
Maaf Guys baru up sekarang soalnya sibuk banget 🙏🙏🙏🙏🙏
.
.
.
.
.
.
.
Di sebuah Danau berbentuk L bernama Danau Washington adalah danau air tawar besar yang berdekatan dengan kota Seattle . Danau Ini adalah danau terbesar di King County dan danau alami terbesar kedua di negara bagian Washington, setelah Danau Chelan. Sebuah motor sport terparkir rapi di parkiran motor Danau Washington. Kedua pasangan muda-mudi itupun turun dari atas motor, gadis cantik dengan wajah bulat itu tersenyum tipis kala melihat pemandangan yang sangat indah. Sekalipun terik matahari begitu menyengat di kulit namun tak membuat semangat para pengunjung pudar mereka malah asyik bermain berjalan bahkan ada yang duduk santai di atas kursi kayu di bawah pancaran sinar mentari.
Seorang pria bule dengan dua lesung pipi tercekat jelas di pipinya meraih tangan wanitanya untuk di genggam, tatapan yang tadinya memandang lurus ke depan kini beralih ke sebelah kanannya senyum manis terukir di bibir tipis sang pria.
"Apa kau menyukainya hmmm... aku tidak tahu kau suka tempat ini atau tidak namun kuharap kau bisa menikmatinya" ucap seorang pria dengan tatapan lembut mengarah kepada wanita berseragam sekolah.
"Aku tidak tahu kau ini Dukun atau bukan... kau selalu tahu apa yang aku inginkan, tidak salah jika aku menjadi pacarmu" jawab wanita tersebut yang tak lain adalah Alexa. Mendengar jawaban dari sang kekasih membuat Ronald terkekeh geli di katai Dukun oleh Alexa.
"Hahahaha, anggap saja aku adalah peri cinta berkedok Dukun" tutur Ronald dan itu membuat Alexa geleng-geleng kepala. Keduanya berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertautan.
Ronald membawa Alexa ke sebuah pohon rindang yang tumbuh di pinggir Danau kebetulan di sana tidak ada orang jadi bisa membuat suasana semakin romantis ala-ala mas bule.
"Terima kasih karena kamu mau menerima aku sebagai pacar kamu, jujur aku takut jika kamu tidak menerima aku makanya aku mengancam kamu dengan kasus kriminal yang kamu buat." Jelas Ronald saat keduanya sudah duduk santai di bawah pohon rindang.
Alexa menggeleng kepalanya pelan seharusnya dirinya yang berterima kasih bukan Ronald karena pria itulah yang membuat hari-harinya berwarna saat pria yang ia cintai tidak lagi menganggapnya ada.
"Tidak! Seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu mau menerima aku apa adanya, disaat aku punya kelainan yang bahkan aku sendiri tidak mengetahuinya... terima kasih sudah ada di setiap hari-hariku yang kelam itu" lirih Alexa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ronald tersenyum lembut tangannya terulur mengelus pipi gadisnya, posisi keduanya saling berhadapan hingga membuat Ronald dapat melihat jelas tatapan sayu dari sang gadis.
"Aku menerimamu apa adanya apapun yang terjadi kelainan apapun itu aku selalu menerimamu tanpa meminta kesempurnaan... jadi kalau ada apa-apa harus cerita jangan pernah tutupi dari aku karena aku ingin tahu tentang kamu semuanya." Alexa tersenyum simpul mengangguk kepalanya pelan saat mendengar jawaban dari pria di depannya, pria yang membersamainya saat ia di campakkan oleh pria yang sangat di cintai bahkan dari kecil suka duka selalu bersama namun sekarang semuanya berubah dengan beriringnya waktu.
Ia pikir ia adalah salah satu wanita istimewa di hati Hamas namun sepertinya ia salah dia tidak akan menjadi sosok spesial di hati putra sulung raja Hades mengingat hal itu membuatnya benar-benar merasa sedih.
"Terima kasih Tuhan karena sudah memberiku pria sebaik Ronald yang bahkan dulu aku begitu membencinya... bodoh jika aku menyia-nyiakan pria sebaik dirinya." Tuturnya dalam benaknya.
Tak jauh dari sana dua orang pria mencurigakan terus memantau pergerakan dua sejoli yang sedang duduk di bawah pohon rindang bahkan dengan diam-diam mengambil potret Ronald dan Alexa saat keduanya saling bertatapan penuh cinta.
"Bagaimana jika kita tangkap dua-duanya saja?" saran teman di sampingnya.
"Boss hanya menyuruh kita menangkap gadis itu kamu tidak dengar bahwa kita tidak boleh sampai melukai laki-laki itu... sepertinya dia sangat berarti di hati Boss" jawab temannya tidak sependapat dengan pria di sebelahnya
"Kita harus menunggu sampai keduanya berpisah agar kita bisa dengan mudah menculik gadis tersebut"
"Hmmm... aku punya cara agar keduanya bisa terpisah" senyum jahat terukir indah di bibir pria besar itu, temannya yang penasaran segera bertanya.
"Wow fantastis! It's good idea" pujinya dengan jari jempol terangkat ke atas. Kedua pria dengan pakaian hitam itu tersenyum devil salah satu dari mereka segera berjalan ke arah pohon rindang yang di tempati oleh Ronald dan Alexa. Berpura-pura berjalan sembari memegang ponselnya tiba-tiba seorang pria berlari dari arah samping pria yang tengah berjalan dengan ponsel di tangannya di sambar oleh preman.
"Hey brengsek! Pencuri tolong!! Tolong saya ponsel saya di curi!!!"teriaknya dengan wajah frustasi sedang orang-orang yang ada di sana hanya melihat tanpa membantu pria yang kehilangan ponselnya. Pria yang habis kehilangan barang penting itu terduduk lesu dengan wajah sedihnya. Alexa melihat itupun iba ia menatap pria di depannya.
"Sayang apakah kamu hanya melihat orang yang kesusahan? ayo kita bantu dia" ucap Alexa dan mendapat anggukan pelan dari Ronald. Dua remaja itu segera berdiri, Ronald berlari duluan mengejar pencuri sedangkan Alexa memilih membantu sang pria yang terduduk lesu di atas tanah.
"Astaga, pak tenang saja yah pacar saya tuh orangnya kuat larinya juga kencang... aku yakin hp bapak bisa ditemukan. Duduk di sana dulu di sini panas pak." Tutur Alexa lembut. Tangannya terulur menyentuh pundak pria yang tengah bersedih perlahan-lahan bangkit dari duduknya berjalan menuju pohon rindang yang tadi di tempati oleh Ronald dan Alexa. Pria yang kehilangan barang berharga tersenyum tulus pada Alexa karena hanya dia yang mau menolongnya apalah daya jika tidak ada orang baik mungkin ia sudah sangat putus asa.
"Thank you so much... you are like an angel. Terima kasih sudah mau menolong saya semoga Tuhan selalu memberkatimu..." jawabnya dengan sangat tulus.
"May God always protect you... l'm sorry if l hurt you (Semoga Tuhan selalu melindungimu... Maaf jika aku menyakitimu)" batinnya dengan perasaan menyesal, entah apa maksud dari benaknya itu.
Di sisi lain Ronald berhasil mengejar pencuri itu di tariknya baju bagian belakang lalu melemparnya kasar ke tanah hingga membuat perampok itu terpental cukup keras.
"Awww" pekiknya kesakitan. "Sial! sakit banget" adunya dalam hati. Pria tinggi nan tampan itu berjalan dengan mimik wajah kesal ia kembali meraih kerah baju perampok itu dan menatapnya tajam. Suasana yang sepi dan tidak ada orang di sana membuat Ronald lebih leluasa dan semakin semangat untuk menghajar pria pengecut di depannya.
"Brengsek! apa tidak ada pekerjaan halal lain yang kamu kerjakan selain merampok hah!! dasar manusia tidak berguna! enyah kau dari bumi ini!!" umpat Ronald dengan emosi yang meluap-luap.
BUGH
BAGH
Tendangan dan pukulan melayang tepat mengenai perut juga wajah sang perampok membuatnya kembali terjatuh ke tanah.
"****! kuat juga bocah laki-laki ini aku bisa mati jika tidak melawannya" ucapnya dalam hati. Ia kemudian mulai bangkit dan ingin mencoba menyerang Ronald namun pria muda itu tak memberinya kesempatan untuk melawan ia malah menendangnya hingga tubuh pria yang berkisar 30 tahun terjatuh ke tanah.
"Tubuh kamu masih kuat carilah pekerjaan yang halal untuk di makan jangan hanya bisa mencuri barang orang lain... malu pada orang yang tidak punya kaki tapi masih bisa bekerja dengan pekerjaan halal" nasehat Ronald lalu mengambil paksa hp di saku jaket pria itu dan langsung melenggang pergi meninggalkan pria yang masih tersungkur di atas tanah dengan seringai setan seakan telah memenangkan sebuah siasat yang begitu sempurna.
"Manusia bodoh!" bisiknya dalam hati dengan senyum puas. Entah apa maksud dari senyum devilnya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung