The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 110 Kesabaran Keluarga Mafia



Happy reading 🤗


Maaf yah Guys up-nya cuman satu 🙏🙏🙏


.


.


.


.


.


.


Di rumah sakit terbaik nomor satu yaitu Mayo Clinic di Rochester Amerika serikat, seorang pria paruh baya dengan style formal kantoran, kini sudah bersiap-siap hendak menaiki helikopter Sikorsky S-92 karena dari semalam dirinya tidak pulang takut jika istrinya menghawatirkan dirinya oleh sebabnya hari ini ia akan pulang terlebih dulu.


Sebelum kembali ke kota Washington pria yang bernama Tuan Kalingga itu menempatkan empat anak buahnya untuk berjaga-jaga di depan ruangan Alexa karena dirinya akan kembali lagi setelah melihat kondisi putrinya di rumah sakit Washington.


Tepat jam 10 siang helikopter Sikorsky S-92 itu lepas landas di helipad milik rumah sakit Mayo Clinic.


Sedangkan di kota Washington keluarga Tuan Wijaya sudah berada di gerbang rumah Tuan Kalingga, seorang pria bertubuh tegap tinggi berjalan ke arah gerbang rumah.


"Anda mencari siapa? ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya penjaga gerbang rumah Tuan Kalingga menatap wajah kedua pria yang berdiri di hadapannya yang hanya di batasi oleh gerbang besi.


Hamas kemudian menjawab "Kami ingin bertemu dengan Tuan Kalingga, apakah beliau ada di dalam? katakan pada Tuan Kalingga kami adalah keluarga Alexa." Pria dengan setelan coklat itu berpikir sejenak tentang gadis bernama Alexa tak lama kemudian pria itu mengangguk kecil tanda bahwa ia mengingat sesuatu hal.


"Oh, saya ingat. Tapi sebelumnya maaf Tuan, Boss saya sedang keluar dan tidak ada di rumah saat ini" ujarnya pada Hamas dan Tuan Wijaya membuat kedua pria beda umur itu berdecit kesal.


"Baiklah, tidak masalah jika Tuan Kalingga berada di luar saat ini tapi bolehkah kami menunggunya di sini?" pinta Tuan Wijaya dengan tatapan memohon..., demi cucunya ia akan melakukan apapun sekalipun melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakoni termasuk memohon pada orang asing.


"Tidak apa-apa, akan saya beritahu jika Boss saya sudah datang nantinya" balasnya dengan senyum simpul nyaris tak terlihat.


"Terima kasih Tuan" penjaga gerbang itu mengangguk kecil lalu kemudian berjalan kembali menuju posnya. Tak sengaja mata Hamas menangkap sebuah bingkai twibbon berukuran besar dengan hiasan bunga serta pria dengan setelan jas rapi sesaat membuat Hamas terdiam, merenung.


"Bukankah di foto itu adalah Ronald, apa yang sebenarnya terjadi? apakah pria yang di ceritakan oleh kakek tentang pria yang menolong Alexa adalah Ronald?" batin Hamas dengan mata yang masih tertuju pada bingkai twibbon indah di dalam gerbang. Tuan Wijaya yang melihat cucu sulungnya terdiam menepuk pelan pundak cucunya.


"Ada apa? apa yang kau lihat Hamas?" tanya Tuan Wijaya mengikuti pandangan Hamas, Hamas pun beralih menatap pria di sampingnya tersenyum lirih lalu menggeleng pelan.


"Tidak. Tidak apa-apa kek" ujarnya lalu melenggang pergi menuju mobil Lexus LS berwarna silver. Hamas membuka pintu mobil bagian depan tepatnya di kursi penumpang sedangkan Tuan Farhan duduk di kursi kemudi. Azhar dan Tio duduk di jok kedua.


"Bagaimana apakah kita bisa bertemu dengan Tuan Kalingga?" tanya Tuan Farhan melirik putra sulungnya, Hamas hanya mendesah berat memijat pangkal hidungnya yang terasa penat.


"Tuan Kalingga tidak ada, beliau sedang keluar tapi sepertinya sebentar lagi akan datang" jawab Hamas dengan suara lirih menyandarkan kepalanya di sandaran jok.


"Putra Tuan Kalingga meninggal akibat menolong Alexa...," ungkap Hamas kemudian, terdiam sejenak lalu melanjutkan ucapannya.


"Hamas takut jika Tuan Kalingga memiliki niat buruk kepada Alexa... ini semua salah Hamas seandainya Hamas tidak egois dan keras kepala masalah ini tidak akan muncul Dad" Tuan Farhan melirik putranya lalu beralih menatap lurus ke depan.


"Hamas tidak akan pernah memaafkan diri Hamas jika terjadi sesuatu pada Alexa, bagaimana perasaan Uncle Alex dan aunty Amanda kasian mereka... mereka pasti sangat sedih sekarang" tuturnya lagi merasa bersalah. Tuan Farhan yang melihat anaknya sangat terpuruk menepuk pelan pundak Hamas.


"Kamu tidak salah son, adakalanya semuanya di luar kehendak kita apa yang terjadi saat ini sudah menjadi garis takdir kehidupan..., jangan salahkan dirimu. Tidak seharusnya Daddy memberikan tanggung jawab penuh kepada kalian berdua untuk menjaga Alexa. Jika Daddy memberikan keamanan yang ketat pada kalian mungkin masalah ini tidak akan terjadi." Jelas Tuan Farhan dengan bijaknya. Azhar, Tio dan Hamas hanya terdiam mendengar penuturan dari Tuan Farhan.


"Aku pikir Tuan Farhan akan memarahi Tuan muda Hamas rupanya tidak... benar-benar Daddy yang bijaksana" bisik Tio dalam hati menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis.


Sudah dua jam lamanya keluarga besar mafia itu masih tetap pada posisi mereka, masih di dalam mobil di depan kediaman Tuan Kalingga menunggu pemilik dari rumah klasik eropa namun terlihat modern. Bahkan Hamas dan Azhar sudah dua kali membeli minuman di minimarket terdekat namun Tuan Kalingga masih belum menampakkan batang hidungnya, sungguh hal itu benar-benar menguji kesabaran keluarga mafia itu.


"Bosan sekali lebih baik di Indonesia Dafa bisa main PS di rumah" celetuk Dafa dengan wajah di tekuk membuat semua atensi tertuju kearahnya.


"Kak Dafa benar, di apartemen kak Hamas tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial. Benar-benar membosankan ini lagi malah kita di kasih tontonan gosip yang tak bermutu mana bahasa Inggris semua mana ngerti!" gerutu Daffin mengeluarkan unek-unek di hatinya membuat semua di sana hampir saja tertawa lepas kecuali Shireen karena dirinya tidak mengerti bahasa Indonesia.


"Kalian berdua yang mau ikutan itulah resikonya" sahut Aulia menahan tawa.


"Emangnya kalian mau main apa sayang?" tanya Nyonya Mita ikut menimpali.


"Hmmm..., jalan-jalan atau main ke Timezone atau apalah" jawab Dafa acuh.


"Kita kesini kan bukan untuk jalan-jalan sayang tapi cari kak Alexa, nanti kalau Daddy dan lainnya sudah membawa pulang kak Alexa baru kita jalan-jalan yah" tutur Jons memberi pengertian.


"Iya Mom semoga kak Alexa cepat kembali supaya kita bisa balik ke Indonesia, rasanya Daffin tidak bisa jauh-jauh dari Indonesia..., mungkin karena hati Daffin sudah menyatu sama Indonesia jadi tidak terbiasa deh" keluh Daffin mendesah berat seakan memikul beban yang sangat berat hingga bernapas pun seakan sulit, membuat Jons dan lainnya terkekeh jenaka.


"Hahahaha kamu bisa aja Daffin" kata Laura dengan tawa terbahak-bahak melihat ekspresi lucu kedua putra raja Iblis.


"Sekalipun aku tidak mengerti apa yang mereka katakan tapi mereka sepertinya adalah keluarga yang bahagia" bisik Shireen dalam hati tersenyum lirih melihat pemandangan yang begitu adem di lihat.


Sedang di kediaman Tuan Kalingga, sudah tiga jam berlalu namun keluarga Mafia itu masih belum menyerah dengan tekad mereka untuk mendapatkan informasi mengenai Alexa hingga tak lama sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan gerbang dan dengan cepat pria yang tadi berbicara dengan Hamas berlari kecil menuju gerbang. Membuka gerbang yang menjulang tinggi itu lebar-lebar.


Yah mobil sedan hitam itu adalah milik Tuan Kalingga, melesat masuk ke dalam, dan gerbang tinggi itu kembali di tutup setelah bossnya masuk.


Saat sudah sampai di depan rumah, mobil yang di tumpangi Tuan Kalingga berhenti dan Tuan Kalingga pun turun.


"Maaf Boss ada tamu yang ingin bertemu dengan Boss" ujar pria yang membuka gerbang.


"Siapa?" tanya Tuan Kalingga dengan alis berkerut.


"Keluarga Nona Alexa Boss" jawabnya singkat.


"Persilahkan mereka masuk!" titahnya dan mendapat anggukan kepala dari anak buahnya. Tuan Kalingga kemudian melenggang masuk ke dalam rumah sedang penjaga gerbang kembali membuka gerbang mempersilahkan keluarga mafia untuk masuk.


"Silahkan masuk Tuan, Tuan Kalingga sudah menunggu di dalam"


"Terima kasih"


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung