
Happy reading 🤗
Kasih like dan Votenya dong kakak-kakak 🙏😍
.
.
.
.
.
.
.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam kedua manusia beda jenis dan tanpa status yang jelas itu tengah bersantai di atas sofa sembari menonton serial kartun Naruto.
Tiba-tiba Aulia berdiri dari duduknya dengan tangan menutup mulutnya karena menguap sepertinya gadis itu sudah mengantuk bahkan sudah merasa berat pada matanya.
"Mau kemana?" tanya Tio mengalihkan atensinya pada gadis dengan kaos polos.
"Lia sudah ngantuk Uncle, Lia masuk dulu yah" jawabnya sembari berjalan menuju tangga ke lantai dua. Pria dewasa itu hanya menatap punggung gadis yang semakin jauh di pandang mata. Sedikit terangkat sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.
"Selamat malam, semoga mimpi indah..." gumamnya pelan. Ia lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa sepertinya Tio akan tidur di tempat yang hanya bisa menampung dirinya. Matanya masih menatap ke langit-langit atap dengan suara tv yang masih terdengar pelan.
Perlahan-lahan matanya mulai sayu dan sedikit tertutup. "Aku sengaja membuat mode hening ponselku agar tidak ada yang mengganggu ketenanganku" gumamnya pelan. Dan mata sayu itupun langsung tertutup rapat.
Namun terdengar derap langkah kaki yang mengarah ke arah sofa siapa lagi kalau bukan Aulia. Gadis itu membawa selimut juga bantal di tangannya.
"Malam hari akan sangat dingin... Uncle akan sakit jika tidak memakai selimut untuk melindungi diri. Heh! betapa baiknya dirimu Lia" bisik Aulia dalam hati.
Hingga langkah itu berhenti di depan pria yang sudah menutup matanya tertidur. Perlahan-lahan tangannya terulur mengangkat kepala Tio dan meletakan bantal sebagai pelindung kepala Tio. Terlihat ujung bibir pria itu melengkung tipis.
Gadis itu tidak menyadarinya jika laki-lakinya sedang berpura-pura tidur, saat Aulia hendak membaluti selimut pada tubuh Tio, pria itu seketika menarik tangan itu hingga terjatuh di atas dada bidangnya.
"Aaakkh" teriak Aulia terkejut. Hampir bibir mereka menyatu jika Aulia tidak segera menahannya. "Uncle! lepaskan Lia!. Apa yang Uncle lakukan cepat lepaskan!! Lia sudah mau tidur" ucap Aulia memberontak namun kekuatan pria itu bukanlah tandingannya. Entah sejak kapan pria di depannya begitu menjengkelkan.
"Uncle membuatku sakit kepala saja" gerutu batin Aulia.
"Uncle rindu saat-saat Nona masih kecil, bahkan dengan beraninya tidur di atas dada Uncle dan sekarang hal dulu terjadi hari ini..." gumam Tio dalam hati.
"Tidurlah di sini" pintanya dengan pandangan serius. Mata Aulia membulat sempurna. Ia menggeleng kepalanya tidak setuju.
"Lia tidak mau Uncle, tidak lama lagi Uncle akan menikahi aunty Karla dan itu membuat Lia semakin terluka... bisakah Uncle tidak mengusik Lia lagi Lia sangat lelah dengan semua drama ini Lia lelah Uncle" jawab Aulia pelan. Terlihat genangan air mata di pelupuk matanya. Berkedip saja maka akan tumpah ruah.
Bukannya tersentuh pria itu malah tersenyum geli melihat wajah sedih gadisnya. Netranya terus menatap wajah Aulia hingga membuat gadis itu mengerutkan keningnya genangan air di pelupuk matanya perlahan-lahan masuk kembali dan tidak jadi keluar.
"Uncle kenapa senyum-senyum begitu? Uncle pasti senang kan lihat Lia mengemis cinta pada Uncle!" ujar Aulia dengan nada marah matanya menatap tajam juga benci pada pria yang ada di bawahnya saat ini.
Tio mengangkat tangannya menyentuh rambut gadis kecilnya yang dulu pernah ia mandikan saat kecil, tidak ada yang tidak di lihatnya karena sedari umur dua tahun ia telah menjadi baby sitternya. Tentunya ia sangat hafal dengan lekuk tubuh gadis itu bahkan tahi lalat sekecil pun ia masih mengingatnya.
"Jangan marah Nona" jawabnya sendu. Menarik napas panjang kemudian kembali berujar lagi. "Besok ataupun seterusnya Nona tidak akan melihat Uncle lagi... karena Uncle akan melakukan misi di dunia bawah" gadis itu terlihat serius sekarang apalagi mendengar dunia bawah. Tentunya itu bukanlah hal yang mudah walaupun ia belum ke sana tapi rumor mengatakan bahwa yang akan ke sana tidak pernah selamat bahkan jika dewa memberkatinya sekalipun.
"Berapa lama misinya Uncle?" tanya Aulia masih dengan posisi menindih tubuh Tio meletakkan tangannya di samping kepala Tio. Sedangkan pria itu memeluk pinggang ramping putri raja Hades.
