The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 160 Penguntit



Maaf banget guys lama baru update nya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻😭


.


.


.


.


.


.


Setelah menerima pesan yang di kirim oleh daddy-nya, ia segera bersiap-siap dan merapikan berkas-berkas yang ada di mejanya. Setelah melihat ruangannya menjadi bersih dan rapi ia berjalan keluar.


Dengan langkah besarnya ia telah tiba di depan lift, tangannya memencet tombol buka, tiba-tiba pintu lift terbuka dengan sendirinya, ia pun berjalan masuk ke dalam dan dengan ajaibnya pintu lift kembali tertutup setelah menekan tombol disamping tombol buka.


Perlahan-lahan lift bergerak turun, pria di dalamnya berdiri tegak sembari menatap pantulan dirinya di dinding, sudut bibirnya menarik ke atas.


"Wajahku tampan juga" bisiknya memuji wajahnya sendiri. Tiba-tiba terdengar suara bunyi 'ting' dan pintu lift terbuka, Azhar melangkah keluar dan berjalan menuju loby kampus. Ia berjalan dengan coolnya, banyak pasang mata wanita menatap ke arahnya sedang yang ditatap tak acuh dan lebih fokus menatap jalanan.


"Gila sih, andai aku menjadi pacarnya aku mungkin akan merasa bahagia. Bisa berjalan dengan pria tampan adalah idaman semua wanita" ucap salah satu wanita sambil senyum-senyum malu.


"Cih! kamu tidak tahu kalau pak dosen itu gay?" deliknya dengan tatapan tidak suka kepada Azhar. Teman disebelahnya melotot ke arah wanita tomboy.


"Jaga mulut kamu, mana mungkin pria setempat dia memiliki kelainan"


"Benar, karena dia sangat tampan seharusnya dia sudah memiliki pacar dan berkencan dengan banyak wanita tetapi setiap kali wanita mengajaknya kencan dia tidak mau bahkan menatapnya dengan tatapan dingin, kalau bukan karena dia menyukai sejenisnya tidak mungkin ia menolak banyak wanita cantik" tukasnya masuk akal.


Teman di sampingnya terdiam sambil berpikir, ia mengangguk pelan sepertinya ia mempercayai ucapan sahabatnya itu. Jika di logikakan memang benar, mana mungkin pria setampan Azhar tidak memiliki pacar bahkan tak sekalipun pernah berkencan, jika tidak normal seharusnya ia memiliki pacar tetapi dia tidak sama sekali, itu berarti ucapan sahabatnya benar adanya.


"Bukankah sangat sayang kalau dia harus belok, itu akan mengurangi produk kualitas pria tampan di dunia ini" ungkapnya sendu, sahabat tomboynya itu terkekeh kecil sedang Azhar mendengus kesal. Ia yang tidak terima dengan tuduhan dua wanita itu langsung menghampirinya.


"Siapa yang berbicara buruk tentangku?" tanyanya dengan tatapan dingin. Wanita tomboy itu membalas dengan tatapan meremehkan ia bersiul membuat Azhar semakin panas.


"Jika kalian tidak bicara maka masalah ini mungkin aku akan membawanya ke meja hijau" ucapnya lagi. Jujur saja ia sangat membenci orang-orang yang menuduhnya bahwa dia tidak normal padahal nyatanya tidak seperti itu. Orang yang tidak memiliki pacar ataupun tidak berkencan bukan berarti ia tidak normal namun hanya malas saja jika berurusan dengan makhluk bernama wanita.


Wanita yang hanya senang mencari perkara, juga selalu bertindak sembrono, siapa yang tidak betah hidup berdampingan bersama wanita, yah sekalipun ia terlahir dari rahim seorang wanita tetapi ibunya berbeda jauh dari wanita-wanita luar itulah sebabnya ia hanya tidak menyukai wanita luar tidak dengan ibu dan saudarinya.


"Ah, ma-maaf aku tidak bermaksud menuduh bapak tidak normal tetapi temanku Lisa yang mengatakan itu ... ummm aku pergi dulu" wanita itu segera berlari meninggalkan temannya yang sedang menatapnya tajam.


"****!" batinnya kesal. Gadis tomboy itu berdehem pelan lalu berujar.


"Ekheem, emmm ... sebenarnya aku tidak asal bicara hanya saja ...." gadis itu menatap ke sembarang arah sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Apa kutu di kepalamu begitu banyak sampai kamu tidak fokus menjawabnya? oh atau kamu sedang mencari alasan yah" ucapnya sambil berjalan mendekat ke arah Lisa. Gadis itu mundur dan menatap wajah pria tampan di hadapannya.


"Yah memang benar kan kalau bapak tidak normal! kalau tidak normal tidak mungkin tidak berkencan" jawabnya dan seperkian detik Azhar yang sudah emosi langsung menarik tengkuk Lisa dan mencium bibir Lisa membuat Lisa membulatkan bola matanya kaget.


"Ciuman pertamaku" lirihnya dengan kepalan tangan terkepal kuat. Ia memukul tanah melampiaskan emosinya kepada tanah yang ia pijaki saat ini.


"Aku akan memberikan pelajaran kepada pria brengsek itu, beraninya dia mengambil ciuman pertamaku!" dengusnya marah. Sedang pria yang membuat hati gadis tomboy kesal mala bersantai di dalam mobil sambil senyum-senyum sendiri. Entah apa yang pria itu pikirkan.


"Bibirnya manis juga" gumamnya pelan sambil menatap langit-langit mobilnya. Sepertinya pria itu telah jatuh hati dengan wanita tomboy itu, belum pernah ia merasa sebahagia ini.


"Menarik" ujarnya kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran kampus. Entah kenapa saat merasakan lembut bibir Lisa membuat hati pria gondrong yang tidak pernah sedikitpun tergerak dengan seorang wanita kini tiba-tiba merasa sedikit suka.


Sepertinya gadis tomboy itu akan selalu menjadi sasaran Azhar, entah apakah Azhar bisa mendapatkan hati gadis keras kepala itu atau tidak sedikitpun.


Kini mobil yang di tumpangi Azhar sudah berada di lokasi yang diberikan oleh tuan Farhan, Azhar menghentikan mobilnya di luar gerbang yang menjulang tinggi, sangat jauh dari bangunan yang di tempati oleh duplikat Alexa, entah apakah dia benar-benar Alexa atau bukan.


Bangunan tersebut sekalipun tidak memiliki penjaga, tetapi ia memiliki alarm dan kamera pengintai, ketika mobil atau seseorang yang tidak di ketahui terekam maka alarm secara otomatis akan berbunyi dan membuat Azhar tidak bisa masuk lebih dalam. Pria itu hanya bisa menyembunyikan mobilnya di dalam semak-semak yang jauh dari benda tekhnologi.


"Jika benar di dalam sana adalah Alexa, itu berarti orang yang sudah menyembunyikan Alexa selama ini bukanlah orang biasa, sudah selama ini kami kehilangan jejaknya, apakah ini sebuah kebetulan atau ada seseorang yang memancing kami keluar?" bisik Azhar dalam hati.


Pria itu mengamati di sekitarnya tetapi tidak ada satupun yang keluar dari gerbang besar itu. Ia yang memiliki kesabaran hati tetap menunggu hingga satu jam kemudian, terdengar bunyi gerbang terbuka. Sebuah motor sport berwarna merah keluar, terlihat seorang gadis dengan rambut panjang sepinggang keluar mengendarai motor tersebut.


Azhar kemudian mengendarai mobilnya dan mengikuti motor tersebut, tetapi semakin lama semakin laju kecepatan motor sport, Azhar mengerutkan keningnya sambil terus menatap pengendara motor sport.


"Sial ada yang mengikutiku" bisiknya dalam hati.


Sedang Azhar merasa bahwa dirinya sudah ketahuan ia semakin mempercepat laju mobilnya agar bisa menghentikan orang di depannya, ia harus menginterogasi wanita itu kalau tidak kedatangannya di tempat tersebut menjadi sia-sia, karena musuh pasti akan merasa waspada saat ini.


"Aku harus mendapatkannya" Azhar menginjak pedal gas menjadi laju tapi sayang, ia kalah dari kecepatan wanita bermotor. Ia kehilangan jejaknya.


"Sial!" Azhar mengumpat dan segera turun dari mobilnya. Dirinya berhenti di pertigaan jalan ia tidak tahu jalan mana yang di lewati wanita tadi.


Tiba-tiba sebuah tepukan ringan mendarat di pundaknya.


"Kau mencariku?"


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung