
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
Seorang pria berdiri di depan jendela kamarnya, tangan kirinya bertengger ke dalam saku celana sedang tangan kanannya memegang ponselnya dan meletakkannya di dekat telinga. Pria itu berdiri tegak punggung belakangnya terlihat kekar dan berotot, sepertinya dia sering berolahraga hingga membentuk otot-otot tubuh yang indah.
Matanya memandang keluar, sambil berbicara sepertinya dia sedang menelepon seseorang.
"Saya sudah pesan tiketnya Boss, kami akan segera meninggalkan Indonesia"
"Bagus! jangan biarkan mereka mengetahui identitasnya, oh iya setelah kalian sampai ke Meksiko segera bawa dia ke omanya dia akan menjadi pengawal omanya sebagai ganti dari tugasnya yang belum selesai" ujar seorang pria dari sebrang telepon.
"Paman! paman, aku sudah selesai"
"Baik Boss" pria itu segera mematikan sambungan telepon kala mendengar teriakkan Ainsley. Ia memasukan ponselnya ke dalam saku celana lalu menarik koper keluar dari ruangan bernuansa putih itu.
"Apa kamu sudah selesai?" tanyanya dan Ainsley mengangguk pelan.
"Ayo, jam terbang kita setengah jam lagi, jangan sampai kita terlambat" Ainsley hanya berdehem sebagai jawaban, rasanya ia belum ingin pulang apalagi tugasnya di sini masih belum selesai namun, ia tidak mungkin membantah jika itu perintah dari ayahnya walaupun bertentangan dengan hatinya.
Kini keduanya sudah masuk ke dalam mobil, Ainsley merasa dongkol akan sifat pria disampingnya yang jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
"Kenapa Uncle seperti orang yang dikejar raja mafia? apakah dia punya utang atau apakah dia sedang membuat kesalahan?" Ainsley menatap Vicky dengan tatapan aneh, pria yang duduk di kursi kemudi itu merasa dilihatin ia lalu membalas tatapan Ainsley.
"Jangan berpikiran buruk tentangku, ini murni karena perintah dari Boss" seakan tahu isi hati Ainsley, wanita itu hanya mengangguk dengan wajah datar.
Sedang di lain sisi, Hanan segera membawa mobil yang mereka tumpangi ke Mansion utama, ia harus memberikan kabar yang dia dapatkan saat berkunjung ke rumah Ainsley.
"Paman, Enzi takut!" teriak gadis kecil di jok belakang, Hanan yang menyadari kesalahannya menurunkan laju kendaraan, hingga perlahan-lahan mobil itu berhenti di sisi jalan.
Aditya menatap penuh tanya pria dewasa disampingnya.
"Kenapa berhenti di sini paman?" Hanan tersenyum tipis ia kemudian meraih ponselnya. Ia lalu menjelaskan bahwa ia sedang melakukan pekerjaan yang sangat penting itulah sebabnya ia berhenti sejenak. Pria dewasa itu kemudian mencari foto yang diambilnya saat di rumah Ainsley, ia kemudian mengirimnya kepada tuan Farhan.
"Apakah sudah selesai?" tanya Aditya kala mobil yang mereka tumpangi kembali jalan, Hanan mengangguk sebagai jawaban.
Sedang di tempat lain, tepatnya di rumah kediaman Tio dan Aulia. Terlihat dua anak laki-laki yang seumuran dengan dua anak Hamas, wajah mereka begitu mirip hanya rambut yang membedakan. Adnan dan Adrian adalah nama kedua bocah tersebut.
Adnan memiliki rambut sedikit keriting sedang Adrian memiliki rambut yang lurus, entah darimana gen rambut Adnan sedang kedua orangtuanya memiliki rambut yang lurus.
Rumah Tio dan Aulia bukan lagi rumah saat pertama kali mereka nikah, Tio yang sudah bekerja di perusahaan tuan Farhan hasil gajinya ia kumpulkan dan membeli rumah sebagai mahar untuk istrinya sebagaimana ia sebutkan saat ijab kabul mereka.
Sedang rumah yang diberikan tuan Farhan kepada mereka sudah diberikan kepada lima karyawan Aulia, bengkel milik Aulia sudah mereka renovasi dengan ukuran besar.
"Bunda! bunda!" terdengar suara anak laki-laki yang tengah berlari.
"Iya sayang, kenapa teriak-teriak?" seorang wanita yang masih muda turun dari lantai dua, baju daster sebatas lutut begitu indah bertengger ditubuhnya yang gemuk. Rambutnya sebahu terurai begitu indah.
"Bunda, kak Adrian gangguin adek!" adunya dengan wajah cemberut. ibu anak dua itu hanya terkekeh kecil mendengar keluhan putra keduanya.
"Kakak, gak boleh gangguin adiknya. kasian kan adiknya jadi kesal" tegurnya namun sang kakak malah mencebikan bibirnya dengan lirikan misterius pada adiknya.
"Baik bunda" jawabnya dan berjalan mendekati Adnan, pria kecil itu merangkul tubuh adiknya dan menciumnya membuat sang adik jadi kesal. Sang kakak tertawa girang karena sudah berhasil membuat adiknya menangis. Rasanya seperti sesuatu kebanggaan bagi seorang kakak bisa membuat adiknya kesal dan menangis.
"Kak Adrian!" mendapat teguran tegas dari sang ibu membuat Adrian menunduk, namun tidak lupa wajah usilnya ia tunjukkan pada adiknya membuat Adnan kembali mengadu pada ibunya. Adrian tertawa dengan menutup kedua tangannya.
"kak Adrian sini!" kini Adnan sudah berada di gendongan Aulia, wanita itu berjalan dan meraih tangan mungil Adrian. Anak dan ibu itu berjalan menuju ruang keluarga.
"Kita duduk di sini dan nonton kartun kesukaan kalian, kalian berdua ingin bunda buatin apa?" tanya Aulia lembut, ia menurunkan anak keduanya dari gendongannya. Mereka duduk berdampingan.
"Emmm, ayo kita buat kue brownies bunda, adek pengen makan kue buatan bunda" ucap Adnan. Selama ini Aulia belajar berbagai resep masakan dan kue, ia ingin menjadi ibu yang bisa apa saja. Saat anak-anaknya atau suaminya ingin sesuatu yang ingin di makan ia dengan mudah membuatnya itulah sebabnya selama satu tahun terakhir ia meminta Tio untuk mendatangkan seorang chef untuk mengajarinya memasak.
Dan kini ia telah menuai hasil, ia begitu bangga menjadi ibu yang serba bisa.
Dengan hati senang, Aulia mengangguk mantap.
"Baik, ayo bantu bunda buat" ujar Aulia dan dua anak laki-lakinya langsung turun dari atas sofa, mereka bertiga berjalan menuju dapur. Adnan dan Adrian bersorak gembira karena mereka akan membuat kue kesukaan mereka, entah kenapa kedua anak kembar itu begitu suka jika menyangkut dapur, seperti saat ini keduanya begitu bersemangat membantu Aulia membuat kue.
"Bunda, kakak bantuin apa ini?"
"Iya bunda, apakah bunda butuh sesuatu? katakan saja adek dan kaka akan menjadi pahlawan bunda, kami akan membantu bunda" serunya dengan kepalan tangan di atas. Aulia tersenyum lebar.
"Kalian berdua cukup nonton bunda saja, jika kalian sudah besar baru bisa bantu bunda. Oke" terlihat guratan kecewa dari keduanya, Aulia menyadari hal itu segera merangkul kedua putranya lalu berujar.
"Jangan sedih sayangnya bunda, bunda tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian. Hmmm, bagaimana jika kalian video call dengan ayah, bilang kalau kita sedang buat kue?" mendengar hal itu membuat keduanya kembali antusias, Aulia kemudian memberikan ponselnya kepada Adrian, putra kecil Tio itu mengotak-atik ponsel ditangannya.
Tak berselang lama terdengar bunyi berdering dan tiba-tiba suara pria berujar dari sebrang telepon.
"Hai ayah, kakak, adik sama bunda sedang buat kue lho" tanpa aba-aba Adrian langsung berbicara saat panggilan terhubung. Terlihat wajah Tio di depan layar ponsel. Pria itu tersenyum lebar mendengar suara cempreng dari putra sulungnya.
"Benarkah? coba ayah liat?" Adrian pun mengalihkan layar depan menjadi layar belakang dan memperlihatkan Aulia dan Adnan.
"Halo ayah, adek bantuin bunda buat kue lho"
"Wah, adek rajin banget bantuin bunda buat kue, hmmm, adek mau hadiah apa nih?" tanyanya dengan wajah berseri-seri.
"Ayah, kaka juga, kaka bantuin bunda juga" tidak mau kalah, Adrian berteriak.
"Iya sayang, ayah akan belikan untuk kalian berdua"
"Emmm, adek pengen beli mobil ayah, biar adek bisa ngajak bunda jalan-jalan" serunya bersorak.
"Kakak juga ayah, kakak mau beli mobil juga"
"Baiklah, ayah akan membelikan kalian mobil, sekarang berikan teleponnya pada bunda, ayah ingin bicara" Adrian lalu memberikan ponsel kepada Aulia, wanita itu segera menerimanya.
"Halo sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Tio kepada sang istri. Ia tahu betul seaktif apa kedua putranya, takutnya jika sang istri kewalahan menghadapi kedua putranya.
"Aku baik-baik saja, segeralah pulang jika sudah selesai" Tio mengangguk, lama mereka berbincang, percakapan via online itupun selesai, Aulia kembali fokus dengan bahan-bahan kue di depannya.
"Ya Allah, jagalah suasana rumah tanggaku seperti ini, sesungguhnya aku berharap ridhomu" bisiknya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
Bersambung