"Sampai target di temukan, jika tidak maka kami belum bisa kembali" jelas Tio memandang wajah gadis di depannya.
Hari sudah semakin larut namun keduanya masih ayik bercerita, mata yang tadi sayu mengantuk sudah menyala terang.
"Apakah misi itu sangat penting untuk Uncle? bisakah Uncle membatalkan rencana Uncle untuk pergi ke dunia bawah..." tutur Aulia penuh harap. Gadis berusia 17 tahun itu merasa takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada laki-laki yang di panggilnya Uncle.
"Hahahah, benarkah Nona mengkhawatirkan Uncle" ledeknya kembali sedang Aulia mengerucutkan bibirnya kesal.
"Iiihh! Uncle ngeselin! mana mungkin Lia mengkhawatirkan pacar orang lain! jangan ge'er" ketus Aulia menyangkal hatinya padahal dalam benaknya ia sangat mengkhawatirkan pria itu namun rasa egonya mengalahkan kebenaran.
"Apakah Nona benar-benar mencintai Uncle? Uncle harap masih ada cinta di tempat sini... Uncle berharap Nona mau menunggu Uncle lagi" pria itu kini berbicara dengan wajah serius, telunjuk kanannya terarah ke dada Aulia. Mata keduanya saling bertemu untuk beberapa saat.
"Lia sangat mencintai Uncle..." Senyum lebar terukir di bibir ranum Tio kala mendengar jawaban dari Aulia.
"Syukurlah, Uncle merasa lega. Terima kasih..."
"Itu dulu. Tidak untuk sekarang, tidak ada cinta lagi di hati Lia untuk Uncle... perasaan cinta itu sudah memudar kala Uncle mengatakan untuk menikahi aunty Karla, perasaan cinta itu telah memudar kala Uncle mengatakan murahan pada Lia. Apakah Uncle mau mempermainkan perasaan Lia lagi! hati Lia bukan mainan Uncle!!" potong Aulia dengan suara meninggi. Linangan air mata itu bercucuran kepalanya menunduk tak mampu menatap wajah pria itu. Bohong jika ia tidak mencintainya lagi rupanya hatinya masih sangat-sangat menyimpan nama pria itu.
Tubuh Tio mendadak beku. Merasakan nyeri di hatinya ia tahu apa yang ia lakukan sudah di luar batas. "Maaf" hanya satu kata yang lolos dari mulutnya.
"Please! jangan berikan Lia harapan di saat Uncle akan pergi, tidak bisakah Uncle membiarkan luka di hati Lia mengering dulu... kenapa Uncle selalu membuat goresan di dada Lia kenapa? apakah karena Lia adalah gadis bodoh sampai mudah untuk Uncle permainkan!!" ujar Aulia lagi masih dengan tatapan amarah.
Tio mendekap tubuh itu erat, mengelusnya lembut memberikan ketenangan pada gadisnya.
"Cukup! lepaskan Lia! Lia sudah lelah dan sudah mengantuk. Lia mau masuk ke kamar" tegas Aulia dengan kepalan tangan erat.
"Ingat Uncle! cinta Lia tidak akan pernah pantas untuk Uncle dapatkan lagi!!" ucapnya pedas. Tio terkejut merasakan sakit di ulu hatinya perlahan-lahan tangan kekar itu terurai melepas pelukannya. Memandang sedih wajah Aulia. Gadis itu segera bangun dan pergi tanpa melihat ke arah pria yang tengah menyesal.
"Kau benar Nona, Uncle memang tidak pantas untuk Nona." Lirih Tio meraup wajahnya kasar. Bangun dari tidurnya dan bersandar di sandaran sofa.
"Maaf untuk semuanya Nona, maaf sudah sering membuatmu menangis tapi Uncle tidak bisa apa-apa... nyatanya Uncle begitu pengecut. Tapi sekarang tidak lagi Uncle akan berjuang untuk mendapatkan kembali kepercayaan itu" gumamnya pelan. Beranjak dari duduknya menatap sekilas lantai atas lalu menuju pintu keluar.
"Semoga mimpi indah Nona" tuturnya dan bergegas keluar dari rumah Aulia. Pria itu menuju rumah yang baru di belinya. Mengambil kunci cadangan yang tersimpan di balik saku celana jeans-nya.
CEKLEK
Melangkah masuk ke dalam ia melihat pria muda yang sedang tertidur di atas sofa ruang tamu. Kaki jenjangnya melangkah maju ke arah sofa.
"Hey bangun!" seru Tio menepuk-nepuk pipi Hara. Pria itu perlahan-lahan membuka matanya yang terasa berat.
"Euumm, Om. Ada apa?" tanya Hara serak.
"Tugas kamu sudah selesai, saatnya untuk keluar dari rumahku" jawab Tio datar membuat Hara begitu kesal.
"Dasar pria tua!" umpat Hara dalam hatinya. Tanpa berlama-lama lagi Hara keluar dari rumah mewah itu menuju rumah minimalis berwarna putih dan coklat.
Sedangkan Tio sudah mempersiapkan kebutuhan yang akan di gunakan saat melakukan misinya besok.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung