
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Mobil tuan Farhan dan Vicky bersamaan datang di rumah sakit Alexa, sebenarnya Vicky ogah jika harus berobat di rumah sakit milik orang Indonesia apalagi pemiliknya adalah musuh tuan Kalingga namun ia tidak mungkin membiarkan nona mudanya bertemu tanpa pantauannya itulah sebabnya ia membuang rasa malunya hanya demi janjinya kepada tuan besarnya.
Tuan Farhan turun di ikuti yang lainnya sambil membantu Alex turun dari dalam mobil, tidak beda dengan Vicky, mereka melakukan hal yang sama tetapi Vicky turun sendiri tanpa bantuan anak buahnya karena ia masih kuat.
Peluru yang di tembak tuan Farhan mengenai lengan bawahnya, dan hanya memberikan rasa sakit sedikit apalagi ia masih muda dan terbilang cukup biasa dengan luka tembak apalagi luka pisau itulah sebabnya ia tidak butuh seseorang untuk membantunya.
Mereka berpapasan masuk ke lobi rumah sakit, tidak ada suara dari kedua kelompok tersebut hanya sapaan intimidasi dari kedua belah pihak.
"Dokter! Suster!" tuan Farhan berteriak dengan lantangnya bahkan tidak ada raut wajah ramah. Dingin, datar itulah yang tampak di wajah pria tua itu, Vicky melihat reaksi tuan Farhan bergidik ngeri ia jadi merinding takut.
Sedang dokter dan para suster berlarian dengan buru-buru kala mendengar teriakan dari boss besarnya, pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja.
"Maaf tuan, kami tidak tahu sehingga tidak menjemput anda" kata seorang dokter, sigap mereka menundukkan kepala memberikan hormat. Lagipula mereka tidak tahu jika hari ini pemilik rumah sakit akan datang, biasanya sudah di kabari sehingga mereka sudah bersiap untuk menyambut kedatangan boss besarnya itu.
"Adik saya terkena tembakan, tolong tangani dia dengan baik!" mereka mengangguk pelan, tidak berani menatap wajah tuan Farhan sebab pria itu masih bersikap dingin bahkan wajahnya saja benar-benar datar. Mereka kemudian membaringkan tubuh Alex di atas bangsal, begitupun dengan Vicky.
Tuan Farhan terus menatap datar Vicky, pria muda itu pura-pura tidak melihat, ia memejamkan mata sesaat karena pusing di kepalanya, mungkin karena terlalu banyak darah keluar hingga mengakibatkan kekurangan darah dan merasa pusing.
Kini masing-masing menunggu di ruang operasi, wajah tuan Farhan tetap menampilkan wajah kaku sebab para musuh berada di tempat yang sama dengannya, bagaimana tidak sama jika Vicky dan Alex berada di ruang operasi yang sama hanya sekat yang membatasi sebab semua ruangan terisi penuh.
"Abang, liat wajah Daddy sangat dingin aku tidak berani mendekat. Apakah tidak apa-apa?" tanya Fadel kepada Azhar. Pria gondrong itu tersenyum tipis.
"Biarkan saja, Daddy sedang tidak mood, kita tunggu sampai Mommy datang, hanya Mommy yang bisa menjadi penawarnya" balas Azhar dan di anggukin oleh dua saudara kembar. Tak berselang lama Jons dan lainnya datang dengan wajah panik.
"Prince, apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Di mana yang sakit?" secercah pertanyaan keluar dari mulut Jons, tuan Farhan langsung semringah, dan berdiri memeluk sang istri. Sementara para rival tuan Farhan melongo melihat perubahan drastis tuan Farhan.
"Apa yang terjadi dengan pria tua itu? Perubahan wajahnya sangat cepat, bukankah tadi masih terlihat datar" tutur anak buah Vicky, tiga pria itu saling melempar tatapan heran, sedang Fadel dan Fadil terkekeh pelan saat mendengar bisikan dari tiga pria tersebut.
"Tenang saja, aku tidak apa-apa, tapi Alex terkena tembakan jadi dia sedang di operasi, kita berdoa saja semoga dia baik-baik saja" jawab tuan Farhan melepas pelukannya.
"Astaga, tapi tidak parah kan?" tuan Farhan mengangguk dan mereka kemudian duduk di kursi di depan ruang operasi, sedang Amanda sudah ketar-ketir dengan keadaan suaminya.
"Nenek Amanda, yang sabar yah kakek Alex pasti tidak apa-apa" Amanda mengelus lembut kepala Aditya ia tersenyum.
"Iya sayang, makasih yah" Aditya membalas dengan senyum tipis. Ia kemudian menatap ke arah tiga pria di depannya. Ia kemudian datang menghampiri mereka, tidak tahu saja jika para lelaki tersebut adalah rival kakeknya.
"Hey paman, apa kalian sedang menunggu seseorang juga seperti kami?" Tiga pria itu saling menatap satu sama lain, mereka berpikir hanya anak itu yang baik hatinya karena masih bisa bertegur sapa yang jelas-jelas mereka bermusuhan.
"Apakah paman bisa berkelahi? Maksudnya apakah paman sangat jago bela diri?" tanyanya dengan menyilangkan kedua tangannya di atas perut, ia menatap seksama tiga pria di depannya bahkan begitu intens membuat pria dewasa itu menelan ludah sedikit gemetar.
"Bisa, memangnya kenapa?" mereka memberanikan diri bertanya, sementara pihak tuan Farhan dan lainnya hanya melihat Aditya yang berbicara dengan musuh.
"Aku mau menjadikan paman sebagai anak buah kakekku, agar jika ada perkelahian nanti kalian bisa menjaga kakekku, untuk bayaran tenang saja... Keluarga kami adalah orang yang paling kaya seantero dunia, yang penting kalian bisa pastikan bahwa tidak sedikitpun ada luka di tubuh kakekku, bagaimana? Untuk bayaran terserah kalian mau minta berapa" sungguh-sungguh cucu yang baik dan cerdas sampai membuat tuan Farhan keselek. Tuan Farhan terbatuk-batuk mendengar kebaikan cucu laki-lakinya itu. Sedang Azhar dan dua adiknya tidak kalah heboh, mereka ikutan terkejut dan melongo heran.
"Anak ini apakah tidak salah menyewa kami sebagai ajudan keluarganya? Yang ada kami dengan mudah membunuh keluarganya" tiga pria musuh membatin, mereka tak kalah kaget.
Aditya menatap heran orang-orang dewasa di sana, karena pandangan mereka terhadapnya sungguh berbeda, apalagi tuan Farhan yang sudah melotot ingin memakannya hidup-hidup.
"Kakek kenapa menatapku seperti itu? Apa di wajahku ada sesuatu yang membuat kakek tidak suka?" ia berjalan santai ke arah tuan Farhan. Pria paruh baya itu menarik pelan tangan Aditya dan men jewer telinganya.
"Awww, sakit kek!" teriaknya sambil berusaha melepas tangan tuan Farhan.
"Kamu ini yah! Entah kakek harus memujimu atau memberimu hukuman, asal kamu tahu mereka bertiga itu adalah musuh kita, mereka sudah menyerang kakek kamu bahkan menembak kakek Alex tahu"
"Apa!" Aditya membalikkan badannya dan menatap tajam tiga pria tersebut.
"Astaga, kenapa auranya begitu menyeramkan, entah aku yang penakut atau karena kekuatan anak ini yang lebih besar dariku... Menyeramkan sekali" bisik mereka ketakutan, mereka menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal, dan tersenyum masam.
"Bagus, jadi bagaimana kerja sama kita paman? Aku suka sama paman yang berani menyerang lawan tanpa ampun" tuan Farhan dan semua yang ada di sana melebarkan matanya, kenapa anak kecil itu malah mau memperkerjakan musuh yang hampir membunuh kakeknya seharusnya ia marah tetapi malah tidak sama sekali.
Sepertinya Aditya memiliki taktik sendiri, tidak ada yang tahu selain dirinya.
"Nona muda!" tiga pria itu belum menjawab ajakan Aditya, mereka tiba-tiba berdiri dan menyapa seseorang yang baru datang. Tuan Farhan dan lainnya langsung menatap ke samping dan benar saja dua wanita beda usia itu sudah berdiri di depan mereka.
"Putriku!"
"Mama"
Alexa melirik neneknya dan wanita tua itu mengangguk dan tersenyum hangat. Tanpa ba-bi-bu ia langsung berlari dan memeluk tubuh Amanda, keduanya menangis melepas rindu yang sudah terpendam lama.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung