
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
Setelah dokter mengatakan jika Aulia dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja membuat mereka bernapas lega, karena hari semakin larut tuan Farhan meminta mereka untuk pulang saja, apalagi besok mereka harus pulang ke negara mereka masing-masing.
Karena tidak ada yang yang di khawatirkan lagi hingga membuat mereka pulang, yang menemani Aulia hanya kedua orang tuanya dan Tio suaminya.
Kamar VVIP di rumah sakit besar memiliki fasilitas yang sangat lengkap, dua tempat tidur berukuran sedang bisa menampung dua orang dewasa sekaligus, juga ada sofa panjang, dispenser, tv dan AC.
"Pa, ma. Sebaiknya kalian pulang juga biar aku yang menjaga Aulia di sini..., apalagi besok Dafa dan Daffin harus ke sekolah siapa yang akan mengurus mereka nantinya?" ucap Tio merasa kasihan kepada dua mertuanya, walau sebenarnya ia ingin berduaan dengan istrinya saja.
"Tidak! aku ingin menjaga putriku, aku ingin saat dia sadar ada aku di sisinya. Untuk Dafa dan Daffin ada kakaknya yang mengurusnya, untuk apa punya kakak jika bukan untuk mengurus adik" jawab tuan Farhan tanpa melihat Tio yang sedang menampilkan wajah masamnya.
Jons hanya tersenyum tipis ia tahu maksud Tio namun ia lebih baik ikut menjaga putrinya agar hatinya bisa tenang melihat keadaan putrinya secara langsung.
"Saat Araku hamil, aku selalu mengabulkan keinginannya, sekalipun permintaannya aneh tapi aku tidak pernah mengeluh. Jadi jika putriku mengalami hal yang sama seperti mommynya maka jangan sekali-kali kau menolak permintaannya, kau tahu kan akibatnya Tio!" kata tuan Farhan. Kali ini kedua pria itu saling memandang menampilkan wajah datar dan dingin bersamaan.
Tio membuang napasnya kasar, bisakah memberikan nasehat tidak perlu memakai ancaman? kenapa selalu ada kata-kata menyebalkan itu! pikir Tio keheranan.
"Begini amat menjadi menantu raja mafia, semuanya harus hati-hati dan penuh waspada atau kalau bukan pasti ancaman yang selalu ku dapat" keluh Tio dalam hati. Ke tiga orang itu masih duduk di sofa panjang, mereka membiarkan Aulia untuk beristirahat tidak mau mengganggu waktu tidur sang putri.
" Jangan mengumpatku Tio! atau kalau tidak..."
"Lidahmu akan ku potong." Sambung Tio membuat tuan Farhan dan Jons terkekeh kecil. Tio juga ikut tertawa, ia sudah tahu maksud ayah mertuanya itu tidak ada ancaman lain selain memotong lidah, bahkan dari zaman dirinya masih berstatus jones hingga sekarang menjadi suami dari Aulia, kalimat itu seakan menjadi kata-kata legend raja Iblis.
"Hahahaha, sepertinya makin hari kau makin berani padaku Tio, aku ingin melihat sejauh mana keberanianmu padaku?" ucap tuan Farhan dengan senyum misterius, Tio melebarkan matanya kala pisau lipat sudah di tangan raja Iblis.
Raja Iblis memainkan pisau lipat di tangannya sembari menatap Tio lekat-lekat. Melihat wajah tuan Farhan serta pisau di tangan tangannya membuatnya sangat sulit hanya sekadar menelan ludah.
"Heheh, aku bercanda Dad, ummm sepertinya hari sudah sangat larut kasihan Aulia tidur sendiri. Dad, mommy jangan lupa untuk istirahat, good night aku duluan tidur yah" tutur Tio yang langsung berlari menuju ranjang yang di tempati Aulia.
Jons hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabat juga suaminya itu. "Prince, kasihan Tio kau selalu menakutinya" kata Jons menatap wajah suaminya, tuan Farhan hanya mengedikkan bahunya acuh, ia pun langsung berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangan ke depan Jons.
"Lebih baik kita istirahat juga, besok aku ada meeting dengan klien jadi besok pagi-pagi sekali aku harus ke kantor" balas tuan Farhan tanpa menjawab ucapan Jons. Wanita berambut sebahu itu mengangguk lalu membalas uluran tangan suaminya.
Tuan Farhan dan Jons berjalan menuju ranjang yang tak jauh dari ranjang Aulia dan Tio. Sedangkan pria yang tadi berlari ketakutan sudah tertidur pulas dengan memeluk istri tercintanya.
Di surya yang tenggelam seorang dara tengah bertempur melawan para manusia, berdiri dengan gagahnya menghadap musuh dengan senjata besar di tangannya. Wajah sangar yang di tampilkan mampu menggetarkan semesta dan jiwa-jiwa para pemberontak.
Menarik sudut bibirnya sebelah membentuk lengkungan tipis dan hal itu membuat siapa saja yang melihatnya merinding takut seakan amukan semesta akan segera datang.
"Menyerah lah saat moodku masih bagus!" Tutur seorang wanita dengan pakaian militer. Para pemberontak itu hanya berdecit dengan tatapan tajam membuat wanita berseragam militer itu hanya tersenyum tipis.
"Siap komandan!" wanita yang bernama Ainsley itu mengangguk pelan lalu keluar dari ruangan yang bernuansa gelap serta banyak sekali debu di dalamnya. Yah Ainsley saat ini berada di New Zealand untuk mengatasi para pemberontak Amerika yang kini tengah mengacau di negara orang lain.
Sekon silih berganti menjadi detik lalu berganti menjadi menit dan kemudian berganti menjadi jam, malam yang tadinya gelap kini berubah menjadi senyuman mentari, gelap perlahan-lahan memudar tergantikan oleh cahaya terang.
Di benua Asia tenggara tepatnya di negara Indonesia di rumah sakit Gatot Subroto, seorang wanita mengerjap matanya berkali-kali tubuhnya masih terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan seorang pria, yang kini menjadi teman tidurnya setiap hari.
"Eugh" lenguhan kecil dan serak itu keluar dari mulutnya hingga membangunkan pria di sampingnya, Tio yang menyadari jika istrinya telah sadar segera bangun namun sebelum itu kecupan mesra mendarat di kening Aulia juga di bibir sang istri yang kering itu.
"Sayang, jangan banyak gerak dulu kamu masih belum sembuh total" ucap Tio menahan tubuh Aulia agar tidak dulu bangun, Aulia kembali berbaring dan menatap wajah suaminya yang sangat tampan menurutnya..., apalagi saat rambutnya acak-acakan benar-benar terlihat polos dan lugu.
Tuan Farhan dan Jons sudah pulang pagi-pagi sekali karena tuan Farhan sudah ada janji temu dengan rekan bisnisnya.
"Lia ingin pipis" tutur Aulia mengerucutkan bibirnya ke depan layaknya mulut bebek.
"Biar Uncle bantu" jawab Tio namun mendapat gelengan kepala dari Aulia.
"Tidak! Lia malu Uncle, biar Lia sendiri saja" cicitnya dengan suara pelan. Tio berdecit sebal sudah beberapa kali mereka bermain dance di atas ranjang namun istrinya masih tetap malu padahal dirinya sudah berulang kali melihat dan bahkan menikmati milik istrinya itu.
"Tidak usah bawel, biar Uncle yang bantu! jangan membantah" tegas Tio membuat Aulia seketika patuh. Tio pun menggendong Aulia ala bridal style lalu membawanya ke kamar mandi.
Dengan penuh hati-hati Tio menurunkan Aulia di samping kloset duduk. "Uncle tunggu di luar saja biar Lia yang melakukannya sendiri" kata Aulia dengan pipi merona merah.
"Tidak! Lia masih sakit jadi biarkan Uncle yang membantu Lia!" balas Tio.
"Tidak! Lia bisa sendiri cepat keluar Uncle atau Lia akan menahan pipis! dan Lia akan terus sakit" ancamnya membuat Tio tidak bisa berkata-kata lagi, pria itu segera keluar dari kamar mandi dan berdiri di dekat pintu menyandarkan punggungnya di sandaran dinding.
Tio melipat kedua tangannya di atas perut sembari menatap langit-langit kamar rumah sakit, bibirnya tersungging tipis membayangkan dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, rasanya ia sudah tidak sabar menunggu momen tersebut.
"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah, rasanya telingaku mulai gatal akan mendengar panggilan 'ayah' dari mulut mungil anakku" gumam Tio tertawa kecil.
"Aah, oh seperti ini yah menjadi orang tua hahahaha lucu sekali" celetuknya lagi hingga tak sadar jika orang yang di tunggu-tunggu sudah keluar.
"Siapa yang akan menjadi orang tua Uncle?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung