
Happy reading guys 😘😘
Jangan lupa dukung Author terus yah 🙏🙏😁
.
.
.
.
.
.
.
Sesuai kesepakatan yang sudah di rencanakan kemarin malam. Pagi ini sekitar pukul 9 pagi, Aulia dan yang lainnya sudah bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan. Hari ini Aulia memilih memakai pakaian dengan stylenya pada biasanya, karena dirinya memang berjiwa tomboy jadi ia memakai celana jeans hitam yang sedikit longgar dan terdapat sobekan di bagian betis dan lututnya. Juga Hoodie sweater berwarna abu-abu tidak lupa sepatu sneaker Neo berwarna putih sebagai pelengkapnya.
Berdiri di depan cermin melihat dirinya di pantulan kaca ia sedikit memberikan polesan bedak baby dan pewarna bibir.
"Perfect!" senyum manis terukir di wajah Aulia.
Aulia kemudian mengambil ponselnya menyimpannya di saku jeansnya, untuk mengabadikan momen-momen dirinya di Meksiko city nanti.
Turun dari lantai dua menuju lantai dasar. Kamar Aulia bersebelahan dengan kamar Larisa juga Karla dan posisi kamarnya berada di tengah-tengah kamar kakak beradik itu.
Terlihat Karla, Tio dan Oskar sudah menunggu dirinya di sofa keluarga. Tio dan Oskar memakai jeans hitam dan baju kaos berwarna putih dan abu-abu di padukan dengan jaket levis. Sedangkan Karla memakai jeans pendek berwarna biru dengan kemeja putih garis-garis begitu serasi dengan baju Tio berwarna putih. Tidak lupa sepatu boots berwarna moccha.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama" ucap Aulia saat sudah di depan mereka. Tuan Zeus dan Larisa sudah pergi ke kantor karena ada rapat penting hari ini. Sebenarnya Larisa ingin sekali ikut namun karena dirinya memegang jabatan sebagai kepala manajer di sebuah perusahaan Tuan Zeus jadi tidak bisa membuatnya izin apalagi ada sesuatu yang terjadi pada perusahaan membuatnya harus ekstra kerja.
"Tidak juga, sepertinya warna baju kita sama, tidak mungkin kita berjodoh kan?" celetuk Oskar dan semua memandang baju mereka masing-masing.
"Tidak di sangka aku pun sama, bajuku dan baju Tio sama begitupula kalian berdua. Takdir memang tidak salah" timpal Karla tersenyum tipis. Aulia hanya tersenyum kaku sedangkan Tio hanya mendengarkan tanpa ekspresi, entah sejak kapan ekspresi datar itu muncul.
"Uncle Tio sudah banyak berubah" lirih Aulia dalam hati.
"Sebaiknya kita pergi sekarang" ucap Tio yang sudah beranjak dari duduknya di ikuti Oskar dan Karla.
Mereka kemudian berjalan keluar dari Mansion, sudah ada dua buah motor salah satunya adalah Aprilia RSV4 RF.
Motor ini dirancang sebagai motor balap dengan teknologi Superbike yang dioptimalkan oleh mesin Aprilia longitudinal 65° V-4 cylinder, 4-stroke, liquid cooling system, double overhead camshafts (DOHC), four valves per cylinder dengan kapasitas 999.6cc.
Tentunya motor ini termasuk motor termahal di dunia yaitu 823 juta rupiah, bahkan banyak dari pembalap motor sangat menyukai motor jenis ini karena bukan hanya kuantitas harganya yang mencapai ratusan miliaran namun memiliki kualitas yang super duper keren.
Selain motor Aprilia RSV4 ada juga motor Triumph Tiger Explorer. Motor ini merupakan motor berjenis Adventure yang bisa melibas semua medan jalan. Triumph Tiger Explorer mencapai harga 605 Jutaan dan untuk spesifikasinya memakai mesin 3 Silinder berkapasitas 1.215cc yang bisa mengeluarkan tenaga sebesar 139 PS dan torsi 123 Nm.
Menariknya lagi, Triumph Tiger Explorer telah dilengkapi Windscreen yang bisa dinaik-turunkan secara electric dan tersedia fitur Riding Mode yang bisa disesuaikan dengan kondisi jalan. Pada bagian depan juga tersedia Cockpit modern yang menggunakan panel meter digitan dan analog. Jadi jenis motor ini tidak perlu takut jika menghadapi berbagai macam jenis jalan rusak karena motor ini akan sangat mudah di lalui.
"Lia, kamu sama Uncle. Kamu bisa kan naik motor? tidak muntah kan?" tanya Oskar menggenggam tangan Aulia. Gadis itu tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Pertanyaan itu sungguh membuatnya konyol.
"Heh! Lia selalu ikut balapan liar dan tidak pernah terkalahkan di angka pertama berturut-turut, bagaimana bisa Uncle Oskar bertanya seperti itu!" ujar Aulia dalam hati.
"Heheh, bisa Uncle, Lia malah sangat suka naik motor ketimbang mobil" jawab Aulia. Tidak jauh dari mereka ada sepasang mata yang tidak menyukai keakraban itu. Tangannya terkepal kuat saat melihat keduanya berbincang-bincang apalagi melihat tangan seorang gadisnya di genggam oleh Oskar membuatnya ingin sekali membunuh pria tersebut.
"Karla cepat naik" titah Tio dan Karla langsung naik, hatinya ikut senang tanpa segan kedua tangannya ia lingkarkan di pinggang Tio memeluknya begitu erat hingga tidak ada sekat yang membatasi tubuh keduanya.
Aulia tak sengaja melihat adegan itu, dirinya hanya menghembuskan napas kasarnya. Lalu naik di atas motor Triumph Tiger Explorer tepat di belakang Oskar.
"Pegangan yah, Uncle akan balap, sepertinya Uncle Tio sudah meninggalkan kita" jelas Oskar dan Aulia hanya berdehem sebagai jawaban.
Agak kaku rasanya memeluk pria yang baru di kenalnya namun tarikan lembut di tangannya hingga akhirnya berhasil memeluk pinggang pria di depannya. Aulia bisa merasakan beberapa kotak yang tercetak di perut Oskar membuat pipi Aulia bersemu.
"Jangan sampai jatuh, Uncle tidak mau bertanggung jawab" seru Oskar sedikit mengeraskan suaranya.
"Iya, iya" jawab Aulia. Ia lalu memeluk erat tubuh Aulia karena Oskar melajukan motornya. Ia tidak mau jatus sia-sia hanya karena gengsinya.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Oskar dan Aulia sampai di tempat salah satu wisata bernama Zocalo.
Zocalo adalah kota kuno milik suku Aztec yang mempunyai alun-alun yang sangat besar. Alun-alun kota ini dinobatkan sebagai alun-alun terbesar di seluruh dunia.
"Menunggu itu tidak enak! ayo kita jalan-jalan sekarang! Dan jangan ulangi lagi." Ujar Tio dengan ekspresi datar. Menatap Oskar dan Aulia bergantian.
"Kamu kenapa sayang? biarin mereka lagian sepertinya Oskar suka deh sama Aulia, gak papa kan jika dia bersama Aulia" tutur Karla di dekat Tio membuat atensi pria itu menatap Karla dengan tajam.
"Maaf membuat Uncle dan aunty menunggu lama" ucap Aulia menundukkan kepalanya.
"Kau harus melupakannya Tio!" batin Karla menatap cemburu pada Aulia.
"Wow, Uncle, di sini begitu ramai... apa nama tempat ini?" tanya Aulia berdecak kagum melihat wisata terbesar juga sangat banyak pengunjung.
"Ini namanya alun-alun, salah satu wisata kota Meksiko yang sangat besar, kabarnya alun-alun ini adalah yang paling besar di dunia dan pengunjungnya kurang lebih mencapai dua ratus ribu orang bahkan lebih." Jelas Oskar masih setia menggenggam jemari Aulia dan gadis itu hanya membiarkannya.
"Hah! sebanyak itu?." Pekik Aulia kaget dengan mata menatap Oskar tak percaya.
"Iyalah makanya sampai di sebut alun-alun terbesar"
"Uncle mereka sedang melakukan apa?" tanya Aulia menunjuk salah satu kelompok. Pakaian mereka juga tidak seperti orang-orang pada umumnya lebih seperti pakaian adat.
"Oh itu mereka sedang melakukan tari tradisional. Apa kamu mau melihatnya?" Aulia mengangguk antusias.
Mereka kemudian berjalan ke arah orang yang sedang menari. Tio menatap kesal pada Aulia dan Oskar. Entah kenapa perasaannya benar-benar tidak suka melihat adegan itu membuat matanya begitu perih.
"Heh!. Pria si-alan itu!!" kesal Tio.
"Uncle ayo kita berfoto" ajak Aulia mengambil ponselnya mengarahkannya di depan mereka.
"Sini biar Uncle yang pegang" ponsel itu kemudian berpindah tangan ke Oskar. Berbagai macam pose yang mereka buat membuat hati seseorang merasa geram melihatnya.
"Karla ayo kita bertoto juga" ajak Tio dan hal itu membuat Karla antusias.
"Aku ingin mengajakmu berfoto tapi kamu sudah duluan, ayo!" Karla menarik tangan Tio mendekat ke arah Aulia dan Tio.
"Nona, bisakah Nona mengambil foto kami berdua" pinta Tio menyerahkan ponsel miliknya pada Aulia, juga sebelah tangannya merangkul pinggang Karla mesra.
Aulia mematung menatap pria di depannya. Dengan sedikit ragu Aulia mengambil ponsel dari tangan Tio.
"Baik Uncle" Aulia sudah siap dengan kamera hp di tangannya mengarahkannya pada dua manusia yang begitu mesra. Di mana Tio memeluk Karla dari belakang dan menjatuhkan dagunya di atas pundak Karla.
Sedikit tergores hatinya, jarinya seakan berat menekan lingkaran berwarna putih. Menarik napas panjang ia pun berhasil mengambil foto romantis milik pria yang begitu ia cintai.
"Andai Lia berada di pelukan itu? Lia pasti sangat bahagia" batin Aulia.
"Lia sekali lagi yah" teriak Karla dan Aulia mengangguk setuju. Posisi mereka saat ini Karla mencium pipi Tio mesra dan Tio membiarkannya. Namun tatapan Tio terarah pada Aulia yang sudah tidak bisa membendung rasa cemburunya.
Buru-buru Aulia menyerahkan ponsel Tio lalu bergegas menuju Oskar.
"Lia makasih yah fotonya bagus banget" ucap Karla saat melihat hasil karya yang begitu indah. Aulia hanya tersenyum kecut.
"Uncle kemana lagi kita harus pergi?, Lia ingin pergi bersama Uncle Oskar saja, boleh kan? tanya Aulia yang ingin menghindari Tio dan Karla.
"Sepertinya untuk saat ini harus menghindari Uncle Tio, Lia tidak sanggup melihat kedekatan Uncle Tio dan aunty Karla. Sakit sekali!" bisik Aulia dalam hati.
"Ayo, Uncle akan bawa Lia di salah satu tempat yang sangat bagus" Oskar menarik tangan Aulia lalu pergi dari Tio dan Karla. Tatapan tajam itu terus tertuju pada satu objek yang tidak ia sukai.
"Brengsek!" batin seorang pria mengepal tangannya kesal.
Padahal maksud dirinya membuat pose romantis bersama Karla hanya untuk membuat seseorang cemburu namun malah dirinya yang terjebak dalam permainannya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung