
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
Pria dengan setelan formal kantoran itu sedang duduk di kursi kebesarannya, sambil menatap layar laptop di depannya, jari-jari tangannya sibuk mengetik tombol keyboard, entah apa yang dia kerjakan. Sedang Enzi bermain boneka bersama pengasuhnya namun, berbeda dengan kakak kembarannya bocah laki-laki itu malah asyik memainkan ponselnya.
Ia tersenyum tipis lalu turun dari atas sofa, kaki kecilnya melangkah menuju meja ayahnya berada.
"Ayah, aku mau keluar sebentar ... bolehkah kau memberikan aku uang dua ratus ribu?" Hamas melirik Aditya dengan tatapan kaget, anak sekecil Aditya sudah berani meminta uang sebanyak itu, namun wajar sih dia seperti itu wong ayahnya saja sudah pintar memanipulasi uang tuan Farhan saat masih seusia Aditya.
Benar kata pepatah, bahwa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Hamas tersenyum dan geleng-geleng kepala, ia pun berdiri sejenak mengambil dompetnya yang berada di saku celana depannya. Lalu menarik empat lembar uang merah. Melihat itu membuat Aditya tersenyum lebar, ia bersorak dalam hati ketika melihat uang di tangan ayahnya.
Memang uang selalu membuat orang tersenyum dan bahagia.
"Ayah, Enzi juga mau uang!" teriak bocah perempuan dan langsung berlari ke arah Aditya dan Hamas. Hamas yang tadinya memberikan empat ratus ribu pada Aditya kini membagikan dua lembar merah kepada Enzi, membuat Aditya menatap kesal pada adiknya. Padahal kan lumayan uang sebanyak itu untuk jalan-jalan.
"Aaahhh, dasar Enzi kenapa dia liat segala lagi" ketus Aditya dalam hati. Hamas yang mengetahui jika anak laki-lakinya sedang mengumpat adiknya dalam hati lalu mengelus lembut kepala Aditya.
"Son, tidak baik jika kakak adik tidak saling berbagi ... ayah tidak pernah mengajarkan kamu pelit pada orang lain apalagi Enzi adalah adik kamu" jelasnya penuh kelembutan. Aditya mengangguk mengerti.
"Baik ayah" Aditya tersenyum simpul pada ayahnya lalu beralih pada Enzi, ia melempar senyum manis membuat Enzi menatap aneh, ia sudah tahu tabiat kakaknya namun, ia pura-pura tidak tahu.
"Telima kasih ayah, Enzi sayang ayah" gadis kecil itu memeluk tubuh Hamas pria dewasa itu membalas pelukan sang putri. Dari jauh dua pengasuh Enzi dan Aditya senyum-senyum sendiri melihat betapa sayangnya Hamas pada dua anaknya.
"Andai tuan Hamas suamiku, betapa bahagianya aku di dunia ini" tutur salah seorang baby sitter, sedang temannya terkekeh pelan.
"Hahahah, jangan kebanyakan halu nanti ujung-ujungnya nangis lho" nyindir temannya sedangkan ia hanya menatap kesal dengan bibirnya terangkat sebelah.
"Gak papa, siapa tahu di kabulkan sama Tuhan, apalagi tuan Hamas juga belum punya istri sekarang, itu berarti aku masih punya kesempatan untuk menjadi nyonya besar heheheh" jawabnya lagi sedang teman di sampingnya hanya geleng-geleng kepala.
"Maaf bibi, ayahku sudah punya calon istri jadi tidak usah mengkhayal untuk menjadi ibu kami" sahut Aditya dengan tatapan melotot, membuat perempuan yang ingin menjadi istri Hamas terdiam bisu. Ia begitu malu dan menundukkan kepalanya, lidahnya keluh tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya baru saja ditampar oleh seseorang yang memiliki kekuatan dahsyat.
"Astaga, lidah tuan muda kecil tajam sekali. Tidak bisakah untuk menjaga perasaan orang dewasa?" batin teman pengasuh Enzi.
"Maafkan saya tuan muda kecil" cicitnya tidak berani menatap wajah Aditya. Hamas yang mendengar seruan putranya hanya menatap datar wajah dua pengasuh anak-anaknya, ia pun berjalan menghampiri mereka.
"Maafkan putra saya yang bicara kasar padamu" tutur Hamas sopan. Sekalipun dirinya adalah seorang CEO namun ia tidak menyombongkan dirinya karena kedudukannya yang tinggi, ia sebagai orang tua tidak ingin jika anak-anaknya menjadi orang yang tidak terdidik, itulah sebabnya ia selalu mengajari pada anaknya untuk bicara sopan sekalipun itu dalam keadaan marah.
Aditya memutar malas bola matanya, ia berbalik menatap ayahnya kemudian mencium tangan Hamas dengan wajah datar.
"Ayah, aku mau ke supermarket tapi harus paman Hanan yang temenin"
"Baiklah, kamu ke ruang paman Hanan, minta paman Hanan untuk temenin kamu" jawab Hamas.
"Enzi mau ikut abang, ayah" celetuk bocah perempuan di samping Aditya, ia menatap Hamas dengan tatapan puppy eyesnya. Aditya menatap ayahnya untuk tidak membolehkan Enzi ikut, namun ayah tetap ayah. Hamas mengangguk dengan senyum terukir di bibirnya.
"Bibi, kalian pulang saja ke Mansion, kami ingin keluar bersama paman Hanan saja" setelah mengatakan hal tersebut, Aditya menarik tangan adiknya berjalan keluar dari ruangan Hamas menuju ruang Hanan, pria muda yang menjadi sekretaris Hamas. Tanpa mengetuk pintu kedua bocah tersebut membuka pintu begitu saja.
Hanan melirik dua bocah yang tidak tahu sopan santun itu, mengetahui jika yang masuk adalah anak bossnya ia segera berdiri dan memberi hormat.
"Tuan, nona muda kecil. Ada yang bisa saya bantu?" Hanan bertanya sambil menunggu jawaban dari kedua bocah di depannya.
"Paman Hanan, kami ingin keluar jadi paman harus mengantar kami" Hanan menaikkan sebelah alisnya, ia kemudian melirik pada benda bulat yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Maaf tuan muda kecil, dua puluh menit lagi akan ada rapat ... jadi saya tid ..."
"Paman tidak usah khawatir, ayah sudah mengizinkan paman mengantar kami. Sudahlah jangan mencari alasan Paman, sekarang ayo kita pergi, aku sangat buru-buru!" Hanan melongo mendengar sahutan Aditya padanya, anak sekecil dia kenapa begitu pintar bersilat lidah, siapakah yang mengajari mereka sampai mereka begitu cerdas?
"Tidak heran anak zaman sekarang banyak bacot, mereka hidup di dunia penuh teknologi. Tapi masih mending anak-anak tuan muda tidak joget-joget seperti di tiktok itu" bisik Hanan dalam hati.
"Baiklah, hari ini saya akan menjadi sopir kalian" jawab Hanan apa adanya.
"Yeaaah, kita akan jalan-jalan!" sorak Enzi bahagia sedang Aditya hanya memutar malas bola matanya. Tiga anak manusia itupun keluar dari ruang sekretaris, kaki mereka berjalan menuju lift khusus CEO, hingga sampai mereka di depan lift. Hanan menekan tombol buka, pintu pun langsung terbuka dengan ajaibnya. Tiga manusia itu masuk ke dalam dan pintunya kembali tertutup.
TING
Pintu lift terbuka, orang yang ada di dalamnya keluar. Para karyawan menatap takjub ketampanan Hanan, usianya masih muda namun sudah menjadi sekretaris seorang CEO perusahaan besar.
"Apa kalian tahu jika CEO kita itu single? aku dengar-dengar kalau istrinya meninggal saat melahirkan anaknya" bisik seorang karyawati. Sedang teman-temannya menutup mulut terkejut atas apa yang barusan mereka dengar.
"Apakah itu benar? sayang sekali, CEO kita pasti membutuhkan kehangatan seorang wanita ... apalagi kedua anaknya pasti membutuhkan seorang ibu untuk mendampingi mereka. Aku adalah wanita yang pantas menjadi ibu mereka" sahut salah seorang wanita dengan wajah dramatis membuat teman-temannya ingin sekali muntah.
"Wajah kamu begitu tebal hmmm, mirip seperti bedak di wajahmu. Menor sekali" ketus salah seorang wanita.
"Gak usah halu deh, mana mau pak Hamas sama kita, orang rendahan seperti kita harus meminimalisir tingkat khayalan ... takutnya akan berdampak gila heheheh"
Aditya hanya menaikkan sudut bibirnya remeh, ia hanya menatap lurus ke depan malas mendengar ocehan tante-tante yang sudah berumur.
"Abang, apakah kita halus mengulung ayah di kamal? agal tante-tante genit itu tidak belpikilan untuk menjadi istli ayah lagi" bisik Enzi pada abangnya.
"Kita masih kecil masih belum bisa ngurung ayah" jawabnya membuat Hanan geleng-geleng kepala mendengar percakapan kedua bocah gokil menurutnya.
"Astaga, tidak salah mereka sepintar ini. Mereka adalah bibit dari kakek Farhan"
.
.
.
.
.
.
Bersambung