The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 49 Kambuh



Happy reading 🤗🤗


Like dan Votenya kakak 🤗❤️🌹


.


.


.


.


.


.


.


.


Hamas melempar tubuh Alexa di dalam mobilnya kemudian ia menyusul masuk ke dalam, menatap tajam wajah gadis remaja yang meringis sakit akibat benturan di tubuhnya. "Sudah ku peringatkan untuk tidak boleh keluar! kau sepertinya ingin di hukum hmmm...?" Alexa memposisikan tubuhnya menghadap ke arah Hamas, merenggut kesal dengan bibir mengerucut sembari menatap malas pria di hadapannya.


"Aku tuh takut sendirian di apartemen tahu, bagaimana jika tiba-tiba mati lampu dan ada hantu! abang kan tahu jika aku takut kegelapan" sungut Alexa. Hamas terdiam sejenak memang benar jika gadis itu begitu takut gelap juga sangat penakut dengan hantu... padahal keras kepalanya minta ampun.


"Kenapa bisa aku lupa jika si bocil takut gelap. Bodohnya aku jika terjadi sesuatu dengannya bagaimana? aku pasti tidak akan memaafkan diriku..." bisik Hamas dalam hati. Merenung perbuatannya yang ceroboh.


"Kau bisa menelpon bukan? jadi tidak perlu alasan! kamu tetap aku hukum. Kita pulang sekarang" jawab Hamas tanpa menatap Alexa. Pria muda itu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman bangunan berwarna merah.


"Aku tidak mau pulang, aku ingin jalan-jalan" ketus Alexa bersedekap dada dengan bibir mengerucut layaknya mulut bebek. Namun sepertinya pria itu tidak peduli tidak menjawab, masih asyik menatap lurus ke depan. Membuat gadis di jok penumpang depan merenggut kesal. Menarik napas panjang kemudian menghembuskan kasar.


"Kau sudah makan?" tanya Hamas tanpa melihat objek yang di tanya. Laki-laki itu memandang lurus ke depan.


"Jangan urus aku! biarkan aku mati kelaparan! abang egois tidak memperbolehkan aku jalan-jalan bahkan hanya sekedar menyusul abang. Kalau abang sudah tidak mau menjaga aku lagi turunkan aku di sini biarkan aku terlantar dan mati gentayangan" cerocosnya sesenggukan, kristal bening itu mengalir dari pelupuk matanya. Menundukkan kepalanya dengan tangan menggenggam dress-nya erat.


"Aku sudah menangis begini tidak mungkin si pria dingin itu tidak menoleh padaku." Batinnya dalam hati. Sepertinya menangis adalah jurus untuk menaklukkan hati prianya.


Mendengar isakan dari gadis di sebelahnya membuatnya langsung menepikan mobilnya di bibir jalan, jalanan kota tidak terlalu padat hari ini. Padahal setiap harinya selalu padat namun sepertinya keberuntungan datang kepada dua manusia di dalam mobil yang sedang menepi.


"Kau itu sudah besar kenapa masih saja menangis hah!" ujar Hamas datar. Namun tangannya membuka safety beltnya kemudian maju mendekati Alexa, berusaha membuka sabuk pengaman gadis di depannya menarik tubuh itu untuk di dekapnya.


"Bibirmu mau aku gigit yah biar tidak seenaknya berbicara yang tidak-tidak! dasar otak kecil" tuturnya sembari mengelus punggung itu. Membuat Alexa mendorong kuat tubuh Hamas menatapnya tajam, ia sangat tidak suka omongan pria di depannya selalu membuat hatinya sakit karena kata-katanya yang pedas.


"Abang jahat! abang tidak pernah sayang sama aku! padahal kan aku selalu memberikan yang terbaik buat abang huhuhuhu, abang jahat! lebih baik aku pergi saja daripada sakit hati terus!." teriaknya dengan isakan yang semakin menjadi. Membuat Hamas mendengus kesal.


Alexa hendak membuka pintu namun langsung di cegat oleh Hamas, dengan wajah datar juga dingin, putra sulung raja Iblis mulai membuka suara. "Kita akan jalan-jalan sebelum pulang". Mendengar jawaban dari mulut Hamas seketika membuat wajah gadis remaja itu langsung tersenyum lebar dengan mata berbinar menatap wajah Hamas.


"Really? kita akan jalan-jalan?" tanyanya antusias. Hamas mengangguk pelan sebagai jawaban. Saking senangnya Alexa memeluk erat tubuh Hamas membuat laki-laki itu kesulitan bernapas.


"Lexa kau mau membunuhku hah!" tuturnya dengan suara tercekat. Alexa menyengir kuda, mengkondisikan duduknya seperti biasa. Lalu menatap wajah Hamas dengan senyum manisnya.


"Ayo bang, aku tidak sabar lagi!" seru Alexa antusias dan Hamas menurut ia mulai menjalankan mobilnya sesekali melirik ke arah gadis yang masih tersenyum itu.


"Kita jalan-jalan kemana?" tanya Hamas. Alexa menoleh ke sumber suara, lalu menatap jalan di depan tepat di ujung sana mereka akan melewati jembatan George Washington membuat bibir itu kembali tersenyum.


"Bagaimana jika kita jalan-jalan di jembatan George, aku mau lihat pemandangan kota dari atas jembatan!" serunya menatap Hamas, pria itu mengangguk pelan. Lalu mencari tempat aman untuk menepikan mobilnya. Kedua manusia itu keluar dari mobil lalu berjalan menuju jembatan George.


Di jembatan tersebut memiliki dua jalan alternatif satu untuk kendaraan dan satunya lagi untuk pejalan kaki, itulah sebabnya banyak sekali orang-orang yang berjalan kaki di jembatan George. Terkadang jembatan itu sering di jadikan sebagai tempat olahraga, tongkrongan, kadang untuk tempat orang-orang kasmaran apalagi jika di temani sinar bulan dan kelap-kelip bintang membuat pemandangan malam semakin indah.


"Hahahaha, siapa juga yang mau menikahimu bocah! yang ada di umurku dua puluh tahun kepalaku sudah botak karena saking stressnya!" jawab Hamas tertawa terbahak-bahak. Membuat atensi Alexa mengarah pada pria di sampingnya.


"Aku tidak bercanda Abang!! malam ini aku Alexa, gadis cantik dan paling imut sedunia mengikat abang Hamas untuk menjadi suami masa depanku!!" teriak Alexa kencang membuat pejalan kaki lainnya menatap heran pada Alexa dan Hamas. Untung mereka menggunakan bahasa Indonesia hingga tak membuat orang-orang di sana mengerti.


"Ada-ada saja kamu bocil! selesaikan dulu sekolah kamu baru mikirin nikah. Masih kecil sudah berpikiran dewasa heh!" Hamas menoyor kepala Alexa membuat gadis itu menggerutu kesal.


"Tapi aku serius Abang!!" ucap Alexa namun tak di tanggapi oleh Hamas hingga seorang wanita menghampiri keduanya.


"Hamas" panggilnya lembut membuat Hamas menoleh ke sumber suara. Senyum manis seketika tersirat di bibir tipis Hamas.


"Shireen, kau di sini juga" ujar Hamas mendekati wanita cantik dan tinggi itu. Shireen adalah teman kelas Hamas dan mereka cukup dekat di kampus. Alexa melihat keduanya begitu akrab membuatnya mendadak beku apalagi melihat wajah Hamas yang terlihat sangat bahagia.


"Siapa wanita itu?" batin Alexa dengan tangan terkepal. Hamas dan wanita yang baru datang itu terus mengobrol meninggalkan Alexa yang masih terpaku di tempatnya menatap punggung kekar Hamas yang semakin jauh darinya.


"A-abang meninggalkanku di sini? dia bahkan tidak menoleh sedikitpun" lirihnya pelan, pelupuk matanya mulai menggenang, menatap jauh ke depan. Lalu terkekeh kecil, entah apa maksudnya.


"Abang adalah priaku! tidak ada yang bisa memilikinya selain diriku... siapapun yang berani merebutnya maka hanya kematian solusinya" bisiknya dalam hati sembari tersenyum devil.


"Hiks, hiks. Aku butuh pelampiasan sekarang" ucapnya menahan sesak di dada, sepertinya penyakitnya itu mulai kambuh lagi, berjalan balik menuju tempat mobil mereka. Terlihat napasnya tersengal-sengal seperti seseorang yang mengalami asma membuatnya tidak bisa berjalan cepat.


"Mobilnya masih jauh, aku harus cari penangkalnya... bisa-bisa aku akan mati di sini" gumamnya pelan. Ia menuju beberapa anak remaja laki-laki yang sedang nongkrong di sisi pagar jembatan sembari menghisap rokok di tangannya.


"Excusme, help me please!" seru Alexa pelan hampir tak terdengar. Lima orang pria remaja itu segera menolong Alexa yang hampir terjatuh.


"Help me! help me!!" tuturnya pelan matanya semakin sayu. Sekumpulan orang-orang segera berdatangan melihat ke arah wanita yang terbaring lemas di pangkuan pria asing.


"Bawa dia ke rumah sakit segera!" ujar seorang wanita paruh baya menggunakan bahasa Inggris. Pria yang memangku Alexa segera menggendongnya namun di tahan oleh seseorang dari belakang.


"Dia adikku, serahkan padaku!" tutur Hamas dengan napas ngos-ngosan. Ia baru menyadari ketika melihat ke belakang dan tak mendapati Alexa hal itu membuatnya kebingungan. Hamas mengambil paksa tubuh Alexa menurunkannya di atas aspal dengan kepala bersandar di dadanya. Meraih tangan gadisnya dan menggigitnya kuat hingga mengeluarkan darah.


"Haaaahh" seketika membuat Alexa tersadar. Orang-orang di sana terkejut melihat sesuatu yang baru di lihatnya. Entah sejenis penyakit apa namun belum pernah terlihat ataupun terdengar.


"Maafkan abang sudah meninggalkanmu... maaf Lexa, abang tidak akan mengulanginya lagi..." lirihnya memeluk tubuh Alexa. Napasnya masih memburu, takut jika Alexa berbuat yang tidak-tidak. Entah apa pemicu penyakit itu muncul namun ia secepatnya akan membawa gadisnya ke rumah sakit agar segera mendapat penanganan instensif.


"Jangan tinggalkan Lexa, Lexa hanya ingin abang" gumamnya dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung