
Happy reading 🤗 Beri vote nya yah 🤗❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Di Markas Lowkey Pro dengan gambar burung hantu di dinding luar. Bangunan tua yang awalnya begitu kotor dan kumuh bahkan sudah di tumbuhi tumbuhan menjalar di dindingnya. Juga banyak sekali sarang laba-laba juga lawa di atas plafon. Namun sekarang sudah tidak kotor lagi karena sekumpulan anak muda sudah menjadikannya tempat markasnya.
Di ruang tengah tempat tongkrongan anak Lowkey Pro sudah ada lima orang anak muda dan uniknya dari lima orang tersebut cuma satu anak perempuan. Semuanya sudah duduk di sofa ruang tongkrongan. Sebenarnya saat mereka menempati bangunan tua itu tidak ada barang-barang tertinggal semuanya nampak kosong. Dan fasilitas yang mereka gunakan sekarang adalah hasil jerih payah mereka.
Uang yang mereka dapatkan adalah hasil dari balap motor itulah kenapa banyak alat-alat rumah di sana. Bahkan di bangunan tersebut bukanlah seperti Markas pada umumnya mereka memodifikasi sedemikian rupa, ada tempat fitness, dapur, ruang tongkrongan, dan dua buah kamar juga basemen.
"Bang, Lia akan membuka bengkel tapi Lia butuh beberapa tenaga kerja untuk membantu Lia" tutur gadis cantik yang menggunakan Hoodie sweater berwarna tosca.
"Kamu tidak kuliah? kenapa harus bersusah payah untuk membuka bengkel segala... kamu kan bisa bekerja di perusahaan Daddy kamu" jawab Andre menaikkan sebelah alisnya heran. Kenapa orang kaya tidak suka sesuatu yang instan?.
"Lia tidak mau kuliah, rasanya tidak ada kehidupan di kampus sekalipun banyak mahasiswanya tapi rasanya Lia tetap sendiri. Lebih baik membuka bisnis bengkel, itu lebih baik daripada kuliah..." jawabnya mendesah berat. Menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
Empat pria sahabat Aulia terkekeh jenaka.
"Jangan samakan SMA kamu sama kampus. Bisa jadi di kampus kamu mendapat banyak teman, kita kan gak tahu setiap perubahan dalam harinya." Sahut Gilang.
"Jika itu sudah menjadi keputusanmu, abang dukung kamu apapun yang membuatmu senang, abang ikut senang juga... btw abang punya kenalan yang bisa jadi montir di bengkel kamu orangnya jangan di ragukan, kemampuannya sangat pintar. Bahkan bisa memodifikasi mobil dan motor lebih menarik..." jelas Hara menatap wajah oval wanita di depannya.
"Aku juga setuju kalau Lia membuka bengkel. Kita kan belum punya pekerjaan tetap nih akan lebih baik jika kita bekerja di bengkel milik Lia... sekalipun belum mengerti tentang mekanik tapi kita bisa minta di ajari oleh montir yang di sebut bang Hara." Timpal Yogi dengan senyum di bibirnya. Aulia merubah posisinya menjadi tegak menatap ke arah Yogi.
"Itu ide bagus. Bagaimana yang lainnya? kalian setuju kan jadi karyawannya Lia?" tanyanya dengan senyum mengembang. "Tenang saja sekalipun Lia adalah Bossnya tapi derajat abang-abang masih tinggi kok dari Lia. Hehehehe" sambungnya lagi terkekeh kecil. Dan keempat pria itu hanya mencebik kesal.
"Baiklah, tapi gajinya harus besar yah" tutur Andre menaik turunkan alisnya menggoda Aulia.
"Yupps, aku setuju banget dengan Andre. Gajinya harus besar secara kita kan adalah karyawan pilihan... anggap saja gaji persahabatan" timpal Gilang terkikik geli melihat wajah datar Aulia.
"Itu sih bisa saja, tapi Lia harus lihat dong kualitas kinerja abang, juga penghasilannya berapa yang di dapat per hari.. jika lumayan maka Lia akan memberikan bonus kepada abang. Dan bonusnya pasti berbeda, jika ada di antara abang yang kerjanya tidak bagus maka Lia akan memberikan bonus sesuai kinerjanya." Jelas Aulia bersedekap dada membuat Gilang dan Andre mengerucutkan bibirnya kesal.
Sedang Hara dan Yogi tertawa terbahak-bahak. "Seharusnya kalau harga sahabat tidak perlu di gaji, bukankah sahabat yang baik tidak akan meminta imbalan sepersepun" timpal Hara.
"Benar tuh bang" Yogi ikut menyuarakan. Membuat Gilang dan Andre menatap jengah dua pria di sampingnya.
"Gadis kita ini kan anak konglomerat nomor satu sedunia jadi tidak apakan jika kita memalaknya sedikit, tapi malaknya dengan cara yang halal" kata Andre membela diri.
"Sepakat banget. Kita malaknya tuh dengan cara bekerja di bengkel milik Lia namun gajinya harus besar kalaupun bangkrut, bisa minta dana lagi kan pada Tuan Farhan. Hehehe" ujar Gilang ikut memprovokasi. Aulia mendengar itu memijat pangkal hidungnya belum memulai bisnis sudah bangkrut duluan.
"Hahahaha, anak orang kaya rupanya perhitungan juga hmmm..." ucap Gilang.
"Sudah, sudah. By the way Lia, kamu mau ikutan balap motor kan? biar sekarang abang daftarin kamu, soalnya balap motor nanti di adakan jam 12 malam" tutur Yogi membuat atensi di sana mengarah pada Aulia. Gadis itu mengangguk sebagai jawaban. Hari ini Aulia akan balap motor sudah sangat lama tidak melakukan kegiatan yang menyenangkan hati.
"Kamu mau balapan motor? apa tidak takut ketahuan Daddy kamu?" tanya Hara khawatir. Pasalnya ia sudah di berikan beban tanggung jawab oleh Tuan Farhan untuk tidak memperbolehkan putrinya melakukan hal-hal ekstrim.
"Yang penting jangan di antara kalian membeberkan masalah balap motor... maka Daddyku tidak akan mengetahuinya" jawab Aulia acuh. Namun tidak untuk Hara, jika terdapat goresan kecil saja di tubuh Aulia maka pasti ia yang akan di adili oleh raja Iblis. Menakutkan!.
"Lebih baik kamu tidak usah ikut, bagaimana jika kamu terluka abang takut Daddy kamu tidak akan tinggal diam dan pastinya Markas kita ini akan di hancurkan oleh Daddy kamu" kali ini Gilang menimpali. Ia tak sengaja melihat kekhawatiran di wajah Hara oleh sebabnya ia membantu membujuk Aulia siapa tahu bisa di dengar oleh gadis keras kepala itu.
"Astaga! abang seperti tidak tahu kemampuan Lia saja. Lia sudah beberapa kali ikut balapan namun tidak terjadi apa-apa... so santai saja Lia pasti akan menang" jawabnya tersenyum tipis.
"Lokasi balapnya di mana Yog?" tanya Andre dan Hara.
"Di jalan Asia Afrika Selatan, tanah abang" jawabnya singkat. Membuat mereka mengangguk mengerti. Namun tidak untuk Hara, pria itu mendesah berat ia tidak bisa menghentikan Aulia sekarang. Karena itu adalah hobinya tidak ada yang bisa melarang hobi seseorang, itu sebabnya Hara hanya bisa pasrah. Berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada Aulia.
Tak lama Yogi berdiri dari duduknya. Merapikan baju kemeja hitam juga celana jeans abu-abu. "Kalau begitu aku mandi dulu." Pria itu segera berjalan menuju kamar belakang.
"Kamu harus menjaga diri kamu baik-baik, abang akan memasak untuk makan malam." Tutur Hara beranjak dari duduknya berjalan menuju dapur. Yah sekarang ini hari sudah malam waktu menunjukan pukul 20 : 10.
Sedang di Mansion Utama, keluarga Tuan Wijaya dan lainnya sudah berkumpul di meja makan. Tuan Farhan yang tak melihat putrinya segera membuka suara. "Di mana Aulia? kenapa tidak ikut makan?" Jons dan Tuan Mita saling melirik, mereka mendadak kaku mendengar pertanyaan Tuan Farhan.
Karena tidak mendapat jawaban, Tuan Farhan melirik istrinya. "Ara, di mana putri kita?" Jons gelagapan ia bingung harus menjawab apa. Ia sudah berjanji untuk menjaga rahasia putrinya jika ia akan bermalam di Markas Lowkey Pro... sebenarnya Jons sudah memperingatkannya bahwa untuk meminta izin pada Tuan Farhan namun keras kepala putrinya membuatnya tidak bisa apa-apa.
"Astaga, bagaimana ini?" batin Jons.
"Jawab yang jujur! apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui?" kali ini intonasi raja Iblis terdengar tegas.
"Lia sudah tidur di kamarnya, dia bilang badannya kurang sehat" jawab Nyonya Mita memberi alasan. Mendengar jawaban dari ibunya Tuan Farhan mengangguk mengerti. Ia kemudian melanjutkan makannya tanpa berbicara lagi.
"Syukurlah dia tidak bertanya lagi, jika sampai ketahuan habis sudah". Tutur Jons dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung