The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 156 Booking Istri



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


"Sayang"


"Ayah!"


Aulia segera berjalan menghampiri sang suami dengan kondisi basah kuyup membuat wanita itu khawatir. Begitupun dengan Aditya dan Enzi. Kedua bocah tersebut selain memiliki ayah kandung mereka juga memiliki ayah kedua yaitu Tio.


Tio selalu memenuhi permintaan kedua bocah tersebut rasa sayangnya membuat Aditya dan Enzi merasa nyaman hingga sebutan ayah keluar begitu saja dari mulut mereka.


"Suamiku, apakah uang kita tidak cukup untuk membeli payung sampai kau harus basah kuyup seperti ini? apa kau tidak takut akan sakit hah?!" ketus Aulia dengan tatapan kesal pada suaminya. Tio terkekeh jenaka ia sudah tahu jika istrinya akan mengomelinya. Sebenarnya dimobilnya terdapat payung namun ia ingin sekali merasakan hujan seperti ia kecil dulu.


Rasanya ia bisa mengenang masa kecilnya kala hujan membasahi daksanya.


"Ayah, gendong" Enzi dan Aditya mengulurkan tangan dengan tatapan penuh harap.


"Ayah lagi basah, nanti setelah ayah berganti pakaian baru digendong yah" jawab Aulia membuat kedua anak tersebut mengurungkan niatnya, mereka tertunduk sedih. Tio segera melepas kemejanya dan membiarkan tubuhnya terekspos. Pria itu menatap istrinya dan menggeleng agar tidak boleh berbicara seperti itu kepada Aditya dan Enzi.


"Sini sayang, ayah kangen dengan kalian, apakah kalian tidak kangen hmmm ...?" kedua bocah itu segera berhambur ke perlukan Tio mereka memeluk pria itu erat seakan mendapat kehangatan pada pria yang dipanggil ayah oleh mereka.


Setitik air jatuh dari pelupuk mata tuan Farhan, melihat dua cucunya yang butuh pelukan.


"Kami kangen ayah, apakah ayah tidak membawakan sesuatu untuk kami?" tanya Aditya membuat Tio terkekeh.


"Maaf jagoan ayah, tadi hujan jadi ayah tidak membelikan kalian oleh-oleh ... tidak apa-apa kan?" kedua anak Hamas itu mengangguk mengerti.


"Adik, kalian ingin memeluk kakek bukan? kami sudah selesai memeluk kakek rasa rindu kami sudah terobati" mendengar perkataan Adnan membuat Aditya mencibir tidak suka.


"Tidak. Kami hanya ingin memeluk ayah Tio saja" jawabnya membuat Adnan dan Adrian sedikit kesal.


"Cucuku, tidak boleh iri satu sama lain. Kalian sebagai kakak harus berbagi kasih dengan adik-adik kalian, apa kalian tidak sayang sama mereka hmmm?" tuan Farhan berujar dan memberikan pengertian kepada kedua cucunya membuat mereka mengangguk dan tidak merengek seperti tadi.


Tak lama seorang pria dengan setelan formal datang menghampiri mereka, tas jinjing hitam itu tergenggam erat dalam genggaman tangannya, pakaian yang melekat ditubuhnya basah kuyup akibat serbuan hujan yang menyerbu bumi.


"Ayah!" seru kedua anak Hamas dan memohon turun dari pelukan Tio, kedua anak tersebut berlari ke arah sang ayah dan memeluknya erat.


"Ayah, jangan sampai masuk angin, ayo ganti bajunya" seru Aditya kepada ayahnya membuat orang-orang di sana tersentuh mendengarnya. Anak seumuran mereka sudah mengerti dan bahkan begitu perhatian terhadap ayahnya. Mungkin karena ketidakadaan seorang ibu juga istri bagi ayahnya hingga mengharuskan mereka untuk berpikir dewasa sekalipun umur mereka masih kecil.


"Iya sayang, ayah akan segera mengganti pakaian yang basah ini" jawabnya sambil mengacak-acak rambut putranya.


"Alangkah baiknya jika aku sudah menemukan Alexa, aku akan menikahkan mereka berdua ... aku tidak yakin dengan wanita lain mereka hanya mengincar kekayaan putraku" tuan Farhan berbisik dalam hati, menatap sendu wajah dua cucunya.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri" tolak Hamas, semenjak kepergian istrinya ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan sendiri sekalipun tidak sebaik dan serapi pekerjaan wanita. Terkadang pakaian kantornya ia sendiri yang menyetrika sesekali ibunya atau Amanda.


"Serius bang?" Aulia yang tidak yakin kembali bertanya padahal ia tahu bahwa abangnya sudah menjadi pria mandiri namun ia ingin mengisengi abangnya itu, kapan lagi jika bukan sekarang, semenjak dewasa mereka sudah jarang bersama karena mengurus keluarga juga pekerjaan masing-masing, tidak seleluasa saat mereka waktu kecil.


"Apa kamu menganggap aku begitu lemah? sampai menyiapkan air hangat saja tidak bisa" cibirnya dengan tatapan kesal membuat Aulia terkekeh dalam hati.


"Yee, siapa yang bilang kalau abang lemah, hmmm ... hanya saja bukankah abang adalah pria malas yah?" balas Aulia semakin menyulut api persaudaraan. Hamas menaikkan alisnya tinggi dengan sudut bibir terangkat ke atas.


"Ayah, walaupun pelkataan tante Lia benal, tapi ayah gak boleh malah yah, Enzi dengal dali kak Adlian kalau malah bisa cepat tua kalau ayah jadi tua, Enzi tidak bisa dapat ibu lagi" celetuk gadis dengan gaun berwarna pink. Semua orang menatap ke arah Enzi bahkan Hamas hampir saja tersedak akibat ucapan putri kecilnya.


Memang anak kecil selalu benar kalau sudah berbicara, entah itu mereka mengerti atau tidak. Hamas menepuk jidatnya gemas akan tingkah anak-anaknya itu.


"Apakah seperti ini rasanya mempunyai anak sepintar mereka, apa dulu Daddy sama mommy merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan sekarang?" batinnya. Tuan Farhan terkekeh jenaka ia sebagai seorang ayah sudah pernah merasakan bagaimana menghadapi anak-anaknya yang memiliki kepintaran di atas rata-rata.


"Sepertinya mereka ingin sekali punya seorang ibu, apa kamu tidak mau menikah lagi?" kali ini Tio bersuara, Hamas yang menjadi objek yang ditanya hanya mendesah berat.


Begitu banyak para wanita yang mengantri di belakangnya untuk menikah dengannya namun ia belum memikirkan tentang pernikahan, bukan tidak ingin menikah namun, sulit untuk membuka hati kembali kala bayang-bayang istrinya yang jatuh dari tangga belum bisa ia lupakan, terutama ia adalah seorang duda anak dua. Wanita mana yang serius mencintainya juga anak-anaknya? ia harus mempertimbangkan segala aspeknya sebelum menikah, takut jika anak-anaknya tidak bahagia nantinya.


"Untuk saat ini, aku ingin fokus menjaga anak-anak, lagipula sulit mencari seseorang yang sesuai dengan selera anak-anak, aku tidak bisa memikirkan diriku saja" jawab Hamas masih berdiri dengan dua putra-putrinya berdiri di sampingnya.


"Tenang saja ayah, aku sama adik Enzi sudah menemukan calon istri buat ayah, aku yakin ayah tidak akan menolaknya" Aditya menyahuti perkataan sang ayah membuat Hamas melotot lebar.


"Anak kecil mengerti apa tentang urusan orang dewasa!" ujar Hamas.


"Hmmm, umurku memang masih kecil tapi pikiranku sudah dewasa, aku mengerti maksud ayah. Sudahlah intinya aku sudah menetapkan calon istri buat ayah!" tegas Aditya membuat semua di sana terkekeh kecuali Hamas yang hanya memijat pelipisnya, menghadapi putra kecilnya mampu membuatnya bungkam.


"Hamas, pergilah untuk ganti pakaianmu jangan sampai masuk angin!" seru tuan Farhan. Hamas mengangguk mengerti ia lantas berjalan menuju lift.


Sedang Aditya berjalan menuju kakeknya ia menarik baju sang kakek, tuan Farhan yang mengerti maksud cucunya segera berjongkok di samping Aditya.


"Kek, cepat temukan tante Alexa. Aku membooking tante Alexa untuk menjadi istri ayahku ingat yah tidak ada yang boleh mengambilnya selain aku!" bisik Aditya. Tuan Farhan meneguk air liurnya sambil menggeleng pelan.


"Sungguh terbuat dari apa otaknya sampai bisa berpikir begitu dewasa?"


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung