
Happy reading 🤗
like dan Votenya kakak 🤗❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
Pukul 10 pagi kota Washington kembali mendarat sebuah pesawat Garuda Indonesia Boeing 777-300ER. Kedua putra raja Iblis memesan first class saat turun dari pesawat mereka di pandu oleh pemandu maskapai penerbangan Garuda langsung.
Hamas berhenti menatap sang pemandu untuk tidak perlu mengantarnya karena ia merasa tidak nyaman, sang pemandu jalan itu mengangguk mengerti ia segera berlalu dari hadapan penumpang kelas atas.
"Apa kau sudah menghubungi sopir bahwa kita sudah mendarat?" tanya Hamas melirik ke arah Azhar pria gondrong itu mengangguk mengiyakan.
"Sudah bang, dia sudah menunggu kita di parkiran bandara" Hamas mengangguk kepalanya ia lalu melangkahkan kakinya buru-buru agar segera sampai ke Apartemen mereka, ia harus pastikan bahwa Alexa sampai dengan keadaan baik-baik saja.
"Jangan sampai kamu kenapa-kenapa Alexa, aku tidak bisa membayangkan jika kamu akan terluka... lagian kenapa kamu menjadi sensitif? sebenarnya apa yang sudah membuatmu pergi tanpa bilang padaku. Kamu tidak mungkin mempermasalahkan ucapan Azhar kan?" monolog batin Hamas mengepalkan tangannya kuat. Membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi pada Alexa membuat putra tertua raja Iblis geram sendiri. Andai ia tahu Alexa akan terbang ke Amerika karena perkataan Azhar, tentunya ia akan mencegatnya namun ia tidak tahu akan hal itu.
Azhar melirik kakak laki-lakinya jadi merasa bersalah ia hanya menghembuskan napas kasar. Hingga tiba mereka di luar Bandara dan seorang pria segera datang menunduk hormat.
"Selamat pagi Tuan muda mari saya antar ke mobil" pria dengan pakaian formal kantoran berwarna hitam segera menunjukkan jalan pada dua putra Jons dan Tuan Farhan. Segera membuka pintu mobil jok belakang dan mempersilahkan mereka masuk, setelah sudah masuk pria yang menjadi sopir itu segera menuju pintu mobil jok depan tepatnya di kursi kemudi.
Masuk ke dalam dan memasang safety beltnya pria yang menjadi sopir itu menjalankan mesin mobilnya dan melesat pergi dari sana. "Pak cepetan yah aku mau agar secepatnya sampai di apartemen!" seru Hamas menampilkan wajah datarnya dan pak sopir hanya mengangguk mengerti.
"Bang, maaf karena aku Alexa jadi per..."
"Sudah jangan minta maaf! aku sedang pusing, aku mau istirahat sebentar" potong Hamas memjiat pangkal hidungnya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi memejamkan matanya. Menghalau rasa sakit di kepalanya karena sehari semalam ini dia belum istirahat bahkan di dalam pesawat otaknya terus di hantui oleh bayang-bayang Alexa itulah sebabnya Hamas butuh istirahat saat ini.
Hingga tiba mereka di sebuah apartemen elit mobil sedan itu berhenti di depan bangunan besar. "Tuan muda kita sudah sampai" ujar sang sopir. Hamas dan Azhar menggosok mata mereka pelan menutup mulut kala sedang menguap.
"Ah, yah terima kasih Uncle" jawab Azhar. Mereka kemudian turun dari mobil sedan dan segera masuk ke dalam apartemen. Terutama Hamas yang sudah tidak sabar lagi.
"Tunggu! ini masih terkunci apakah Alexa tidak pulang kemari?." Tanya Hamas dengan alis berkerut. Hamas kemudian mengambil kunci di kantong celananya lalu membuka pintu apartemen. Jadi kunci apartemen memiliki tiga buah kunci cadangan dan masing-masing
mendapatkan satu buah kunci.
CEKLEK
Di dalam masih terlihat seperti biasa tidak ada tanda-tanda orang di dalam. Hamas segera berlari ke lantai dua lalu menuju kamar Alexa yang bersebelahan dengan kamarnya. Namun saat membuka pintu kamarnya kosong ia lalu beralih ke walk in closed , bernapas lega saat melihat masih ada barang-barang milik Alexa bahkan tak satupun yang berkurang.
"Syukurlah jika dia tidak pergi. Tapi kemana dia sekarang? apakah begitu menyenangkan membuat orang lain khawatir dan kerepotan!" gerutu Hamas kesal. Pria itu lalu keluar dari walk in closed dan menuju pintu utama kamar.
"Apakah Alexa pergi bang?." Tanya Azhar khawatir biar bagaimanapun dialah penyebab kepergian Alexa, andai ia tidak berkata demikian mungkin Alexa masih bersama mereka sekarang.
" Dia tidak pergi, pakaiannya masih sama seperti semula tidak ada barang yang kurang... tapi di mana Alexa sekarang? seharusnya dia sudah sampai di sini! astaga anak itu yah!" jawab Hamas mendesah berat.
"Abang istirahat saja dulu. Biar aku yang mencarinya sendiri" ujar Azhar yang merasa kasihan melihat kondisi abangnya yang sangat terpuruk saat mendengar kepergian Alexa.
"Tidak! aku akan mencarinya juga..." tiba-tiba sebuah dering telepon berbunyi dari ponsel Hamas, pria itu segera merogoh kantong celana jeans-nya lalu mengambil ponsel di dalam. Terdapat panggilan suara masuk dan itu adalah Shireen.
Hamas segera menggeser layar hijau di ponselnya.
"Hallo Shireen ada apa?" tanya Hamas saat panggilan telepon itu terhubung.
"Bisakah kamu datang ke Coffy Cafe Hamas, aku ingin mengatakan sesuatu padamu... ini agak penting namun jika kamu keberatan aku tidak akan memaksa" jawab seorang wanita dari sebrang telepon.
"Baiklah tunggu aku, aku akan ke sana sepuluh menit lagi"
Tut Tut Tut Tut tut
Panggilan telepon itupun berakhir, Hamas lalu masuk ke dalam kamarnya ia akan berganti pakaian karena hendak bertemu seseorang yang sangat spesial dalam hidupnya. Azhar menggeleng kepalanya kala melihat wajah Hamas yang tidak seperti tadi. Ada rona bahagia yang terpancar di wajahnya.
"Bang, bagaimana dengan Alexa kamu mau ikut mencarinya atau tidak?" tanya Azhar ikut masuk ke dalam kamar Hamas. Pria itu melirik ke arah adik gondrongnya.
"Tidak! aku akan bertemu dengan Shireen. Ini masih siang Alexa pasti akan pulang, lagipula dia tahu jalan pulang tidak usah khawatir" jawab Hamas lalu masuk ke dalam kamar mandi. Azhar melongos melihat perubahan Hamas yang begitu drastis. Tadi saja seperti orang kerasukan dan sekarang ketika di telepon oleh wanitanya ia langsung melupakan segalanya.
"Haah! cinta memang tidak bisa di prediksi. Benar-benar membingungkan!" ucap Azhar lalu keluar dari kamar Hamas menuju kamar miliknya yang berhadapan dengan kamar abangnya.
"Semoga kamu tidak menyesal di saat Alexa benar-benar pergi darimu karena kebodohanmu yang tidak peka pada perasaan sendiri." Bisik Azhar dalam hati.
Di negara Indonesia Mansion Utama. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam lebih, kediaman Tuan Wijaya sudah terlihat sepi dan sunyi tidak ada lagi suara bising. Seorang gadis dengan tampilan acak-acakan bangun dari tidurnya karena merasa perutnya yang sudah sangat lapar. Ia hanya makan sore itupun hanya dessert yang ia makan bukan makanan berat. Gadis itu kemudian merapikan rambutnya lalu berjalan menuju walk ini closed mengambil pakaian baru untuk di pakai.
Keluar dari walk in closed dan menuju kamar mandi untuk bebersih karena tubuhnya sudah sangat lengket akibat perseteruan tadi sore.
"Ah segar banget" gumamnya dengan senyum simpul di bibirnya. Berjalan mendekat ke arah ranjang menundukkan kepalanya dan...
Cup
Satu kecupan mendarat di kening Tio, sepertinya putri raja Iblis sudah memiliki rutinitas baru yaitu mencium kening prianya saat bangun ataupun sebelum tidur.
"Tidur saja sudah sangat tampan. Lia bahkan ingin melakukannya lagi... astaga ada apa dengan pikiran Lia! kenapa setelah menikah otak Lia menjadi ***** begini sini!" gerutunya memukul-mukul kepalanya lalu segera berlalu dari samping Tio. Berdekatan dengan pria yang tengah tertidur itu membuatnya tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Seperti ada dorongan kuat dalam hatinya.
"Lebih baik mengisi perut yang sudah keroncongan ini" ujar Aulia berjalan menuju lift yang tak terlalu jauh dari tangga manual, gadis itu segera masuk ke dalam saat pintu lift terbuka lalu tertutup kembali. Membawanya turun ke lantai satu.
Ting
Tak berselang lama pintu lift pun terbuka Aulia lalu menuju ruang dapur. Ia segera melangkahkan kakinya ke arah kulkas mencari sesuatu yang dapat di makan. Tidak ada makanan yang tersisa membuatnya mendesah berat. "Iih, mereka tidak menyisihkan sebagian makanan untuk Lia. Heh! pelit sekali" ujarnya menggerutu.
Dengan terpaksa Aulia mengambil buah apel, strawberry dan anggur. Membawanya menuju meja makan. Gadis itu menjatuhkan bokongnya di atas kursi lalu memakan strawberry yang terasa manis keasaman-asaman.
"Hmmm... tidak buruk" Aulia tersenyum tipis. Ia lalu kembali memasukkan buah anggur ke dalam mulutnya mengunyah pelan sangat menikmati.
Hingga sebuah tangan mendarat di lehernya. "Hello my wife. Kenapa tidak membangunkan Uncle hmmm...?" bisiknya di telinga Aulia sesekali menggigitnya. Aulia menolehkan kepalanya dan...
Cup
Kecupan singkat mendarat di bibir ranum Aulia membuat gadis itu bersemu merah. "Uncle! maaf Lia tidak membangunkan Uncle soalnya tidurnya pulas banget... jadi tidak tega"
Memang jika sudah menikah berbuat sesuka hatipun tidak akan ada larangan memang sangat menyenangkan.
"Sayang, mau tahu gak makan buah biar kenyang?" tanya Tio dengan senyum tipis nyaris tak terlihat. Dengan polos Aulia mengangguk kepalanya tanda ingin.
"Uncle akan ajari, lihat baik-baik." Tio mengambil buah anggur memasukkan ke dalam mulutnya lalu meraih tengkuk leher gadisnya dan menciumnya. Memasukkan buah anggur ke dalam mulut Aulia pria itu sedikit bermain-main sebentar dengan lidah istrinya dan saling bertukar saliva.
"Iiih, Uncle genit deh" Aulia menutup wajahnya yang merah sedangkan Tio malah terbahak melihat wajah istrinya yang tampak malu-malu.
"Astaga istriku imut sekali" batin Tio melebarkan senyumnya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung