The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 32 Taktik



Happy reading 🤗


Kasi like dan vote nya dong kak 🤗❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Di sebuah hutan luas tepatnya di sebuah bangunan besar, para Geng Mafia sedang berkumpul untuk membicarakan perlawanan mereka pada organisasi Rine X. Organisasi ilegal perdagangan manusia, bahkan lebih parahnya mencuci otak para tahanan untuk di jadikan sebagai mayat hidup menghapus semua memori melatih mereka seperti hewan peliharaan penurut juga setia.


"Apakah ada saran tentang rencana penyerbuan kita ini...?" tanya Karla membuka percakapan.


Semua di sana saling melirik satu sama lain. Richo dan Tio meraih bungkusan rokok yang masih penuh, rokok Marlboro itu sudah bertengger di antara jari telunjuk dan tengah. Siap untuk di bakar.


"Bisakah kalian berhenti merokok! dan seriuslah dalam diskusi ini!." Ketus Karla tidak suka dengan tingkah dua pria tersebut.


"Merokok bisa membuat otak terbuka" jawab keduanya bersamaan membuat yang lainnya hanya menghela napas panjang. Mereka tidak bisa menegur karena mereka tahu bahwa mereka hanyalah bawahan yang tidak pantas membuka suara untuk seorang senior. Namun mereka setuju dengan jawaban Boss mereka, terkadang rokok bisa membuka otak mereka.


"Heh! terserah kalian saja!" ujar Karla pasrah. Sedangkan Tio dan Richo asyik menyedot rokok di jarinya tersebut.


"Ada berapa banyak jumlah anggota Rine X? sebelum memulai taktik kita harus tahu banyaknya musuh yang akan kita hadapi!." Jelas Tio membuka suara setelah menghembuskan gumpalan asap rokok ke udara.


"Ada lima ratus orang tapi itu di tempatkan di Markas umum namun di Markas utama kurang lebih seribu anggota yang berjaga-jaga di sana. Sebagian anggotanya di ambil dari orang-orang yang sudah di cuci otaknya yang memiliki keahlian tertentu" jelas ketua Markas tersebut bernama Guntur.


"Banyak sekali. Lalu di mana mereka menyekap sanderanya? dan ada berapa banyak juga?" sahut Tio menimpali.


"Di Markas Utama, kurang lebih tiga ratus orang, itu menurut informasi yang kami telusuri." Kali ini salah satu anggota Azteca yang bertempat di Las Vegas menjawab.


"Ummm, bisakah kalian menjelaskan bagaimana strategis Markas mereka, jika kita mengetahuinya kita bisa dengan mudah melakukan titik penyerangan" timpal Richo dengan wajah serius. Sikunya ia jatuhkan di atas meja kayu dengan kepalan tangan bersandar di dagunya. Menatap semua yang ada di sana.


"Markas mereka seperti Mansion, lima kali lipat dari Mansion pada umumnya, Markas mereka berada di tengah-tengah hutan dengan halaman seluas seratus kilo meter memiliki tembok besar yang mengelilingi Mansion tersebut. Namun ada sebuah lubang anjing yang tidak mereka sadari... itu adalah jalan untuk bisa kita masuk." Jelas Guntur panjang kali lebar.


"Mansion lima kali lipat dari normalnya, jumlah anggota seribu orang, memiliki tembok besar dan kuat... benar-benar pertahanan yang kuat tapi mereka bodoh membiarkan lubang anjing tetap terbuka" gumam batin Tio dengan batang rokok masih bertengger di dua sisi jarinya.


"Apakah kalian mempunyai ide, taktik apa yang kita gunakan?" tanya Guntur. Semua di sana terdiam, mengerutkan keningnya berpikir sejenak, tampak kerutan kecil di dahi mereka.


"Ummm... apakah di sini ada anak IT? kita harus tahu di mana mereka menyekap para tahanan, dengan begitu kita mudah menyelesaikan misi karena tujuan utama adalah membebaskan tahanan dari tangan musuh... oh kalau semisal mereka menempatkan tahanan di lantai atas kita bisa melempar tali untuk mereka turun dan berlari dari belakang Mansion dan siapkan mobil truk juga tangga untuk mereka keluar dari tembok" jelas Tio panjang lebar. Rokok yang di tangannya sudah habis, membuang puntung rokok di dalam asbak kaca.


"Lalu bagaimana cara kita masuk Boss?." Tanya anggota Azteca.


"Bukankah ada lubang anjing di tembok besar itu? kita bisa masuk lewat lubang kecil itu... kalian pasti tahu kan cara untuk memperbesar lubangnya tanpa pengetahuan musuh" jawab Tio kembali mengambil sebatang rokok dan kembali memantik api pada rokoknya lalu menyematkannya pada mulutnya.


"Tentu saja kami mengerti Boss" jawab anggota Black Wolf dan Azteca.


"Tidak buruk, apakah ada yang lain?" tanya Richo.


"Bagaimana taktik selanjutnya? kita harus mengalihkan perhatian musuh agar yang lainnya bisa membebaskan para tahanan" jelas anggota Black Wolf menyampaikan pendapatnya.


"Kita bagi tim menjadi beberapa kelompok, yang pertama tim A mengecoh lawan dengan melempar bom di beberapa tempat dengan jarak mil tertentu, ketika sebagian mereka sudah menjauh dari Mansion maka kita melempar bom ke arah depan Mansion, dan tim selanjutnya akan masuk dari tembok belakang pastikan harus secepatnya untuk masuk ke dalam Mansion... Setelah itu tim selanjutnya akan menyerbu pertahanan lawan dan sisakan untuk tim cadangan sebagai penyerangan terakhir." Ujar Karla menjelaskan apa yang ada di pikirannya.


"Bagus, aku setuju" jawab Tio dan Richo. Semua di sana manggut-manggut.


"Lalu bagaimana dengan transaksi di jalan XX? mereka akan mengeskpor lima puluh tahanan untuk di bawa ke negara asia tepatnya di Korea Utara..." tutur Guntur.


"Bagaimana teman-teman apakah ada masukan lagi atau sudah setuju dengan ide saat in?" tanya Richo menatap anggota Black Wolf dan Azteca.


"Kami setujui" jawabnya kompak.


"Baiklah karena semuanya sudah sepakat, sekarang kita akan memilih senjata untuk penyerbuan nanti malam" tukas Guntur dan mereka mengangguk setuju.


Di belahan dunia lain


Di Mall City dua anak laki-laki sedang berjalan dengan gaya coolnya, mencari sesuatu untuk di beli. Hingga tubuh Daffin mundur ke belakang karena seorang anak perempuan tak sengaja menabrak dan terjatuh menimpah tubuh Daffin.


BRUUUUKKK


keduanya jatuh ke lantai. Dua bodyguard dari Tuan muda Dafa dan Daffin segera membantu anak Tuannya.


"Apa Tuan muda baik-baik saja?" tanya dua pria kekar dengan wajah cemasnya. Lalu melirik tajam pada gadis kecil yang sedang memasang wajah angkuhnya.


"Iiih! kamu tidak punya mata yah! gara-gara kamu aku terjatuh ke lantai sakit tahu tubuhku!" bentak anak perempuan berkacak tangan. Daffin dan Dafa melongo melihat gadis kecil itu yang tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Aku bahkan kalau jalan selalu memerhatikan jalan mataku tidak ku taruh di belakang kenapa dia yang marah, dia sendiri yang menabrakku" batin Daffin.


"Minta maaf padaku atau aku akan melapor pada abangku!" ucapnya lagi membuat dua bodyguard itu ingin membuangnya namun Dafa seketika mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk tidak boleh bertindak.


"Gadis jelek! wajah sudah jelek hati juga tidak boleh jelek" ucap Dafa datar melipat dua tangannya di atas perutnya.


"Kamu! Mata kamu buta yah!" marahnya menatap tajam sedang Dafa hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Cih! sepertinya di rumah kamu tidak ada cermin. Biar aku belikan kamu cermin biar kamu tahu betapa buruknya rupamu itu!" sarkasnya membuat gadis kecil itu melotot tajam bahkan kepalan tangannya menggenggam erat bajunya.


"Astaga kak Dafa ini kalau sudah bicara pasti menusuk hati" gumam Daffin merasa kasihan.


"Tuan muda Dafa benar-benar keren" bisik kedua bodyguard pelan.


"Kau! awas saja aku tidak akan melepaskanmu! ingat baik-baik wajahku aku akan membalasnya suatu hari nanti. Dasar laki-laki tidak punya perasaan!." Ketusnya lalu berlari pergi keluar dari Mall dengan wajah merah.


"Cih! masih kecil sudah begitu bagaimana kalau besar. Astaga anak jaman sekarang tidak pernah di didik sopan santun apa" keluh Dafa merasa kesal pada gadis kecil yang di temuinya.


"Kak, apa kamu tidak keterlaluan berbicara kasar padanya? biar bagaimanapun dia adalah wanita, hatinya mudah tersinggung..." protes Daffin membuat Dafa begitu gemas pada saudara kembarnya itu.


"Heh! orang seperti mereka tidak pantas menghina kita" jawabnya acuh. "Ayo kita pergi dari sini" sambungnya lagi dan berjalan ke depan.


Sedang sang bodyguard tersenyum tipis sembari geleng-geleng kepala.


"Tuan Daffin, entah mengikuti sifat siapa sampai lembek seperti itu padahal dua orang tuanya adalah orang-orang sangar" batin keduanya melangkah mengikuti kaki kedua majikannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung