The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 121 Tamparan Dari Anak Kecil



Happy reading guys ☺️☺️


.


.


.


.


.


.


.


Empat buah motor Tracker sudah di keluarkan oleh para pekerja di bengkel Mantap Jaya, sedang empat gadis remaja SMA itu melebarkan matanya saat melihat motor sportnya berubah drastis dan itu benar-benar di luar dugaan mereka, motor sport mereka berubah menjadi lebih modern dan terlihat baru.


Motor yang tadinya bermerek Yamaha Xabre kini berubah menjadi motor Tracker modern. Empat gadis remaja itu mendekati motor mereka yang sudah di modifikasi sedemikian rupa, menatap dengan cermat alat-alat motor yang sepertinya di ganti dengan yang baru.


Pelek motor yang tadinya berwarna hitam kini di cat dengan warna emas juga berwarna silver. Empat gadis remaja itu juga menyentuh rem motor yang baru di modifikasi dan mereka tahu jika remnya di ganti sesuai dengan harapannya yaitu menggunakan Brembo baik kaliper depan dan belakang.


Mata gadis berambut pirang itu menatap bagian knalpot motornya ia begitu tercengang, rupanya ada begitu banyak yang di ganti dan itu sangat keren menurutnya, knalpot motor sportnya di ganti menggunakan knalpot racing dengan model under belly.


"Wow, perpaduan antar hitam dan emas, sangat sempurna..., benar-benar puas aku melihatnya pantas saja harganya sangat tinggi rupanya ada beberapa bagian yang di ganti. Tidak salah aku memodifikasi motorku di sini" batin gadis berambut pirang dengan senyum tipis nyaris tak terlihat.


Sedang Andre yang melihat kepuasan dari empat gadis yang meneriakinya tersenyum mengejek. "Heh! dasar cewek matre!" gumam Andre pelan.


Sedang tiga orang temannya tak jauh berbeda mereka juga sangat terkejut pasalnya mereka menyukai warna motor yang baru di modifikasi itu, perpaduan hitam dan silver tak kalah indah dari warna hitam dan emas.


"Bagiamana apa kalian puas dengan hasilnya?" tanya pak Mamat. Ke empat gadis remaja itu berdehem pelan, cepat-cepat merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saja.


"Ekheem, emmm. Cukup bagus jadi berapa harganya?" tanya gadis yang mempunyai bodi langsing itu.


"Harga per motornya adalah satu juta rupiah karena ada empat motor maka totalnya sebanyak empat juta rupiah" kali ini Hara yang menjawab karena dirinya bertugas untuk mencatat harga dari setiap barang yang di pakai.


"Baik, tunggu sebentar kami akan mengambil uang kami di dalam mobil" izin mereka berempat kemudian berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari bengkel Mantap Jaya. Setelah mengambil tas yang berisi uang mereka kemudian kembali berjalan menuju bengkel Mantap Jaya.


"Ini uangnya, di hitung dulu" tutur salah satu gadis remaja. Hara yang menerimanya melihat sekilas isi tas tersebut tersenyum lebar sesaat dan kembali mengubah ekspresi menjadi biasa saja.


"Tidak perlu, saya percaya anda tidak mungkin menipu kami..., uang ini saya terima dan terima kasih sudah menjadi konsumen kami. Saya harap anda semuanya puas dengan kinerja kami" tutur Hara sopan, mengulurkan tangannya di depan empat gadis remaja. Mereka yang paham pun langsung menjabat tangan Hara sebagai bentuk profesionalitas seorang konsumen dan produser.


"Hmmm,. Bisakah saya meminta nomor kakak?" tanya salah seorang gadis berambut gondrong, Hara yang di tanya seperti itu menaikkan sebelah alisnya heran.


"Untuk apa?" tanya Hara balik membuat gadis gondrong itu tersenyum malu-malu.


"Emmm, tidak jadi" ujarnya cepat dengan wajah yang sudah merah padam. "Ayo kita pergi!" sambungnya lagi mengajak teman-temannya. Gadis yang meminta nomor Hara segera menaiki motornya dan melesat pergi meninggalkan bengkel Mantap Jaya. Sepertinya gadis remaja itu sedang malu karena dirinya yang berterus terang meminta nomor pria yang baru di kenalnya sangat tidak sopan dan itu membuat harga dirinya seperti di injak-injak oleh Hara.


Sedang ke tiga temannya hanya geleng-geleng kepala sembari terkekeh kecil.


"Kalau begitu kami pamit dulu" Hara mengangguk pelan, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya, setelah tak melihat bayangan ke-tiga gadis remaja sekolah pria itupun bergegas masuk ke dalam bengkel.


Sedang pasangan suami-istri di lantai dua, mereka baru saja menyelesaikan pertempuran nikmat yang membuat basah sekujur tubuh, sang wanita terkulai lemas di pelukan suaminya.


"Sayang, Lia pengen makan rujak anggur, tadi saat kita bermain Lia teringat akan buah itu jika di makan dengan bumbu rujak pedas..., aaah itu pasti nikmat sekali" celetuk Aulia memainkan jari-jari tangannya di dada bidang Tio. Menggambar sesuatu yang abstrak yang dirinya pun tak mengerti apa artinya itu.


Tio mengerutkan keningnya ini baru pertama kali dirinya mendengar rujak anggur, apakah dirinya minim informasi atau memang karena istrinya itu sedang berhalusinasi tentang rujak buah.


"Emang ada yah sayang rujak anggur?" tanya Tio dengan tampang bingung, Aulia mendongak ke atas menatap wajah suaminya dengan tatapan datar.


"Untung saja aku cepat menutupnya kalau tidak pasti akan jatuh di badan aku..., anak ini benar-benar dah" bisik Tio dalam hatinya.


"Sepertinya dia sangat menginginkannya karena aku adalah pria baik hati maka aku akan mencarinya dengan sepenuh hati" sambungnya lagi dalam benaknya.


"Ya sudah Uncle mandi dulu, setelah itu Uncle akan pergi mencarinya" tutur Tio membuat wanita di pelukannya tersenyum lebar.


"Terima kasih Uncle, l love you so much" pekik Aulia gembira membuat Tio ikut senang. Pria itu kemudian mengambil handuk lalu melingkarinya ke pinggangnya menutup aset yang ia jaga untuk istrinya seorang.


Tio melangkahkan kakinya menuju kamar mandi sedang Aulia turun dari atas kasur dengan tubuh tanpa busana, ia berjalan mengambil baju mandinya lalu memakainya setelah mendapatkannya.


Dua puluh menit berlalu terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, terlihat seorang pria dengan tubuh atletis kotak-kotak indah tercekat jelas di perut rata Tio Aulia yang melihat itu tersenyum malu-malu. Padahal dirinya sudah melihat puluhan kali namun entah kenapa masih ada rasa canggung jika melihat roti sobek suaminya. Andai itu roti yang dapat di makan mungkin Aulia tidak membutuhkan roti toko lagi melainkan setiap hari akan melahap roti milik suaminya.


"Hmmm, Lia bukan zombie yang harus makan manusia kan" bisik Aulia merinding merasa konyol dengan fantasinya sendiri.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Tio tak sengaja melihat wajah Aulia yang ingin muntah.


"Ti-tidak apa-apa heheheh, itu pakaian untuk uncle, Lia mandi dulu" jawab Aulia sembari menunjuk setelan pakaian kasual di atas kasur.


"Terima kasih" kata Tio tersenyum. Aulia hanya mengangguk kecil ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penuh dengan bekas air liur suaminya.


Di kediaman Tuan Wijaya yaitu di Mansion Utama, sudah berkumpul keluarga dari berbagai negara di meja makan. Ada Tuan Smith, Tuan Zeus dan ponakan serta anaknya juga ada Ayu dan keluarganya. Mereka sudah duduk santai di kursi masing-masing. Tuan Wijaya sudah mengganti meja makan yang lebih besar serta penambahan jumlah kursi di ruang makan.


Seperti biasa roti sandwich, spaghetti, nasi goreng sudah tersedia di atas meja dengan susu kambing sebagai pelengkapnya. Saat ingin menyantap makanan Aisyah Putri Ayu dan Reyhan itu bersuara.


"Apakah kita tidak berdoa? bunda selalu mengajarkan untuk selalu berdoa sebelum makan" Semua orang yang ada di meja makan hening mereka saling menatap satu sama lain, pasalnya mereka makan hanya makan tanpa ritual doa terlebih dulu.


Ayu dan Reyhan hanya menampilkan cengiran kuda.


"Kami tidak pernah berdoa kalau makan, kalau makan yah makan saja, kami tidak pernah di ajari cara berdoa dan apa itu?" ungkap Daffin membuat semua di sana terpaku. Merasa di tampar dengan kalimat anak kecil membuat semua di sana menahan malu.


"Berdoa itu adalah salah satu bentuk syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan karena sudah memberikan kita apa yang ada di meja ini dan yang kita miliki saat ini" kali ini Ryan yang menjelaskan membuat Dafa dan Daffin mengangguk mengerti. Sedang orang dewasa di meja makan semakin sulit menelan ludah mereka merasa malu dengan dua anak kecil yang begitu mulia.


"Ooh seperti itu" kata Dafa dan Daffin bersamaan.


"Hmmm, Ryan bisakah kamu memimpin doa makan?" tanya Tuan Farhan pelan.


"Apakah paman juga tidak bisa berdoa? padahal doanya pendek aku saja bisa menghafalnya sejak umur satu tahun lho" jawab Ryan membuat Tuan Farhan malu. Melihat situasi yang terasa canggung Ayu pun berbisik di telinga kedua anaknya untuk tidak berkata-kata lagi.


"Apakah aku di kalahkan oleh dua kerucil dari si pebinor itu? hmmm, oh tentu saja tidak" gumam Tuan Farhan dalam hatinya. Jons melihat wajah merah suaminya tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Rupanya raja Iblis itu masih belum melupakan panggilan untuk adik iparnya yaitu pebinor perebut bini orang.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung