
Happy Reading Guys ☺☺😁
.
.
.
.
.
.
.
TOK TOK TOK TOK
TOK TOK TOK TOK
Terdengar bunyi ketukan beberapa kali di pintu sebuah rumah sederhana, dengan dua tingkat. Dua anak kecil laki-laki yang tidak jauh dari pintu utama saling memandang, bocah laki-laki yang tengah memegang mobil-mobilan tidak menghiraukan, ia asik dengan kegiatannya sendiri sementara saudara kembarnya turun dari sofa dan berjalan menuju pintu.
"Kakak tidak boleh membukanya, orang itu tidak bersuara, mungkin dia penjahat" kata bocah laki-laki yang duduk di atas karpet.
"Kakak akan melihatnya dari jendela nanti" ia pun kembali melanjutkan langkahnya hingga ia berdiri di depan pintu. Namun sebelum membukanya ia mengintip dari balik tirai jendela, terlihat tiga sosok laki-laki bertubuh kekar tinggi, pakaian yang mereka gunakan sangat casual tidak seperti penjahat yang mau merampok, namun karena mereka membelakangi pintu hingga sulit bagi Adrian melihat wajah mereka.
"Siapa tiga laki-laki itu? Mencurigakan sekali" gumamnya pelan, ia terus mengamati pergerakan orang-orang asing di luar, ingin sekali melapor pada ayah dan bundanya tetapi sudah beberapa kali berteriak tidak ada sahutan dari atas, membuatnya malas harus naik melewati rintangan anak tangga yang tersusun rapi.
Sementara di luar, tiga pria itu saling melirik dan mengernyit heran.
"Kenapa lama sekali mereka buka pintu, tidak tahu saja kakiku sudah bengkak berdiri" omelnya merenggut kesal, dua pria di sampingnya hanya terdiam dan mengedikkan bahu. Lalu berjalan menuju pintu lagi.
"Kenapa sih abang marah-marah mulu? Gak capek yah seharian ini kerjaannya ngomel-ngomel, aku kasihan dengan karyawan di kantor pasti sudah kena mental" bisik Dafa ngerumpi di depan pintu. Sedang temannya tertawa cekikikan.
"Tahu gak kenapa abang marah-marah terus?" Dafa melirik saudara kembarnya yang tersenyum misterius, ia mengangguk penasaran.
"Biasanya kalau seorang duda yang marah-marah tanpa sebab itu berarti dia butuh pelepasan" sungguh ucapan Daffin terasa ambigu bagi Dafa yang masih polos tidak tahu maksud sebenarnya dari saudaranya itu.
"Pelepasan apa?" tanyanya membuat Daffin mendesah berat, ia memijat pelipisnya yang terasa penat. Ingin menjelaskan padanya namun takut dia akan bertanya lagi.
"Tidak perlu, lebih baik kita ketuk pintu segera, kakiku sudah tidak kuat berdiri"
"Nanti aku tanya abang Hamas saja, Daffin membuatku penasaran, aku ingin tahu sebenarnya apa yang di maksud dengan pelepasan itu? " batinnya mengangguk-angguk pelan, sementara Daffin menaikan alisnya melihat tingkah aneh saudaranya.
"Kak Lia buka pintunya! Kak Lia" serunya karena sedari tadi mengetuk pintu masih belum kunjung di buka, sedang wajah Hamas daritadi menampilkan wajah datar juga kesal, ia sungguh merasa dongkol. Andai kalau orang tuanya tidak pergi ke Washington ia tidak mungkin ke rumah adik perempuannya itu, benar-benar sial.
"Mungkin mereka sedang keluar, lebih baik kita pulang saja" kata Hamas dengan ekspresi datar, namun belum satu detik berlalu, pintu itu terbuka memperlihatkan sosok bocah laki-laki dengan wajah semringah.
"Bocah! Jangan bilang kamu sudah tahu dari tadi tapi tidak mau membukanya kan?" tuding Dafa mendelik jengkel, Adrian hanya terkekeh sambil mengangguk.
"Heheheh, maaf paman, aku pikir kalian orang jahat, aku tidak berani membuka pintu sebelum mendengar suara kalian, habisnya bunda dan ayah lama banget di atas tidak tahu sedang apa" Aditya memberi alasan logis.
"Bukankah kamu sudah melihat kami dari balik jendela, kenapa masih diam dan tidak membukanya, dasar masih kecil sudah berulah" Hamas kemudian masuk ke dalam meninggalkan mereka yang masih di pintu utama. Dafa dan Daffin menggeleng pelan mereka lantas ikut masuk ke dalam.
Sedang Aditya tidak berkomentar sebab apa yang ia lakukan adalah salah, ia lalu menutup pintu dan menguncinya.
Sementara dua pasangan halal itu baru menyelesaikan olahraga mereka, Aulia yang lelah tertidur pulas di dalam selimut tebal, sedang Tio bangun lalu pergi mandi, lima belas menit berlalu ia keluar dengan lilitan handuk menutup tubuhnya, tetesan air mengalir dari rambutnya yang basah, pria itu berjalan ke sebuah ruangan yang menyimpan pakaian sekaligus ruang ganti.
"Euugh, capek banget" gumam seorang wanita di atas kasur, pelan-pelan mata tertutup itu berusaha terbuka, walau sedikit sulit namun wanita itu akhirnya bangun. Masih dengan tubuh polos, ia bersandar dan melihat ke sekeliling seperti sedang mencari seseorang.
"Aku lagi pakai baju Yang, kamu udah bangun?" pria itu segera keluar dengan style kasualnya, Aulia melihat suaminya sudah rapi menunjukkan ekspresi tidak suka.
"Mandi kenapa gak ajak aku sih, bikin bete aja!" Tio tertawa kecil, ia lantas duduk di bibir kasur dan menghadap Aulia.
"Tadi kamu pulas banget tidurnya, aku tidak tega bangunin kamu. Sekarang kamu mandi gih, aku mau ke dapur siapin makanan buat kita"
"Biar aku saja yang masak" tolak Aulia, ia tidak mau membebani suaminya dengan persoalan makanan sebab suaminya sudah pasti kelelahan dengan pekerjaan kantor, sebagai istri yang baik ia harus menjalankan tugasnya sebagai istri sekalipun memasak bukanlah kewajiban namun bukankah, masak adalah nilai tambahan untuk mempererat hubungan.
"Untuk hari ini biar aku yang masak, kamu pasti capek baru selesai main tadi, sekarang kamu segera mandi aku tunggu di bawah yah"
CUP
Aulia mengangguk dengan senyum bahagia mendapatkan suami sebaik Tio, ia di perlakuan baik dan terhormat rasanya ia menjadi wanita paling bahagia di dunia, jika di pikir-pikir saat bermain tadi ia tidak terlalu mendominasi, bukankah seharusnya suaminya yang kelelahan tapi melihat suaminya yang semangat ia menyadari satu hal bahwa kebahagiaan suaminya terletak dari pelepasan.
Sedang di lantai bawa, Dafa yang masih di landa penasaran tentang pelepasan segera duduk di samping Hamas, ia mencolek lengan Hamas membuat pria duda itu melirik padanya.
"Ada apa?" tanyanya dengan alis berkerut.
"Abang, apa abang tahu tentang pelepasan?" bisiknya di telinga Hamas, pria itu menggeleng dan menatap dalam wajah Dafa.
"Pelepasan apa?"
"Aku juga tidak tahu, tapi kata Daffin, kalau pria duda butuh pelepasan" Hamas mendengar kalimat Dafa yang menyindir dirinya segera menjewer telinga sang adik membuat sang empu berteriak kesakitan.
"Aaaahkkk, sakit bang!"
"Bodoh! Dia pasti bertanya tentang pelepasan itu, aiiiissh benar-benar saudara polos" bisiknya dalam hati.
Sementara di tempat lain terlihat deretan bunga yang sedang mekar berjejer di sebuah taman mini, dan pohon rindang berdiri tegak juga kokoh di tengah-tengahnya yang menjadi sorotan utama setiap orang yang berada di sana. Taman mini itu berada di samping bangunan rumah sakit, itu adalah bagian fasilitas dari Hospital Alexa, agar pasien di sana tidak merasa jenuh dengan keadaan rumah sakit, sebisa mungkin membuat pasien tidak merasa tertekan itulah sebabnya mereka membangun taman mini.
Kini dua keluarga yang sempat berseteru menjadi akur, dua keluarga yang tidak memiliki ikatan darah atau persaudaraan kini terikat karena satu perempuan remaja yang dengan ajaibnya bisa menjalin persaudaraan, tanpa melihat ras ataupun wilayah.
Kedua keluarga itu sudah berada di satu ruang inap dengan fasilitas seperti sofa panjang, televisi dan kamar mandi dalam, bisa di bilang itu adalah ruang VIP di rumah sakit tersebut. Mereka menempatkan Vicky dan Alex di ruang yang sama, sungguh kedua pria yang belum tahu menahu itu hanya menampilkan wajah bingung.
"Boss" lirih Vicky meminta penjelasan tuan Kalingga.
"Kamu pulihkan luka kamu, setelah mendingan akan kujelaskan kepadamu, intinya sekarang mereka telah menjadi bagian keluarga kita jadi jangan pernah melakukan tindakan tidak sopan, kau mengerti?!" Vicky mengangguk pelan walaupun ia sebenarnya belum mengerti jelas semua ini. Orang-orang asing di ruang inapnya membuat kepalanya menjadi pusing, ia memejamkan matanya sejenak.
"Apakah sekarang tuan besar sudah kalah? Mereka yang menjadi sumber ketidaksukaan tuan, tapi kini berada di ruang sama dengan wajah berseri-seri, sebenarnya rencana apa yang tidak kuketahui dan apa motifnya?" batinnya berusaha menutup pendengarannya dari kebahagiaan orang-orang di sana.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung