
Like dan Votenya kaka 🤗❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Di sekolah SD Internasional Jakarta, tepatnya di kantin sekolah, Dafa dan Daffin baru saja keluar dari kelas mereka setelah pembelajaran usai, perut mereka keroncongan merasakan lapar. Mereka langsung ke Kantin takut jika tidak mendapat tempat duduk lagi.
"Ayo dek, Alhamdulillah masih ada meja yang kosong." Tutur Dafa tersenyum lebar.
"Iya" jawab Daffin ikut tersenyum, biasanya ketika masuk waktu istirahat kursi kantin akan langsung penuh tapi keberuntungan berpihak pada mereka. Melangkah cepat menuju kursi yang kosong itu namun tiba-tiba sekelompok anak laki-laki dan perempuan menghadang mereka.
"Eits, kursinya telah di isi" ujarnya terkekeh kecil. Empat orang itu lalu mendudukkan kursi yang akan di tempati oleh Dafa dan Daffin. Dafa mengepal tangannya kuat begitu geram dengan tingkah anak-anak sampah di depannya.
"Bukankah kursinya masih dua, bolehkah kami duduk di situ?" tanya Daffin dengan senyum tipis di wajahnya. Kepribadiannya sangat berbeda jauh dengan Dafa. Anak melankolis itu tidak suka pertengkaran atau perdebatan yang akan menimbulkan masalah berkepanjangan tapi berbeda dengan Dafa ia keras kepala dan tidak suka di perintah ataupun di tindas.
"Hehehe, berlutut di depan kami maka kalian boleh duduk!" jawab seorang anak laki-laki meremehkan. Semua di sana langsung menatap ke arah empat anak juga Dafa dan Daffin bergantian.
"Cih! beraninya kalian memerintah kami! kalian siapa sampai melarang kami untuk duduk? apa kursi kantin adalah milik bapak dan ibu kalian?!." Sarkas Dafa berkacak pinggang menatap tajam ke arah empat anak.
"Hey Dafa ikuti saja perintah Reno lagian kamu mau mendapat masalah karena melawan anak kepala sekolah?!" siswa di meja lain menimpali membuat anak-anak yang lainnya mengangguk kepalanya tanda setuju.
"Heh! rupanya mereka mau bermain kekuasaan di sini hmmm... benar-benar sampah perlu di bakar" bisik Dafa dalam hati.
"Baiklah kami akan berlutut, tidak masalah hanya berlutut kenapa di permasalahkan" jawab Daffin tidak mau mendapat masalah.
"Hahahah, bagus. Kau memang harus sadar diri... oh iya dan tolong bersihkan sepatuku juga" sahut Dinda gadis cantik yang di sukai Reno.
"Hahaha, kalau begitu bersihkan sepatuku juga, mumpung sepatuku kotor lebih baik kau bersihkan. Ini tissunya dan ingat harus hati-hati jangan sampai lecet" ujar dua orang temannya hal itu membuat atensi Dafa makin lebar merasa muak dengan tingkah anak-anak manja.
Saat Daffin hendak menurunkan tubuhnya ke lantai dengan cepat Dafa menarik tangannya. Menggeleng pelan sebagai isyarat untuk tidak di lakukan.
"Kau membuat reputasi Daddy dan Mommy hancur? jangan bertingkah rendah diri di hadapan mereka" bisik Dafa di telinga Daffin.
"Tapi kak?" protes Daffin menatap sayu kakaknya.
"Biar kakak yang lakukan, kamu pesanlah makanan" titah Dafa dan Daffin mengangguk. Ia lalu menuju ke pemilik kantin untuk memesan makanan. Saat sudah tak melihat adiknya Dafa tersenyum smirk. Menatap satu persatu empat orang kurang pekerjaan itu.
Berjalan ke meja lain dan mengambil dua buah gelas berisi es teh manis yang masih penuh lalu menghampiri empat anak yang mengganggunya dan...
BYUUUR
Menyiramnya ke kepala mereka bersamaan membuat mata anak-anak di sana terkejut melebar.
BRAAAAK
"Sialan! kau ingin mati hah! nyalimu besar juga anak tidak tahu diri!!" teriak Reno menggebrak meja menatap nyalang pada Dafa. Sedang anak dari raja Iblis hanya memutar bola matanya malas bersedekap dada.
"Pukul dia sampai dia memohon pada kita, dan jangan biarkan tubuhnya tidak mendapat pukulan kita!!" seru Reno lagi hal itu membuat ke tiga teman-temannya tersenyum puas. Beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke arah Dafa.
"Wah, Dafa benar-benar cari mati!"
"Dia pasti akan menyesal karena mencari masalah dengan anak kepala sekolah kita..."
"Cih! aku malah senang jika Dafa memberikan pelajaran agar dia tidak sombong karena kekuasaan ayahnya"
"Heh! dia akan menangis sembari berteriak ampun hahahah"
"Anak yang malang."
Begitulah bisik-bisik para siswa mereka tidak berani membantu karena mereka pun takut, bahkan ada yang mengompori Reno agar menghajar Dafa hal itu karena ingin menarik simpati anak kepala sekolah tersebut. Benar-benar menyebalkan.
"Cepat minta maaf atau kamu ingin kami hajar!" ucap anak laki-laki bernama Adit.
"Tidak perlu menyuruhnya langsung hajar saja!" sahut Anggi mengompori Adit. Dafa hanya menarik sudut bibirnya tersenyum miring.
"Aku takut Kalian akan masuk rumah sakit" lirih Dafa dengan wajah kasihan.
"Kamu membuatku marah Dafa! rupanya tidak bisa di bilang dengan kata-kata harus kena pukulan baru minta maaf!" Dinda berkacak pinggang. Ke empat anak itu berdiri di hadapan Dafa. Saat Adit dan Reno menggapai bahu Dafa, anak laki-laki raja Iblis memundurkan langkahnya ke belakang.
"Hey Dafa! kamu menyerah saja tidak ada salahnya kamu berlutut dan membersihkan sepatu mereka!" teriak beberapa anak lagi.
"Sampah!" gumam Dafa.
"Reno, Adit. Jangan biarkan dia lolos!." Tutur Dinda dan Anggi. Dua anak itu mengangguk mengerti. Mereka lantas kembali meraih tangan Dafa namun secepat kilat Dafa menendang keduanya dan tersungkur jatuh ke lantai bersamaan dengan itu Daffin pun kembali dan menyaksikan perkelahian kakaknya.
"Kak jangan pukul mereka!" seru Daffin tiba-tiba dan hal tersebut tidak di sia-siakan oleh Dinda dan Anggi dua anak perempuan itu segera memegang tangan Daffin menyeretnya jauh dari Dafa. Tidak ada yang membantu Dafa dan Daffin bahkan mereka hanya menatap biasa saja.
"Anggi pegang dua tangannya aku akan memberikan pelajaran pada adik kesayangan Dafa berani sekali melempar minuman di kepalaku. Cari mati!" decak Dinda dan Anggi mengangguk mengerti.
"Jangan sakiti adik aku" teriak Dafa.
PLAK
PLAK
PLAK
Tiga tamparan mendarat di pipi Daffin membuat Dafa mengepalkan tangannya kuat. Saat Dafa beranjak, Adit dan Reno malah menahannya.
"Kau harus mengganti posisi adik kamu atau Daffin akan mendapat tamparan dariku!" seru Dinda. Entah mereka melihat siapa sampai sekejam itu padahal umur mereka masih terbilang di bawah umur tapi jiwa premannya sudah menguasai.
"Baiklah, lakukanlah" pasrah Dafa. Yang tidak ingin adiknya terluka.
"Hey! kalian jangan kurang ajar! jangan karena ayah dan ibu kalian adalah guru kalian seenak jidat menghakimi orang lain!" seorang gadis tomboy berkacak pinggang melotot tajam pada empat orang tersebut.
"Gadis tomboy jangan ikut campur!" teriak anak-anak lainnya.
"Jangan hiraukan dia Tuan Reno, cepat berikan hukuman pada Dafa jangan sampai guru melihat kita!!" titah Adit. Reno menjawab dengan anggukan.
Reno kemudian memukul wajah Dafa juga perutnya bergantian, Daffin melihat saudaranya di pukul tidak terima.
"Jangan pukul kakakku, bukannya kalian sudah menamparku jadi jangan pukul kak Dafa!" teriak Daffin.
"Heh laki-laki manja jangan berisik! dan nikmati saja kakak kamu mati" jawab Anggi dan Dinda. Mata Daffin berubah merah telapak tangannya berubah menjadi kepalan kuat.
"Cepat hajar mereka Daffin, aku tahu kamu pasti bisa" bisik Dafa dalam hatinya. Memejam matanya.
BUGH
Reno kembali memukul wajah Dafa hal itu makin membuat Daffin marah.
"Kalian sendiri yang mencari mati!!" ucap Daffin menarik paksa tangannya dan mendorong kuat tubuh Anggi dan Dinda hingga keduanya terpental ke dinding.
BUGH
BUGH
Semua mata beralih pada Daffin, tatapan Daffin benar-benar bukan dirinya ada hawa membunuh di sekitarnya membuat semua di sana ketakutan.
"Mati saja!!" teriak Daffin menendang lutut Reno kemudian menarik tangan Adit memukulnya berkali-kali. Tidak sampai di situ Daffin kembali menarik kerah baju Reno memberikan tinju di wajahnya, darah segar keluar dari hidung dan mulutnya.
"Ampun, tolong hiks, hiks, ampuni kami ayah!!" Reno ketakutan sampai menangis.
BUGH
BUGH
Daffin seperti kerasukan setan ia tidak menghiraukan teriakkan teman-temannya malah terus memukul Reno dan Adit bergantian. Memang benar orang di anggap lemah bukan berarti tidak bisa tapi belum terasah namun sekali di buat marah akan keluar taringnya.
Reno dan Adit terjatuh pingsan karena pukulan Daffin berkali-kali mereka tidak habis pikir bahwa ada saatnya Daffin seperti Iblis kelaparan. Dafa segera memeluk adiknya dari belakang. Membisiknya kata-kata lembut.
"Tenang dek, jangan marah kasihan mereka sudah pingsan... kendalikan dirimu" bisik Dafa lembut. Daffin seketika tersadar menatap aneh ke arah dua siswa yang terbaring di atas lantai.
"Kakak apa yang sudah aku lakukan?" Daffin berbalik menatap Dafa. Namun Dafa kembali memeluknya erat.
"Pejamkan matamu dan semuanya akan baik-baik saja" ujarnya lagi. Daffin menurut. Hingga sebuah suara mengagetkan mereka.
"Apa yang terjadi kalian berbuat ulah lagi?!" seorang pria berbadan besar datang menghampiri.
"Astaga itu adalah kepala sekolah, ayo kabur!!" teriak anak-anak berlari jauh dari kantin. Hingga mata pria paruh baya itu melebar saat melihat putranya bersimbah darah.
"Kali ini habislah Daffin" batin siswa-siswi
"Siapa yang melakukan ini?!!"
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung