The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 72 Perjanjian



Happy reading 🤗


Like dan Vote seninya dong


.


.


.


.


.


.


.


Hamas dan Azhar mencari keberadaan orang tuanya bahkan Kakek dan Neneknya juga tidak mereka lihat membuat kedua putra raja Iblis kesal. Bahkan menghubungi nomor mereka tidak ada yang angkat, sungguh hal itu membuat adrenalin Hamas meningkat drastis ingin sekali menghancurkan Mansion Utama jika saja di bolehkan.


"Sial!" umpat Hamas dengan wajah merah padam. Menahan emosi yang memuncak, apalagi mendengar gadis kecilnya terbang ke Amerika sendiri membuat pikirannya tidak tenang. Entah apa maksud dirinya yang begitu mengkhawatirkan Alexa, apakah Hamas sudah menyukai gadis remaja itu ataukah hanyalah sebuah perasaan seorang kakak untuk adiknya? entahlah yang pasti Hamas benar-benar khawatir juga merasa kesal pada Azhar karena berani mengatakan sesuatu yang membuat Alexa pergi.


"Aku akan pesan tiket sekarang! aku tidak bisa menunggu lagi" gumam batin Hamas. Pria itu masuk ke kamarnya mengambil kunci motor sportnya lalu keluar dari bilik kamar tidurnya. Di saat bersamaan Dafa dan Daffin keluar dari kamar mereka yang berhadapan dengan kamar Hamas. Melihat wajah kakak tertuanya yang tidak baik-baik saja segera bertanya.


"Kakak mau kemana? kenapa buru-buru sekali" tanya Daffin dengan alis berkerut. Hamas yang melihat adiknya segera mendekat.


"Kakak mau balik ke Amerika. Kalian berdua bilang pada Daddy dan Mommy kalau kakak sudah pergi, soalnya nomor Daddy dan Mommy tidak bisa di hubungi. Kalian paham!." Tegas Hamas dan kedua bocah kecil itu mengangguk. Hamas lalu mengangguk mengelus kepala adiknya lalu segera pergi dari sana, Azhar buru-buru keluar dari bilik kamarnya saat sudah mengambil barang-barang penting.


Di luar Mansion Hamas mengeluarkan motor sportnya berwarna hitam pekat dari basemant Mansion Utama. "Bang tunggu!" teriak Azhar segera berlari ke arah Hamas yang hendak pergi tanpa menunggunya. Pria dengan rambut gondrong itu langsung naik ke jok belakang motor.


"Aku akan ngebut pegangan yang kuat" tutur Hamas datar. Setelah Azhar memeluknya Hamas segera memainkan gas motornya lalu pergi melesat meninggalkan kediaman Mansion Utama dengan perasaan bercampur aduk.


Di sisi lain


Seorang gadis remaja dengan pakaian yang sama saat dirinya ke Mall City memijat pangkal hidungnya kala memikirkan masalah yang sedang menimpanya tanpa sepengetahuan lainnya. Ia akan menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa mau melibatkan Hamas ataupun Azhar, ia sudah bertekad untuk mandiri ia akan buktikan kepada prianya bahwa ia bisa hidup walaupun tanpa dia.


"Masalahku kali ini lumayan berat aku tidak boleh merepotkan abang Hamas lagi. Aku harus menyelesaikan masalahku sendiri aku yang berbuat aku sendiri yang akan menanggungnya... lagipula jika aku terus-menerus merepotkan abang, mereka akan merasa muak nantinya. Benar yang di katakan abang Azhar... abang Hamas pasti memendam rasa jengkel sedari lama. Maafkan aku abang aku tidak akan hadir di hadapan abang lagi" Alexa berkata lirih, tangannya menekan dadanya yang kembali tersayat, saluran pernapasan itu terasa menyempit dan ia sungguh tidak bisa bernapas.


Mencari jarum pentul di dalam tas selempang di depannya setelah mendapatkan, gadis remaja itu dengan cepat menusuk-nusuk lukanya yang tadi siang hingga kain kasa itu kembali mengeluarkan darah. Dan hal itu membuat Alexa kembali bernapas lega. Entah sebenarnya penyakit apa yang sedang menggerogotinya sampai begitu tersiksa. Dosa apa yang ia perbuat di masa lalu sampai hidup pun ingin mati saja.


Alexa kembali menyandarkan punggungnya menatap ke arah luar jendela melihat awan yang di bawah oleh angin, tatapannya menerawang jauh di beberapa minggu sebelumnya.


FLASHBACK


Saat itu jam istirahat seorang gadis dengan rok minimnya tak sengaja melihat foto prianya yang di pegang oleh salah satu siswa di kelasnya, ada empat orang yang duduk di meja kantin sembari mendengarkan celotehan temannya, tangannya terkepal kuat saat mendengar jika teman kelasnya menaruh hati pada pria yang berada di dalam foto membuat kemarahannya memuncak.


Smirk setan itu tercekat kala melihat targetnya berjalan keluar dari kantin seorang diri menuju toilet, dengan cepat Alexa mengikutinya dari belakang. Saat gadis itu masuk Alexa segera menarik tangannya.


"Jangan masuk, bantu aku untuk mencari sesuatu dulu" Alexa menarik tangan salah seorang siswi membawanya ke salah satu ruang yang tak di pakai. Alexa segera menutup pintu gudang tersebut kala ia sudah berhasil membawa targetnya ke ruang kosong.


"Apa yang kamu lakukan? cepat buka Alexa! jangan macam-macam yah!" seru gadis yang memegang foto Hamas, Alexa tertawa kecil melihat ketakutan teman kelasnya. Ia lalu duduk di atas kursi kayu yang berdebu sembari menatap gadis di depannya.


"Kenapa foto pria itu ada padamu? apa kau menyukainya?" tanya Alexa melipat kedua tangannya di atas dada, sedang kaki kanannya menindih kaki kirinya. Gadis yang di tanya itu segera menyimpan foto di tangannya ke belakang menelan ludahnya kasar.


"Kau tahu siapa pria yang ada di foto itu? beraninya kau menyimpannya dan bahkan kau memamerkannya di hadapan teman-temanmu! apa kau tahu apa akibatnya hah!!" teriak Alexa menatap tajam. Beranjak dari duduknya lalu kemudian berjalan menuju ke arah gadis yang berjalan mundur ke belakang bahkan sudah pentok ke dinding.


BUGH


"Akkkkhh, sakit! Mommy tolong! jangan bunuh aku hiks hiks" teriaknya meringis sakit saat Alexa menarik rambut panjangnya lalu menghantamnya ke dinding hingga menimbulkan suara dentuman akibat hantaman keras itu. Darah keluar dari luka yang pecah akibat hantaman keras.


"Aku ingin tahu apa kau menyukai pria yang ada di foto ini?" tanya Alexa menarik rambut gadis tersebut hingga wajahnya mendongak ke atas sedangkan foto Hamas sudah beralih ke tangan Alexa. Gadis yang sedang di tindas itu gemetar ketakutan dengan bulir bening yang keluar di pelupuk matanya.


Bahkan bibirnya gemetar hanya sekedar menjawab.


"Jawab aku! apa kau menyukainya atau tidak?!" teriak Alexa kembali mendorong kepala temannya hingga terbentur ke dinding lagi dan...


BUGH


"Aakkkhh, hiks, hiks... a-aku ti-tidak menyukainya hiks, hiks."


"Jawab jujur! apa kau sedang membohongiku yah!" Alexa kembali melayangkan pukulan di kepala korban hingga darah itu semakin deras, gadis itu sudah tidak berdaya rasa sakit begitu menusuk di kepalanya hingga pandangannya kembali kabur, menatap nanar ke sekeliling ruang kotor itu.


"Tolong aku! tolong!" serunya dalam hati hingga mata itu tertutup rapat. Alexa terduduk lesu kala penyakitnya kembali muncul, dengan sekuat tenaga Alexa berdiri menopang tubuhnya menyandar ke dinding.


"Sakit sekali! kenapa harus datang di waktu yang tidak tepat!" Alexa membuka pintu gudang tersebut hingga matanya terbelalak saat melihat seorang pria menatapnya dengan senyum smirk.


"Halo sweetie, kau sedang melakukan apa di sini hmmm...?" bisiknya di telinga Alexa membuat gadis itu panik apalagi tangannya yang bersimbah darah membuat pria itu langsung terkejut.


Menyingkirkan Alexa ke samping dan melihat sosok yang tergelatak tak berdaya di atas lantai dengan genangan darah yang banyak. Pria itu begitu terkejut kala apa yang ia lihat barusan, benarkah Alexa yang melakukannya? padahal yang ia tahu Alexa adalah gadis manis dan pendiam.


"Kau! kamu yang melakukan ini?" tanya pria bule itu menatap tak percaya gadis di depan matanya. "Ka-kamu diam di situ aku akan menghapus jejakmu di sini" pria bule segera masuk ke dalam menghapus jejak sepatu Alexa dan menggantinya dengan miliknya lalu kursi yang di tempati oleh Alexa ia bersihkan juga sidik jari yang terdapat di tubuh korban.


Setelah selesai ia membuang jejak Alexa ke suatu tempat yang tak akan ada orang tahu sedangkan sepatunya nanti ia akan membakarnya setelah pergi dari tempat itu.


"Ayo pergi dari sini!" Alexa menurut saat pria itu menarik tangannya, hingga tiba mereka di belakang sekolah yang sangat sepi.


Pria yang bernama Ronald itu menyeringai saat melihat wajah ketakutan Alexa. "Jelaskan padaku aku harus bagaimana? apakah aku harus melaporkanmu ke kantor polisi?" bisiknya licik.


Alexa menatap tajam pria di depannya. "Jangan macam-macam!"


"Aku bisa menutupi kasusmu tapi kamu harus tinggal bersamaku dan menjadi budakku. Aku tunggu kamu dua minggu lagi. Jika kau menolaknya maka bersiaplah untuk mendekam dalam penjara" setelah berbicara pria itu lalu pergi meninggalkan Alexa yang sedang mematung di tempat.


"Alexa, kau akan menjadi gadisku hahahaha" batin pria yang berlalu dari hadapan Alexa.


FLASHBACK END


Mengingat kejadian hari itu membuat Alexa di hantui rasa takut, apalagi korban kejahatan yang ia lakukan masih dalam keadaan koma entah hidup atau akan mati.


"Apakah aku akan benar-benar menjadi budaknya?" monolog hati Alexa.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung