
Happy reading 🤗
Maaf Guys baru bisa up soalnya baru sembuh dari sakit
.
.
.
.
.
.
.
Kini rombongan Tuan Wijaya sudah berada di luar gerbang Apartemen Hamas, dari dalam seorang satpam datang menghampiri mereka, pria yang tingginya 189 cm meter itu menatap Tuan Wijaya dan lainnya kemudian membuka suara.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya, ada yang bisa saya bantu?". Tanyanya sopan namun masih dengan gerbang terkunci.
"Saya adalah kakek pemilik Apartemen itu, dan kami datang dari Indonesia ingin bertemu dengan Hamas” jawab Tuan Wijaya sembari menunjuk bangunan didepannya. Setelah mengetahui bahwa orang yang berbicara dengannya adalah keluarga Hamas, pria asal Amerika itu segera membukakan gerbang untuk Tuan Wijaya dan rombongannya.
“Maafkan saya Tuan, Nyonya tidak mengenali anda sebelumnya. Ayo silahkan masuk!” ujarnya dengan kepala menunduk hormat pria itu kemudian mempersilahkan keluarga mafia itu masuk.
“No problem” balas Nyonya Mita tersenyum ramah.
“Terima kasih, kami masuk dulu pak” kini Tuan Smith yang bersuara dan pak satpam itu hanya mengangguk pelan seraya menutup kembali gerbang besi yang menjulang tinggi.
Kini rombongan Tuan Wijaya sudah di depan pintu Apartemen, Tuan Wijaya kemudian memencet bel rumah namun tidak ada respon membuat pria paruh baya itu kembali mengangkat tangannya, namun saat hendak menekan bel seseorang dari dalam membuka pintu. Seorang bocah kecil dengan model rambut side part itu tersenyum kepada mereka yang tengah melongo dengan mulut ternganga lebar, andai ada segerombolan nyamuk yang melintasi mulut mereka yang terbuka itu mungkin rombongan nyamuk akan singgah dan bersarang di sana karena di pikir itu adalah sebuah gua.
“Daffin!” pekik mereka dengan suara melengking membuat Daffin menutup telinganya.
“Kamu sama siapa ke sini? dan dari kapan sayang?”. Tanya nyonya Mita dengan tatapan curiga. Wanita paruh baya itu sudah tahu kalau putranya itu pasti telah mendengar kabar mengenai ponakannya yang mendapat musibah di kota Washington.
“Iya sayang kamu dari kapan di sini?” kali ini Tuan Wijaya ikut bertanya, memicing matanya dengan dua alisnya mengkerut saat melihat cekikikan dari cucunya itu. Daffin melangkahkan kakinya menuju Tuan Wijaya, bocah kecil raja Iblis mencium tangan Kakek dan neneknya serta yang lainnya.
“Heheheh, Daddy kan banyak antena kakek, nenek, jadi Daddy tidak mungkin ketinggalan informasi, oh iya kak Lia dan Uncle Tio juga ikut lho” jawab Daffin dengan senyum mengembang.
“Sudah ku duga” tutur mereka menggeleng kepalanya pelan. Sudah tidak di ragukan lagi tentang keahlian Tuan Farhan yang sangat cepat informasinya melebihi mereka.
Mereka kemudian masuk ke dalam mengikuti langkah Daffin menuju ke sebuah ruangan yang dekat dengan dapur, terdengar suara denting sendok yang saling bersahutan, Daffin semakin mempercepat langkahnya begitupun dengan orang-orang di belakang.
"Daddy! Mommy! lihat siapa yang datang?" teriak Daffin dengan senyum lebar Tuan Farhan dan Jons pun melirik ke sumber suara, mereka hanya menampilkan wajah biasa karena mereka sudah tahu kalau Tuan Wijaya dan Nyonya Mita sudah berangkat lebih dulu.
"Pa, Ma, ayo sarapan dulu" ajak Jons menghampiri kedua mertuanya menyalami kedua tangan ketua mafia juga wakil mafia itu. Lalu kemudian beralih menyalami tangan Tuan Smith pria yang menjadi gurunya saat pelatihan menjadi anggota Mafia.
"Papa sama Mama sudah sarapan di rumah Smith sayang" jawab Tuan Wijaya. Jons mengangguk mengerti.
"Dafa, Daffin, Aulia, Hamas, Azhar! Salim sama kakek dan nenek, salim sama oppa juga!" titah Jons menatap ke lima anaknya.
"Daffin sudah Mommy" jawab Daffin sembari mengunyah makanan di mulutnya. Dafa, Aulia, Hamas dan Azhar kemudian berdiri mereka mencium satu persatu tangan Tuan Wijaya sampai dengan Laura. Tuan Farhan kemudian buru-buru menyelesaikan sarapannya ia lalu beranjak dari duduknya berjalan menghampiri kedua orang tuanya. Sedang Jons memeluk tubuh sahabatnya memberikan kekuatan kepada Amanda teman seperjuangannya.
"Terima kasih banyak Jons" jawab Amanda begitu terharu memiliki sahabat juga keluarga seperti Tuan Wijaya yang tidak pernah memandang rendah dirinya sebagai seorang bawahan.
Tuan Farhan mengajak orang tuanya juga yang lainnya untuk duduk di sofa keluarga, karena mereka akan membahas serius masalah Alexa. Kini semuanya sudah berkumpul termasuk dengan Shireen, gadis asal Belanda itu hanya duduk diam di samping Aulia sembari mengamati keluarga besar dari kekasihnya yaitu Hamas.
"Keluarga kaya yang sangat terhormat" batin Shireen menelan ludahnya kasar, seketika nyalinya menciut berada di antara kerumunan keluarga besar Mafia itu. Aulia yang melihat bahwa Shireen tidak baik-baik saja segera menggenggam jemari tangannya membuat Shireen menatap pada Aulia.
"Tidak apa-apa, santai saja mereka semua adalah orang-orang baik" bisik Aulia membuat Shireen tersenyum dan berusaha untuk tetap santai walau kini jantungnya seperti sedang maraton.
"Farhan! apakah kamu tahu jika Alexa menghilang?" tanya Tuan Wijaya membuka percakapan membuat atensi yang ada di sana terkejut terutama Hamas dan Azhar.
"Maksud Kakek apa? Alexa kenapa kek?" tanya Hamas dengan wajah serius. Tuan Farhan hanya menatap datar reaksi sang putra ia tersenyum jengkel. Tuan Wijaya menarik napas panjang sebelum menjelaskan masalah sebenarnya. Sedangkan Jons kembali memeluk tubuh Amanda yang terlihat gemetar akibat menahan tangis.
"Alexa di culik dan Alhamdulillah dia di selamatkan oleh salah satu pria tapi sayang pria itu meninggal karena terkena tembakan demi melindungi Alexa" jelas Tuan Wijaya membuat semua di sana kembali terkejut terutama Hamas, putra sulung raja Iblis mengepalkan tangannya kuat menggertak giginya menahan amarah pada diri sendiri.
"Lalu bagaimana keadaan Alexa Kakek?" Kini Azhar ikut bertanya. Lagi-lagi membuat Tuan Wijaya mendesah berat.
"Alexa di penjara karena hampir membunuh putri Tuan Kalingga namun tak lama kemudian Alexa di bawa ke rumah sakit karena mendapat siksaan di penjara..." Tuan Wijaya menundukkan kepalanya memijat pelipisnya yang terasa pusing.
"Jelaskan secara detail kakek jangan membuat Hamas penasaran" ucap Hamas dengan wajah penuh amarah, terlihat kilatan marah yang di pancarkan dari matanya.
"Sial! kemana saja kamu Hamas!" batinnya marah.
"Sekarang Alexa menghilang, Kakek sudah berusaha mencarinya bahkan di CCTV pun tidak ada, sekarang kakek akan menuju ke kediaman Tuan Kalingga untuk bertanya padanya" jawab Tuan Wijaya membuat Hamas benar-benar geram.
"Aaaakkkh!! kenapa kalian tidak memberitahuku dari awal!!" teriak Hamas kesal membuat Tuan Farhan menatapnya tajam.
"Pelankan suaramu Hamas!! jangan melempar kesalahanmu pada orang lain! sudah Daddy katakan untuk menjaga baik-baik adik kamu tapi apa? kamu malah membiarkan dia keluar dari Apartemen ini". Jelas Tuan Farhan dengan wajah tanpa ekspresi.
"Lebih baik kita ke rumah Tuan Kalingga sekarang untuk memastikan keberadaan Alexa... tidak ada gunanya untuk saling menyalahkan" sahut Tuan Smith membuat semua di sana mengangguk setuju.
"Kalian para wanita tetap di sini biar kami yang laki-laki pergi ke kediaman Tuan Kalingga" jelas Tuan Wijaya.
Beberapa pria dewasa segera keluar dari apartemen menuju kediaman Tuan Kalingga sedangkan para wanita menetap di Apartemen, Amanda masih memeluk tubuh Jons menenggelamkan kepalanya di leher temannya itu.
"Tante yang sabar yah, Lia yakin Daddy, Kakek dan Uncle pasti bisa menemukan Alexa" ucap Aulia memeluk tubuh Amanda dan ibu anak satu itu hanya bergumam lirih.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung