
Happy reading 🤗
Yang lebarannya besok selamat idul Adha
Mohon maaf lahir batin 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
.
.
.
.
.
.
Kini tiga manusia yang tidak tahu malu itu sedang duduk di sofa ruang tamu. Sedang wanita yang di panggil mama oleh Enzi pergi ke dapur, ia membuat minuman untuk ke tiga tamunya yang tidak diundang itu. Entah mereka tahu darimana rumahnya sehingga mereka tahu? wanita itu hanya bisa geleng-geleng kepala merasa syok dengan tingkah anak manusia yang tidak tahu asal-usulnya.
Yah wanita itu tidak memiliki asisten rumah tangga oleh sebabnya ia yang membuatkan minuman untuk tamu tak terhormatnya.
Aditya menampakkan senyum manisnya kepada wanita cantik yang sedang berjalan menuju ke arah mereka. Wanita itu membalas dengan tatapan tak suka, ia hanya bisa menarik napas berat.
"Silahkan diminum" sebuah minuman berwarna kuning terisi didalam sebuah gelas tinggi, ia menyodorkan kepada ke-tiga tamunya.
"Telima kasih mama" walau sudah berkali-kali diperingati oleh wanita itu namun, Enzi tidak mengindahkannya ia tetap kekeuh pada panggilan yang ia berikan. Gadis kecil itu benar-benar punya keyakinan besar bahwa ia akan menjadi anak dari wanita di depannya.
"Astaga! siapapun tolong aku!" serunya dalam hati. Entah dengan bahasa apa lagi ia jelaskan agar Enzi mengerti bahwa dirinya masih berstatus single. Bagaimana bisa seseorang yang belum menikah sudah mempunyai anak, keluar darimana mereka itu bahkan rahimnya saja belum terisi karena statusnya yang belum menikah.
"Tante, bisakah tante ikut dengan kami?" Aditya bertanya sambil menatap wanita di depannya dengan serius. Sedang yang ditanya menaikkan alisnya tinggi.
"Why? kenapa aku harus mengikuti kalian?" Aditya mendelik jengkel menghadapi wanita dewasa di depannya. Jika bukan karena wanita tersebut cocok menjadi ibu pengganti untuk mereka, mana mungkin ia bersusah payah bahkan harus menurunkan harga dirinya.
"Pokonya tante harus ikut bersama kami, tante sudah menolong Enzi jadi kami harus membalas kebaikan tante" jawab Aditya melipat kedua tangannya di atas perut. Watak sombongnya itu begitu persis seperti tuan Farhan.
"Dia? bukankah foto wanita ini terpajang di mansion kakek buyut Wijaya yah?" Hanan menatap wanita di depannya dengan seksama. Ia pun mengambil foto diam-diam agar ia bisa memastikan kebenarannya nanti.
"Apa yang kau lakukan?" seru wanita tersebut menatap Hanan yang mencurigakan. Ia memolototinya membuat Hanan gelagapan. Ia menyengir kuda sembari menggeleng tidak tahu.
"Ainsley!" seorang pria bertubuh kekar datang menghampiri mereka, Aditya dan Enzi menatap tak suka pada pria yang baru datang. Wajahnya tampan namun tak kalah tampan dari ayah mereka. Pria itu terlihat akrab dengan calon Ibunya hingga membuat Aditya menatap tajam. Aditya dan pria yang baru datang saling tatap-tatapan terlihat kilatan tak suka dari pandangan keduanya.
"Siapa kalian?" tidak ada yang menjawab kala pria itu bertanya, Aditya tersenyum mengejek lalu menatap wanita di depannya. Yah wanita itu adalah Ainsley gadis yang berasal dari negara Washington namun, dulu mereka pindah menuju Meksiko karena pekerjaan ayahnya yang tiba-tiba saja dipindahkan di sana.
"Apa kalian tidak punya mulut untuk menjawab, hah!?"
"Cih! kamu siapa mengatur-atur kami? mulut-mulut kami juga, kenapa kamu harus marah" balas Hanan dengan posisi duduk seperti wanita.
"Kalian!"
"Mereka? bukankah dua anak ini adalah cucu-cucunya tuan Farhan. Gawat, tidak bisa dibiarkan aku harus membawa Ainsley untuk kembali hari ini juga. Jika sampai tuan Farhan melihatnya aku bisa dihukum oleh Boss" batinnya dengan perasaan khawatir. Ainsley melihat pria disampingnya yang tidak baik-baik saja langsung berdiri dan tanpa permisi menarik tangan pria itu untuk menjauh dari manusia-manusia perusuh.
"Uncle Vicky, ada apa? apakah ada sesuatu sampai Uncle terlihat cemas?" tanyanya saat berada di tempat sepi. Pria yang dipanggil Uncle oleh Ainsley menatap serius wajah cantik di depannya.
"Kita akan pulang hari ini" jawaban pria itu membuat Ainsley keheranan pasalnya jadwal kepulangan mereka masih satu bulan lagi, apalagi tugasnya di sini masih belum selesai.
"Kenapa? apakah ayah yang menyuruh Uncle?" Ainsley menaikkan sebelah alisnya mengintimidasi Vicky, kedua tangannya terlipat di atas perut. Tangan Vicky terulur menyelipkan anak rambut Ainsley ke belakang telinga yang sudah menutup sebagian keindahan wajah wanita di depannya.
Ainsley yang sering mendapat perlakuan seperti itu seketika membuat pipinya memerah bak kepiting rebus. Ia berdehem menetralkan jantungnya yang memompa sangat cepat. Sedang pria bernama Vicky itu terkekeh kecil melihat tingkah lucu gadis kecil di depannya yang tidak pernah membuatnya gagal tertawa.
"Tante, Paman jelek" seru seseorang dari sudut tembok, matanya memancar ketidaksukaan pada Vicky. Bocah kecil itu adalah Aditya, ia mengikuti Ainsley dan Vicky saat mereka menjauh dari ruang tamu. Aditya tidak ingin jika calon mamanya bersama pria lain, sebagai anak yang baik ia harus menjaga calon mamanya itu dari sekarang.
Sepertinya Aditya adalah sosok yang bertanggung jawab bahkan di usia dininya ia sudah memahami tugasnya sebagai anak.
Ainsley melirik ke arah Aditya dengan tatapan terkejut, ini sudah kelewatan, ia benar-benar tidak suka masalah pribadinya diganggu oleh orang lain.
"Apakah orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun? bisakah untuk tidak menguping pembicaraan orang lain, kenapa kamu sekecil ini sudah tengil dan keras kepala!" bentaknya membuat Aditya beringsut mundur ke belakang. Melihat Ainsley memarahinya, seketika timbul rasa tidak suka.
Tanpa menjawab Aditya langsung meninggalkan dua orang manusia yang menatapnya tanpa kedip. Bocah itu mengepal tangannya kuat menahan amarahnya.
"Paman, dek, ayo kita pulang dari sini!" titahnya dengan wajah datar. Wajah yang tak jauh dari tuan Farhan.
"Abang kenapa kita pulang? kita halus membawa mama" mendengar kata mama dari mulut Enzi membuat Aditya menatap sangar adiknya. Entah darimana kebiasaan tatapan tajam itu padahal Aditya adalah bocah kecil yang baru berusia tiga setengah tahun namun ia terlihat seperti orang dewasa saja.
"Jangan pernah memanggil dia mama, mama kita sudah meninggal!" Aditya segera berlalu kala Ainsley dan Vicky datang. Enzi dan Hanan tanpa permisi langsung mengikuti langkah kaki Aditya.
Entah kenapa ada rasa sedih dihati Ainsley kala melihat dua bocah kecil tak lagi memanggilnya mama, ada sesuatu yang menghilang namun, ia tidak tahu apa itu.
"Uncle Vicky, apakah aku terlalu berlebihan tadi?" tanyanya menatap sayu pria kekar di sampingnya.
"Tidak. Yang kau lakukan adalah benar, terkadang kita harus bersikap tegas kepada orang yang membuatmu tidak nyaman sekalipun itu adalah anak kecil" Ainsley mengangguk mengerti. Ia pun kemudian kembali ke kamarnya, untuk bersiap-siap karena hari ini juga ia dan pria yang ia panggil Uncle Vicky akan terbang ke Meksiko.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung