The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 169 Rasanya Plong



Happy Reading


.


.


.


.


.


.


.


Pria duda bernama Hamas, menyuruh kabin pesawat pribadi untuk segera menyiapkan penerbangan saat itu juga, karena ia akan pulang ke Indonesia, entah apakah sudah menyerah terhadap Alexa atau menyiapkan sesuatu sebagai tameng di medan tempur cinta yang akan kembali berjuang untuk mendapatkan hati gadis kecilnya.


Jika di lain sisi Hamas sudah memasuki kapal udara maka berbeda dengan gadis yang bernama Alexa, ia masih berbaring tidak sadarkan diri di kasur kamarnya.


"Vicky, cari tahu semua tentang apa yang sudah terjadi pada cucuku kemarin, dan siapa yang sudah berani mencelakai cucuku, pastikan dia tidak bisa melihat dunia lagi besok?"


"Baik nyonya" Vicky segera keluar dari kamar Ainsley untuk menjalankan tugas dari nyonyanya itu. Tidak tahu saja jika yang menculik Alexa adalah keluarga asli Alexa cucu perempuannya, entah apa yang terjadi jika mereka tahu yang sebenarnya.


Sementara itu, di bandara internasional Washington DC, seorang pria sudah duduk santai di kursi sofa sembari mengotak-atik benda persegi di atas pangkuannya, dengan di temani secangkir kopi bersama biskuit roma kelapa. Seperti anak senja yang sedang menikmati senja di bukit salju tanpa hadirnya sang belahan jiwa. Menikmati kopi di kala senja seperti pria muslim menuju mesjid untuk bertemu dengan sang kekasih, pemilik jiwa sebenarnya.


"Jadi selama ini tuan Kalingga adalah dalang di balik hilangnya Alexa, benar-benar keterlaluan berani sekali menculik gadisku, sudah bosan hidup apa?!" Hamas menatap bringas layar laptopnya yang berisi informasi dari anak buahnya. Saat mengetahui bahwa Ainsley adalah Alexa, Hamas segera menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu data-data tentang Ainsley dan kebenaran selama ini tertutup akhirnya terungkap juga.


"Selama ini Alexa di ganti memorinya dengan memori putrinya, pantas saja saat bertemu Azhar dia tidak tahu, rupanya seperti ini. Aku tidak akan membiarkan Alexa kembali ke kediaman tuan Kalingga"


Sedang di benua Asia Tenggara, Indonesia. Di sebuah bangunan besar nan mewah bernamakan Mansion Utama, sebuah keluarga tengah berkumpul haru saat mendengar kabar dari Azhar. Bahwasannya wanita bernama Ainsley adalah Alexa anak perempuan Amanda yang dulu hilang.


"Sayang, akhirnya-akhirnya putri kita ketemu, hiks-hiks, Alexaku akhirnya kembali ke pelukanku"


"Iya istriku, alhamdulillah akhirnya putri kita tidak lama lagi akan berkumpul bersama kita"


"Nah kan, apa yang aku bilang, tante itu adalah kak Alexa. Pokoknya ayah harus membawa pulang kak Alexa biar aku sendiri yang menjaganya" suasana yang tadinya haru tiba-tiba menjadi ambyar mendengar perkataan Aditya yang sembrono.


Ingin menjaga wanita dewasa sedang dia masih kecil, umurnya bahkan belum masuk lima tahun tapi pikirannya sudah seperti pria dewasa saja.


"Aditya, kamu kan masih kecil mana bisa kamu menghidupi orang lain, diri kamu sendiri saja masih bergantung pada ayah kamu" kata tuan Farhan dengan mulut pedasnya. Aditya menatap kakeknya dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Kek, biar aku masih kecil begini tapi aku bisa menghasilkan uang lho, tunggu saja aku pasti akan membuktikannya" Aditya segera meninggalkan yang lainnya di ruang keluarga dan ia berjalan menuju lift ke lantai dua.


"Prince, kenapa kamu ngomong seperti itu? Biarkan dia berfantasi dengan imajinasinya sendiri, lagipula dia masih kecil, Alexa juga tidak mungkin mendengar gurauan anak-anak kan" tegur Jons pada suaminya. Ia menatap tajam tuan Farhan karena tidak mau kalah dengan anak kecil.


Sedang tuan Farhan tidak acuh ia hanya mengedikkan bahunya, membuat Jons merasa geram akan tingkah suaminya, atau mungkin faktor usia yang sudah beranjak fase tua. Jiwa yang tadinya dingin dan tidak banyak berkomentar kini semakin rajin mengomentari cucunya, apalagi Aditya yang selalu berselisih paham dengannya.


"Kakek, apakah kak Aditya sedang malah? Kenapa dia pelgi ke atas?" tanya Enzi. Melihat kakaknya yang pergi membuatnya merasa iba.


"Tidak, kak Aditya sedang belajar, dia pasti sedang berpikir bagaimana cara mendapatkan uang, Enzi tidak perlu khawatir" Enzi mengelus dadanya mendengar penuturan tuan Farhan. Ingin sekali pria tua itu menjahili cucu perempuannya tetapi tatapan maut dari sang dewi membuatnya urung.


"Alex, Amanda, apa kalian ingin terbang ke sana untuk bertemu dengan Alexa?" tanya tuan Farhan kepada dua pasutri yang sedang bersyukur. Terlihat Amanda dan Alex terdiam, tuan Farhan menyadari sesuatu yang janggal lantas kembali berujar.


"Atau kita semua saja pergi ke sana, sekalian menjenguk papa dan mama"


"Baiklah, tapi kapan kita akan ke sana?" Amanda bertanya.


"Tidak masalah, lebih cepat lebih baik" sahut Alex dan semua mengangguk setuju.


"Karena semua sudah fiks akan berangkat besok, maka hari ini harus menyiapkan barang-barang yang akan di bawa ke sana." Jawab Jons.


"Nek, apakah kita akan beltemu dengan kak Alexa juga ayah di sana?" gadis kecil Hamas bertanya dengan wajah berseri-seri, ia sudah sangat rindu dengan ayahnya tentu wanita bernama Alexa.


"Iya sayang, Enzi mau ikut juga hmmm?" Enzi mengangguk polos. Mereka kemudian kembali ke kamar masing-masing, Amanda tak henti-hentinya tersenyum karena doanya terkabul. Putri satu-satunya akhirnya kembali ke pelukannya lagi. Membayangkan rupa sang putri membuat air matanya kembali terjatuh tidak bisa membendung rasa haru yang teramat sangat.


Sedang tuan Farhan dan Jons masuk ke kamar mereka, Jons menyiapkan pakaian yang akan mereka pakai saat di kota Washington nanti. Tuan Farhan yang bingung mau ngapain berjalan menghampiri istrinya di ruang walk in closet.


Pria yang tidak lagi muda itu melingkari tangannya di pinggang sang istri. Jons yang sudah terbiasa dengan tingkah suaminya yang selalu tiba-tiba memeluknya, merasa sudah terbiasa dan tidak terkejut lagi. Apalagi ia selalu di peluk seperti itu saat mereka baru pertama kali hidup bersama.


"Sayang, apa yang kau lakukan?" tanyanya membuat Jons geram. Bukankah dia bisa melihat kegiatannya kenapa harus bertanya lagi.


"Aku sedang menyiapkan pakaian kita, besok kan kita akan berangkat ke Washington"


"Biarkan saja dulu, aku ingin bermanja-manja denganmu, ayo!" tuturnya dengan suara manja, seperti seekor kucing imut yang butuh perhatian ibunya.


"Suamiku, kita sudah tua sudah bukan masanya bermanja-manja, ayolah jangan menggangguku aku sedang sibuk" mendengar penolakan istrinya membuat tuan Farhan membalikan tubuh Jons menghadap padanya.


"Ara, kamu sungguh keterlaluan. Aku ini masih kuat dan belum tua-tua banget. Ayolah buang mindset burukmu tentang suami sendiri. Lagipula tidak ada salahnya bermanja-manja, semakin tua seharusnya semakin manja itu harus di lakukan setiap pasangan lho" celotehnya dengan wajah merajuk. Ia mencebik kesal.


Jons menghela napasnya berat, kenapa suaminya tidak pernah berubah, tetapi masa mudanya tidak terlalu se-ekstrim ini, semakin tua semakin kelewatan tingkat manjanya. Apa karena faktor hormon atau karena sebuah kebiasaan.


"Baiklah, tetapi dua puluh menit saja"


"Oh tentu tidak bisa dong, itu terlalu singkat heheheh"


Tuan Farhan menggendong sang istri dan membawanya menuju ranjang, ia tidak menyadari empat pasang mata terus tertuju pada mereka.


"Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga hasrat terpendam ini, hehehhee" bisik tuan Farhan dalam hati, ia tertawa puas akhirnya bisa menaklukan sang istri yang selalu dingin padanya.


"Kakek, kenapa kakek menindih nenek, kalau pinggang nenek keseleo bagaimana?"


Tubuh tuan Farhan dan Jons menjadi kaku, keduanya tidak berani melirik ke arah sumber suara. Mereka bersitatap dengan ekspresi malu.


"Ekhem! Hehehehe tidak apa-apa Enzi, sekarang kakek turun dari tubuh nenek" tuan Farhan berusaha terlihat cool, perlahan-lahan ia turun dari atas tubuh istrinya dan berdiri di depan dua cucunya yang selalu menjadi penghalang untuk menikmati tubuh istrinya lagi.


"Untung saja belum ngapa-ngapaian, bagaimana jika sudah ngapa-ngapaian dan mereka melihatku, apa yang harus aku jelaskan pada mereka yang punya pemikiran luas" batin tuan Farhan dengan perasaan lega sekaligus kesal.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung