
Happy reading 🤗
Like dan komen yah
.
.
.
.
.
.
.
Sudah satu jam di ruang operasi namun pintu ruangan tersebut masih tertutup rapat juga lampu di dalam ruangan masih menyala membuat Charlotte gelisah. Cemas, takut, sedih bercampur menjadi satu harapannya saat ini hanyalah keselamatan sang kakak berbagai untaian doa terus di lantunkan oleh gadis berambut pirang itu ia tidak tahu jika aksi membunuh Alexa akan imbas kepada kakak satu-satunya pria yang sangat perhatian padanya namun sekarang pria itu kini sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Oh God! sembuhkan kak Ronald aku mohon jangan biarkan dia kenapa-kenapa ya Tuhan" bisik Charlotte dalam hatinya. Ia masih belum berani memberitahu tentang kondisi Ronald kepada ayah dan ibunya ia takut jika kedua orang tuanya marah karena dialah penyebab utamanya.
Kurang lebih satu setengah jam pintu ruang operasi pun terbuka Charlotte segera berdiri dan berjalan cepat ke arah dokter yang menangani Ronald.
"Bagaimana keadaan kakak saya Dok?" tanya Charlotte dengan mimik wajah khawatir, wanita yang berprofesi dokter itu hanya menunduk sedih berbagai usaha yang sudah di lakukan namun semuanya sia-sia.
Charlotte menaikkan sebelah alisnya kala melihat reaksi dokter yang tak bersemangat perasaannya makin tak karuan menelan ludahnya lalu mulai kembali bertanya.
"Dokter kenapa diam saja! kakakku baik-baik saja kan tidak ada hal buruk yang terjadi kan dokter? jawab aku!!." Sang dokter menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan-lahan.
"Maaf Nona kami tidak bisa menyelamatkan hidup kakak Nona dia banyak kehilangan darah dan pada saat kalian membawanya kemari dia sudah tidak bisa di selamatkan." Jawab sang dokter yang membuat Charlotte terkejut, matanya membola sempurna kala mendengar penuturan dari seorang wanita berprofesi kedokteran.
"Apa yang kamu katakan dokter! kau berani mengatakan kakakku meninggal kamu mau di pecat hah!!" tidak terima dengan kenyataan Charlotte malah menarik kerah jas sang dokter dengan tatapan mengintimidasi. Kedua suster segera keluar dari ruang operasi dan membantu dokter dari amukan Charlotte.
"Harap tenang Nona kami sudah berusaha semampu kami tapi Tuhan berkata lain, mohon Nona menerima kenyataan." Jelas suster tersebut namun hal tersebut semakin memicu kegilaannya, Charlotte gadis berusia 15 tahun itu sudah tak terkontrol.
"No! jangan bicara sembarang tentang kak Ronald brengsek! akan ku bunuh kamu" Charlotte menarik rambut sang suster membuat sang empu kesakitan.
"Aww, tolong hey gadis gila sakit tahu cepat lepaskan aku!!!" teriaknya meringis sakit. Seorang pria berseragam polisi itu segera menengahi perkelahian dua wanita yang beda usia sedangkan dokter hanya menghela napas kasar.
"Lepaskan aku bedebah! aku ingin menghukum wanita sialan itu, berani sekali mengatakan bahwa kak Ronald sudah meninggal aku tidak terima!!!" teriak Charlotte mengamuk bahkan polisi itu menjadi sasaran kegilaan Putri dari Tuan Kalingga.
"Dokter tolong tangani gadis ini sebentar lagi Tuan Kalingga akan datang kemari" dokter dan suster segera memberikan suntik penenang kepada Charlotte jika tidak di lakukan mungkin akan menimbulkan kekacauan lebih gila lagi. Sedangkan di dalam mobil merek Lexus yang di tumpangi Tuan Kalingga bersama istrinya sudah sangat cemas apalagi mendengar kabar dari aparat kepolisian bahwa anaknya masuk rumah sakit dalam keadaan darurat.
"Pak nyetirnya di percepat yah!" seru Nyonya Kalingga. Pria yang menjadi sopir Tuan Kalingga mengangguk mengerti ia mulai menginjak pedal gas hingga jarum speedometer naik melewati angka 180.
Nyonya Kalingga menggenggam erat jemari tangan sang suami mengelusnya pelan untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi sang suami biar bagaimanapun dia juga merasa shok atas apa yang di dengarnya. Sekalipun dirinya hanyalah ibu tiri namun ia menyayangi anak tiri laki-lakinya.
Mobil Lexus berwarna biru laut itu berhenti di depan rumah sakit Washington, buru-buru Tuan Kalingga dan Nyonya Kalingga turun dari dalam mobil mereka berjalan cepat menuju lobi rumah sakit saat sudah sampai di depan resepsionis Tuan Kalingga membuka suara.
"Permisi Nona, ruangan atas nama Ronald..." Belum selesai bertanya seseorang dari arah belakang memotong pembicaraannya segera Tuan Kalingga dan istrinya melirik ke sumber suara.
"Tuan Kalingga, nyonya Kalingga mari saya antar ke ruangan anak Tuan" pria yang memanggil menteri pertahanan itu adalah polisi yang di telepon oleh Ronald sebelum kejadian. Tuan Kalingga dan istrinya kemudian mengikuti langkah kaki sang polisi hingga sampai mereka di lantai dua tepat di ruang operasi yang digunakan oleh Ronald.
Ketika masuk Tuan Kalingga serta istrinya merasa heran karena pasien di atas bangsal sudah di tutupi oleh kain membuat kedua suami-istri itu melirik ke arah polisi meminta penjelasan yang sebenarnya.
"A-apa maksudnya ini?" tanya Tuan Kalingga dengan suara tercekik. Sang polisi menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan.
"Maaf Tuan Kalingga, nyawa putra anda sudah tidak tertolong lagi dia mengalami dua luka tembakan di bagian punggungnya dan hal tersebut mengenai organ dalamnya." Jelas polisi tersebut. Mata Tuan Kalingga dan istrinya membola sempurna mendengar berita buruk tentang sang putra.
Nyonya Kalingga merasa lemas pada tulang-tulang kakinya, terduduk lesu di atas lantai sedangkan Tuan Kalingga berusaha untuk tetap tegar. "Siapa yang menembak putraku dan kejadiannya di mana? bukankah putraku sedang sekolah kenapa bisa tertembak?" tanya Tuan Kalingga.
"Kami menerima telepon darurat dari putra anda Tuan, dia bilang kekasihnya di culik dan kami segera ke lokasi penyekapan tapi sayang kami terlambat beberapa menit sehingga kami tidak bisa melindungi nyawa putra Tuan..." tutur pria di depan Tuan Kalingga.
Saat hendak menjawab tiba-tiba terdengar suara keributan dari arah luar ruangan. Buru-buru polisi serta Tuan Kalingga dan istrinya bergegas keluar.
"Jangan halangi aku bedebah! akan ku habisi nyawanya!!" teriak seorang gadis dengan pakaian seragam lengkap. Yah gadis itu adalah Alexa ia sudah mengetahui jika Ronald sudah tidak ada lagi dan hal itu memicu kegilaannya. Ia baru selesai membantai Charlotte di ruang rawat inap.
Beberapa jam sebelumnya
Alexa di bawa oleh polisi yang membantunya ke rumah sakit tempat Ronald di tangani, saat dirinya sudah di obati dan istirahat sejenak. Gadis itu berjalan keluar dari ruang inap ia hendak mencari ruangan yang di tempati Ronald namun samar-samar ia mendengar teriakkan seseorang yang begitu familiar di telinganya. Tanpa ba-bi-bu ia pun mendekati suara tersebut dan betapa terkejutnya kala mendengar jika sang pacar sudah tak terselamatkan.
Tangannya terkepal kuat menahan rasa sedih juga merasa bersalah andai bukan karena menyelamatkan dirinya Ronald pasti masih hidup. Tiba-tiba dadanya terasa nyeri pasokan oksigen mulai menipis, gadis itu merasakan sesak juga kesakitan yang luar biasa di dadanya saat itu. Matanya yang memerah menatap tajam ke arah gadis berambut pirang siapa lagi kalau bukan Charlotte.
"Akan ku habisi nyawamu Charlotte! akan ku buat bagaimana merasakan kehilangan" bisik Alexa dalam hati. Saat Charlotte di suntik bius dan di bawanya ke ruang rawat inap Alexa berjalan pelan dengan wajah dinginnya. Ia berusaha menahan sakit pada bagian dada kirinya.
"Permisi aku adalah temannya dan ingin menjaganya" ucap Alexa pelan sang suster dan dokter itu mengangguk tanpa rasa curiga.
"Baiklah, tapi jangan sampai mengganggu pasien" pesan sang dokter dan mendapat anggukan dari Alexa. Gadis berseragam sekolah itu menampilkan smirk misterius kaki jenjangnya melangkah pelan penuh penghayatan tatapannya tak pernah lepas dari wajah Charlotte.
"Jangan salahkan aku jika aku menggila sekarang" ujarnya pelan. Tangannya terulur mengelus lembut rambut Charlotte namun seperkian detik rambut panjang itu di tariknya kuat menggenggamnya sampai kepala Charlotte terangkat lalu menghantamnya ke bibir bangsal.
BUGH
BUGH
BUGH
"Aaaakkkh tolong! aaakk sakit sekali" teriak Charlotte sadar. Kepalanya kini mengeluarkan darah segar merembes turun mengotori wajahnya.
"Akan ku habisi kau Charlotte!! ini kan yang kau inginkan" ucap Alexa. Alexa menarik baju Charlotte dan melemparnya sampai jatuh ke lantai.
BUGH
"Aaaakkkh tolong aku! ada orang gila hiks, hiks"
"Jangan harap kau bisa lolos dariku Charlotte karena hari ini juga nyawamu akan melayang" bagai kerasukan setan, gadis berdarah mafia itu menyeringai iblis ia kembali menarik rambut panjang Charlotte dan menghantamnya ke dinding membuat gadis pirang itu meringis kesakitan.
"Tolong! tolong aku!!"
Mendengar suara teriakan dari ruang rawat inap polisi yang berjaga di luar segera masuk ke dalam dan mendapati Charlotte yang sudah bersimbah darah.
"Astaga apa yang terjadi?" pekik polisi tersebut. Alexa kemudian menghentikan aksi gilanya ia tersenyum puas namun tangannya masih terasa gatal saat hendak mengayunkan tangannya polisi menahannya dan memborgolnya.
"Kamu ikut saya ke kantor polisi"
"Jangan halangi aku bedebah! akan ku habisi nyawanya!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung