The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 57 Dua D Bereaksi



Happy reading 🤗


Like dan Vote seninya dong kakak 😍😍😍


.


.


.


.


.


.


Hari itu tak sengaja dua D menguping di balik pintu kamar Aulia mereka mendengar semua apa yang di katakan Tuan Farhan pada kakak perempuannya itu, keduanya saling melirik kemudian mengangguk dengan senyum misterius. Mereka kemudian pergi dari sana sebelum Daddy mereka tahu. Bisa gawat jika raja Iblis itu tahu bisa-bisa diri mereka juga akan kena getahnya.


Turun ke lantai dasar menggunakan lift lalu berlari keluar tanpa berpamitan karena mereka sebenarnya sudah pamit saat Aulia berlari ke kamarnya. Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh Sandy anak Black Wolf.


Menetralkan degub jantung akibat berlarian lalu meraih ponsel yang ada di dalam tas.


"Aku akan menelpon abang Hamas dan abang Azhar, mereka harus membantu kak Lia kasihan kakak" tutur Daffin. Sandy melirik di balik spion bersamaan dengan itu Dafa meliriknya juga.


"Uncle, tidak boleh bilang pada Daddy kalau kami menelpon abang untuk membantu kak Lia! anggap saja Uncle sedang tuli sekarang... pura-pura tidak mendengar!" jelas Dafa tegas membuat Sandy menelan ludahnya kasar. Kepalanya mengangguk sebagai jawaban.


"Astaga, kenapa harus mendoakan aku untuk tuli, aku tidak mau harus tunarungu, itu menyakitkan" batin Sandy mendengus kesal dalam hati. Namun apalah daya dirinya hanya mampu mengiyakan tanpa membantah, bukankah perkataan majikan adalah perintah Tuhan.


Daffin mulai mengotak-atik ponsel miliknya yang bermerek Huawei Mate X2, yang memiliki layar ponsel berukuran luas yang dapat di lipat. Hingga sebuah kontak dengan nama abang Hamas tertera di layar ponselnya, ia dengan cepat menekan tombol layar memanggil.


"Halo abang!" seru Dafa dan Daffin bersamaan, di saat panggilan sudah terhubung. Sedang orang di sebrang tersenyum tipis baru kali ini dua adiknya menelponnya bukankah itu adalah sesuatu yang aneh.


"Tumben kalian berdua menelpon Abang, ada apa ini hmmm...? jangan bilang kalian berdua mau minta uang lagi yah?" tuding Hamas namun dengan kekehan kecil.


"Iiishh, tidak lucu tahu. Abang ini darurat abang harus menolong kak Lia, jika abang tidak menolong kak Lia secepatnya, Dafa tidak yakin jika kak Lia akan masih hidup besok!." Seru Dafa dengan suara besar. Membuat Hamas dan tentunya sopir yang di depan itu terkejut.


"Astaga, Tuan muda ini jika memberi kabar bikin jantungan saja, benar-benar informasi yang di lebih-lebihkan" bisik batin Sandy geleng-geleng kepala tidak percaya dengan kelakuan kedua Tuan muda kecilnya. Entah bagaimana reaksi Hamas mendengar berita tadi.


"Iya Abang, mungkin kita tidak bisa lihat kak Lia lagi di dunia ini" sambung Daffin, kedua wajah cecungut itu begitu sedih memikirkan kakak perempuannya yang seperti mayat hidup membuat takut saja.


"What! apakah kak Lia sedang sakit parah? coba ceritakan dengan jelas sebenarnya apa yang terjadi kenapa kalian bisa bilang kalau kak Lia akan mati besok! penyakit apa yang di derita oleh kak Lia hah!." Cercah Hamas dengan wajah khawatir. Ia baru saja selesai mandi dan saat keluar ponselnya berdering dan dengan cepat ia mengangkatnya karena itu dari adiknya. Di Washington hari sudah malam dan sekarang sudah menginjak pukul 20 : 23 hari minggu dan posisinya sekarang tengah berada di kediaman Tuan Smith atau di kenal Daddy Smith. Waktu Indonesia Jakarta lebih cepat 12 jam dari Washington. Itulah sebabnya di Indonesia sudah hari Senin sedang Washington baru hari minggu.


"Kak Lia seperti mayat hidup abang, kak Lia di paksa Daddy untuk menikah dengan laki-laki lain selain Uncle Tio... dan lebih parah lagi Uncle Tio sedang kritis di salah satu rumah sakit terbesar di negara..."


"Las Vegas" sambung Dafa dan Daffin mengangguk.


"What! Tio sedang kritis di Las Vegas. Jika tidak mendengar dari Tuan muda kecil aku pasti tidak mengetahuinya... kenapa tidak ada kabar sama sekali" gumam Sandy terkejut namun ia sebisa mungkin biasa saja karena kini dirinya tengah mengendarai mobil bersama anak Tuannya, bisa gawat jika terjadi apa-apa.


"Astaga, baiklah abang mengerti maksud kalian berdua. Terima kasih sudah memberi informasinya abang tutup dulu"


"Ehh jangan dulu Abang!!" seru keduanya membuat Hamas mengurung niatnya untuk memutus sambungan telepon.


"Ada apa?" tanyanya malas, ia sudah tahu kalau begini pasti ada imbalan yang harus di berikan.


"Jangan lupa tipsnya Abang." Ujar Dafa terkekeh kecil. Memang kedua cecungut itu sudah seperti para penjual informasi saja yang mana meminta bayaran setimpal, memang calon-calon Entrepreneur yang handal perlu di acungi jempol, kecil-kecil sudah berbisnis dan tidak di ragukan lagi kemampuannya seperti apa.


"Kalian ini yah, masih kecil sudah berani malak orang, berapa yang kalian butuhkan?" tanyanya memutar malas matanya, dugaannya tidak salah, entah belajar dari mana strategi seperti itu orang dewasa saja tidak terpikirkan.


"Awww" pekik kedua bocah raja Iblis.


"Ma-maaf Tuan muda, Uncle tidak sengaja" tuturnya membantu Dafa dan Daffin untuk duduk lalu meraih ponsel dan memberikannya pada Daffin.


"Tidak apa-apa Uncle, mumpung hati kami sedang baik" ketus Dafa menatap tajam ke arah Sandy membuat pria itu hanya menggaruk pipinya merasa bersalah.


"Untung saja masih tersambung" gumam Daffin.


"Abang akan mengirimnya besok, sudah dulu yah"


Tut tut tut tut


Tut tut tut tut


Sambungan telepon pun berakhir Daffin kembali memasukan ponsel miliknya ke dalam tas berwarna biru dengan gambar hello Kitty, lalu kembali duduk tegak sembari tersenyum sendiri membayangkan uang sepuluh juta masuk ke dalam rekeningnya membuat jiwa pengusahanya meronta-ronta.


"Hey, kau harus membagi rata" tukas Dafa dan Daffin mengangguk sebagai jawaban.


Di negara lain tepatnya di Mansion Tuan Smith Hamas buru-buru memakai pakaian casualnya celana jeans longgar dan baju kaos berwarna coklat. Ia lalu keluar mencari adiknya Azhar. Mereka harus membantu sang adik untuk keluar dari kekangan Daddy-nya. Satu-satunya cara yaitu membantu Tio untuk secepatnya sadar dengan begitu Tio bisa menggagalkan pernikahan Aulia karena perjodohan.


Berjalan menuju kamar sebelahnya karena kamar Azhar bertetangga dengannya namun saat membukanya tidak ada orang di sana membuatnya segera turun ke lantai satu. Dan benar saja mereka sudah berkumpul di meja makan dengan beberapa hidangan di atas meja.


"Ayo sini Hamas, tadi Alexa memanggilmu tapi kamu sedang mandi" tutur Tuan Smith. Hamas mengangguk lalu menjatuhkan bokongnya di atas kursi. Ruang makan berada di satu bilik tersendiri yang jika saat berada di sisi tangga bawah terakhir, dan memiringkan kepala sedikit ke arah kiri maka akan terlihat ruang makan.


"Oppa, aku dan Azhar akan ke Las Vegas" ujar Hamas membuat atensi di sana tertuju padanya.


"Untuk apa ke sana Hamas?" tanya Tuan Smith terkejut.


"Abang aku juga ikut" sahut Alexa.


"Kamu tidak bisa ikut karena ada yang mau abang selesaikan di sana." Jelas Hamas dengan tatapan tajam membuat Alexa mendengus kesal. Hamas lalu beralih pada pria paruh baya yang berumur kisaran 65 tahun.


"Lia di paksa menikah Oppa, sedangkan Uncle Tio tengah kritis di rumah sakit Las Vegas, entah rumah sakit di mana aku tidak tahu, dan Lia benar-benar terpuruk sekarang" jelasnya dengan wajah sedih. Semua di sana semakin terkejut.


"Semua akan ikut, Oppa akan menyiapkan jet ke Las Vegas"


"Tunggu abang dek, kami akan membantumu untuk bersama dengan Uncle Tio" batin Azhar dan Hamas.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung