
Happy reading 😘
Like dan vote seninya kakak 🙏🤗
.
.
.
.
.
.
.
DOR
Satu tembakan mengenai lengan atas Tio membuatnya terjatuh ke lantai dengan darah menetes keluar. Anggota Black Wolf dan Azteca langsung menyerang sekelompok orang-orang bejat tanpa ampun.
"****!" umpatnya menahan rasa nyeri. Berdiri dari lantai menatap musuh nyalang.
"Heh! belum mati juga nih orang" tutur salah satu ketua dari Red Ghost. Mereka adalah organisasi yang bekerja sama dengan Rina X memperdagangkan manusia untuk kepentingan pribadi.
Tio berlari ke arah ketua musuh memberikan tendangan lurus ke depan namun pria kekar itu menghindar dan memberikan tinjunya di bagian perut Tio. Sedikit meringis namun tak membuatnya mundur.
BUGH
Tio membalas bogeman di rahang musuh membuatnya terjungkal ke belakang tak sampai di situ Tio memberikan tendangan belakang dan tendangan lurus membuat pria itu tersungkur jatuh dengan darah keluar dari mulut dan hidungnya.
"Heh! sudah melukaiku maka jangan harap bisa hidup..." bisiknya pelan dengan smirk aneh. Mengambil pisau di saku celana jeans belakang dan melemparnya tepat mengenai dadanya.
SREEET
"Uhuk, uhuk, brengsek" ujarnya lirih memuntahkan darahnya, Tio tersenyum lebar dengan kepala menggeleng pelan. Anggota lainnya yang melihat itu merasa takut dan hendak lari namun langsung di hadang oleh kelompok Tio.
"Jangan lepaskan mereka! bawa mereka ke Markas kita" titah Tio dan anak buahnya mengangguk mengerti. Saat hendak membawa mereka tiba-tiba musuh memuntahkan darah hingga langsung tersungkur jatuh dengan mata terpejam mati.
"Membunuh diri mereka sendiri? benar-benar bodoh!" gumam anggota Tio.
"Ayo kita pergi dari sini" ajak Tio dan mereka mengikuti langkah kaki Bossnya. Berjalan masuk ke dalam mobil berwarna hitam pekat lalu meninggalkan gedung tua yang penuh dengan darah manusia.
Sedang di Markas organisasi Rine X setelah mendengar bahwa mereka sudah membawa pergi para sandera, Richo dan lainnya melempar sesuatu yang menghasilkan asap hal itu membuat anggota musuh langsung tersungkur jatuh, sepertinya itu adalah bius yang bisa membuat orang tidak sadarkan diri untuk waktu tertentu... sedang anggota Black Wolf dan Azteca sudah meninggalkan bangunan besar itu setelah semuanya keluar Richo lalu berujar.
"Lempar bomnya!!" titahnya di balik earpiece dan anggota yang bertugas memegang bom langsung melemparnya ke arah Mansion hingga...
BOOOMM
Bangunan besar nan megah itu seketika terbakar di makan oleh si jago merah. Richo dan lainnya segera keluar dari area Markas menuju kendaraan mereka. Namun anehnya mereka melihat banyak mayat yang tewas di luar gerbang sedang mereka berkelahi di dalam.
"Siapa yang membunuh mereka?." Tanya Richo menaikkan sebelah alisnya menatap semua anggotanya di sana. Hingga sebuah suara mengagetkan mereka.
"Maaf, kami yang melakukannya" Richo menepuk pelan jidatnya kenapa ia bisa melupakan bahwa ada tim yang bertugas di luar gerbang musuh.
"Aku lupa bahwa kalian adalah anggota inti, bagaimana bisa mereka bisa keluar sedang kita mengepung markasnya?" tanya Karla serius. Semua di sana mengangguk jika yang lolos keluar hanya satu atau dua orang itu masih bisa di percaya tapi mayat yang mereka lihat berjumlah kisaran seratus orang, itu bukanlah jumlah sedikit.
"Mereka bukan dari dalam Markas sepertinya mereka dari luar bisa di bilang mereka adalah anggota biasa organisasi Rine X." Jawab salah seorang pria dengan senjata sniper di tangannya.
"Tidak salah Tio mengusulkan untuk berjaga-jaga di luar rupanya ini alasannya, aku tidak berpikir bahwa akan ada bantuan di akhir" sahut Guntur baru mengerti.
"Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang dan lihat bagaimana kondisi para sandera di Markas kita..." timpal Richo.
"Baik Boss" jawab mereka mengangguk mengerti. Beberapa di antara mereka mengeluarkan mobil dari persembunyian dan segera masuk ke dalam mobil meninggalkan tempat Mansion yang sudah di bakar oleh mereka. Entah orang-orang di dalam sana mati atau selamat.
Tim Tio sudah tiba di Markas ia buru-buru keluar dari mobil berjalan masuk ke dalam.
"Boss, luka anda semakin banyak mengeluarkan darah jika tidak di hentikan saya takut akan terjadi sesuatu pada anda" tutur seorang pria. Tio tersenyum tipis dengan wajah pucatnya.
"Bisakah kamu mengambil kotak obat, aku sendiri yang akan mengobati lukaku" ujar Tio dan langsung mendapat anggukan dari pria tersebut. Di sana tidak ada seorang dokter seperti di Mansion Utama jadi sedikit sulit bagi mereka yang terluka. Padahal anggota lainnya sudah menyuruh Tio untuk ke rumah sakit saja tapi Tio tidak mau.
"Luka seperti ini menjadi hal biasa bagi orang-orang Mafia, apa yang di takutkan? tapi entah kenapa saat mengingat Nona Aulia aku menjadi takut jika aku tidak bisa bersamanya... apakah mencintai seseorang akan setakut itu kehilangannya?" batin Tio tersenyum tipis nyarik tak terlihat. Ia menjadi rindu dengan pacar mudanya itu, tidak apalah jika orang-orang akan menyebutnya sebagai pedofil yang terpenting ia bisa hidup dengan orang yang di cintainya.
"Ini Boss" sebuah kotak berwarna putih dengan tanda merah di tengah-tengahnya berada di atas meja, Tio kemudian membuka bajunya hingga terpampang jelas otot-otot tubuhnya yang sixpack.
"Lebih baik Boss ke rumah sakit sekarang, takut jika darah Boss habis dan..."
"Apa kalian selemah ini menjadi seorang Mafia? ini hanyalah luka kecil jangan pedulikan aku, oh iya lebih baik kalian urus para sandera dan berikan mereka makanan" potong Tio datar, menampilkan wajah dinginnya pada sang anggota.
"Hmmm... orang akan mati jika kehabisan darah. Kenapa tidak pernah peduli dengan diri sendiri, menjadi Mafia bukan berarti tidak menyayangi diri sendiri bukan?" gumam batin sebagian anggota Black Wolf dan Azteca. Tidak ada yang protes mereka lalu menuju sebuah ruangan tempat para sandera itu berada namun salah seorang dari mereka menemani Tio.
"Bisakah kau memberiku senter agar aku bisa mengeluarkan pelurunya?" Tio menatap pria yang mengambil kotak obat padanya, pria tersebut lalu menyalakan senter di ponselnya dan mengarahkannya pada Tio.
Tio kemudian mengambil pisau lipatnya menusuk daging lengannya tepat di bagian peluru itu bersarang, membuat luka itu semakin lebar hingga terlihat sebuah peluru ukuran 22 LR. Sedikit meringis namun tak membuat tangan itu berhenti, setelah melihat peluru itu Tio kemudian menatap anak buahnya.
"Kamu keluarkan peluruhnya!!" titah Tio masih dengan wajah meringis sakit. Buliran-buliran kristral membasahi wajahnya yang pucat namun tidak menurun kadar ketampanannya. Sedang pria di sebelahnya menatap terkejut dengan mata melebar besar.
"Tapi, saya bukan ahli bedah Boss" jawabnya kaku. Tio melirik datar kearahnya hal itu membuatnya makin gemetar dengan cepat pria itu mengambil pinset di dalam kotak obat yang mempunyai gigi pada bagian ujungnya.
Berjalan mendekati Tio sesaat dirinya menarik napas panjang kemudian menghembusnya sama panjang saat menarik napasnya tadi. Sedikit gemetar saat mendekati luka pada lengan Bossnya.
"Lakukan saja, jangan takut aku tidak memakanmu... lagipula aku yang merasakannya bukan kamu, kenapa kamu yang takut" ujar Tio terkekeh kecil.
"Baiklah, jangan berteriak mungkin akan sakit" ujarnya pelan. Dengan sangat hati-hati pria itu lantas mengulurkan pinset di dalam luka yang dalam sedikit sulit tapi ia berhasil mengangkat peluru dengan kaliber 22 LR tersebut.
Lalu meletakkannya di atas meja, pria itu menghembuskan napas panjang setelah melakukan sesuatu yang baru di lakukannya.
"Kenapa kau begitu tegang? apa itu pertama kalinya buatmu?" tanya Tio tidak habis pikir ternyata anggotanya begitu takut dengan namanya pembedahan.
"Saya hanya tahu menembak orang dan tidak pernah melakukan hal seperti tadi" jawabnya lirih.
"Darahnya makin keluar aku akan mengobati dan membalutnya dengan kain kasa"
"Hmmm" dehem Tio singkat.
"Nona, tunggu Uncle" gumamnya pelan membuat anak buahnya menaikkan sebelah alisnya heran.
"Aku pikir Boss berbicara denganku..." batin anak buah Tio.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung