entah kenapa saat bertemu dengan Adrian gadis kecil itu akan bertingkah genit.
"Iiiish adik Enzi jangan cium lagi" ketus Adrian. Namun gadis itu tidak peduli ia tetap melakukan kegiatan kesukaannya yaitu mencium pipi Adrian bahkan menggigitnya. Adnan dan Aditya tertawa puas melihat wajah Adrian yang memerah menahan marah namun, pria kecil itu tidak mungkin melampiaskan amarahnya kepada adiknya biar bagaimanapun mereka harus saling menyayangi.
"Enzi, hentikan! kakak tidak suka!"
"Iiiih, gak mau! Enzi masih kangen sama kakak"
"Tapi kakak tidak suka di cium Enzi!"
"Ada apa ini ribut-ribut?!"
.
.
.
.
.
.
Bersambung